
"Sepertinya Genta sudah berhasil, sekarang giliran mu untuk menunjukkan akting mu Kinan," ucap Baladewa
"Baik Paman." Kinan segera berlari kearah Rotama yang terlihat kesal.
Gadis itu terus berlari sembari terus menatap layar ponselnya hingga menabrak Rotama yang ada didepannya.
*Buuugghh!!
"Maaf, maaf aku tidak sengaja," ucap Kinan gugup, Rotama memperhatikan gadis itu dengan seksama. Tangannya bergetar dan keringat dingin membasahi keningnya.
"Tidak apa-apa. Apa kau kurang sehat?" tanya Rotama membantu Kinan berdiri
"Aku baik-baik saja, tapi sekarang ada sesuatu yang membuatku merasa tidak baik," jawab Kinan
"Sekarang lebih baik kau ikut bersamaku," Rotama mengajaknya menuju ke ruang kerjanya.
Lelaki itu mengambilkan segelas air putih kepadanya.
"Minumlah," perintahnya lembut
"Terima kasih," Kinan segera meneguk air itu perlahan sembari mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan.
Rotama segera mengambil sapu tangannya dan mengusap lembut keringat di kening Kinan.
"Kalau boleh tahu apa yang sudah membuat gadis pemberani sepertimu menjadi gugup dan gemetaran?" tanya Rotama pelan
"Aku baru saja mendapatkan telepon dari ayah ku, yang mengabarkan bahwa Devin ternyata masih hidup dan dia sekarang sedang di rawat di Rumah sakit Umum daerah Jogjakarta. Tentu saja kabar itu membuatku sedikit gugup dan gemetaran, antara bahagia dan tidak percaya. Kamu tahu, Pangeran Devin adalah kekasihku, dan selama ini aku berharap kalau lelaki yang dikubur seminggu lalu itu bukan dia. Aku selalu yakin jika Devin itu masih hidup dan sekarang sedang membutuhkan bantuanmu, karena nyawanya terancam. Kau tahu betapa senangnya aku, ketika mendengar ayahku mengatakan hal ini padaku , walaupun aku sedikit ragu. Sekarang aku ingin segera memastikan apakah lelaki yang ditemukan oleh ayah dan dirawat di rumah sakit itu adalah Devin atau bukan. Aku akan menjenguknya hari ini juga, terima kasih atas air minumnya," ucap Kinan beranjak meninggalkan tempat duduknya
"Syukurlah, aku yakin kau sangat senang saat ini, bolehkah aku mengantarmu ke sana?" tanya Rotama membuat gadis itu menghentikan langkahnya
"Tentu saja, kau boleh ikut. Tapi apakah yang mulia Raja akan mengizinkan kamu meninggalkan pekerjaanmu," jawab Kinan
"Sebagai Raja yang bijaksana harusnya dia memberikan izin padaku untuk mengawal wanita yang dicintainya bukan?" jawab Rotama membuat Kinan tercengang
"Kau benar Tama, segera beritahukan aku jika dia benar-benar Devin adikku. Pergilah!" ucap Genta Bhumi yang tiba-tiba memasuki ruangan itu.
"Terima kasih yang Mulia," Rotama segera mengajak Kinan meninggalkan tempat itu, sedangkan gadis itu masih menatap lekat kearah Genta Bhumi.
Rotama segera melesatkan mobilnya meninggalkan pelataran istana menuju ke Jogjakarta.
Setibanya di rumah sakit Kinan segera menuju ke ruang perawatan Devin.
Ia benar-benar terperanjat menatap sosok lelaki yang terbaring tak sadarkan diri di brankarnya.
Syukurlah dia masih koma, setidaknya dia tidak melihatku disini,
Rotama berjalan perlahan memperhatikan kondisi Devin.
"Sudah berapa hari dia koma Pih?" tanya Kinan
"Kurang lebih satu Minggu, tapi kau tenang saja Papih yakin dia akan segera sadar, dan sehat lagi seperti sedia kala,"
"Syukurlah kalau begitu," Kinan terus menatap sendu Devin yang terbaring didepannya.
Ia mengusap lembut wajahnya, "Cepatlah sadar, aku menunggumu. Kau tahu aku begitu cemas ketika mendengar kau sudah meninggal dan rasanya hari itu seperti kiamat bagiku, bahkan aku sampai lupa rasanya makanan karena aku terus memikirkan dirimu," ucap Kinan
Seorang perawat masuk untuk memeriksa kondisi Devin.
"Tolong segera tebus obat ini, untuk diminumkan nanti sore," perawat itu memberikan resep obat kepada Kinan
"Baik,"
"Aku boleh minta tolong padamu?" tanya Kinan
"Katakanlah,"
"Aku minta tolong jagain Devin sebentar, karena aku harus menebus obat untuknya,"
__ADS_1
Rotama mengangguk dan mengantarkan Kinan sampai pintu kamar. Setelah memastikan Kinan pergi meninggalkan tempat itu terutama segera menghampiri Devin yang masih belum sadarkan diri di atas ranjangnya.
