
**Braakkkk!!
Semuanya langsung menghindar dan berguling kesamping ketika mobil Nilam menerobos masuk menabrak pintu rumahnya.
"Kenapa kau kembali Nilam, kenapa kau sekarang menjadi bodoh. Kau hanya akan mengantarkan nyawamu jika kembali kesini," gumam Revan membelalakkan matanya tidak percaya melihat Nilam kembali lagi.
"Akhirnya kau datang juga Nilam, kau pasti tidak bisa keluar dari kota ini makanya kau kembali lagi," ujar Devin menodongkan pistolnya kearah Nilam
"Lepaskan dia!!, berani kau menyentuhnya maka kau akan mati!!" seru Revan mendekati Devin
Devin menarik pelatuk pistolnya untuk menggertak Revan.
"Selangkah lagi kau mendekat, maka ku pastikan Nilam akan mati!" ancam Devin
"Tidak ada seorangpun yang bisa menyakiti dia!!" Revan melesatkan pukulannya kearah Devin namun Kinan langsung melesatkan tendangan kearahnya hingga ia terhempas menjauh.
"Revan!!" teriak Nilam
Ia baru bisa merasakan apa yang Revan, rasakan. Tak terasa air matanya menetes membasahi pipinya.
Tidak akan kubiarkan kalian menyakiti dia, bahkan aku sudah berjanji untuk melindunginya dari orang-orang jahat.
Nilam langsung menyikut Devin dan merebut pistol dari tangannya dan berganti menyandera Devin.
"Jika berani mendekat maka dia akan ku bunuh!!" Nilam segera menghampiri Revan yang sudah tidak berdaya.
*Dor!!!
Gadis itu melesatkan tembakannya kearah Kinan yang berusaha menyelamatkan Devin.
Beruntung Kinan masih bisa menghindar dari tembakannya.
"Bangunlah Rev, bangun!!. Aku kembali untukmu, aku datang menjemputmu. Aku tidak bisa pergi tanpamu karena aku baru sadar kalau aku mencintaimu!" seru Nilam membangunkan Revan.
"Gadis bodoh kenapa kau kembali, kau hanya akan mengantarkan nyawa kesini," jawab Rrvan
"Kau ingat janji kita dulu, dulu waktu kecil aku pernah berjanji padamu, kalau aku tidak akan pernah meninggalkan kamu sendiri. Sekarang kau percaya kan aku tidak akan meninggalkan mu, aku akan selalu menemanimu dan melindungi mu dari orang-orang jahat," ucap Nilam memeluk Revan
"Kalaupun aku harus mati, aku ingin mati bersamamu. Mari kita mati bersama!" Nilam menarik pelatuk pistolnya dan mengarahkannya ke kepala Revan.
*Dor, dor, dor!!!
"Beristirahatlah dengan tenang sayang, aku akan segera menyusul mu, aku tidak akan meninggalkan kamu sendiri," Nilam kemudian mengarahkan pistolnya ke kepalanya sendiri .
*Dor, dor, dor!!!
"Sekarang kau percaya kan aku akan selalu bersamamu sampai mati, dan kau juga akan mendampingi ku sampai akhir hayatmu," Nilam mencium bibir Revan dan kemudian menghembuskan nafas terakhirnya di pelukan lelaki itu.
Kenapa kau begitu bodoh Nilam, kenapa kau tidak cerdik lagi seperti dulu.
Revan memeluk erat gadis di depannya yang sudah tidak bernyawa lagi.
Aku Revan, aku juga berjanji jika nanti aku sudah dewasa akan menemanimu dan melindungimu dari orang-orang jahat sampai akhir hayatku,"
Revan tersenyum menatap lekat Nilam, janjinya sewaktu ia kecil terus terngiang-ngiang di otaknya.
__ADS_1
"Sekarang kita sudah memenuhi janji kita, dan aku akan menemanimu Nilam," ucap Revan
*Bruuughhh!!
Tubuh Revan ambruk setelah menghembuskan nafas terakhirnya.
"Mereka benar-benar so sweat, benar-benar kisah cinta yang tragis," ucap Nilam melepaskan Devin yang masih terikat
"Sekarang apa rencana kita paman?" tanya Devin
"Kita harus segera menjenguk Pangeran Genta, dan kau sepertinya harus berbicara dari hati ke hati dengan dia." ujar Baladewa
"Baik paman," Devin kemudian
*Baladewa POV
"Kenapa Klinik ini seperti sarang para penyamun, aku curiga Kepala Klinik terlibat dengan kudeta yang dilakukan oleh Bambang Aryo," gumam Baladewa yang baru saja siuman.
