ISTRI TOMBOY SANG PANGERAN 2

ISTRI TOMBOY SANG PANGERAN 2
Kesedihan Naeswari


__ADS_3

"Apa tidak ada cara lain Omah, aku bahkan belum menyusui putriku, masa kami sudah harus berpisah?" tanya Nay semakin sedih


"Hanya itu caranya Nay, kecuali kau bersedia berpisah dengan Pandu, maka kau akan selalu bersama anakmu," jawab Arkadewi membuat Nay semakin bimbang


Naeswari terlihat semakin gelisah mendengar ucapan dari Arkadewi.


"Aku ingin melihat putriku Omah?" tanya Nay


"Baiklah Nay, tunggu sebentar aku akan memanggil suster untuk membawa putrimu kemari," Arkadewi kemudian memencet tombol yang ada di dinding kamar itu, dan tidak berselang lama seorang perawat datang keruangan itu.


"Selamat malam, ada yang bisa dibantu yang mulia?" tanya perawat itu ramah


"Bawakan bayi yang mulia putri Naeswari kesini!" titah Arkadewi


"Baik yang mulia," wanita itu segera menunduk dan pergi meninggalkan ruangan itu.


Sepuluh menit kemudian perawat itu kembali sambil menggendong bayi mungil dan memberikannya kepada Naeswari.


Kristal bening tiba-tiba menetes membasahi wajah cantik Naeswari, ia kemudian mencium buah hatinya penuh kasih sayang.


"Bahkan jahitanku masih basah, air susuku juga belum keluar Omah, tapi kenapa alu harus berpisah dari putriku," ucapnya sambil terisak


"Terserah padamu Nay, kalau kau memang sayang dengan putrimu dan tidak mau berpisah dengannya ya sudah tidak masalah, toh nanti kalau kamu bercerai dengan Pandu kamu masih bisa nikah lagi, jangan dibikin ribet Nay, sekarang semuanya terserah padamu?" tanya Arkadewi


"Tapi anakku jangan dibuang Omah, aku tidak rela, kasian dia," jawab Naeswari


"Dasar bodoh, itu hanya kalimat kiasan, lagian mana mungkin aku tega membuang bayi mungil dan cantik seperti dia, aku akan memberikan bayi itu kepada seseorang yang bisa ku percaya dan kamu masih bisa melihatnya ataupun meminta dia kembali suatu saat nanti, jadi kau tidak usah khawatir," tandas Arkadewi


"Siapa dia Omah?" tanya Naeswari penasaran


"Di adalah Kakek kamu juga, Yudha dia tinggal di Sidney sekarang, dan mungkin bayi kamu akan diajak kesana nanti," jawab Arkadewi


"Aku tidak mengenalnya Omah," jawab Naeswari


"Tentu saja itu karena dia jarang pulang sayang, dan sudah menjadi warga negara Sidney, dia itu ayahnya Om Sean kakeknya almarhumah Ayu," jawab Arkadewi


"Berarti Kakek Yudha tinggal dengan tante Maya dan juga Bisma dong?" tanya Naeswari

__ADS_1


"Tidak sayang, walaupun mereka tinggal di satu Negara tapi tidak satu atap mereka tinggal berjauhan, memangnya kenapa?" tanya Arkadewi


"Aku takut mereka membuat anaku menjadi orang jahat seperti tante Maya," jawab Nay


"Tidak mungkin, aku sangat mengenal Yudha dan ia adalah orang yang bisa dipercaya,"


"Tidakkah aku bisa lebih lama lagi bersama putriku yang juga belum aku kasih nama ini," tutur Nay


"Boleh Omah yang memberikan nama untuk putrimu?" tanya Arkadewi dan hanya mengangguk setuju


"Alina Suhita, artinya wanita yang cantik dan tangguh, Suhita juga merupakan Ratu Majapahit yang berkuasa pada tahun 1427 sampai 1447 Masehi merupakan cucu dari Hayam Wuruk yang terkenal sebagai wanita yang penuh ambisi, pemberani dan tangguh, dan aku ingin putrimu kelak menjadi Ratu Arjowinangun seperti Bhre Daha Suhita," jawab Arkadewi


"Tapi bagaimana ia bisa jadi Ratu kalau ia akan hidup diluar Istana Omah," sahut Naeswari


"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini Nay, aku bisa melihat aura seorang pemimpin di wajah putrimu, aku yakin dia akan menuruni kharisma kakeknya Danar Gumilang," balas Arkadewi


"Semoga saja Omah, aamiin." jawab Nay


"Aku harus membawanya pergi sekarang Nay, kalau tidak semua orang akan tahu kau melahirkan anak yang berbeda dan aku tidak mau kau dikucilkan, percayalah anakmu akan aman bersama Kakeknya," Arkadewi segera membawa Bayi itu setelah Nay menciumnya untuk terakhir kalinya


Ia terus menagis tanpa henti hingga kedatangan Lulu dan bersama keluarga kerajaan lainnya.