"Ternyata kau tangguh juga Devin, kau bahkan masih bisa hidup walaupun sudah jatuh dari atas jurang yang sangat curam. Tapi hari ini Aku pastikan kau tidak akan selamat lagi," Rotama segera mengambil bantal di samping Devin untuk membekapnya, hingga lelaki itu terus meronta-ronta.
*Tak, tak, tak!!
Bunyi suara sepatu Bayu membuat Rotama segera menghentikan aksinya.
"Kemana Kinan?" tanya Bayu
"Dia sedang menebus obat di apotek," jawab Rotama
"Tolong sampaikan padanya untuk segera kembali ke istana karena Yang Mulia Baladewa mencemaskannya," sahut Bayu
"Baik, akan ku sampaikan padanya nanti,"
"Terima kasih," Bayu segera pergi meninggalkan tempat itu, ketika Rotama ingin kembali mengulangi aksinya, Kinan memergokinya membuatnya sedikit gugup.
"Kamu sedang apa?" tanya Kinan sedikit kaget
"Akh, aku sedang menata bantal-bantal ini agar yang mulia pangeran merasa nyaman,"
"Oh, syukurlah!" jawab Kinan
"Btw tadi ada dokter yang memberitahukan aku kalau yang mulia Baladewa menelponnya dan menyuruhmu agar cepat kembali ke istana karena mencemaskan dirimu,"
"Baiklah, kalau begitu aku pamit kepada ayahku dulu," Kinan segera menghubungi Ryan untuk memberitahukan kalau dia akan kembali ke istana.
"Tapi ini sudah malam sayang, berbahaya jika kau melakukan perjalanan malam-malam seperti ini ke istana, sedangkan Baladewa bilang orang-orang jahat itu sedang mengincar mu," cegah Ryan
"Kau tidak usah khawatir ayah, aku akan aman karena ada Rotama yang menjagaku,"
"Tapi kalian cuma berdua, aku tetap khawatir. Bagaimana kalau Papih ikut mengawalku,"
"Tidak perlu khawatir Om, karena aku akan mengajak Kinan menginap di kediaman pribadi ayahku, dan kami akan melanjutkan perjalanan ke Istana esok hari," ucap Totama
********
Rotama melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menembus gelapnya malam.
"Sepertinya hari sudah malam, lebih baik kau menginap di rumahku. Kau tidak usah khawatir rumahku cukup aman dan aku akan menjagamu,"
Rotama menghentikan mobilnya di sebuah rumah yang asri dan mengajak Kinan masuk ke dalamnya.
"Kenapa rumah ini sepi?" tanya Kinan
"Semuanya sudah pergi ke luar negeri semenjak ayah di penjara karena kasus Korupsi," Jawab Rotama sedih.
"Ini kamar adikku, istirahatlah dengan nyaman, anggap saja kamar sendiri," Rotama mengantar Kinan masuk ke kamarnya dan kemudian meninggalkannya.
Kinan segera bergerak memeriksa semua yang ada di kamar itu.
Sial tidak ada apapun disini!
Gadis itu kemudian melangkah keluar kamarnya dan berjalan mengendap-endap memeriksa setiap ruangan itu. Ia terkejut ketika melihat ada sebuah pintu rahasia yang membawanya menuju ke penjara bawah tanah. Kinan mengambil Foto penjara bawah tanah dari atas, dia tidak bisa turun untuk melihatnya dari dekat karena ada beberapa penjaga disana.
Pantas saja rumah ini sepi, ternyata mereka semuanya ada dibawah sana, aku yakin dia menyembunyikan semua bukti-bukti kudetanya di rumah ini. Apa ia menyembunyikannya dikamar tidurnya,
Gadis itu kemudian mencari dimana kamar Rotama, ia tersenyum ketika melihat pria itu masuk ke kamarnya.
Ia kemudian mengendap-endap memastikan kamar itu adalah kamar Rotama.
Senyumnya mengembang ketika melihat pria itu membaringkan tubuhnya di sana.
Tidak salah lagi, ini pasti kamarnya
Ia segera bersembunyi ketika mendengar derap langkah seorang berjalan menuju ke kamar itu.
__ADS_1
Lelaki itu membisikkan sesuatu kepada Rotama hingga pemuda itu kemudian mengikutinya.
Kinan segera masuk ke dalam kamar itu ketika tahu rotama pergi bersama anak buahnya.
Aku harus segera menemukannya,
Gadis itu segera mencari buku agenda Rotama di semua laci meja dan juga lemari ruangan itu. Tapi sayangnya walaupun ia sudah mencarinya di setiap sudut ruangan itu ia tetap tidak menemukannya.
