
"Apa karena tahta, makannya kau tega melakukan semua ini padaku?" tanya Devin berlinang Air mata
"Aku tidak ada berbuat seperti ini kalau ibumu tidak memulainya, dia yang menabuh genderang perang denganku. Untuk itulah aku menyambutnya dengan tangan terbuka. Kau tahu sebelum ayah meninggal dia sudah berpesan untukku untuk menjadikan aku Raja menggantikannya untuk sementara sampai kau dewasa. Tapi ibumu pura-pura lupa dengan pesan itu, bahkan karena hanya aku dan dia yang tahu pesan itu ia bahkan mengirim aku keluar negeri dengan alasan untuk melanjutkan kuliah. Dan apa yang terjadi selanjutnya?, aku dilarang kembali ke Indonesia dengan alasan memiliki riwayat penyakit berbahaya dan menular sehingga aku diisolasi disebuah rumah sakit di Florida." terang Genta
"Mungkin kau bertanya kenapa aku bisa keluar dari rumah sakit itu dan kenapa aku bisa kembali ke Indonesia. Itu karena aku melakukan percobaan bunuh diri agar dokter memeriksa kondisiku yang sebenarnya, disinilah Aku mulai bertemu dengan Ann, seorang perawat yang merawat ku dan akhirnya membantuku keluar dari rumah sakit setelah kurang lebih tiga tahun aku disekap disana. Setelah satu tahun aku memulihkan kondisiku dan mencari bantuan agar bisa pulang ke Indonesia, akhirnya aku bertemu dengan Sekertaris Kerajaan Raden Mas Siswo Budoyo, dan dialah yang menolongku hingga bisa kembali ke Indonesia. Bahkan aku sudah berjanji pada diriku sendiri ketika tiba di Jakarta, akan membalaskan dendamku kepada Harsiwi dan keluarganya dan aku juga bertekad untuk merebut tahta Raja darimu dengan bantuan Sekretaris Kerajaan walaupun aku harus membunuhmu," tutur Genta membuat Devin tercengang
"Jika tahta yang kau inginkan akan aku berikan kepadamu dengan sukarela, karena aku juga tidak ingin menjadi seorang raja. Itulah alasanku kenapa aku memilih meninggalkan istana dan hidup sebagai rakyat biasa selama bertahun-tahun. Jadi biarkan aku hidup, aku janji akan pergi jauh dari istana dan aku akan hidup sebagai rakyat biasa," jawab Devin
"Kau berbohong adikku, buktinya kau kembali lagi ke istana dan lebih memilih menjadi putra mahkota dan memutuskan kekasih mu. Kimmy seorang anak angkat Ratu keraton Arjowinangun. Bukankah itu sudah cukup untuk membuktikan kalau kau tetap menginginkan tahta itu," sahut Genta menyeringai
"Kau salah Kaka. Kau tidak tahu cerita yang sebenarnya, aku melakukan itu semua untuk menyelamatkan Kimmy karena aku tahu jika Ibu mengetahui rahasia Kimmy dia akan memisahkan aku dengan dia apapun caranya bahkan ia bisa saja membunuhnya. Untuk itulah aku memilih menerima perintahnya untuk menjadi putra mahkota," Devin mencoba menjelaskan kepada Genta kejadian sebenarnya.
"Kau pikir aku akan percaya dengan bualan mu itu!" hardik Genta dengan suara lantang
Sementara itu Siwi merasakan perutnya sangat mules setelah meminum obat pencahar.
Astaga kenapa dalam keadaan genting begini malah ada panggilan alam sih, hadeeh memalukan saja. Mana tubuh aku diikat kaya kaya gini gimana mau pergi ke toiletnya. Mereka pasti tidak akan percaya kalau aku sedang kebelet.
"Sttt!!" Siwi berusaha menarik lengan Devin memberikan kode padanya
"Sssttt!!" ucap Siwi ketika Devin tetap mengabaikan panggilannya
"Ada apa?" tanya Devin
Siwi segera mengerlingkan matanya memberikan tanda agar pemuda itu segera mendekatinya.
"Tolong beritahu mereka aku mau ke toilet," bisik Siwi membuat Devin mengangguk.
Ia kemudian memberi tahukan kepada penjaga bahwa Siwi ingin pergi ke toilet.
