
"Tumben hari ini kamu senyum-senyum sendiri, pasti kamu lagi seneng ya?" tanya Angga
"Iya Ngga gue lagi seneng, karena sekarang ibunya Devin sudah merestui hubungan kami, jadi aku seneng banget," jawab Kinan bahagia
"Wah selamat ya, semoga kalian cepet nyusul gue,"
"Doain ya Angga, makanya gue mau mempercepat kuliah gue, makanya aku harus rajin-rajin masuk," Kinan segera membereskan buku-bukunya di mejanya
"Gue tinggal dulu ya Ngga," Kinan segera menyambar tasnya
"Mau kemana?"
"Kuliah,"
"Yaudah aku antar, lagian jam. mengajar gue juga sudah selesai, sekalian pulang,"
"Ok, assl gak ngerepotin aja Ngga,"
"Never mind,"
Mereka berdua berjalan menuju ke parkiran, dan masuk kedalam mobil Angga.
"Gimana kuliah Kimmy?"
"Masih nyusun skripsi dia,"
"Hmmm, jadi pengin buru-buru skripsi, kuliah gue kelamaan gara-gara keasyikan kerja, makanya molor sampai sekarang,"
"Yang penting tetap semangat dan optimis selalu, Ganbate!!" seru Angga
"Ganbate!!"
"Depan kiri Ngga!" seru Kinan
"Baik bu guru," goda Angga
"Thanks Ngga," Kinan segera turun dari mobil dan melambaikan tangannya kepada Angga
"Semangat!!" seru Angga yang kemudian melesatkan mobilnya meninggalkan Kinanti
Gadis itu segera masuk ke kampus menuju ke kelasnya.
"Udah lama gue gak masuk, banyak banget yang berubah. Semoga bulan ini aku bisa mengejar semua mata kuliah yang tertinggal dan semester besok tinggal nyusun skripsi, semangat!" gumam Kinan gadis itu menatap sekeliling ruang kelasnya yang sudah dipenuhi mahasiswa
"Hadeeh, padahal sudah datang cepat masih saja tidak kebagian bangku, ups tapi masih ada satu bangku kosong satu dibelakang, lumayanlah, daripada harus duduk di depan dosen mending dibelakang, kalau ngantuk tidak ketahuan!" Kinan segera meletakan tasnya disampingnya dan ia kemudian memejamkan matanya sejenak sambil menunggu dosen masuk ke kelasnya.
**Braakkk!!
Kinan tersentak ketika mendengar seorang menggebrak bangku tempat duduknya.
"Woii, siapa lo berani-beraninya duduk di bangku gue!!" hardik seorang pria
Kinan hanya tersenyum mendengar ocehan pria didepannya.
__ADS_1
"Bangku ini milik kampus cuy, dan siapapun berhak duduk disini tidak ada larangan. Lagian gak ada tulisannya juga kalau gie dilarang duduk disini," jawab Kinan enteng, gadis itu sama sekali tidak gentar ketika melihat segerombolan pria yang mengepungnya bahkan dia hanya menanggapinya dengan santai
"Lo pasti mahasiswi baru atau pindahan makanya lo gak kenal siapa gue!" seru lelaki itu
"Dibilang mahasiswi baru, gue memang baru masuk setelah cuti satu semester, dibilang lama ya..memang gue mahasiswa lama karena harusnya gue sudah tinggal nunggu sidang sekarang," jawab Kinan santai
"Asal lo tahu ya, itu adalah kursi gue dari dulu dan tidak ada seorangpun yang boleh menduduki singgasana gue, ngerti lo!" cibirnya
"Oh jadi lo mahasiswa abadi yang banyak di gunjingan itu ya, baru tahu gue ternyata lo orangnya!" jawab Kinan sambil terkekeh membuat lelaki itu berang dan menarik lengannya hingga ia keluar dari tempat duduknya
"Nj*r, ngajak ribut dia," sahut Kinan
"Gue Jadi mahasiswa abadi itu karena gue selalu ditugaskan oleh pihak kampus untuk mengikuti kejuaraan basket tingkat nasional, untuk itulah kalian harusnya bangga sama gue yang selalu mewakili kampus kita di ajang pertandingan basket nasional!" jawab lelaki itu dengan sombongnya
"Hmmm gitu ya, Btw lo menang gak dalam lomba itu, kalau menang baru gue hormat sama lo, tapi kalau gak ya percuma dong, ngapain selalu ikut lomba kalau kalah," jawab Kinan membuat lelaki itu naik darah dan langsung menyerangnya.
