
Malam mulai menjelang, Baladewa segera melaksanakan aksinya untuk mencari keberadaan Nilam dan juga Revan bersama Devin dan juga Kinan
Sedangkan Angga bergerak bersama Bayu.
Sementara itu di kediaman Nilam, gadis itu sudah memiliki firasat bahwa dirinya sedang di buru oleh pihak kerajaan. Ia terlihat mengemasi barang-barangnya, dan bersiap-siap untuk pergi meninggalkan kediamannya.
"Kau mau kemana?" tanya Revan yang mencegat langkahnya
"A...a..ku akan memeriksakan kandunganku," jawab Nilam gugup, ia tidak menyangka jika Revan yang dikiranya sudah tidur justru masih terjaga dan mengetahui rencananya untuk kabur.
"Bukankah jadwal pemeriksaannya masih dua hari lagi. Memangnya malam-malam sejak kapan Dokter Kanaya membuka praktik malam hari," ujar Revan tersenyum kecut
"Apa kau sengaja ingin meninggalkan aku disini," tambah Revan membuat Nilam terkejut
"Kau bilang apa sayang, tentu saja aku tidak akan meninggalkan kamu sendiri disini. Justru aku sedang bersiap-siap untuk membangunkan kamu, tapi kau malah sudah bangun duluan. Sekarang berkemaslah kita harus segera meninggalkan kota ini, waktu kita tidak banyak lagi karena panglima sudah mengetahui keberadaan kita," Nilam berusaha membujuk Revan
"Tidak, aku tidak akan pergi dari tempat ini. Kalau kau mau pergi, pergi saja lebih baik aku mati sebagai seorang ksatria yang melawan musuh-musuhnya dengan pedangnya, bukan hidup sebagai seorang pengecut yang takut mati." Lelaki itu berusaha melepaskan tangan Nilam yang menggandengnya.
"Aku tidak bisa hidup sendiri tanpamu Revan," ucap Nilam sedih
"Pergilah, selamatkan nyawamu dan bayimu, aku akan menahan mereka di sini. Aku akan berusaha untuk menyelamatkan kamu dan bayimu, bukankah aku sudah berjanji untuk melindungimu sampai ajalku tiba," ucap Revan mengantar Nilam menuju ke mobilnya
"Cepatlah pergi sebelum mereka datang, kau tidak perlu mengkhawatirkan aku. Lagian bukankah kau juga ingin membunuhku. Aku sudah tidak berguna lagi untukmu karena gagal membunuh orang yang sudah menjebloskan ayahmu ke penjara. Bukankah kau ingin meninggalkan aku sendiri disini. Jadi pergilah, aku akan baik-baik saja. Kau tahukan aku bahkan bisa bertahan hidup sendirian saat ibuku meninggal." Revan segera menutup pintu mobil Nilam dan berjalan masuk menuju ke rumahnya.
Percuma saja aku lari, toh mereka pasti akan menangkapku juga. Lebih baik aku melawan mereka dan mati dengan terhormat seperti ayahku. Pergilah Nilam, aku akan menjagamu disini agar orang-orang itu tak bisa mengejarmu. Aku akan berusaha semampu ku untuk menahan mereka agar tidak bisa mengejarmu. Hiduplah sebagai seorang ibu yang baik yang akan mengajari anak-anak mu untuk menjadi pribadi yang baik dan berbudi pekerti yang luhur, bukan menjadi berandalan sepertiku,
**Flashback
"Ibu bangun, ibu bangun, jangan tinggalkan Revan sendiri, aku takut bu, aku takut!!" seorang anak kecil menangisi ibunya yang terserang serangan jantung setelah mendapat telepon kematian suaminya.
Wanita yang hendak menuju ke rumah sakit itu tiba-tiba ambruk dan menghembuskan nafas terakhirnya disamping putra semata wayangnya.
Wanita itu adalah Rachel istri Ares, ia tinggal di luar negeri untuk berobat saat Ares berhasil dikalahkan oleh Ryan dan Bayu dua puluh tahun lalu dan meninggal di tangan Bayu.
Karena lemahnya fisik Rachel, ia tidak kuat menerima kabar duka yang disampaikan Jaka Samudera kepadanya.
Ia jatuh terkulai di tengah jalan tanpa ada seorangpun yang menolongnya, bahkan beberapa orang preman menjarah barang-barang berharga miliknya. Bahkan mereka berniat membunuh Revan yang kala itu berusia enam tahun, pria kecil itu berusaha lmelawan preman-preman yang hendak mengambil perhiasan ibunya.
"Jangan sakiti ibuku!!" seru Revan kecil sambil melempari preman-preman itu dengan sepatunya.
