ISTRI TOMBOY SANG PANGERAN 2

ISTRI TOMBOY SANG PANGERAN 2
Bab. 21# Hukuman untuk Agni


__ADS_3

Lelaki tua itu segera pergi meninggalkan dapur dan duduk diruang tamu.


"Opah mau minum apa?" tanya Hermes


"Tidak usah repot-repot nak, Opah tidak lama kok, karena sebentar lagi aku harus kembali ke kantor," jawab lelaki tua itu


"Muka kamu kenapa?" tanya sang Opah


"Biasa Opah anak laki-laki, berantem dengan teman," jawab Hermes


"Kamu harus menyudahi hobi tawuran kamu itu, ingat kamu ini adalah cucu dari Sudiro Atmajaya, pemilik Atmajaya Group, jadi kamu juga adalah pewaris perusahaan Opah. Aku tidak mau kamu terjadi sesuatu terhadap mu sehingga membuat Opah harus kehilangan kamu, " ucap Sudiro


"Iya Opah, aku janji, akan berhenti tawuran, apalagi sekarang aku sudah kelas dua belas jadi harus fokus belajar untuk meraih nilai bagus di Ujian akhir Nasional nanti," jawab Hermes


"Baiklah kalau begitu, Opah pamit ya," Lelaki itu bangkit dari kursinya dan Hermes mengantarnya sampai ia naik keatas mobilnya.


Mengetahui Ayah mertuanya sudah pulang, Ira segera menarik Hermes untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Cepat selesaikan sebelum ayahmu pulang," ucap Ira


Hermes kembali melanjutkan pekerjaannya, setelah selesai ia bergegas mandi dan segera masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Karena kelelahan ia pun tertidur tanpa makan malam.


Felix terlihat lelah ketika tiba dirumahnya. Ia segera melempar tas kerjanya dan merebahkan tubuhnya di kasur.


"Apa saja yang kau lakukan hari ini hingga membuat a papah memarahiku?" tanya Hermes pada Ira


"Aku tidak ngapa-ngapain kok," jawab Ira


"Iya kamu tidak ngapa-ngapain, makanya kau menyuruh Hermes untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah yang seharusnya kamu kerjakan!" Hardik Felix


"Bagaimana dia bisa tahu, apa kakek tua itu melihatku, tapi tidak mungkin, pasti si anak sialan itu mengadu kepada ayahnya, " gumam Ira


"Kamu tahu gara-gara kamu memperlakukan Hermes seperti pembantu bisa membuatku tidak mendapatkan warisan dari ayahku itu, paham kamu!!" bentak Felix


"Makanya kamu carikan aku pembantu, untuk membantuku mengurus rumah ini, " ucap Ira


"Itu bukannya menjadi pekerjaan kamu, daripada kamu hanya diam dirumah tanpa melakukan apapun," sahut Felix


"Lagian ngapain sih Mas kamu punya banyak uang tapi tidak dimanfaatkan untuk menyenangkan istrimu sendiri," ucap Ira

__ADS_1


"Diam kamu!!, jangan coba-coba mengatur aku!, ingat! kamu cuma istri siriku, jadi jangan mengatur hidupku!!" hardik Felix


Ira langsung diam tak berani menjawab ucapan Felix.


***********


Agni masih berdiri di selasar kelas memeriksa satu persatu setiap siswa putri yang baru datang kesekolah. Ia sengaja mencari sosok wanita yang menutupi wajahnya ketika menghajarnya. Ia bahkan tidak segan-segan untuk memukul siswa yang melawan atau membangkang dengannya.


"Sebenarnya siapa gadis kura-kura ninja itu, kenapa tidak ketemu juga!" gerutu Agni


"Oh iya bos, saya ingat pas bos melintir tangannya, sepertinya dia punya luka ditangan kirinya, " ucap salah seorang anak buah Agni


"Kamu benar?, mulai sekarang pukul tangan kirinya setiap kalian mengecek siswa perempuan, jika ia kesakitan apalagi keluar darah dari tangannya berarti dia orangnya!, apa kalian paham!" ucap Agni


"Paham!!" sahut semua anak buahnya


Sementara itu Cassey masih mendengkur di kelasnya yang masih sepi, ia sengaja datang kesekolah lebih pagi dari biasanya. Bahkan ia terpaksa melompati gerbang sekolah karena masih di kunci. Pukul empat pagi Cassey mengantar Niken ke Bandara karena akan pergi keluar kota. Karena ia tidak mau bolak-balik ke rumah lagi maka ia putuskan untuk langsung kesekolah meski masih jam setengah enam pagi.


Umi Kulsum yang melihat Agni memukuli setiap siswi putri yang baru tiba di sekolah membuatnya berang.


Ia mendatangi Agni dan teman-temannya yang bak seorang polisi yang sedang merazia pelanggar lalu lintas.


