
"Kamu mau makan apa?" tanya Rendra
"Aku minum saja," jawab Maya
Rendra kemudian memesankan dua mangkuk bakso dan jus jambu.
Beberapa menit kemudian seorang pelayan mengantarkan pesanan mereka.
"Loh kok pesen bakso dua, kan tadi aku udah bilang aku minum aja," ucap Maya
"Makan aja, rejeki gak boleh ditolak!" ucap Rendra ketus
Maya langsung mengangguk dan menyantap bakso didepannya.
"Good girl," ucap Rendra mengusap lembut rambut Maya
Selesai makan Rendra kembali ke optik untuk mengambil kacamata pesanannya.
"Gimana keren kan?" tanya pelayan itu
"Iya, keren banget. Tapi pasti mahal ya, aku cuma punya uang segini," Maya memberikan sejumlah uang pada gadis itu
"Sudah dibayar kok sama Masnya," tolak pelayan itu
"Oh, yaudah makasih Mbak," Maya segera menemui Rendra yang sedang memilih kacamata untuknya.
"Gimana bagus gak?" tanya Rendra
"Bagus kok, tapi bagusan yang kamu pegang. Sepertinya lebih cocok dengan bentuk wajah kamu," jawab Maya
"Ok, gue pilih yang ini saja!" seru Rendra
"Btw thanks ya sudah bayarin kacamata aku, aku gak tahu harus balasnya dengan apa," tutur Maya
"Santuy, anggap aja sebagai tanda pertemanan kita, gue Rendra!" Rendra mengulurkan tangannya memperkenalkan dirinya
"Maya,"
"Ayo pulang!" ajak Rendra
Maya segera mengangguk dan mengikuti Rendra.
Rendra segera melesatkan motornya meninggalkan optik tersebut.
"Rumah kamu dimana?" tanya Rendra
"Ahmad Yani, dekat ama Rumah sakit Lorensius,"
Rendra segera memasang GPS untuk mencari alamat rumah Maya.
Ketika Motornya melintasi Alun-alun, tiba-tiba segerombolan pemuda berseragam putih abu-abu mencegatnya.
"Turun lo!" hardik salah seorang dari mereka
"Ada anak SMA Merah Putih guys!" seru yang lainnya
"Lo pasti anak buahnya Adrian kan!" tanya mereka dengan nada tinggi
"Udah bantai aja!" imbuh yang lainnya
"Tapi kayaknya dia bukan teman si Adrian deh, soalnya tampangnya kaya anak mamih gitu, udah gitu ceweknya jelek banget lagi!!" ledek yang lainnya membuat Rendra geram dan mengepalkan tangannya
Ia kemudian turun dari motornya.
"Lo disini saja, jangan kemana-mana," pesannya pada Maya
Dia langsung menghampiri pemuda yang menghina Maya dan melepaskan pukulannya kepada pemuda itu.
**Buuughhh!!
"Jangan suka main fisik guys, gue gak suka!" ucap Rendra
__ADS_1
"Cie, dia marah karena ceweknya kita hina gengs, udah bantai saja dia, bunuh sekalian!" perintah salah satu dari mereka
Semuanya langsung maju dan menyerang Rendra, pemuda itu tidak tinggal diam dan langsung menghajar satu persatu musuhnya hingga semuanya jatuh terjerembab ke tanah.
"Bangun dan lawan gue!" Rendra menarik kerah baju ketua geng itu dan menghajarnya lagi tanpa ampun.
"Dasar lemah , gitu aja sudah sok-sokan dasar noob!!" cibir Rendra
Rendra langsung berjalan meninggalkan mereka dan langsung menuju ke motornya.
"Rendra awas!!" teriak Maya ketika seorang pemuda menghantam kepala Rendra dengan batu besar
*Buugghh!!!
"Mamp*s lo!" teriak pemuda itu
Rendra langsung pingsan dan jatuh tersungkur ke tanah.
Maya segera melindunginya ketika beberapa orang dari mereka hendak menghajarnya dengan menggunakan berbagai senjata tajam.
"Minggir lo cupu, atau gue hajar juga lo!" hardik pemuda itu
Maya terus memeluk tubuh Rendra agar tidak terkena hantaman pemuda itu.
"Dasar batu, seret saja dia bila perlu hajar aja sekalian!" seru pemuda lainya
Dua orang pemuda segera menyeret Maya dan membawanya menjauh dari tubuh Rendra yang masih belum sadarkan diri.
"Tolong jangan sakiti dia, kalian bisa menyakiti aku tapi jangan dia!!" cicit Maya memohon
"Cie, cewek ini kayaknya gebetan si anak mamih itu makannya dia bela-belain sampai memohon ke kita supaya kita tidak menyakiti cowoknya, so sweat banget!
"Udah bantai bantai aja dua-duanya!" titah seorang ketua
"Tapi dia cewek kan Bos?"
