
Adrian melesatkan mobilnya dengan kecepatan tinggi, menghindari kejaran para preman yang mengincar Alina.
"Kamu sabar ya, tahan sebentar," ucap Adrian menenangkan Alina
Ia menghentikan mobilnya disebuah bengkel, dan segera menggandeng Alina menuju ke sebuah motor sport.
"Kita naik motor saja biar cepat dan bisa lolos dari preman-preman itu," Adrian memakaikan helm Alina
"Ayo buruan naik!" perintahnya
Alina segera duduk dibelakang Adrian, dan keduanya segera meluncur meninggalkan bengkel itu.
Setelah dua puluh menit perjalanan akhirnya Adrian menghentikan motornya disebuah klinik dan menggendong Alina yang sudah memucat karena kehilangan banyak darah.
Ia segera membaringkan gadis itu di ruang UGD, dan menunggunya di luar.
********
Sementara itu di alun-alun, Rey masih asyik bermain bola melawan Bagas dan kawan-kawannya, sedangkan Cassey dan yang lainnya masih menikmati bakso sambil menonton pertandingan bola.
Mereka bersorak sorai saat Ahmar berhasil menjebol gawang yang dijaga oleh Damar Langit.
"Ayo semangat honey kalahkan Papih!" seru Siwi
"Dasar jahara, bukannya dukung Bokapnya malah nyuruh lakinya buat ngalahin gue, sue lo Wi!" cibir Ferdan
"Sorry Pih!" sahut Siwi
Ferdan menyeringai ketika mendapat operan bola dari Bayu dan segera menendangnya dengan keras menuju ke gawang yang dijaga oleh Ganendra.
*Dug!
Bukannya masuk menjebol gawang lawan bola yang ditendang oleh Ferdan membelok dan menghantam mangkok bakso Siwi.
*Praaangg!!
"Papih!!, sengaja ya mau balas dendam sama gue!" teriak Siwi
Siwi mengambil bola dari mangkuk baksonya dan menendang kearah Ferdan yang ada didepannya, Ferdan segera menghindar agar tidak terkena tendangan Siwi.
*Dug!!
"Kyaaa!, jahara lo Wi, kantong menyan gue lo tendang pakai bola!" teriak Ahmar yang langsung pingsan
"Sayang!!" Siwi segera berlari menghampiri Ahmar yang sudah pingsan di tengah lapangan
"Duuh, maaf honey bunny sweety, aku gak sengaja. Aku tadi mau nyerang Papih, eeh malah kena kamu, maaf ya!" teriak Siwi sambil mengusap lembut wajah suaminya.
"Parah lo Wi, kalau Ahmar sampai kenapa-napa gimana, apalagi itu harta berharganya. Nyesel deh lo!" cibir Ryan
"Diih Om kok gitu, bukannya bantuin sadarin Ahmar malah nakut-nakutin, Papih!!!" teriak Siwi
"Apa sih Wi, jangan teriak-teriak gitu apa, malu kan," ucap Ferdan
"Tolongin Ahmar Pih," cicit Siwi
"Iyeh bentar," Ferdan segera melepas sepatunya dan mengeluarkan kaus kakinya, ia kemudian meletakan kaus kakinya di dekat hidung Ahmar.
"Diih, Papih jorok, itumah bukannya nolong Ahmar malah meracuninya iya!" nyinyir Siwi
"Tapi ini yang cara yang paling cepat dan efektif buat menyadarkan Ahmar dari pingsannya," jawab Ferdan
"Betul itu Wi," tambah Ryan
Tidak berselang lama Ahmar akhirnya membuka matanya, Siwi tersenyum manis menatap suaminya.
"Sayang kamu sudah sadar?" tanyanya lirih
"Alhamdulillah, btw tadi kayaknya ada bau bangke di sekitar sini," ucap Ahmar sambil mendengus bau aneh yang masih menempel di hidungnya
" Oh itu bukan bau bangke tetapi bau kaus kaki Papih," jawab Siwi
"Busyeet bau banget, memangnya berapa hari Pih kaus kakinya enggak dicuci?" tanya Ahmar
"Lupa, kalau nggak salah sih hampir tiga minggu gak di cuci," jawab Ferdan
"Anj*y, pantesan bau bangke!!" seru Ahmar yang hampir muntah setelah mendengarnya
"Hueek!!, untung gue nggak mati Pih, coba kalau mati kasihan kan Siwu jadi janda," tutur Ahmar sambil menutup mulutnya yang hampir muntah
"Eleh, gak mungkin Mar, paling cuma koma atau kejang-kejang," celetuk Ryan sambil terkekeh
"Sayang, aku haus. Beliin aku minum dong," rengek Ahmar
"Nih," Cassey memberikan sebotol minuman dingin padanya
"Thanks Key," jawab Ahmar
"Ni buat lo Wi, biar lo kagak dehidrasi!" Cassey juga memberikan sebotol
minuman dingin kepada Siwi
"buat Kita mana Key?" tanya Ferdan
__ADS_1
"Om sama papih ambil aja di mobil ku!" Cassey langsung menunjukkan mobilnya kepada Ryan dan Ferdan
"Aku juga mau sekalian pamit pulang Wi," ucap Cassey
"Iya Key, hati-hati. Btw thanks ya minumannya," jawab Siwi
"Sama-sama Wi, bye!" ucap Cassey
Ia segera menghampiri Bagas dan langsung masuk kedalam mobilnya.