Semuanya tidak menghiraukan ucapan guru baru itu, tentu saja hal itu membuat Umi Kulsum marah. Ia segera menghampiri satu-persatu anak buah Agni dan memukuli pantatnya dengan menggunakan penggaris besi, sehingga membuat mereka pergi meninggalkan tempat itu, kecuali Agni yang tak bergeming dan terus melanjutkan aksinya


Bahkan ia berani menepis lengan Umi Kulsum dan merebut penggaris besi dari tangannya lalu membuangnya. Ia tidak kehabisan akal, dijenggutnya rambut panjang Agni hingga membuat gadis berbadan gembul itu meringis kesakitan.


"Berani kamu melawan guru hah!!" hardiknya sembari menjewer kupingnya


"Dasar guru baru, kau tidak tahu siapa aku hah!!" sahut Agni yang melepaskan tangan Umi dari telinganya.


"Kau akan menyesal dan segera minta maaf padaku jika kau tahu siapa ayahku!!" ancamnya


"Aku tidak takut pada siapapun, termasuk ayahmu itu, karena tugasku disini bukan hanya mentransfer ilmu yang saya miliki saja kepada semua anak didikku, tatapi yang paling penting adalah merubah ahlaknya juga," ucap Umi sembari menyeret Agni menuju ke ruangannya


"Ini adalah sekolah tempat untuk belajar dan menuntut ilmu, bukan tempat untuk ajang pamer kekuatan, kalau kamu mau jadi preman maka bukan disini tempatnya, tapi dijalanan sana, kalau kamu masih mau sekolah disini maka kamu harus mematuhi semua peraturan yang ada di sekolah ini, apa kamu paham sekarang!" ucap Umi


Agni hanya terdiam sembari menatap kearah Umi Kulsum dengan tatapan penuh kebencian.


"Makanya kalau punya otak itu dipakai buat mikir, bukan untuk berantem doang!!, sekarang merenung dulu!!, renungkan kesalahan kamu hari ini, kalau sudah sadar baru boleh kembali kekelas," Ujar Umi Kulsum

__ADS_1


"Kamu muslim bukan?" tanyanya lagi


Agni hanya mengangguk.


"Bisa baca Qur'an?" tanya Umi Kulsum


Agni hanya menggeleng.


"Solat subuh tidak tadi pagi?" tanya Umi


Lagi-lagi Agni hanya menggeleng.


"Bisa sholat?" tanya Umi


Gadis itu kembali menggelengkan kepalanya sembari tertunduk.


"Astaghfirullah, pantesan kamu jadi berandalan seperti itu, sekarang merenung dulu buka otak kamu untuk mengingat kesalahanmu pagi ini, jangan coba kabur!!" ancam Umi yang kemudian meninggalkannya diruang kerjanya untuk mengajar.


Sesampainya dikelas Umi Kulsum memanggil Cassey dan keempat temannya ke ruangannya.


"Kalian tahu kenapa ibu panggil kemari?" tanya Umi


"Iya ibu, karena kami berkelahi kemarin," sahut Naeswari


"Bagus, kamu memang anak pintar Nay, tapi ibu sayangkan kenapa kamu ikut-ikutan berantem kemarin," keluh Umi Kulsum


"Saya cuma mau membantu ibu yang akan dicelakai oleh anak-anak yang tawuran kemarin bu, tidak ada maksud lain kok bu, sungguh," jawab Cassey


"Lagian saya sudah berjanji sama ibu Melati untuk tidak berkelahi lagi, karena saya ingin fokus belajar, jadi saya itu tidak tega jika melihat ada orang yang tertindas didepanku, makanya kemarin aku langsung berinisiatif untuk menolong ibu, karena saya tidak mau ibu celaka, " jawab Cassey


"Ibu percaya niatmu itu mulia, cuma ibu hanya ingin mengingatkan kalian supaya tidak gampang terprovokasi dengan hal-hal seperti itu, percayalah semua masalah bisa diselesaikan dengan kepala dingin tanpa harus ada pertumpahan darah, sekarang ibu masih memaafkan kalian tapi lain kali tidak ada maaf bagimu, sekarang sebelum pulang sekolah kalian sholat dulu, kalau sudah sholat baru boleh pulang," ucap Bu Kulsum


"Baik bu, " jawab mereka serentak


Ketika meninggalkan ruangan ibu Kulsum mereka melihat Agni masih duduk di sudut ruangan itu.


"Busyeet!!, bu Kulsum berani sekali menghukum Agni, apa dia tidak takut dengan Ayah Agni yang seorang ketua mafia di kota ini!" ucap Hermes


"Mungkin karena masih baru jadi ia tidak tahu kali," sahut Cassey

__ADS_1


"Bisa jadi, tapi aku rasa besok akan ada kejadian yang menghebohkan seperti dua tahun lalu, saat Agni dihukum oleh guru baru juga dan kemudian Ayahnya datang kesekolah ini bersama pasukan mafianya dan kemudian mengeluarkan dengan tidak hormat guru baru itu!" kenang Hermes


__ADS_2