"Damn little kid, you're tired of life huh, "cried one of the thugs over to him
(Anak kecil keparat, apa kamu sudah bosan hidup hah!!" seru salah seorang dari mereka menghampirinya.
"Just kill him or we sell, I'm sure he will be worth a lot if we sell his internal organs," exclaimed another
(Bunuh saja dia atau kita jual, aku yakin dia akan sangat berharga jika kita menjual organ dalamnya," kata yang lainnya)
"I agree, arrest him! ”They immediately chased Revan who tried to run away
("Saya setuju, tangkap dia!" mereka segera mengejar Revan yang melarikan diri).
Ia berlari sekencang-kencangnya agar tidak terjadi tertangkap oleh para preman itu.
__ADS_1
"Help!!, help me please!!" teriak Revan terus berlari meminta tolong
(Tolong!!, tolong saya!!")
"Anyone help me!!" teriak Revan meminta tolong setiap orang yang ia temui tapi tidak ada satupun yang mau menolongnya.
(Seseorang tolong aku!)
*Buughhh!!
Ia terjatuh saat kakinya tersandung sebuah pembatasan jalan.
"You can't run anymore little kid, soon we'll kill you and take your heart and kidney to sell, hahaha !!" their shouting made little Revan even more scared
( "Kamu tidak bisa lari lagi anak kecil, secepatnya kami akan membunuhmu dan mengambil jantung dan ginjalmu untuk di jual, hahaha!!" teriak mereka membuat Revan kecil ketakutan)
"Someone please help me, I fear. Mother help me, dad why don't you come help me. Uncle I'm scared !! ”He cried when a thug approached him and pulled out a dagger to kill him
("Seseorang tolong aku, aku takut. Ibu tolong aku, Ayah kenapa kamu tidak datang menolong ku, paman aku takut!!" dia menangis ketika preman-preman itu mendekatinya dan mengeluarkan belati untuk membunuhnya)
"There are police, there are police !! "shouted a little girl, imitating the sound of a police car
("Ada polisi, ada polisi!!" teriak seorang gadis kecil sembari menirukan suara sirine mobil polisi)
Semua preman-preman itu langsung lari ketakutan meninggalkan Revan.
Gadis itu segera datang menghampiri Revan.
"Now you are safe and you don't need to be afraid anymore? "Said little Nilam
"Thank you for helping me, but my mother is alone there. Can you help my mother?" Revan asked
("Terima kasih sudah menolong aku, tapi ibuku sendirian disana. Bisakah kamu membantu ibuku?" Tanya Revan)
"Of course," replied Nilam
( "Tentu," jawab Nilam)
Revan kemudian mengajak Nilam menemui ibunya yang sudah tak bernyawa.
"She's dead, miss," said the Nilam bodyguard
("Dia sudah meninggal," kata Pengawal Nilam)
"Ibu!!, bangun ibu, jangan tinggalkan aku!!" seru Revan memeluk ibunya
"Your mother has died, where is your house we will take you home," said Nilam
("Ibu kamu sudah meninggal, dimana rumahmu, kami akan mengantarmu pulang," ucap Nilam)
"My house is in Jogjakarta Indonesia, can you take me home , please call my uncle and tell him to pick me up, "Revan replied.
("Rumahku di Yogyakarta Indonesia, bisa kah kau membawaku pulang ke sana, tolong hubungi dan beritahu pamanku untuk menjemputku," jawab Revan)
__ADS_1
"Of course, give me the phone number, " replied Nilama
("Tentu, berikan nomor telponnya," , Nilam)
Revan memberikan nomor ponsel Jaka Samudera padanya, Nilam kemudian menyuruh bodyguardnya untuk menghubungi Jaka Samudera.
"Please leave my nephew for a while, and please bury his mother's body there, because I can't pick him up right now, I'm also dying in the hospital. Maybe I'll be able to come Pick him up after I get back well, please give him the cell phone to him I want to talk to him."
"My dear nephew Revan, I'm sorry I can't pick you up because you are also sick, I promise will pick you up after I recovered, pray for uncle to get well soon and take you home, you must be strong. Be a strong boy like your father. You have to survive alone until I came to pick you up, "Jaka Samudera hung up the phone.
(Tolong titip keponakanku untuk beberapa waktu dan tolong kuburkan jenazah ibunya dengan layak disana. Karena aku belum bisa menjemputnya sampai saat ini, saya juga sedang di rawat di rumah sakit. Mungkin aku bisa menjemputnya setelah aku pulih. Tolong berikan ponselnya kepada dia aku ingin bicara dengannya.
"Revan keponakan ku tersayang, aku minta maaf karena belum bisa menjemputmu, karena aku juga sedang sakit. Aku janji akan segera menjemputmu setelah saya sembuh, doakan aku agar cepat sehat dan bisa mengantarmu pulang, kamu harus kuat. Jadilah anak lelaki yang kuat dan tangguh seperti ayahmu. Kamu harus bisa bertahan hidup sendirian sampai paman menjemputmu," Jaka Samudera Samudera mematikan teleponnya.
