ISTRI TOMBOY SANG PANGERAN 2

ISTRI TOMBOY SANG PANGERAN 2
Bab. 31 # Mulai dekat


__ADS_3

Hari ini sengaja Tama mengantar Bagas, Pandu dan juga Nay kesekolah.


"Makasih paman, bye," Naeswari melambaikan tangannya kepada Tama dan berjalan masuk ke sekolahnya


Tama menatap seorang pria berbadan kekar yang mengantarkan seorang gadis bertubuh gemuk hingga ke pintu gerbang sekolah, pria itu tampak menundukkan kepalanya memberi hormat kepada gadis belia itu.


Karena ia merasa curiga dengan lelaki itu, Tama memutuskan untuk mengikuti laki-laki itu.


"Dari cara berpakaiannya dia mirip dengan anak buah Jaka Samudera yang menyerang Nay dan Cassey tempo hari, apa mereka juga yang membunuh Zahra istri Rey," gumam Tama


Ia terus mengikuti mobil SUV itu hingga berhenti disebuah bangunan mewah di jantung kota Jogjakarta.


Tampak beberapa orang berbadan kekar yang menjaga rumah itu, dan sepertinya tidak mudah untuk bisa masuk kedalam rumah mewah itu yang memiliki banyak sekali bodyguard yang mengawasi rumah itu.


"Gila!!, ini markas mafia Naga Api!!" ucap Tama kaget


"Berarti gadis gendut tadi adalah putri dari ketua mafia Naga Api, dan dia pasti berurusan dengan Cassey dan Nay makannya dua gadis itu diserang Geng Naga Api, dan karena Rey berhasil membuat ketua geng mereka patah kaki dan tangan. Oleh karena itu mereka membalaskan dendamnya dengan membunuh keluarga Rey, tapi siapa yang memimpin mereka saat ini, sedangkan Jaka Samudera sudah tidak bisa berkelahi lagi," Tama berusaha menarik kesimpulan dari apa yang ia temukan saat ini


"Gawat!!, berarti putri Rey dalam bahaya, aku harus memberitahukan Rey sekarang juga," Tama segera mengambil ponselnya dan menghubungi Ryan


"Halo Rey!!, kamu dimana?" tanya Tama


"Aku sedang mencari perkantor untuk membuka cabang perusahaan gue disini," jawab Ryan


"Anak kamu siapa yang jagain?" tanya Tama


"Niken," jawab Rey


"Kenapa kamu tinggal mereka sendirian, bahaya!, dasar ceroboh!!" ucap Tama yang langsung memutuskan teleponnya dan melesatkan mobilnya menuju ke rumah sakit


"Halo Tam-tam, halo!!, woii!!, dasar gaje main matiin telpon seenak jidatnya saja," gerutu Ryan


"Tapi kenapa dia marah-marah ketika tahu aku menitipkan Kinan sama Niken, jangan-jangan sesuatu terjadi pada mereka, gue harus pergi sekarang juga!!" Ryan segera keluar dari kawasan perkantoran elite itu


Niken hanya bisa memeluk Kinan ketika dua orang berbadan kekar mendekatinya sembari menodongkan pisau kepadanya.


"Jangan teriak atau kalian akan aku bunuh!!" gertak Laki-laki itu sembari menarik Kinan dari pelukan Niken


Karena Niken terus melawan saat mereka mencoba mengambil Kinan darinya, membuat salah seorang dari mereka langsung menghajar wanita itu hingga pingsan. Ketika keduanya hendak keluar dari kamar itu Tama langsung menghajarnya hingga beringsut mundur dan meletakan Kinan diatas brankarnya.


****Buugghhh!!


Sebuah tendangan melesat menghantam kedua laki-laki itu hingga terkapar di lantai, karena mendegar ada keributan dua orang sekuriti segera datang menghampiri Tama.


"Bawa dokter gadungan itu kekantor polisi!!" perintah Tama


"Baik yang mulia!" jawab sekuriti itu bersamaan


"Apa yang terjadi Tam-tam!" tanya Ryan dengan nafas yang tersengal-sengal setelah berlarian menaiki anak tangga untuk bisa sampai ke ruangan itu dengan cepat.

__ADS_1


"Telat kamu, kaya polisi India saja yang selalu datang terlambat!!, lihat!!, gara-gara kecerobohan kamu Niken jadi korban!!" gerutu Tama


Ryan langsung menghampiri Niken yang masih pingsan, ia langsung membopong wanita itu dan merebahkannya diatas brankar.


"Sekarang kamu panggil dokter, untuk memeriksa Niken!" perintah Tama


Ryan langsung berlari menuju ke tempat dokter jaga.


"Wew!, kenapa aku jadi panik gini ya, dan langsung nurut aja sama perintah Tam-tam, biasanya juga gue yang nyuruh-nyuruh dia, kenapa gue jadi bodoh gini!!, terus manggil dokter kan tinggal pencet bel saja ngapain baku harus lari-lari ke sini!, duh bener-bener t*lol!!" gerutu Ryan menyalahkan dirinya sendiri


Ketika ia kembali ke ruangan itu, ia melihat seorang dokter tengah memeriksa kondisi Niken. Tama hanya tersenyum melihat Ryan yang berjalan gontai seperti orang linglung.


