ISTRI TOMBOY SANG PANGERAN 2

ISTRI TOMBOY SANG PANGERAN 2
Bab. 41 #Memori daun pisang


__ADS_3

"Cie, manja banget Rey, biasanya kena golok juga lo diem aja gak teriak," ucap Niken


"Boleh dong sekali-kali manja sama lo, apa gak boleh?" tanya Ryan sembari menatap Intens wanita dihadapannya hingga membuat Niken salah tingkah dibuatnya.


"Boleh sih, tapi kamu kok jadi gombal gini Rey, kan aku jadi deg-degan," jawab Niken tersipu malu


"Memangnya mau ujian deg-degan?" tanya Ryan


"Udah ah, mending kita pulang yuk, lagian udah mendung, takut kehujanan," Niken segera menggendong Kinan


Dan seperti perkiraan Niken, gerimis turun mengguyur kota Jogjakarta.


"Tuh kan bener gerimis, mana gue gak bawa payung lagi," keluh Niken


"Biar aku aja yang gendong Kinan, " ucap Ryan


Ryan mengulurkan tangannya pada Kinan, tapu gadis kecil itu menggelengkan kepalanya.


"Dia gak mau Rey, udah biarin aja aku yang gendong, mungkin dia kangen sama mamahnya," ucap Niken


Ryan melihat sebuah pohon pisang yang berada tidak jauh dari arena bermain.


"Kamu tunggu disini ya, jangan kemana-mana sebelum aku kembali," Ryan segera berlari menuju kesebuah taman sebelah arena bermain anak-anak . Ia mengambil pisau lipat yang selalu ia bawa didalam tas kecilnya, dan memotong sebuah daun pisang dan membawanya pergi.


"Daun pisang?, buat apa Rey?" tanya Niken


"Buat berlindung dari gerimislah, jadi kalian aman," ucap Ryan


Mereka berjalan menuju ke arah kafe XYZ yang lumayan jauh, dimana Ryan memarkirkan mobilnya.


"Kita ini kaya sebuah keluarga ya Rey, ayah, ibu dan anak," ucap Niken tersenyum simpul


"Iya, itu semua bisa terjadi kalau kamu mau menerimaku sebagai pengganti Al," jawab Ryan menghentikan langkahnya karena Niken juga berhenti ketika mendengar ucapannya itu


Niken mulai merasakan sesuatu terjadi dalam hatinya, jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat ketika Rey mengatakan ingin menggantikan Al dihatinya.


Ia hanya diam mematung karena tidak dapat menjawab pertanyaan Ryan, sebenarnya Niken suka dengan sosok Ryan yang humoris, penyayang walaupun ia cenderung kasar.

__ADS_1


"Aku tidak boleh suka sama Rey, lagian aku kan sedang dekat dengan Gaga, lalu apa yang harus aku katakan jika Gaga juga menyatakan perasaannya kepadaku, lagian dari awal kan aku memang ingin menjadi istri Ganendra, tapi kenapa hati ini malah terbagi, aku yakin kalau perasaanku ke Rey ini cuma sebatas kagum saja bukan cinta," gumam Niken yang masih mematung didepan Ryan


"Kamu tidak usah berpikir terlalu lama, nanti keburu hujan semakin deras, kalau kamu tidak bisa menerimaku juga tidak masalah kok, santuy!, aku gak marah kok, " Ryan mencoba mencairkan suasana canggung diantara mereka


"Eeeh iya, kenapa aku yang malah baper ya, sorry Rey, " jawab Niken kembali melangkahkan kakinya


"It's ok baby, santuy!" balas Ryan mencoba menutupi kekecewaan di hatinya


"Kenapa hatiku sakit sekali ketika Niken menolakku, ya Allah inikah rasanya patah hati, kenapa aku harus mengalaminya, " gumam Rey


Ia berjalan sembari memayungi Niken dengan menggunakan daun pisang.


"Wow, romantis sekali Om, kaya Judul lagu, Memori Daun Pisang," ucap salah seorang gadis belia pada Ryan


"Aku juga mau dong sayang hujan-hujanan berpayung daun pisang," rengek gadis itu kepada pacarnya membuat Niken tersenyum dan menatap Ryan yang masih terlihat berkaca-kaca


"Maafkan aku ya Rey," gumam Niken lirih


Ryan segera membukakan pintu untuk Niken, dan ia segera melesatkan mobilnya kembali ke rumah, dalam perjalanan pulang keduanya hanya diam tanpa ada obrolan. Niken terlihat asyik membalas pesan dari Ganendra, sedangkan Ryan fokus melajukan mobilnya.


