ISTRI TOMBOY SANG PANGERAN 2

ISTRI TOMBOY SANG PANGERAN 2
Season 3 #Episode 70. Menjenguk Ratu


__ADS_3

"Bagaimana kabarmu ibu?" tanya Devin


"Aku baik-baik saja, apakah kau sudah bertemu dengan Genta?" jawab Harsiwi


"Sudah, ia berhasil lolos dari maut setelah ditolong oleh Angga suami Kimmy. Kondisinya sudah mulai membaik dan mungkin beberapa hari lagi dia sudah siap untuk mengikuti penobatan Raja Cendana Kalingga." jawab Devin


"Cepatlah kamu menikah Dev, segera nikahi Kinan agar kau bisa menyelamatkan ibu," ucap wanita itu mengiba


"Pernikahan itu bukan perkara main-main ibu, menikah berarti menyatukan dua hati yang berbeda dan juga menyatukan keluarganya untuk tujuan suci bukan untuk urusan politik atau merebut tahta. Aku ingin menikah sekali dalam hidupku, jadi aku harus mempersiapkan semuanya dengan matang." jawab Devin


"Persetan dengan itu semua Dev, harus kau menikah secepatnya atau ibu akan mati. Karena tidak mungkin jika Genta sudah menjadi Raja dan memiliki kekuasaan penuh maka dia pasti akan menghukum mati atas apa yang dulu ibu lakukan padanya, kau tahu itu bukan. Bahkan mungkin kau juga akan dihukumnya karena dia takut kau akan merebut tahta darinya. Jadi tunggu apa lagi kau akan menikah minggu ini atau kau ingin melihat ibu mati?" ujar Harsiwi membuat Devin bimbang


"Kak Genta itu selalu baik sama ibu dan sangat ingin menjadi putra ibu tapi kenapa ibu selalu jahat sama dia, dan aku baru tahu ternyata kau membuangnya di saat aku tidak ada. Kenapa kau lakukan ini semua padanya ibu, kenapa kau tidak memberinya kasih sayang sedikit saja pada kakak, bukankah dia juga anak ayah yang berarti anakmu juga!!" seru Devin semakin emosi


"Kau benar nak, tapi itulah politik kita harus bisa bermain peran disana agar kita bisa mempertahankan posisi kita dan mengorbankan sesuatu yang kita sayang bahkan keluarga kita agar kedudukan kita semakin kuat dan menjaganya dari rival-rival kita yang selalu siap untuk menjatuhkan kita kapan saka termasuk anak kita. Untuk itulah ibu harus membunuh bunga itu selagi masih kuncup dan belum mekar, karena ketika bunga itu sudah mekar dan terlihat menari dengan bentuknya yang cantik dan aroma wanginya yang begitu menggoda maka banyak sekali orang yang terpikat olehnya dan ingin memilikinya bahkan ingin menjadikannya hadiah untuk orang tersayang atau sebagi hiasan di rumahnya. Ibu harus menyingkirkan Genta sebelum orang-orang tahu kalau dia mendapatkan pesan dari almarhum ayahnya yang ingin semua putranya menikmati dan merasakan menjadi raja Cendana Kalingga. Ayahmu memang terlalu baik sehingga ia sangat mudah dipengaruhi oleh orang lain dan di jatuhkan oleh lawan politiknya. Dan aku itu terjadi padaku. Makannya aku melakukan ini semua.


Aku ingin hanya kau yang menjadi Raja bukan Genta, sebenarnya kalau aku mau aku bisa saja membunuh Genta setelah ayahmu meninggal. Tapi aku juga seorang ibu, seorang manusia biasa yang punya hati nurani jadi aku hanya membuang dia ke luar negeri Karena aku berharap dia bisa hidup Bahagia disana dan mendapatkan keluarga baru disana. Aku tidak mau melihat dia disini menjadi incaran para lawan politik ayahmu yang juga ingin menghabisinya karena dialah yang akan menjadi Raja terlebih dahulu sebelum dirimu, aku sengaja membuangnya karena aku tahu dia tidak memiliki pendukung di Istana, tidak seperti dirimu yang memiliki banyak pendukung dan posisimu lebih kuat darinya. Apa ibu salah menyelamatkan anak ibu dengan menjauhkannya dari maut yang sangat dekat dengannya. Politik itu kejam untuk itulah aku juga harus bertindak kejam padanya, terserah apapun penilaian mereka padaku toh hanya aku dan Tuhan yang tahu apa maksud aku melakukan itu semua. Mereka hanya bisa mencemooh dan menyalahkan aku karena itulah tugas mereka untuk mengadu domba dan memprovokasi agar lawan politiknya jatuh dan tertindas kemudian disingkirkan." Tutur Harsiwi