"Minum dulu Rey, biar gak bingung lagi!" Tama menyodorkan sebotol air mineral padanya


***Glek, glek, glek!!


Hampir setengah botol Ryan menghabiskan air itu, membuat Tama kembali mengembangkan senyumnya.


"Haus bang?, sepertinya anda sedang tidak bergairah hari ini?" goda Tama


"Berisik!, ini semua gara-gara lo, makannya gue sampai ngebleng kaya gini," keluh Ryan


"Bagaimana keadaan Niken dok?" tanya Tama


"Alhamdulillah sudah baikan, sayatan kecil ditangannya sudah saya jahit tadi, jadi aman, lagian dia juga sudah sadar jadi sudah bisa beraktivitas lagi seperti sedia kala," jawab Dokter


"Terima kasih dok," sahut Tama


Tama hanya tersenyum-senyum sendiri melihat perlakuan Rey terhadap Niken.


"Kamu gak papa Niken?" tanya Ryan


"Iya gak papa Rey, cuma tanganku saja masih terasa perih karena sayatan pisau tadi," jawab Niken


"Gak papa babang Rey, kan dokter juga sudah bilang begitu tadi, babang tidak perlu terlalu mengkhawatirkan Niken, kasian Kinan dari tadi dicuekin lho!!" ucap Tama


Ryan langsung salah tingkah mendengar ucapan Tama langsung beringsut menghampiri Kinan yang duduk disamping Tama.


"Kamu gak papa sayang?" tanya Ryan


Kinan hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum padanya.


"Berapa sih usia Kinan Rey, kok dia masih belum bisa bicara?" tanya Niken


"Tiga tahun delapan bulan, dia mengalami speech delay, mungkin ini karena kesibukan aku dan Zahra yang menyebabkan kami jarang berkomunikasi dengannya hingga akhirnya Kinan jadi seperti ini," sesal Ryan


"Kalau begitu, Kinan biar tinggal bersamaku saja biar aku yang akan mengajarinya berbicara, kasian kan dia, masa cantik-cantik bisu!" ucap Niken


"Ehemmm!!" Tama berusaha menggoda keduanya

__ADS_1


**Plaakk!!


"Awwww!!," sebuah pulpen melayang mengenai kepala Tama


"Rasain tuh!!, makanya jadi orang jangan suka ledekin orang!, " cibir Ryan yang langsung tos dengan Niken setelah wanita itu berhasil melemparkan sebuah pulpen ke kepala Tama


"Suee!!, kalian berdua tuh emang cocok yah, sama-sama tengil dan usil," jawab Tama kesal


"Terus kalau kamu jagain Kinan, kerjaan kamu dikantor gimana?" tanya Niken


"Gue mau resign Rey, lagian bos aku juga orangnya gitu, suka berbuat mesum dan pernah beberapa kali mencoba melecehkan aku, untungnya ada Gaga yang menyelamatkan aku, jadi mungkin aku akan istirahat dirumah dulu sembari mendampingi Key belajar, karena sebentar lagi dia akan menempuh Ujian Akhir Nasional, aku ingin dia mendapatkan nilai yang bagus biar bisa melanjutkan ke Universitas terbaik di kota ini," ucap Niken


"Mulia sekali tujuan kamu Niken, aku salut sama perhatianmu dengan anak kamu," puji Ryan


"Makanya Rey, lo harus gaji dialah selama dia merawat Kinan, itung-itung bayar baby sitter, supaya Niken masih bisa membiayai kehidupan Cassey, hitung-hitung amal Jariah Rey, secara lo kan horang kaya!!" celetuk Tama


"Tumben Tam, lo pinter hari ini, gue setuju dengan ide lo," ucap Ryan memeluk Tama


"Kalau lo tiap hari kaya gini, lama-lama gue makin cinta sama lo," goda Ryan


"Diiih najong!!" jawab Tama menirukan gaya bicara Ferdan


"Hahahaha!!" Ryan dan Niken tertawa geli mendengar ucapan Tama


"Ssttt!!, ada Gaga!!, katakan sama dia kalau aku masih pingsang gara-gara penjahat tadi, supaya dia memeriksa gue!!" Niken langsung merebahkan tubuhnya keatas brankarnya dan memejamkan matanya


"Suee!!, dasar ganjen!!, selalu saja jiwa genitnya bangkit ketika melihat cowok ganteng, memangnya aku kurang ganteng apa?" gerutu Ryan


"Kamu ganteng kok Rey, tapi kalau dibandingkan dengan Gaga ya lo kalah ganteng, kalau aku jadi Niken juga pasti milih Gaga lah daripada lo!!" cibir Tama


"Suee!!, bukannya belain gue lo malah belain Gaga!" gerutu Tama yang membuat Tama semakin terkekeh mendengarnya


.


.


.


.


.


.


.


Insya Allah Hari ini author akan up sampai tiga chapter, so jangan lupa vote ya... so tunggu satu chapter berikutnya.


Happy Reading

__ADS_1


Salam Manis dari Zahra, Muaaach 😘😘😘


__ADS_2