ISTRI TOMBOY SANG PANGERAN 2

ISTRI TOMBOY SANG PANGERAN 2
Season 3 # Episode 62. Siasat


__ADS_3

"Tenang saja, aku sudah memerintahkan semua anak buah ayah untuk mengejarnya. Dan tidak pernah ada yang selamat dari kejaran tentara bayaran ayah selama ini," seru Lelaki itu dengan sinis.


Sementara itu, Baladewa segera keluar dari kediaman Bambang setelah mengetahui rahasia besar lawan politiknya itu.


"Braakkk!!


Karena terburu-buru Baladewa sampai menabrak sebuah vas bunga.


"Itu dia, kejar!!" teriak seorang pengawal rumah itu


Mereka mengejar Baladewa yang berusaha kabur dari kediaman Bambang.


"Mau lari kemana lagi kamu!" Beberapa orang anak buah Bambang sudah mengepung Baladewa


Lelaki itu langsung melesatkan serangannya kepada Baladewa. Ia tidak mau kalah setelah mendapatkan sebuah rahasia besar, Baladewa berusaha melawan sekuat tenaga semua anak buah Bambang.


Ia kemudian mengambil sebuah bungkusan berisi serbuk obat tidur yang memang sudah dipersiapkan olehnya untuk jaga-jaga jika ia dalam keadaan terdesak.


**Wuuushh!!!


Dewa segera melempar serbuk obat tidur itu dan kemudian lari meninggalkan tempat tersebut setelah semua anak buah Bambang berjatuhan di lantai.


"Kurang ajar, tidak akan ku biarkan dia kabur!!" seru Bambang melepaskan tembakannya kearah Baladewa


*Dor, dor, dor!!


Dua peluru berhasil bersarang di punggung Dewa, tapi ia terus berusaha berlari hingga akhirnya jatuh di tengah jalan.


**Ciiit!!!


Bayu segera menghentikan mobilnya ketika melihat seseorang jatuh tepat didepan mobilnya. Ia segera turun dan memapah lelaki itu dan meletakkannya ke dalam.


"Dimana dia?" tanya Bambang


"Di lolos Tuan, tapi dia terkena dua tembakan di punggungnya dan ditolong oleh seseorang dengan menggunakan mobil dengan plat AB12***A," jawab salah seorang anak buahnya


"Ikuti mobil itu dan bunuh keduanya," titah Bambang


"Baik Tuan," mereka segera pergi mengejar mobil Bayu.


***********


"Sebenarnya siapa Devin, kenapa ia sampai diculik oleh penjahat, tidak mungkin kan jika orang biasa diculik apa lagi dia seorang laki-laki?" tanya Cassey menginterogasi Kinan di paviliunnya


Gadis itu hanya saling menatap kearah Devin.


"Sudah katakan saja Kin, jangan ada dusta diantara kita," sahut Ryan


Kinan terlihat memberikan kode kepada Devin dan laki-laki itu mengangguk setuju.


"Baiklah," ucap Kinan menghela nafas


"Mungkin sudah saatnya kalian tahu siapa Dev sebenarnya,"


"Jadi sebenarnya Devin adalah Pangeran dari kerajaan Cendana Kalingga, ayahnya raja Cendana sudah meninggal dunia. Dan kenapa dia dikejar-kejar dan di sekap oleh penjahat kelas kakap mungkin mereka orang suruhan dari partai oposisi yang ingin Dev mati agar dia tidak menjadi Raja Cendana Kalingga," tandas Kinan


"Kenapa kau tidak menceritakan semuanya dari awal Dev, apa putusnya hubungan cintamu dengan Kimmy juga ada hubungannya dengan masalah ini?" tanya Cassey dan Devin hanya mengangguk


"Sekarang kalian harus hati-hati dan waspada, karena penjahat itu sudah mengenali wajah kalian, dan bukan tidak mungkin mereka akan membunuh kalian semua karena dianggap sudah melindungi musuh mereka. Terutama kau Kinan karena aku tahu kau sekarang menjadi kekasih Dev, dan mereka tidak segan-segan untuk menjadikan kamu sandera untuk menjebak Devin," tambah Cassey


"Kau juga harus lebih hati-hati dan jangan pernah pergi sendirian, bawalah pengawal untuk melindungimu dari orang jahat." ucap Cassey