"Mulai sekarang kau harus belajar menjadi seorang politikus handal, belajar berbagai strategi untuk bertahan dan menghancurkan lawan, gunakan otakmu bukan tenaga mu karena ini adalah politik yang penuh intrik dan trik," tambah Harsiwi dua orang pengawal kemudian membawanya masuk kedalam sel kembali karena waktu besuk sudah habis.


"Aaarrrggghh!!" teriak Devin yang sangat emosi ketika mendengar penjelasan dari ibunya, ia bahkan memukul dinding penjara dengan menggunakan tangannya hingga terluka.


"Inilah alasanku kenapa aku tidak ingin tinggal di istana dan ingin menjadi rakyat biasa ibu. Disini terlalu banyak orang jahat aku tidak mau menjadi penjahat, aku ingin hidup bahagia tanpa harus menyakiti orang lain untuk mencapai tujuanku, aaaaarrrrgghhh!!" seru Devin sambil bersimpuh di lantai dan bersedih setelah tahu kejadian yang sebenarnya dari ibunya.


Sementara dari kejauhan Genta yang juga ingin menjenguk Harsiwi juga terlihat meneteskan air mata setelah mendengar semua dari Harsiwi.


Ia segera pergi meninggalkan tempat itu ketika melihat Baladewa datang menghampiri Devin den mengajaknya keluar dari area penjara Kerajaan.


"Kau jangan terpengaruh dengan kata-kata Baladewa ataupun pangeran Raka adikmu karena mereka sedang berusaha memprovokasi dirimu agar kau goyah dan berpihak pada mereka. Baladewa tahu sikap penyayang dan juga lemah lembut dirimu yang mulia makannya ia menjadikan kelemahan mu itu untuk bisa menghancurkan dirimu," bisik Sekertaris Kerjaan


"Sekarang yang terpenting adalah kau harus mempercayai aku agar kau bisa menjadi raja Cendana Kalingga selamanya, jangan pernah menyerahkan tatha yang memang menjadi hak mu kepada Pangeran Raka walaupun dia sudah menikah. Karena tahta ini hanya milikmu bukan Raka anak dari Ratu yang sudah membuang mu dan menyiksamu dengan keji, ingat itu Genta!!" tambah Sekertaris dengan seringai di bibirnya.


Genta mengeratkan kepalan tangannya setelah mendengar ucapan sekertaris dan membayangkan kembali penderitaan yang ia alami selama di luar negeri.


Aku tidak akan terpengaruh dengan kata-kata apapun, aku harus menjadi raja dan membalas dendam kepada Ratu atas apa yang ia lakukan padaku,


Lelaki itu kemudian berjalan menuju ke kamarnya dan segera berendam air hangat untuk meredam emosinya yang mulai membuncah.


"Kau harus sabar ya sayang, ingat aku akan selalu bersamamu, menemanimu dalam suka dan duka. Aku yakin kita berdua akan hidup bahagia walaupun kau tidak menjadi Raja. Jadi jangan dendam dengan kakakmu, lagian aku juga tidak mau hidup di istana dengan aturan yang begitu ketat dan menyiksa. Aku lebih suka tinggal di luar istana yang sangat bebas dan tidak ada aturan kaki yang begitu membelenggu kebebasan para keluarga kerajaan. Hiduplah bersamaku sebagai orang biasa aku yakin kita akan bahagia walaupun tidak bergelimang harta," hibur Kinan sembari mengusap lembut wajah Devin yang berbaring di pangkuannya.


"Iya sayang. Dulu aku juga berpendapat sama seperti dirimu. Itulah sebabnya aku lari dari istana dan tidak mau menjadi putra mahkota. Aku memilih kabur dan hidup bebas sebagai rakyat biasa, bahkan aku hidup kekurangan dan hanya mengandalkan kelebihan ku untuk mendapatkan uang. Aku bahkan rela menjadi stant man, menjadi artis figuran, menjadi penjaga galeri dan menjadi pembalap liar hanya untuk mendapatkan uang agar bisa makan dan membayar sewa kosan. Tapi meski aku hidup kesusahan aku selalu bahagia dan menikmatinya. Tidak seperti sekarang dimana aku selalu merasa tertekan dengan keadaan ini. Aku ingin hidup bebas kembali. Kau maukan jadi istriku menikah denganku, kita akan hidup bahagia diluar istana. Aku janji akan mencari pekerjaan yang layak agar bisa membahagiakan kamu dan anak kita nanti," Devin bangun dan menatap Kinan dan menggenggam tangannya.