"Jangan bohong, jangan pakai trik lama itu untuk kabur dari kami!" hardik seorang pria yang merupakan pemimpin mereka.
"Aku tidak bohong, aku benar-benar kebelet!!, apa kalian mau aku buang air disini!" cibir
Siwi
"Kau tidak perlu membuktikannya, karena aku punya cincin sakti yang bisa menebak orang berkata bohong atau jujur!!" tambah lelaki itu mendekati Siwi
"Kalau kau berkata jujur maka cincin ini akan berubah warna, tapi jika cincin ini tidak berubah warna itu berarti kau berkata bohong,"
"Mana ada batu bisa berubah warna, emang kau pikir aku anak kecil yang bisa kau bodohi dengan cerita fiktif seperti itu!" cibir Siwi
**Plaaakkkk!!!
"Lancang sekali kau berani menghina cincin saktiku!!" hardik lelaki itu menampar wajah Siwi
"Astaghfirullah, cuma gara-gara cincin sialan itu dia sampai menampar pipi gue, dasar brengsek!!" umpat Siwi
"Ayolah izinkan aku ke toilet aku sudah tidak tahan," pinta Siwi memegangi perutnya
Lelaki itu tersenyum padanya.
"Cincin batuku tidak berubah warna, berarti kau berbohong," jawab Lelaki itu
*Tiuuuuut!!
Semua yang ada diruangan itu saling menatap satu sama lain.
"Suara apa itu?" tanya lelaki itu penasaran
"Suara penghuni Villa ini, dia marah karena kau tidak mempercayai cucunya," jawab Siwi sembari menahan mules perutnya
Semuanya langsung menutup hidung ketika mencium bau kentut Siwi yang membuat perut mete enek.
Rasakan bau sedap kentut gue!!
Siwi hanya tersenyum melihat para penjahat itu saling menyalahkan dan mencari siapa yang buang angin.
"Rasakan seranganku berikutnya, mual-mual deh!!" gumam Siwi
*Dut, dutdurutdut!!
"Ya ampun bau sekali, siapa yang kentut!!" teriak salah seorang dari mereka
"Gue, kan tadi aku bilang aku sudah kebelet mau ke toilet tapi kalian tidak percaya. Jadi rasakan bau kentut gue!!" cibir Siwi
"Antar gadis itu ke toilet!!" perintah salah seorang dari mereka
"Tapi bagaimana kalau bos marah, bukannya dia sudah melarang kita membawa wanita itu ke toilet!" jawab anak buah lainnya
"Sudahlah bawa saja dia, apa kau mau mati gara-gara dia terus mengeluarkan racun dari perutnya, aku yang akan tanggung jawab jika bos besar marah-marah!" sahut lelaki itu
__ADS_1
"Baik," seorang lelaki muda membawa Siwi ke toilet
"Akhirnya, lega juga. Benar-benar nikmat Tuhan yang selalu diabaikan," ucap Siwi ketika selesai membuang hajatnya.
"Lancang sekali beraninya kau meragukan kebenaran cincin saktiku!!" hardik bos besar sembari menghunuskan pisaunya ketubuh lelaki yang sudah memberikan izin kepada Siwi untuk ke toilet
*Jraashh!!
*Bruuughhh!!
Siwi membulatkan matanya ketika melihat seorang lelaki dipenggal kepalanya didepan matanya hanya karena mengizinkan dia ke toilet.
"Dengarkan aku!!, jangan pernah meragukan cincin sakti ku, dan sekarang tangkap wanita itu, aku yakin toilet hanya dijadikan alasan saja agar bisa kabur dari sini. Jadi tunggu apa lagi tangkap dia!!" hardiknya dengan suara lantang
"Tuan!!" Tiba-tiba seorang lelaki mendekatinya dengan wajah cemas
"Ada apa!"
"Diluar ada tiga wanita tangguh sudah mengalahkan semua anak buah kita!!" jawabnya gugup
"Jadi bantuan sudah mulai datang rupanya, persiapkan senjata kalian dan bunuh semua yang berani ikut campur dengan Jenggala!!" seru lelaki itu
"Baik Tuan!" semuanya langsung mengambil senjata mereka dan keluar dari ruang penyekapan.
Sementara itu Siwi yang ketakutan masih bersembunyi di balik lemari baju, terlihat berpikir keras untuk bisa keluar dari Villa itu.