Pria itu kemudian melesatkan pukulannya kearah Kinan dan gadis itu langsung menahan pukulannya dengan tangannya.
"Kalau mau berkelahi jangan disini bro, terlalu ramai!" ucap Kinan berjalan meninggalkan lelaki itu,
Glen tidak terima dengan perlakuan Kinan, ia kemudian berusaha menyerangnya dari belakang, akan tetapi bukan Kinan namanya kalau tidak bisa membaca gerakan lawan. Gadis itu tersenyum sinis dan melepaskan tendangannya belakangnya hingga membuat tubuh Glen terpental menghantam bangku belajar.
"Sudah ku bilang jangan disini tapi kau tidak sabaran, sekarang rasakan sendiri akibatnya!" Sekali lagi Glen berusaha bangkit namun Kinan yang berdiri di belakangnya kembali melesatkan tendangan dari samping hingga membuat pria itu kembali jatuh luruh ke lantai.
"Tidak semua mahasiswi itu lemah dan bisa kau aniaya!!" Kinan kemudian kembali berjalan kearah bangkunya, semua mahasiswa yang ada didalam kelas menatapnya dengan tatapan penuh kekaguman.
***********
Sementara itu di kediaman Perdama Menteri Cendana Kalingga.
"Aku tidak kalah melawan wanita itu, tapi Kinanthi yang sudah membuat aku babak belur," jawab Revan
"Cih, Kinanthi, lagi-lagi j*lang itu yang berusaha mengagalkan rencanaku. Apa jangan-jangan dia sedang merencanakan untuk mendapatkan restu dari Yang Mulia Ratu. Bagus kalau gitu aku akan menghabisi dua-duanya sekaligus," ujar Nilam tersenyum simpul
"Kau tidak perlu melakukan semua itu putriku. Sudah bukan masanya bermain kasar, lebih baik kita main halus saja tapi mematikan. Jadi ayah punya rencana untuk menjatuhkan Harsiwi dari tahtanya pada saat acara sidang tahunan dengan para penasihat dan juga sesepuh Istana. Di sana semua oposisi dan koalisi akan bertemu membahas tentang penerus tahta singgasana Cendana Kalingga.Di situlah ayah akan menceritakan betapa rapuhnya Harsiwi, seorang Ratu yang tidak bisa memimpin dan hanya didukung oleh segelintir orang. Sehingga akan membuat Kerajaan Cendana Kalingga bisa runtuh karena tidak ada pertahanan yang kuat dari dalam," ucap Bambang
"Baik Ayah, aku setuju. Dan aku juga berencana akan membunuh perempuan itu setelah ia turun tahta untuk mengurangi beban hidup mereka. Karena aku tahu Raka pasti akan kewalahan menghadapi gaya hidup hedonis ibunya saat mereka tidak bergelimang harta lagi. Untuk itulah aku akan membantunya dengan membunuh ibunya itu, aku yakin Raka pasti senang dan berterima kasih kepada ku," ucap Nilam dengan senyum sinisnya
"Terserah kau saja Nilam, yang penting sekarang kau jangan menganggu Harsiwi dulu karena kau bisa menggagalkan rencanaku," jawab Bambang
"Tentu saja ayah, aku akan selalu mendukungmu," Nilam kemudian mengajak Revan pergi meninggalkan ruangan itu.
"Sekarang kau antar aku ke dokter," ujar Nilam
"Untuk apa, aku tidak perlu berobat!" sahut Revan
"Bukan kau yang akan berobat, tapi aku akan memeriksakan kandunganku, dan aku mengajakmu supaya orang-orang tidak curiga dengan kehamilanku, karena mereka akan mengira kalau aku akan mengantarmu berobat,"
"Dasar ular!" gumam Revan
Keduanya berjalan keluar meninggalkan kediaman Perdana Menteri, sementara itu Harsiwi dari kejauhan sedang mengamati gerak-gerik Nilam dan juga Revan.
"Benar dugaanku, ternyata Nilam adalah dalang dari semua ini. Aku harus mengikuti mereka, dan aku harus tahu apa yang mereka rencanakan selanjutnya," Harsiwi melajukan mobilnya mengikuti kemana Nilam pergi.