"Kau tidak perlu khawatir aku akan mengundurkan Ibumu dengan layak, dan aku janji akan menemanimu sampai pamanmu menjemputmu. Aku tidak akan meninggalkan kamu percayalah," ucap Nilam
"Terima kasih," jawab Revan
Setelah pemakaman Ibunya Revan menolak untuk tinggal di kediaman Nilam, ia lebih memilih tinggal sendirian di apartemen ibunya. Anak malang itu menghabiskan waktunya seorang diri di negeri paman Sam itu. Nilam kecil yang begitu peduli terhadapnya selalu mengunjunginya dan memberikan makanan untuknya. Ia terus mengunjunginya dan menemaninya setiap malam sampai Revan tertidur hingga Jaka Samudera datang menjemputnya.
"Sekarang kau percaya kan aku tidak akan meninggalkan mu, aku akan selalu menemanimu dan melindungi mu dari orang-orang jahat," ucap Nilam memeluk Revan dan menyeka air matanya
"Terima kasih teman, kau begitu baik dan peduli padaku, walaupun kita tidak saling kenal, bahkan aku belum tahu siapa namamu," jawab Revan
"Aku Nilam, aku berjanji akan menjagamu disini dan menemanimu sampai pamanmu datang." gadis itu mengulurkan tangannya kepada Revan
"Aku Revan, aku juga berjanji jika nanti aku sudah dewasa akan menemanimu dan melindungimu dari orang-orang jahat sampai akhir hayatku," jawab Revan menggenggam erat tangan Nilam
Sejak saat itu Revan selalu berada di sampingnya, bahkan ia menolak pulang ke Indonesia saat Jaka Samudera menjemputnya pulang. Ia lebih memilih tinggal bersama Nilam dan jauh dari keluarganya hingga dewasa.
*Flashback off
Pergilah, selamatkan nyawamu dan bayimu, aku akan menahan mereka di sini. Aku akan berusaha untuk menyelamatkan kamu dan bayimu, bukankah aku sudah berjanji untuk melindungimu sampai ajalku tiba.
"Aku tidak akan membiarkan kamu mati ditangan mereka, aku harus mengajakmu pergi bersamaku, bukankah kau sudah berjanji akan menemaniku sampai akhir usiamu," Nilam segera membelokkan mobilnya untuk kembali ke rumahnya, ia baru sadar jika ia juga sudah mulai mencintai Revan dan tidak ingin membiarkan ia mati ditangan musuh-musuhnya.
"Kenapa aku begitu egois meningalkan kamu sendiri hanya untuk menyelamatkan nyawaku, kenapa aku sangat bodoh sehingga baru menyadari kalau kau begitu berharga untukku Revan, maafkan aku yang selama ini mengabaikan mu, maafkan aku yang tidak pernah membalas cintamu. Sekarang aku sadar aku juga mencintaimu dan tidak mau kehilanganmu. Tunggu aku Rev, aku akan datang menolongmu, tunggu aku!!" ucap Nilam mempercepat laju kendaraannya.
**Buughhh!!
"Katakan dimana Nilam!" seru Devin terus melancarkan pukulannya kearah Revan yang sudah tidak berdaya. Setelah di serang beramai-ramai.
"Kau tidak akan pernah menemukannya, aku lebih baik mati daripada memberitahukan mu keberadaannya," jawab Revan membuat Devin semakin murka dan melesatkan tendangan hingga pemuda itu terhempas ke dinding kamarnya.
"Bunuh aku, bunuh aku!!" tantang Revan menyeringai
Devin segera mengambil belati dari balik bajunya dan menghampiri lelaki itu.
"Hentikan Dev, kita tidak perlu membunuhnya, karena percuma saja, walaupun kita membunuhnya sekalipun dia tidak akan mengaku, kau lihat kan betapa tangguhnya dia. Dia seperti punya nyawa cadangan, sehingga ia tak gentar menghadapi kematian bahkan menantangnya. Kita butuh orang-orang seperti dia yang memiliki loyalitas tinggi dan kesetiaan yang tidak terbatas," ucap Baladewa membuat Devin menghentikan aksinya.
**Braakkkk!!
Semuanya langsung menghindar dan berguling kesamping ketika mobil Nilam menerobos masuk menabrak pintu rumahnya.
__ADS_1
"Kenapa kau kembali Nilam, kenapa kau sekarang menjadi bodoh. Kau hanya akan mengantarkan nyawamu jika kembali kesini," gumam Revan membelalakkan matanya tidak percaya melihat Nilam kembali lagi