"Cassey sudah datang, aku yakin Papih juga ikut. Tapi apa mereka bisa melawan pasukan bersenjata itu, aku takut mereka akan mati sia-sia. Apalagi lelaki itu sangat sadis dan berani melakukan apapun agar rencananya berhasil. Sebaiknya aku mencari cara bagaimana aku bisa membantu dengan otak licikku," Siwi masih berpikir bagaimana caranya membantu Cassey dan kawan-kawannya yang sedang bertarung dengan anak buah Jenggala
"Ahhhaaa, aku punya ide. Kalau dipikir-pikir lelaki itu sangat peduli dengan cincinnya bahkan cincin itu lebih berharga dari pada nyawa anak buahnya. Dia akan melakukan apapun untuk cincinnya itu, so aku harus mencuri cincin tapi bagaimana caranya?"
********
"Key, sepertinya gue sudah gak kuat lagi, mete semakin banyak dan bawa senjata lagi!!" keluh Agni
"Yasudah lo duduk saja, biar gue dan Kinan yang akan menghadapi pasukan bersenjata itu," jawab Cassey
"Lagian Papih kenapa datangnya lama banget padahal dia sudah otw dari tiga jam yang lalu, masa gak sampai-sampai sih!" keluh Kinan
"Macet kali," jawab Agni
"Gak mungkin. Mending daripada lo bengong, tolong telponin Papih, bilang suruh cepetan. Karena kita sudah kewalahan disini!!!!" seru Kinan sembari melesatkan tendangannnya
"Halo Om Rey, kau sudah sampai mana, cepatlah Kinan dan Cassey sudah kewalahan menghadapi musuh-musuhnya yang memakai pedang dan pistol," ucap Agni
"Memangnya Miss ada dimana?" tanya Jemmy
"Sejak kapan Om manggil Kinan Miss," gerutu Agni
"Cepat katakan dimana Miss berada, kita akan bantu dia kalah memang dia dalam bahaya,"
"Villa Bugenvil Tawangmangu,"
"Share locatian!!"
"Hadeehh, dasar orang tua pakai minta shareloc segala, nyusahin," Agni segera mengirim lokasi mereka.
"Teman-teman sepertinya Miss sedang butuh bantuan kita, sekarang kita harus pergi menolongnya, bawa senjata kalian!!" seru Jemmy didepan kelasnya
"Memangnya dia dimana?" tanya Adrian
"Di Tawangmangu, dan barusan temannya menghubungi gue minta bantuan, so let's go!!" seru Jemmy
"Gue ikut!!" seru Alina dan Maya
"Cewek jangan ikut, nanti nyusahin aja!" seru Rendra
"Kita harus ikut apalagi Miss Kinan wali kelas kita!" tambah yang lainnya
"Anj*r, boleh ikut tapi jangan semua," sahut Jemmy
"Kalau gak boleh kita bakal laporin ke pak Lisven kalau lo suka malakin anak-anak di toilet!" ancam yang lainnya
"Ok, Ok!!, sekarang kalian ikut mau naik apa?, sedangkan kami anak laki-laki akan naik motor," jawab Jemmy tenang saja
"Lo liat aja!!" Alina segera mengerlingkan matanya dan beberapa siswa putri langsung berlari ke tengah jalan dan mengangkat roknya keatas paha membuat semua kendaraan berhenti.
"Om, tolong antar kita ke Tawangmangu ya, please," rayu mereka sambil mengerlingkan matanya
"Ayo, silahkan naik," jawab Sopir truk itu membuat semuanya langsung berteriak senang.
"Horeee!!"
__ADS_1
"Anj*r, emang dasar wanita itu makhluk Tuhan yang paling laknat, karena selalu menggoda kaum adam," gerutu Rendra
"Kuy, jalan!!" seru Alina membuat semuanya langsung melesatkan motornya untuk membantu Kinanthi.
**Dreet, dreet, dreet!!
"Halo Om, kenapa lagi?" tanya Agni
"Villanya yang mana? " tanya Ryan
"Kan tadi udah aku sharloc Om, kok nanya lagi?" tanya Agni Bingung
"Kapan lo shareloc Agni, ini aja Om baru telpon kamu,"
"Lah tadi kan aku baru saja telpon Om?"