Seorang perawat datang untuk mengecek kondisinya.
"Anda sudah siuman yang mulia?" tanya perawat itu sumringah
"Iya, terima kasih sudah merawat aku dengan baik," jawab Dewa
"Sama-sama Yang Mulia,"
Perawat itu mengecek tensi darah dan juga selang infusnya.
"Apa kepala klinik ada di ruangannya?" tanya Baladewa
"Ada, apa perlu saya panggilkan beliau agar menemui yang mulia?" tanya Perawat itu
Ia kemudian menuju ke ruangan kepala Klinik.
"Maaf anda ingin bertemu siapa?" tanya seorang yang berjaga di depan ruangan itu.
"Tolong sampaikan kepadanya Baladewa ingin menemuinya," jawab Baladewa
"Tapi, Pak Andra sedang tidak ada ditempat, dia sedang tugas luar. Mungkin anda bisa menemuinya lain waktu," jawab lelaki itu gugup
"Kau jangan bohong, kau tahu sedang berbicara dengan siapa!" gertak Baladewa membuat lelaki itu ketakutan
"Maaf Yang Mulia tapi tadi Pak Andra berpesan seperti itu, ups!!" lelaki itu langsung menutup mulutnya ketika keceplosan berbicara
"Maafkan aku yang mulia, tolong jangan hukum aku. Aku cuma menjalankan perintah saja, aku tidak tahu apa-apa," ucap lelaki itu bersimpuh di kaki Baladewa
"Sekarang katakan dimana Kepala Klinik!" hardik Baladewa menarik kerah baju lelaki itu.
"Dia ada di ada di dalam," jawabnya lirih.
Baladewa segera masuk kedalam ruangan itu dan mendapati ruangan itu sudah kosong.
"Kurang ajar, dia pasti kabur melalui jendela," lelaki itu segera menghubungi Devin dan Kinan untuk merncegat Kepala Klinik di parkiran agar lelaki itu tidak bisa kabur.
Baladewa segera berlari keluar mengejar Andra melalui tangga darurat.
__ADS_1
*Tak, tak, tak!!
Baladewa menyeringai ketika mendengar suara langkah kaki dari selasar ruang basement, ia segera berlari mendekati bunyi suara itu.
*Grep!!
Ia berhasil menyergap Andra di Selasar Basement dan membawa lelaki itu menuju ke ruang kerjanya.
"Sekarang katakan padamu dimana tempat persembunyian Nilam berada!" tanya Baladewa
"Aku tidak tahu yang mulia," jawab Andra
"Jangan bohong, kalau kau tidak tahu kenapa kau harus lari dan berusaha membohongi aku dengan mengatakan kau sedang tugas keluar kota bukan?" Baladewa membalikkan pertanyaan kepada Andra
"Beritahu aku dimana dia, aku janji tidak akan menghukum mu karena kau bersikap koperatif terhadap pihak Kerajaan, tapi kalau kau berusaha membohongi aku untuk melindungi penjahat, maka aku kan menghukum kamu dan juga keluargamu, karena dianggap telah melindungi penjahat negeri ini, " imbuh Baladewa
"Dia ada di Mantingan, kau bisa menemukan dia di rumah neneknya." jawab Andra
Baladewa segera pergi meninggalkan tempat itu, sementara Andra langsung menghubungi Nilam.
"Kau harus segera pergi dari rumahmu, Baladewa sudah tahu tempat persembunyian mu. Cepat tinggalkan tempat itu karena mereka sedang menuju ke sana," ucap Andra mematikan ponselnya.
*************
Setibanya di Klinik Kerajaan Devin langsung mengunjungi Genta di ruang perawatannya.
Ia tersenyum ketika melihat kakaknya sudah siuman dan sedang menikmati makan malamnya.
"Aku senang sekarang kau sudah membaik kak," sapa Devin berusaha mengusap lembut wajah lelaki didepannya, namun Genta langsung menepis tangannya.
"Jangan pernah sentuh aku dengan tangan kotormu itu Dev. Aku tahu kau pasti kecewa karena gagal membunuhku bukan. Pergilah dari sini, aku sudah muak melihat wajah culasmu. Dan jangan pura-pura peduli lagi denganku, aku tidak butuh belas kasihmu." Genta mendorong tubuh Devin menjauh darinya.