Sementara itu Naeswari masih kebingungan mencari Alina yang juga belum kembali dari toilet.
"Gimana ni Pi, Alina belum kembali juga, udah ditelpon juga gak aktif handphonenya!" keluh Nay
"Kita, datengin aja ke toilet, takutnya dia gak tahu jalan pulang atau nyasar," sahut Pandu
"Kenapa Nay?" tanya Damar Langit
"Alina ilang Pah," lapor Nay
"Kok bisa, bagaimana kejadiannya?" tanya Damar
"Satu jam lalu Al pamit mau ke toilet, tapi gak balik-balik sampai sekarang, bahkan ponselnya dihubungi saja tidak bisa!" keluh Nay
"Bentar aku lacak keberadaannya pakai GPS," sahut Ganendra
"Gak kedetek bro, kayaknya Al diculik deh," ujar Gaga
"Yang bener Om, jangan bikin Nay tambah takut deh!" jawab Nay
"Bagaimana kalau kita nyebar buat nyari dia, takutnya Al nyasar. Maklum aja dia kan gak pernah keluar rumah," sahut Pandu
"Good idea, sekarang panggil Rey dan yang lainnya untuk membantu mencari Alina," perintah Damar Langit
"Baik Pah," Pandu segera memanggil Rey, Ferdan dan Noval yang masih mengobrol di tengah-tengah lapangan.
"Kok bisa sih anak segede Al hilang," ucap Ryan
"Mungkin gak ilang Rey, cuma nyasar!" jawab Bayu
"Yaudah kita cepat beraksi!" titah Damar Langit
"Siap Yang Mulia!" sahut Ryan sambil terkekeh
"Jangan bercanda!" gertak Damar
"Iyeh, galak banget Damar!!" umpat Ryan
Semuanya langsung memisahkan diri masing-masing untuk mencari Alina dari berbagai penjuru.
***********
"Alhamdulillah, pendarahannya sudah berhenti, dan lukanya juga sudah dijahit, mungkin sebentar lagi dia bisa pulang," jawab Sang Dokter membuat Adrian mengembangkan senyumnya
"Alhamdulillah, syukurlah kamu selamat," Adrian segera melangkah masuk menemui Alina yang masih terbaring di brankarnya.
"Gimana, masih sakit?" tanya Adrian
"Sedikit, boleh pinjam ponselnya untuk mengabari bundaku
Aku takut mereka khawatir dan sedang kebingungan mencariku sekarang," ucap Alina
Adrian segera memberikan ponselnya pada Alina, dan gadis itu langsung menghubungi Naeswari.
"Halo assalamualaikum Bun," sapa Alina
"Waalaikum salam, kamu siapa?" tanya Nay
"Aku Alina Bun, aku sekarang ada di Klinik Harapan, aku tadi dibegal, untung ada yang nolongin aku makanya Al bisa selamat," ucap Alina
"Alhamdulillah, Bunda kira kamu diculik wewe gombel atau nyasar makanya ngilang. Syukurlah kalau kamu selamat, sekarang share loc klinik tempat kamu dirawat supaya Bunda bisa jemput kamu," jawab Naeswari
"Iya Bun, tunggu sebentar ya?" ucap Al yang kemudian menutup ponselnya.
"Makasih ya udah nolongin aku," ucap Alina
"Sama-sama,"
"Btw kalau nanti ada telepon dari bundaku tolong angkatin ya, aku mau ke toilet sebentar," ucap Alina
"Mau diantar tidak?" tanya Adrian
"Tidak usah, lagian dekat kan. Thanks ya!" ucap Alina
Gadis itu kemudian melangkah menuju ke toilet, sementara Adrian hanya duduk di bibir ranjang sambil menatap ponselnya.
Setengah jam kemudian Naeswari dan Pandu datang menemui Alina.
"Sayang, kamu gak papa kan," ucap Nay memeluk Alina
"Aku tidak apa-apa Bun, cuma lengan Al yang ketusuk tadi,"
"Ya ampun kamu sampai terluka kaya gini, lain kali kamu harus ibu antar jika ingin kemana-mana, aku takut kamu kenapa-napa lagi," Nay mengusap lembut wajah putrinya.
__ADS_1
"Karena orang tua kamu sudah datang, aku pamit pulang ya," ucap Adrian
"Oh iya mah, dia yang nolong Al tadi," ucap Alina
"Makasih ya nak, sudah menolong anak bunda. Btw nama kamu siapa?"