Setibanya di Istana, Ryan segera menggendong Kinan yang tertidur di mobil, ia langsung membawanya kedalam kamarnya.


"Bisa jadi, apa Rey nembak Niken terus ditolak, soalnya raut wajah Rey seperti orang yang kecewa karena ditolak, atau broken heart gitu," jawab Noval


"Sotoy lo pada!!" cibir Lulu yang bergabung dengan mereka


"Nyamber aja lo, kaya kompor," sahut Ferdan


"Sstt!, diem! lihat ada Gaga datang!" kata Noval


"Kamu gak papa kan Ken?" tanya Ganendra


"Gak papa kok, gimana pasien kamu?" tanya Niken sumringah


"Alhamdulilah, sudah langsung ditangani," jawab Gaga


Melihat Ganendra mengunjungi Niken, Ryan segera menghampiri dokter muda itu dan menarik kerah bajunya.

__ADS_1


"Tega-teganya kamu meninggalkan Niken dan Kinan di kafe itu sendirian!, apa kamu tidak berpikir bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan mereka!" gertak Ryan


"Sorry Rey, tapi tadi itu benar-benar darurat, dan aku yakin Niken bisa jaga diri kok," jawab Ganendra


"Asal lo tahu, Niken hampir celaka tadi, dan itu semua gara-gara lo!, coba lo bayangin kalau gue gak datang terus Niken diperkosa atau dibunuh, lo mau tanggung jawab!!" teriak Ryan membuat Gaga langsung tertunduk dan merasa bersalah


"Udah Rey, ini salah gue!, Gaga sudah mau mengantar gue pulang tapi gue nolak!" bela Niken wanita itu tidak tega melihat Ganendra yang merasa bersalah dan terus dipojokkan oleh Ryan


"Sebagi cowok lo tuh harusnya bisa berpikir panjang, kalau Niken tidak mau diajak pulang, berarti dia masih mau sama lo, dan lo harusnya peka, lo kan bisa ajak dia ke rumah sakit, lo bisa ngobatin pasien lo, sementara Niken bisa nunggu diruangan kerja lo!, makannya jadi orang itu yang peka!!" teriak Ryan


"Sudah Rey cukup!, Gaga sudah merasa bersalah apa lo gak lihat ekspresi wajahnya," Niken berusaha melepaskan tangan Ryan yang masih menarik kerah baju Ganendra


Melihat Niken yang lebih membela Ganendra membuat Ryan akhirnya melepaskan dokter itu dan pergi meninggalkan mereka.


Melihat keadaan Ryan yang kacau, Ferdan dan Noval segera menyusul laki-laki itu untuk menenangkannya.


"Rey!!" panggil Ferdan hingga membuat Rey langsung menoleh kearahnya


"Lo mau kemana?, jangan bilang lo mau bunuh diri gara-gara Niken lebih milih Gaga daripada lo," goda Ferdan


"Sue lo, kirain mo ngapain ternyata cuma mau ngeledek doang," sahut Ryan kesal


"Cie, kenapa jadi baperan gitu sih, mana Rey yang dulu?, Rey yang garang dan tak pernah putus asa meski cintanya ditolak ribuan kali tetap aja lo sabar menanti sampai lo akhirnya berhasil mendapatkan cewek pujaan hati lo itu, meskipun lo bisa bersamanya ketika dia sudah janda," Ferdan coba mengingatkan perjuangan Ryan untuk mendapatkan cinta Zahra


"Kan Niken udah janda Dan, terus gue harus nunggu dia jadi janda untuk kedua kalinya gitu?" tanya Ryan


"Yoi bro, gak masalah janda dua kali yang penting servisannya Ok bro, bukankah janda lebih menggoda daripada perawan," ucap Noval mengerlingkan matanya


"That's right baby, janda lebih menggoda, nah kalau janda dua kali bukan mengoda lagi Pang!" sahut Ferdan


"Terus apa dong?" tanya Noval


"Lebih menggairahkan, " sahut Ferdan manja sambil meliuk-liukkan tubuhnya


"Eaaa!!, makanya sabar aja Rey, ingat lo pasti mendapatkan yang terbaik, trust me it works!" Noval menepuk pundaknya mencoba menyemangati Ryan


"Diih najong!!" sahut Ryan geli melihat Ferdan meliuk-liukkan tubuhnya

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita sekarang ke kafe yang dulu kita suka nongkrong sama Al, disana kan banyak ABG labil tuh, kali aja ada yang nyantol sama lo Rey," ucap Ferdan


"Yoi, kuy kita jalan," sahut Noval menarik lengan Rey


__ADS_2