"Baik," jawab Devin


"Kenapa jadi rumit begini urusannya," keluh Ryan


"Sudah menjadi resiko bagi seorang putra mahkota apalagi saat ia akan naik tahta, pasti banyak yang tidak rela dan mati-matian untuk membunuhnya agar putra mahkota tidak menjadi Raja," jawab Cassey


"Sekarang kau pulanglah, aku sudah meminta tolong Ahmar dan Hermes untuk menjadi pengawal mu," imbuh Cassey


"Tapi aku pengawal pribadinya ka," sanggah Kinan


"Kau tidak cukup kuat jika sendirian Kin, makannya aku minta bantuan Hery dan Ahmar. Panda dan Bagas dan aku juga siap membantu jika kau ada masalah, sekarang pergilah!"


"Baik Yang Mulia," jawab Devin

__ADS_1


Ia kemudian pergi meninggalkan Istana Arjowinangun.


***********


Malam mulai menjelang, hujan deras disertai angin kencang melanda Jogjakarta dan sekitarnya. Kimmy masih belum bisa memejamkan matanya, ia gelisah menatap kearah sofa tempat dimana Angga biasanya terlelap.


"Kemana kamu, kenapa belum kembali," batin Kimmy bertanya-tanya kenapa Suaminya belum juga pulang.


*Dret, dret, dret!!


"Jangan khawatirkan aku, mungkin aku akan pulang terlambat karena jalanan tidak bisa dilalui karena ada pohon tumbang, sebaiknya kau tidur duluan saja," pesan dari Angga melalui ponselnya


"Kenapa aku tiba-tiba khawatir begini, apa aku mulai suka dengan Angga?" gumam Kimmy


Setelah hujan reda dan pohon tumbang sudah berhasil di pindahkan oleh petugas pertamanan dan pemakaman, Angga melajukan mobilnya menuju ke Istana.


Setibanya di paviliun Ia tidak tega untuk mengetuk pintu kamarnya, ia tahu jika malam sudah semakin larut dan Kimmy pasti sudah terlelap. Lelaki itu kemudian memutuskan untuk tidur di sofa ruang tamu karena tidak mau mengganggu istrinya.


Pagi harinya Kimmy tercengang melihat suaminya yang meringkuk di sofa ruang tamu.


"Bahkan kau tidak mau menganggu ku tidur, kenapa kau terlalu baik padaku Angga, padahal aku berusaha membenciku," gumam Kimmy


Gadis itu segera pergi menjauh darinya ketika melihat Angga mulai mengerjapkan matanya.


Angga kemudian masuk ke dalam kamarnya dan langsung menuju ke kamar mandi, sedangkan Kimmy diam-diam mengikutinya dari belakang.


Ia duduk di bibir ranjang menunggu Angga yang masih membersihkan tubuhnya di kamar mandi.


"Kenapa gue jadi nungguin dia mandi, harusnya kan hari ini aku bantuin bunda masak," Kimmy segera beranjak dari ranjangnya, namun ia kaget ketika mendengar suara engsel pintu yang hendak dibuka.


Kimmy langsung bersembunyi di bawah ranjangnya agar Angga tidak tahu kalau dia sedang memperhatikannya.


"Kenapa juga gue harus sembunyi disini, bukankah gue ini istrinya. Hadeeh harusnya gue keluar malah bersembunyi disini, kalau dia tahu gue ada dikolong Angga pasti mengira kalau gue sedang mengintipnya. Aish, menyedihkan sekali, dia pasti akan mengira aku mulai suka sama dia," umpat Kimmy


Gadis itu langsung memalingkan wajahnya ketika melihat handuk Angga yang tergeletak di lantai.


"Dia pasti lagi jadi toples, astaghfirullah, kenapa gue jadi mikir macem-macem. Gak boleh, pokoknya gue gak boleh membayangkan apapun tentang dia, terutama roti sobeknya. Tuh kan aku jadi keingetan sama roti sobeknya Angga, duh jangan-jangan emang gue udah gila," Kimmy terus mengumpat membuat Angga mendengar ucapannya.


Ia pura-pura menjatuhkan pakaiannya dan menengok kearah kolong tempat tidurnya, ia hanya tersenyum tipis melihat istrinya yang bersembunyi di bawah ranjang sembari memalingkan wajahnya.