__ADS_1
Revan menghentikan mobilnya disebuah rumah sakit terbesar di kota Solo.
"Tolong cek dulu apa ada yang mengikuti kita tau tidak?" tanya Nilam
"Baik," Revan langsung mengedarkan pandangannya kearah basement tempatnya memarkirkan mobilnya.
"Sepertinya aman," ucap Revan
Nilam segera turun dan melangkah keluar menuju ke ruang dokter spesialis kandungan.
"Hampir saja, beruntung aku masih bisa bersembunyi jadi Nilam tidak curiga," ucap Harsiwi mengusap dadanya, setelah memarkirkan mobilnya ia kemudian berlari mengejar Nilam agar tidak kehilangan jejak mereka.
"Baru saja ditinggal sebentar mete sudah menghilang saja, kemana lagi mereka!!" Harsiwi berusaha mencari Nilam dan juga Revan meskipun ia sudah kehilangan jejak keduanya.
Dalam kebingungan karena sudah bolak-balik mengitari semua ruangan rumah sakit yang sangat besar itu membuat Harsiwi kelelahan dan kemudian memilih beristirahat sejenak disebuah koridor ruang pemeriksaan ibu hamil. Ia terkejut ketika melihat Nilam dan juga Revan berjalan kearahnya. Buru-buru wanita itu bersembunyi kedalam ruangan janitor yang ada disebelahnya.
"Ngapain mereka menuju ke ruang pemeriksaan ibu hamil??" seribu tanya menyeruak di kepala Wanita itu, ia sangat penasaran dengan apa yang dilakukan Nilam dan Revan disana, tapi ia tidak bisa keluar karena jika mereka melihatnya pasti akan langsung menganiaya dirinya.
**Dreet, dreet, dreet!!!
"Halo, yang mulia ada dimana?" tanya Baladewa cemas
"Aku sedang berada di rumah sakit," jawab Harsiwi
"Apa yang Mulia sedang tidak enak badan?" tanya Dewa lagi
"Tidak, aku baik-baik saja, hanya aku sedang menyelidiki seseorang disini,"
"Tapi sebentar lagi rapat tahunan akan segera dimulai, dan kami tinggal menunggu kedatanganmu saja,"
"Astaghfirullah, kenapa aku sampai lupa jika hari ini ada rapat tahunan dengan para Penasihat dan sesepuh Istana. Yasudah kau mulai saja acaranya aku akan segera meluncur kesana!" sahut Harsiwi
"Apa kami perlu menjemput anda yang mulia?" tanya Baladewa
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri, baiklah aku jalan dulu," Harsiwi segera menutup ponselnya dan keluar dari ruangan itu.
"Persetan dengan Nilam, aku bisa menyelidikinya lain kali, sekarang ada urusan yang lebih penting yang harus aku selesaikan, jangan sampai gara-gara masalah ini aku dilengserkan dari singgasana Ratu Cendana Kalingga," wanita itu kemudian berlari menuju ke lantai Basement dan kemudian melesatkan mobilnya menuju ke Istana Kalingga.
Tiga puluh menit kemudian ia sudah tiba di istana, dan segera menuju ke Pendopo utama untuk menghadiri rapat tahunan yang sudah di buka oleh Baladewa.
"Maaf saya terlambat," ujar Harsiwi memberikan salam kepada semua peserta rapat..
"Tidak masalah yang Mulia, lsgian raoat juga baru dimulai," Baladewa mempersilahkan Harsiwi duduk, sedangkan Bambang dan para oposisi menatap wanita itu dengan tatapan penuh kebencian
"Bagaimana perdana menteri, apa kita mulai menyerang sekarang?" bisik salah seorang oposisi kepada Bambang
"Tunggu sebentar, kita dengarkan dulu pidato pembukaan dari sesepuh Istana, setelah itu baru kita beraksi," jawab Bambang
"Baiklah kalau itu maumu," lelaki itu
Seorang lelaki tua sudah bersiap naik ke atas podium untuk menyampaikan pidatonya.
Raden Mas Tumenggung Surajaya sudah siap untuk menyampaikan pidatonya didepan para penasihat istana dsn juga sesepuh keraton.
__ADS_1
Semuanya terlihat antusias dan was-was dengan isi pidato yang akan disampaikan oleh sesepuh keraton yang terkenal sangat vokal dalam menyoroti kebijakan dan juga kemajuan Cendana Kalingga.