"Coba cek dulu kamu manggil Om atau manggil orang lain?"
Agni terkejut ketika melihat ternyata ia salah telpon.
Hadeeh, jadi tadi yang gue telpon itu Jemmy muridnya Kinanthi, pantesan dia manggilnya Miss, kenapa gue mendadak Oneng gini sih.
"Iya Om sorry salah telpon tadi,"
"Yaudah villanya yang mana?"
"Villa bugenvil nomor 13,"
"Yang Cat biru telor asin bukan?"
"Iya betul Om, masuk aja!"
"Gimana mau masuk, pintunya dikunci!"
Astaga, kenapa gue lupa kalau tadi kita itu masuknya lewat jendela,
"Oke om, tunggu bentar Agni akan bukain pintunya," Angni langsung berlari menuju ke ruang depan untuk membukakan pintu Villa.
"Silakan masuk OM," Agni langsung terserah kalian dan kawan-kawannya untuk masuk ke dalam villa.
"Cassey, dimana?" tanya Ryan
"Ada di ruang tengah Om, tapi sepertinya kalau mau bergabung dengan mereka kamu harus bawa senjata deh soalnya pasukan kedua ini adalah pasukan yang membawa senjata tajam berupa golok dan senjata api, "' tukas Agni
"Kau tidak usah khawatir kalau masalah seperti itu. Kita udah jagonya, walaupun kita ini kakek-kakek jangan kamu memandang kami sebelah mata, karena ibaratnya kami ini Tua-tua keladi, biarpun tua tapi semakin Sakti," sahut Rey sambil terkekeh
"Hmmm, iya deh, sekarang ayo buktikan!!" Agni segera menarik lengan Ryan menuju ke arena pertempuran.
"Sudah siap Guys?" tanya Ryan kepada sahabatnya
"Yoi," jawab Ferdan dan Noval kompak
"Serang!!!" seru Ryan merangsek maju menyerang musuh-musuh yang sudah menantinya.
"Tolong bawakan aku minum!!" teriak Jenggala dari ruangannya membuat Siwi berinisiatif untuk memberikan minuman kepada lelaki itu.
Siwi hanya tersenyum ketika tahu bahwa tidak ada satupun anak buah Jenggala yang ada di ruangan itu karena mereka semua sudah bergegas melawan Cassey, Kinan dan Agni, di ruang tengah.
"Ini kesempatan gue buat mencuri cincin lelaki itu, tapi bagaimana caranya?" gadis itu berpikir keras mencari ide brilian.
"Hmmm, sepertinya dia akan melepaskan cincin itu jika dia pergi ke toilet. Oleh karena itu aku harus memberinya minuman yang bisa membuat dia pergi ke toilet, artinya minuman itu harus dicampur dengan obat pencahar yang ada di tas gue," Siwi segera mengecek obat pencahar di saku celananya.
" Masih ada satu, Tapi ngomong-ngomong dia itu kan enggak punya anak buat cewek, terus gue harus memyamar gitu?. Ahaaaa!!, kebetulan di dalam tas gue ini banyak sekali sisa properti shooting kemarin," Siwi segera memeriksa isi tasnya
"Wah, ada kumis palsu, gue akan akik Umi sini supaya orang itu tidak curiga sama gue," Siwi segera menuju ke dapur dan mengambil segelas air putih tidak lupa ia menambahkan sebuah bubuk pencahar ke dalam minuman itu dan membawakannya menuju ke kamar Jenggala.
*Tok, tok, tok!!!
"Masuk!!" seru Jenggala
Siwi perlahan membuka pintu ruangan itu dan meletakkan minuman itu diatas meja Jenggala. Ia terus menundukkan wajahnya agar lelaki itu tidak curiga padanya.
"Tunggu!!" Siwi menghentikan langkahnya ketika pria itu memanggilnya
"Sepertinya aku belum pernah melihat kamu, apa kau orang baru disini?" tanya lelaki itu penasaran dan mendekati Siwi
Wanita itu hanya mengangguk dan meninggalkan ruangan itu.
"Syukurlah aku selamat!!" ucapnya sembari mengusap dadanya.
Ia terus mengamati lelaki itu dari balik pintu. Senyumnya mengembang ketika melihat Lelaki itu memegangi perutnya dan meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1