"Aku tahu kamu sudah mulai menyukaiku Kim, dan aku janji akan membuat kamu mengakuinya di depan semua orang, kalau kamu sayang padaku, walaupun kau terus menutupinya dan menyembunyikannya dari ku," gumam Angga


**************


Sementara itu Bayu mengunjungi Baladewa yang masih terbaring lemah di brankarnya , laki-laki itu belum juga siuman setelah melakukan operasi kecil untuk mengangkat peluru di punggungnya.


"Apa lukanya sangat dalam?" tanya Bayu


"Benar sekali, tapi semangat hidup lelaki ini sangat kuat. Biasanya orang biasa akan langsung meregang nyawa ketika mendapat tembakan di punggungnya, apalagi ini ada dua, tapi sepertinya ia punya alasan yang kuat sehingga ia masih bertahan hidup walaupun kondisinya sangat kritis. Dan tidak lama lagi ia akan melewati masa kritisnya dan bisa sembuh kembali," jawab dokter yang merawat Baladewa


"Terima kasih sudah melakukan yang terbaik dokter,"


"Sama-sama Bayu," Dokter itu kemudian meninggalkan ruangan itu.


"Ha...ha..ha..us," ucap Dewa lirih


Bayu segera mengambilkan segelas air putih dan meminumkan padanya perlahan-lahan.


Dewa mulai membuka matanya perlahan-lahan dan menatap sekitarnya.


"Kau ada dirumah sakit sekarang, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Bayu


Dewa hanya tersenyum dan menatap lekat Bayu.


"Apa aku harus menghubungi keluargamu untuk memberi tahukan keadaan kamu?" tanya Bayu


Dewa hanya menggeleng.


"Baiklah, kalau begitu istirahat saja. Aku akan kembali lagi nanti saat makan siang," ucap Bayu


"Terima kasih," ucap Dewa lirih


"Sama-sama," Bayu kemudian pergi meninggalkan ruangan itu.


***********

__ADS_1


"Aku mau kalian mencari kebaradaan Dewa di semua rumah sakit yang ada di Solo dan sekitarnya. Aku tidak mau dia lolos dan menceritakan semuanya didepan rapat para sesepuh Keraton besok siang. Segera bunuh dia jika kalian menemukannya dan buang mayatnya sejauh mungkin agar tidak bisa ditemukan atau dikenali." ujar Bambang


"Dan Kau Nilam, gunakan anak buah mu untuk membunuh Genta. Menurut mata-mata yang ku kirim untuk menyelidikinya dia tinggal di Hotel bintang lima di kawasan Jogjakarta, segera datangi hotel itu dan bunuh dia sebelum ia tiba di Keraton Cendana Kalingga," titah Bambang


"Baik ayah, sekarang juga aku kan berangkat ke Jogja," Nilam segera pergi bersama Revan menuju ke Jogjakarta.


Revan segera melesatkan mobilnya menuju ke Jogjakarta, sementara Nilam tengah menghubungi seseorang menggunakan ponselnya.


"Halo sayang, apa kau tidak rindu padaku?" sapa Nilam dengan suara menggoda


"Tentu saja, aku sengaja datang ke Indonesia hanya untuk menemuimu, kenapa kau masih bertanya padaku," jawab Jonas


"Baiklah sayang, aku minta maaf karena sudah berlaku kasar padamu tempo hari. Dan sebagai permintaan maafku aku ingin menemuimu dan mengajakmu lunch di Kapoera Restoran, bagaimana?" tanya Nilam dengan senyuman sinisnya


"Baiklah aku kan menunggumu disana," jawab Jonas mematikan ponselnya.


"Kita ke Kapoera Restoran dulu," ucap Nilam


"Tapi bukannya kita harus ke Hotel dulu untuk membereskan Pangeran Genta," jawab Revan


"Kita tidak perlu mengotori tangan kita untuk menghabisi musuh kita, karena aku akan menggunakan Jonas untuk membunuhnya. Jadi kita aman karena kalaupun kematian Genta diusut oleh pihak yang berwajib kita tidak akan tersentuh oleh aparat, kamu mengerti sekarang?" ucap Nilam mengusap lembut wajah Revan


Lelaki itu hanya mengangguk dan tersenyum kecut kepadanya.


Revan segera memarkirkan mobilnya didepan Kapoera Restoran, ia sengaja menunggu di mobil saat Nilam bergegas keluar dari mobil.