"Apa ini yang kau cari?" tanya Rotama membuat Kinan terkejut
"Kau memang gadis yang cerdik, dan mahir dalam bertarung tapi sayangnya kau sedang berhadapan dengan orang yang ahli dalam bidang strategi. Kau bisa saja mengalahkan siapa saja yang kau anggap sebagai musuhmu, tapi kau tidak akan menang melawan ahli strategi seperti ku. Karena aku mengalahkan semua musuh-musuhku bukan dengan otot atau senjata, tapi dengan otakku. Karena untuk memenangkan suatu pertempuran bukan hanya dengan pasukan yang kuat dsn senjata yang mencukupi, tapi kita akan menang dengan cepat tanpa mengorbankan banyak nyawa dalam Medan perang dengan strategi jitu. Orang bilang aku licik, dan itu benar. Kau pikir kau bisa menjebak ku dengan akting mu yang sungguh buruk itu, kau salah Kinan karena aku sudah tahu rencana mu dengan Baladewa yang ingin menjebak ku dengan memberi tahukan bahwa Devin masih hidup, tapi karena aku orang yang cerdik tentu saja aku mengikuti permainan kalian agar kau tidak kecewa. Agar kau berpikir kalau kau adalah gadis yang cerdik yang bisa menjeratku," Rotama mendorong tubuh Kinan hingga jatuh keatas Ranjangnya
"Aku bisa saja memberikan buku ini padamu, dan kau bisa tahu rencana ku untuk melakukan kudeta, dengan syarat kau mau menjadi milikku malam ini," ucap Rotama mendekatkan wajahnya pada Kinan
Gadis itu segera mendengkul ******** Rotama hingga ia mengerang kesakitan.
"Brengsek, dasar jal*Ng, beraninya kau menolak ku!" hardik Rotama mencoba bangkit.
"Sekarang kita lihat siapa yang akan jadi pemenangnya," Kinan segera melesatkan pukulannya kearah Rotama hingga lelaki itu sempoyongan
"Cukup Kinan!!, kali ini kesabaran ku sudah habis, bersiaplah untuk mati malam ini!!" hardik Rotama membuat puluhan pasukan ninja memasuki kamar itu.
"Bunuh dia!!" seru Rotama
Semuanya bergerak maju menyerang Kinan. Tidak lama Ryan dan yang lainnya datang membantu Kinan.
"Jangan takut sayang, Papih datang!" seru Ryan
"Oh, ternyata sekarang Baladewa sudah mulai cerdik dan bisa membaca pikiranku, keren!!" Rotama mengacungkan jempolnya dan kemudian menyerang Ryan dan kawan-kawannya.
"Lawanmu disini Tama," Devin berjalan mendekati lelaki itu
"Oh, jadi kau juga ingin balas dendam, baiklah malam ini aku akan mengirim mu ke Neraka untuk menemui ayahmu!!" seru Rotama menyerang kearah Devin
*Flashback
"Apa mereka sudah pergi?" tanya Devin
"Sudah, apa kau baik-baik saja?" jawab Bayu
"Aku hampir saja mati jika kau datang terlambat tadi, tapi syukurlah aku masih bisa bernafas lega karena masih diberi kesempatan hidup," Devin menarik nafas panjang
"Sekarang saatnya kita menjalankan rencana selanjutnya, yaitu mengawal Kinan, karena Rotama adalah orang yang sangat licik. Aku takut terjadi sesuatu pada Kinan saat akan melakukan misinya, setidaknya kita harus tetap waspada walaupun Rotama belum menyadari kalau Kinan sedang menjebaknya," ucap Bayu
"Baik, sekarang saatnya kita pergi!"
Semuanya kemudian menaiki mobilnya masing-masing dan mengikuti share location yang di kirimkan oleh Kinan.
Setibanya di sana mereka segera masuk kedalam rumah begitu mendengar suara Rotama memberikan perintah untuk membunuh Kinan.
*Flashback end.
Rotama terlihat melesatkan tendangan kearah Devin hingga membuat lelaki itu jatuh terjerembab ke lantai.
"Bersiaplah untuk mati Devin!" Rotama mencabut pedang dari salah seorang anak buahnya dan membebaskannya kearah Devin
*Jraasshhh !!!
Rotama terlihat meringis menahan sakit ketika Kinan berhasil menebaskan pedangnya ke lengan lelaki itu.
"Kau!!" pekik Rotama penuh amarah
"Tidak selamanya strategi akan menang dari tajamnya pedang kawan!!" Kinan kembali melesatkan tendangannya kearah Rotama hingga lelaki itu jatuh tersungkur ke lantai.
"Itu balasan dariku karena telah menyakiti orang yang paling aku cintai!" seru Kinan melesatkan tendangan kearahnya.
*Buugghhh!!
__ADS_1
"Cukup Kinan, kamu tidak boleh membunuhnya, karena dia harus mempertanggung jawabkan semua perbuatannya di depan pengadilan. Dan juga membersihkan nama baik semua keluarga kerajaan yang telah ia jadikan korban politiknya, terutama kakakku," ucap Devin menghentikan Kinan yang ingin membunuh lelaki itu.