"Ikan hiu gak doyan Kolak, maaf aku gak bisa nolak," jawan Kinan membuat Devin langsung memeluknya


"Terima kasih sayang, aku tahu kau bukan cewek matre dan aku tahu kau begitu tulus mencintaiku itulah kenapa aku lebih memilihmu, I Love you Piranhaku," ucap Devin mencium kening Kinan


"Eeh, aku kira mau cium bibir kok cuma kening," ucap Kinan membuat Devin tersenyum padanya


"Dasar omes," Devi langsung menoyor kepala Kinan membuat gadis itu terkekeh.


"Sekarang kita makan yuk, aku lapar," Devin mengajak Kinan menuju ke ruang makan


"Sayang aku mau ke toilet," bisik Kinan

__ADS_1


"Aku akan mengantarmu," jawab Devin


"Gak usah aku berani kok, kamu tinggal tunjukkan dimana toiletnya." jawab Kinan


"Masuk saja lurus terus belok kiri disitu ada dua ruangan besar masuklah ke ruangan sebelah kiri yang ada gambar bunga dan naga di depan pintunya. Masuk saja itu kamarku tidak di kunci," jawab Devin


Seorang dayang kemudian berjalan mengikuti Kinan untuk mengantarnya.


Kinan akan tersenyum ketika melihat kamar Devin, ia kemudian mendekati kamar itu dan berniat membukanya namun sang dayang langsung melarangnya.


"Bukan yang itu nona, tapi kamar yang mulia yang sebelahnya," ucap sang dayang tersenyum sinis.


Kinan hanya mengangguk dan masuk kekamar yang hampir mirip itu.


Setelah Kinan masuk kedalam dayang itu langsung melepas lukisan yang ada di pintu kamar itu dan menukarnya.


Sementara Kinan yang sudah kebelet pipis langsung masuk ke toilet tanpa memperhatikan apapun yang ada disana.


Setelah selesai membuang hajatnya Kinan keluar dan mengamati Kamar mandi yang begitu luas itu.


"Ck, ck, benar-benar keren, kamar mandi aja luasnya hampir satu rumah gue," ia berjalan ke bagian kamar mandi yang yang hanya disekat oleh kaca, betapa terkejutnya ketika ia masuk dan melihat seorang pria sedang berendam disana sambil memejamkan matanya.


"Astaga, ada orang dikamar Devin, jangan-jangan dia adalah penyusup yang sengaja bersembunyi disini untuk membunuh Devin," Kinan mendekati lelaki itu namun betapa kagetnya ketika lelaki itu menyadari kehadirannya dan membuka matanya.


"Siapa kau beraninya masuk kedalam kamarku!" seru Genta menatap lekat Kinan


"Oh, dasar penjahat sudah masuk kamar orang malah berani-beraninya bertanya seperti itu padaku. Harusnya aku yang bertanya seperti itu, kenapa kau ada di kamar Devin, jangan-jangan kamu sengaja bersembunyi disini karena ingin membunuhnya bukan?" jawab Kinan berjalan mendekatinya dan bersiap untuk menghajarnya.


"Siapa kamu!" tanya Genta dengan suara lantang


"Aku Kinan, bodyguardnya Devin," gadis itu berusaha untuk melepaskan tangannya dari Genta namun sia-sia lelaki itu begitu kuat mencengkram lengannya.


Genta hanya tersenyum sinis ketika tahu gadis didepannya adalah bodyguard adiknya.


Segitu lemahnya kah dirimu Raka, sampai meminta perlindungan seorang wanita.


"Lepaskan aku, sakit tahu!!" keluh Kinan


"Pergi dari sini!!" teriak Genta membuat Kinan langsung berbalik menghardiknya.


"Kamu yang seharusnya pergi dari sini, ini kamar Dev, dan kenapa masih disini cepat pergi!!" hardik Kinan menarik lelaki itu agar keluar dari bathub.


"Lancang sekali kau, apa kau sengaja dikirim Devin untuk menggodaku, sehingga kau masuk kamar mandiku dan mengintipku yang sedang mandi?" tanya Genta lelaki itu kini berjalan mendekati Kinan membuat gadis itu terus mundur hingga ia terpojok di dinding.