"Pengawal usir dia dari sini, dan jangan biarkan dia masuk ke ruangan ini lagi!!" seru Genta
Dua orang segera membawa Devin keluar dari ruangan itu. Baladewa yang melihatnya segera masuk ke dalam menemui Genta.
"Paman?" sapa Genta
Baladewa menarik nafas panjang melihat Genta yang dulu lembut dan dangat menyayangi Devin berubah menjadi kasar dan sangat membenci adiknya.
"Apa kau sudah baikan yang mulia?" tanya Baladewa
"Iya Paman, senang sekali bisa melihatmu lagi. Terima kasih sudah menolongku dan menjadi pembelaku didepan para Dewan penasihat Istana. Aku tahu hanya paman yang selalu peduli dan sayang padaku," Genta memeluk pamannya itu erat
"Tentu saja yang mulia, sudah jadi tugasku untuk melindungi keponakanku, karena setelah ayahmu meninggal tentu saja aku akan menggantikan posisi ayahmu. Aku akan berusaha melindungi kalian dari orang-orang jahat dan menyayangi kalian seperti anakku sendiri. Jadi aku mohon kepada kamu agar bisa akur lagi dengan Devin. Asal kau tahu Devinlah yang sudah menyelamatkan kamu, dan dia juga yang selalu setia menjagamu disini. Mungkin kau membencinya karena kesalahan ibunya yang sudah membuang mu, tapi apakah semua kesalahan orang tua harus anak yang memikulnya, jadilah Genta yang dulu. Genta yang selalu menyayangi Devin sebagi adik kecilnya dan melindunginya agar tidak seorangpun berbuat jahat padanya. Sikapmu mengingatkanku terhadap almarhum ibumu yang begitu lembut dan penyayang anak kecil. Bahkan dia memberanikan diri untuk mengandung mu walaupun ia tahu ia sangat berbahaya untuknya jika hamil. Dia melakukan semua itu agar kakakku tidak kesepian saat ia meninggal, ia sangat ingin memberikan raja keturunan agar ia tidak kesepian di hari tuanya karena dia tahu umurnya tidak akan panjang. Begitu besarnya cinta ibumu pada Raja sehingga dia sampai mengijinkan raja untuk menikah lagi walaupun tahu jika raja menikah maka putra yang dikandungnya akan tersingkir dari posisi putra mahkota. Kau tahu alasannya apa?" tanya Baladewa menghentikan ceritanya
Genta hanya menggeleng sembari mengusap air matanya yang tiba-tiba membasahi pipinya.
"Karena dia yakin jika putranya kelak akan menjadi seorang yang penyayang dan akan menyayangi saudara tirinya. Bahkan ia yakin bahwa kau bukanlah orang yang tamak yang akan bermusuhan dengan saudaramu hanya karena tahta, itulah alasannya mengijinkan raja untuk menikah lagi. Walaupun setahuku merek berdua sudah berjanji untuk saling setia sampai akhir usia. Tapi janji itu harus pupus karena almarhum ratu tidak tega meninggalkan ayahmu sendirian, dan ia juga khawatir kau akan kehilangan kasih sayang seorang ibu makannya dia mengambil keputusan itu. Begitu mulianya pengorbanan ibumu apa kamu akan mematahkan harapannya, apa kau akan membuatnya bersedih di Surga karena melihatmu berubah menjadi tamak dan memusuhi adikmu sendiri hanya karena tahta!" ujar Baladewa dengan penuh emosi
"Kau jangan terpancing kata-katanya yang mulia, ingat dia ada di pihak pangeran Devin Rakabuming makannya ia berusaha untuk mempengaruhi dirimu agar tidak menghukum dia," sahut Sekertaris Kerajaan yang memasuki ruangan itu
"Jaga ucapanmu sekertaris!!" seru Baladewa
"Apa seorang anak yang tidak berdosa dan tidak tahu apa-apa harus ikut dihukum karena kesalahan orang tuanya, apa itu adil!!" tambah Baladewa
__ADS_1
"Bukankah itu memang sudah menjadi peraturan kerajaan, kau harusnya lebih paham itu Panglima!" jawab Sekertaris dengan sinis
"Diam kalian berdua!!, pergi semuanya dari sini!!" seru Genta Bhumi