"Beneran kamu gak mau ikut masuk?" tanya Nilam


"Iya, lebih baik aku menunggu di mobil daripada harus jadi obat nyamuk disana," sahut Revan


"Sejak kapan kau berubah menjadi posesif gini?" goda Nilam tertawaan kecil


"Sejak kau selalu mengabaikan perasaanku, dan lebih memilih bajing*n itu." jawab Revan acuh


"Kenapa kau masih membahas itu Rev,"


"Tentu saja Nilam, kau tahu aku sangat menyayangimu dari dulu dan tidak pernah mengharapkan apapun darimu, tapi kau sedikitpun tidak pernah merespon apalagi membalas cintaku. Dan bodohnya aku selalu saja kembali padamu dan terus membantumu walaupun aku tahu kau sudah sering mengecewakan aku," ucap Revan


*Cup!!


Sebuah kecupan mendarat di wajah Revan, membuat lelaki itu terperangah menatap Nilam.


"Cinta itu butuh pengorbanan sayang, dan kau harus sabar untuk mendapatkan wanita yang kau cintai," tutur Nilam menatap lekat wajah Revan


Revan hanya menghela nafas ketika menatap gadis didepannya.


"Pergilah," ucap Revan lirih


Nilam tersenyum padanya dan meninggalkan Revan di mobil.


"Aku harus tetap mempermainkan perasaanmu Revan, karena hanya engkaulah orang yang bisa ku percaya dan bisa membantuku untuk mendapatkan semua keinginanku," gumam Nilam


Wanita itu melambaikan tangannya kearah Jonas yang sudah menunggunya di sana.


"Maaf membuatmu menunggu lama," ucap Nilam mencium pipi Jonas


"Tidak papa sayang, aku rela menunggumu walaupun harus menunggu seribu tahun lamanya asalkan bisa bertemu dengan kamu sayang," sahut Jonas mencium tangan Nilam membuat gadis itu tersipu


"Kau memang paling bisa membuatku meleleh dengan gombalan mu itu sayang," jawab Nilam


"Aku tidak pernah menggombal denganmu sayang, semua yang ku katakan itu benar adanya. Aku bahkan tidak segan untuk memberikan nyawaku untukmu jika itu bisa membuatmu bahagia," tutur Jonas membuat Nilam mengembangkan senyumnya


Kena kau Jonas sekarang,


"Benarkah, apa kau tidak bohong?" tanya Nilam meyakinkan


"Tentu saja sayang, apalagi kau sedang mengandung anakku, apapun akan ku lakukan untukmu," jawab Jonas


Nilam langsung memasang ekspresi sedih mendengar perkataan Jonas.


"Kenapa kau sedih sayang, apa yang membuatmu bersedih?" tanya Jonas


"Kau tahu setelah ayahku tahu kalau aku sedang hamil di luar nikah, maka ia langsung menjodohkan aku dengan orang yang aku tidak cintai. Bahkan ayah mengancamku akan melakukan aborsi secara paksa kepadaku jika aku tidak mau menikah dengan lelaki itu. Kau tahu kan sayang, kalau aku hanya mencintaimu seorang dan tidak ada pria lain yang bisa menggantikan dirimu di hatiku. Bahkan aku tidak mau anak kita memiliki ayah tiri yang mungkin tidak bisa menyayanginya dengan tulus seperti ayah kandungnya. Jadi sayang bantu aku untuk menumbuh lelaki itu, aku tidak mau menikah dengan dia. Aku janji setelah kau menghabisinya kita akan segera kabur keluar negeri dan memulai hidup baru disana, membangun keluarga kecil yang bahagia. Kau mau kan sayang membantuku," ucap Nilam penuh penekanan


"Tentu saja sayang, aku tidak akan membiarkan lelaki lain memiliki dirimu, karena kau hanya. tercipta untukku," jawab Jonas mengusap lembut wajah kekasihnya

__ADS_1


Nilam kemudian tersenyum penuh kemenangan dan mengeluarkan foto Genta dari tasnya.


"Namanya Genta Mas Bhumi, dia menginap di Hotel Aryaduta VIP Room no. 556, jangan tinggalkan bekas dan buat ia seolah-olah bunuh diri, agar kau tidak terendus oleh aparat kepolisian," ucap Nilam sembari memberikan foto Genta kepada Jonas


__ADS_2