"Sayang kamu kenapa nak?" tanya Lulu sambil memeluk Nay yang masih terisak


"Maaf mamah tidak bisa menemani kamu melahirkan," ucap Lulu mengusap lembut putrinya itu


"Dimana bayi kamu nak?" tanya Lulu lagi


"Bayi Nay meninggal Lu, makanya dia bersedih," jawab Arkadewi yang tiba-tiba hadir diantara mereka


"Ya Allah, kasian banget kamu sayang, sabar ya!" ucap Lulu yang membuat tangis Nay semakin kencang


"Sabar sayang, nanti papah bikinin adek baru buat kamu, biar kamu gak sedih lagi," kata Damar menghibur Naeswari


"Aku gak mau adek bayi papah, aku mau anakku kembali," jawab Nay semakin terisak


"Udah deh sayang, dalam keadaan kaya gini jangan ngelawak," tutur Lulu sambil memukul suaminya

__ADS_1


"Kan tujuannya biar Nay ketawa, biar dia gak sedih lagi, eh malah tambah kenceng nangisnya," kata Damar


"Sudahlah Nay, ikhlaskan dia, toh nanti kamu masih bisa hamil lagi kan?" ujar Pitaloka


"Aku tidak mau hamil lagi, aku tidak mau berpisah lagi dengan anakku gara-gara aku melahirkan anak cacat," ucap Nay keceplosan membuat Arkadewi menggelengkan kepalanya.


"Apa Nay melahirkan anak cacat?" tanya Pitaloka


"Tidak yang mulia, Nay melahirkan bayi yang normal, dia hanya shock saja karena bayinya langsung meninggal tidak lama sesudah proses persalinan, bahkan Nay belum sempat menyusuinya. Makanya dia bilang bayinya cacat karena tidak bisa hidup," jawab Arkadewi mencoba membuat Ratu Pitaloka percaya.


"Lalu dimana bayinya, aku ingin melihat jenazahnya," ucap Welas Asih yang baru saja tiba di rumah sakit bersama Danar Gumilang


Naeswari begitu kaget mendengar ucapan Welas Asih, ia langsung menghentikan tangisnya dan menatap Arkadewi.


Sepertinya Arkadewi tahu apa yang dirasakan oleh Nay, ia tersenyum kepada cucunya itu dan mendekatinya.


"Jenazahnya ada di kamar mayat, aku akan mengantarmu ibu jika kau ingin menemuinya," jawab Arkadewi sambil mengusap lembut Naeswari


Alhamdulillah, terima kasih Omah sudah membantuku,


Naeswari merasa lega ketika Arkadewi berhasil meyakinkan Omah Welas kalau bayinya benar-benar sudah meninggal, bahkan Arkadewi yang mengantar wanita itu menuju ke kamar jenazah.


"Nay!!" ucap Pandu langsung memeluk istrinya ketika tiba di sana


"Maafkan aku sayang, aku tidak bisa menemani persalinan kamu, kamu yang sabar ya, aku dengar bayi kita meninggal. Sabar ya sayang," bisik Pandu


Naeswari kembali terisak mendengar ucapan Pandu.


"Kok nangis sih, udah dong sayang jangan sedih lagi, toh kita masih bisa bikin dedek bayi lagi jadi jangan sedih ya sayang," Pandu berusaha menenangkan istrinya yang masih terisak


"Iya Nay, kalau kamu mau kau boleh kok menganggap Rendra sebagai anak kamu, dan kita bisa merawatnya bersama," tutur Bagas menenangkan Naeswari


"Iya ka, terima kasih," ucap Nay lirih


"Yang penting sekarang kamu harus cepat pulih agar kamu bisa mendoakan bayi kamu, karena doa seorang ibu itu diijabah sama Allah, doakan dia mendapatkan tempat terbaik sehingga ia bahagia dimanapun ia berada," jawab Bagas seakan tahu yang dirasakan adiknya


Kenapa ka Bagas ngomong seperti itu, apa dia tahu anakku masih hidup?

__ADS_1


__ADS_2