"Jangan macam-macam kamu, atau kau akan berhadapan dengan papih aku," ancam Kinan yang mulai terpojok


Lelaki itu menatap wajah Kinan lekat dan tersenyum padanya.


"Cantik, dan sangat menggoda, aku suka cewek galak sepertimu," ucap Genta mengusap lembut pipinya namun Kinan segera menepis lengannya.


"Sudah ku bilang jangan macam-macam atau aku akan menghabisi mu!" hardik Kinan


"Ck, ck, semakin menarik dan membuatku semakin menyukaimu," bisik Genta semakin mendekatkan wajahnya kepada Kinan membuat gadis itu langsung melesatkan pukulannya kearah Genta.

__ADS_1


Ternyata Genta bukanlah lelaki biasa ia bisa membaca gerakan Kinan dan menahan pukulannya dan kemudian memelintir lengan gadis itu hingga ia berteriak kesakitan.


"Awww!!"


Genta kemudian mendesakkan tubuhnya mendekati Kinan membuat gadis itu ketakutan. Genta segera mendekatkan bibirnya agar bisa mencium bibir tipis Kinan yang begitu menggodanya.


*Buughhh!!!


Kinan segera mendengkul ******** Genta hingga lelaki itu melepaskan tangan Kinan. Gadis itu segera berlari keluar kamar untuk menyelamatkan diri.


*Praaang!!!


Karena terburu-buru berlari, Kinan sampai menyenggol sebuah foto yang teroanjang di meja belajar hingga jatuh kelantai.


Ia segera mengambil foto itu, ia melihat foto seorang lelaki memaki pakaian kebesaran kerajaan dan bertuliskan Pangeran Raden Mas Genta Mas Bhumi.


"Astaga, aku salah masuk kamar, ini bukan kamar Devin tapi kamar kakaknya, dasar dayang sialan beraninya menipuku!" Gumam Kinan ia langsung keluar kamar itu dan kembali ke ruang makan.


"Kamu lama sekali sayang, apa kamu diare, atau sembelit?" goda Devin


"Sepertinya aku harus banyak makan sayur agar bisa lancar buang air besar," jawab Kinan dengan tatapan kosong


"Sekarang makan yang banyak, jangan berpikir untuk diet lagi. Lagipula aku juga tidak keberatan jika kamu gendut, karena aku suka wanita gendut," ledek Devin sambil terkekeh


"Sue!!" cibir Kinan


"Sue itu bukannya artinya lama ya, kenapa sih kamu suka pakai kata-kata itu!" jawab Devin


"Sotoy, itu tuh makian bahasa Betawi bukan bahasa Jawa. Aku mempelajarinya dari Papih," jawab Kinan


Suasana ruang makan yang tadinya ramai tiba-tiba menjadi hening ketika Genta Bhumi bergabung di ruang makan itu. Lelaki itu menatap Devin dan Kinan yang sedang menikmati makan siangnya.


"Silahkan duduk Kakak," sapa Devin memberikan kursi kepada kakaknya


Lelaki itu hanya menanggapi Devin dengan dingin ia malah lebih tertarik melihat Kinan yang cuek dengan kedatangannya. Ia tetap asyik menikmati makanannya tanpa menghiraukan Genta yang sudah duduk didepannya.


"Perkenalkan dia Kinan pengawal pribadiku," ucap Devin memperkenalkan Kinan kepada Genta, membuat Kinan menghentikan makannya.


Devin mengeringkan matanya kearah Kinan untuk memberi tahu agar gadis itu memberi hormat kepada Genta Bhumi, namun sayangnya Kinan tidak mengerti maksud Devin dan hanya diam tak merespon.


"Beri hormat sama dia," ucap Devin lirih


"Apa," jawab Kinan


"Hormat," jawab Devin sambil menggerakkan tangannya memberi isyarat


"Oh hormat, Ok!" jawab Kinan mengacungkan jempolnya,


"Halo Kakaknya Devin, saya Kinan pengawal pribadi Devin memberikan hormat kepada anda!" seru gadis itu sambil berdiri tegak dan memberi hormat layaknya seorang tentara membuat Genta tertawa melihatnya.


"Dasar konyol!!" ucap Genta


"Astaga Kinan, bukan seperti itu," gumam Devin

__ADS_1


__ADS_2