"Sama-sama tante. Aku Adrian." jawabnya singkat
"Pi, bolehkan kita undang Adrian untuk makan malam besok," ucap Naeswari
"Boleh aja, gak masalah," sahut Pandu
"Nak, sebagai ucapan terima kasih kami. Aku ingin mengundang kamu makan malam besok dirumahku, datang ya?" pinta Nay
"Maaf tante bukannya Aku nolak, tapi aku nolongin Al ikhlas kok tanpa pamrih. Lagian aku gak bisa memenuhi undangan tante karena saya punya urusan lain," tolak Adrian ramah
"Oh gitu, sayang banget. Tapi lain kali mau ya?" tanya Naeswari
"Insya Allah tante, saya pamit dulu ya, Assalamualaikum," pamit Adrian
"Waalaikum salam,"
Naeswari hanya memandang penuh kekecewaan pada Adrian, saat pemuda itu menolak tawarannya.
********"
Sementara itu Kimmy masih mengurung diri di kamar pasca kandasnya hubungan percintaannya dengan Juna. Pemuda yang selalu ia puja-puja untuk menolak semua cowok yang dijodohkan oleh ibunya.
Cassey menemuimu putrinya yang sedang dirundung kesedihan itu.
"Kamu kenapa sayang, kok seharian ini kamu tidak keluar kamar, mana mata kamu bengkak gini," tanya Cassey
"Maafkan Kimmy Bun, aku gak pernah dengerin omongan Bunda. Makanya sekarang Kimmy merana. Sekarang Kimmy Pasrah jika Bunda mau jodohin Kimmy dengan lelaki pilihan Bunda," ucap Kimmy lirih
"Emangnya ada apa kok kamu sampai putus asa gini?" tanya Cassey
"Aku udah putus dari Juna, dia selingkuh makannya aku langsung putusin dia, ternyata Bunda benar dia bukan lelaki yang setia," sahut Kimmy
"Oh gitu, yaudah kamu jangan sedih sayang besok Bunda mau kenalin kamu sama anak teman bunda, kamu mau ya?" tanya Cassey
"Iya," jaeyab Kimmy mengangguk setuju.
"Yaudah sekarang kamu istirahat, jangan sedih. Ingat mati satu tumbuh seribu, masih banyak lelaki diluar sana yang mengantri cinta kamu. Jadi jangan menangisi laki-laki hidung belang seperti Juna, no man no cry baby," ujar Cassey
"Iya Bun," jawab Kimmy
***********
Hari Minggu yang cerah, Cassey bersiap-siap untuk pergi memperkenalkan Kimmy dengan lelaki yang disarankan oleh Siwi.
"Ayo Kim Gak pakai lama!" seru Cassey yang menunggu Kimmy keluar dari kamarnya
Gadis itu berjalan gontai mengikuti Cassey menuju ke mobilnya.
"Lo pegangan yang kenceng, karena Cassey stoner mau beraksi!" pesan Cassey
"Jangan ngebut deh Bun, ingat pesan Romo!" Sela Kimmy
"Eleh, lagian dia gak ada ini, gak bakal ketahuan, lagian kita udah telat ini. Gak enak kan kalau ngaret terlalu lama, makannya kita harus ngebut biar tidak ngaret banget," Cassey segera melesatkan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan istana
"Astaghfirullah Bun, hati-hati! Kimmy belum mau mati muda!" seru Kimmy
Cassey tidak memperdulikan ucapan putrinya, baginya ia harus Segera sampai di tempat tujuan tepat waktu. Apalagi jalanan sedang lengang sehingga ia bebas mengebut di jalan raya karena tidak ada halangan dan rintangan disana.
"Hati-hati Bun, lampu merah!" teriak Kimmy
**Ciiit!!
Cassey segera menginjak rem mobilnya, saat menyadari lampu berganti merah.
"Ups, hampir saja!" celetuk Cassey
**Tok, tok, tok!!
"Bun, ada pak polisi!" ucap Kimmy menunjukkan seorang polantas yang sedang mengetuk kaca mobilnya
"Selamat Siang Ibu, bisa perlihatkan surat-surat mobilnya?" tanya Polantas itu dengan tatapan sangar
Cassey hanya tersenyum kecut, sambil menyerahkan surat-surat mobilnya.
"Bisa lihat SIM Ibu?" tanya polisi itu lagi
Cassey segera memberikan SIMnya kepada Polisi itu.
"Kalau KTP Ibu?" tanya Polisi itu lagi
Cassey langsung memberikan KTPnya pada lelaki itu.
"Bukan KTP ini Yang Mulia," sahut sang POLISI dengan tatapan sangar membuat Cassey dan Kimmy ketakutan
"Aku hanya punya KTP itu saja Pak, gak ada yang lain, KTP bajakan aku gak punya," jawab Cassey
"KTP, kartu tanda pembalap yang mulia, bukan kartu tanda penduduk. Karena anda ini adalah seorang Ratu bukan pembalap seperti Valentino Rossi. Jadi mohon anda tidak melanggar tata tertib lalulintas, walaupun anda adalah orang nomor satu di kota ini!" ucap Polisi itu membuat Cassey tersipu malu
__ADS_1
"Maaf ya pak, aku khilaf, peace!" jawab Cassey sambil tersenyum manis