"Bantai aja, lo takut?"
"Eleh, kebanyakan gaya lo!" Lelaki itu segera menghampiri Maya dan menjambak rambutnya
"Aaarrrggghh!!" gadis itu hanya mengerang tanpa bisa melawan
"Lepaskan dia, dasar banci beraninya sama cewek lemah!" hardik Adrian
"Akhirnya sang jenderal keluar dari sarangnya juga!" Lelaki itu segera menghempaskan Maya dan mendekati Adrian yang sudah berdiri di sana.
Tanpa basa-basi Adrian segera menhajar mereka tanpa ampun, ia juga melesatkan tendangan mautnya untuk menjatuhkan lawan-lawannya.
Ia tidak memberikan ampun kepada mereka, yang akhirnya melarikan diri menghindari amukan Adrian.
"Dia belum sadar juga?" tanya Adrian
"Belum, tolong dia, bawa dia ke rumah!" pinta Maya
"Ayo," Adrian memapah Rendra dibantu oleh Maya keduanya membawa Rendra masuk kedalam taksi.
"Lo temenin dia naik taksi, biar gue yang bawa motornya Rendra," ucap Adrian
"Baik," jawab Maya
"Cari rumah sakit atau klinik terdekat pak!" seru Maya
"Baik non," Supir taksi itu langsung melesatkan mobilnya mencari rumah sakit
Sedangkan Adrian menelpon temannya untuk membawa pulang motornya, setelah itu dia menyusul Maya ke rumah sakit.
Maya terlihat kebingungan saat disuruh ke bagian administrasi untuk membayar biaya pengobatan Rendra.
"Berapa semuanya suster?" tanya Maya
"Totalnya Tiga ratus delapan puluh dua ribu rupiah,"
__ADS_1
Maya segera membuka dompetnya, yang hanya berisi uang dua ratus ribu rupiah.
Hmmm, masih kurang seratus delapan puluh dua ribu,
"Aku bayar dua ratus ribu dulu ya, sisanya sebentar lagi," jawab Maya
"Iya tapi jangan lama-lama karena kalau pembayaran belum lunas pasien tidak bisa dilakukan tindakan selanjutnya," jawab Sang Perawat
Maya memandangi jam tangannya.
"Kira-kira laku betapa ya jam tangan ini," ucap Maya
"Gak usah dijual, aku sudah melunasi pembayarannya," ucap Adrian
"Makasih ya Ka, Insya Allah kalau ada rejeki aku ganti uang Kaka," sahut Maya
"Gak usah, santuy aja," jawab Adrian
"Sekali lagi makasih ya Ka,"
"Iya, btw bagaimana kondisi Rendra?" tanya Adrian
"Masih di ruang UGD, yaudah kita kesana aja yuk," ajak Maya
Keduanya kemudian langsung menuju ruang UGD untuk melihat kondisi Rendra.
"Kamu udah sadar ya?" tanya Maya
"Udah, orang kepalaku di jahit dikit doang," sahut Rendra
"Maaf ya, gara-gara aku kamu jadi celaka," ucap Maya
"Bukan lo yang bikin gue kaya gini, tapi anak-anak PURNAMA, sial beraninya main belakang!" cibir Rendra
"Oh ya Ren, tadi Kaka itu yang nolong kita!" tunjuk Maya
Rendra segera menoleh kearah Adrian yang berdiri di samping Maya.
"Thanks Kulkas," ucap Rendra
"Gue Adrian bukan kulkas," sahutnya kesal
"Aku Maya ka, dan dia Rendra,"
"Udah tahu May, dia kan sekelas sama gue!" balas Rendra
"Oh gitu, kok kalian kaya musuhan gitu sih padahal satu kelas?" tanya Maya
"Sotoy!" jawab keduanya serempak
"Maaf salah ya, peace!" sahut Maya
"Ayo kita pulang," ajak Rendra
"Emangnya sudah boleh pulang?" tanya Maya
"Sudah, lagian gue kan sehat cuma luka dikit doang gak akan mempengaruhi ketampanan gue," jawab Rendra yang langsung merapikan penampilannya dan menyisir rambutnya
"Cih, dasar narsir udah babak belur aja masih narsis!" cibir Adrian
"Bodo, lo pasti ngiri kan, karena gue lebih ganteng dari lo!" nyinyir Rendra
"Serah lo deh mau ngomong apa, yang jelas gue gak kalah ganteng dari lo!" jawab Adrian
"Kalian berdua sama-sama ganteng kok," jawab Maya
"Jangan ikut campur!!" ucap keduanya membuat Maya langsung diam
"Maaf, yaudah kalau gitu aku pulang duluan ya, maaf sudah merepotkan," ucap Maya
"Lo pulang bareng gue!" ucap Rendra dan Adrian bersamaan, keduanya langsung menarik lengan Maya membuat gadis itu terperangah bingung harus memilih siapa?.
__ADS_1