ISTRI TOMBOY SANG PANGERAN 2

ISTRI TOMBOY SANG PANGERAN 2
Nostalgia 2


__ADS_3

"Woii!!, jangan pada ngelawak aja bantu kita!" teriak Tama yang kewalahan menghadapi puluhan pelajar labil.


"Kebiasaan Ih kalau lagi situasi genting, bukannya bantuin malah ngerumpi!" cibir Ganendra


"Anj*y!, kita di gibahin para pangeran istana, gimana dong?" tanya Alvian


"Kita beraksi!" ucap Ryan sambil mengacungkan samurainya


"Lo, gak bawa senjata Dan, Opang?" tanya Al


"Gak, kan kita gak tahu kalau mau tawuran," jawab Noval


"Hmmm, makannya jadi orang itu harus selalu siap sedia untuk membawa semua keperluan perang, untung gue selalu bawa peralatan tempur dimanapun gue berada," sahut Alvian yang mengeluarkan sesuatu dari tasnya


"Emang di akhirat boleh bawa gituan, gak dirazia gitu sama malaikat?" tanya Ferdan


"Gak bolehlah sebenarnya, guenya aja yang bandel, gue sengaja malak benda-benda ini dari orang-orang jahat," jawab Alvian


"Tau gak kenapa gue kabur kesini?" tanya Alvian


"Gak!" jawab mereka serentak


"Gue abis di marahin Ibu surri disana, semenjak dia datang ke alam kubur, mati gue gak tenang. Di ceramahin mulu," keluh Al


"Sukurin lo!, gak ada Pak Ali Omah Welas pun beraksi, wkwkwk!" sahut Ryan


"Iya nih, makanya aku kabur ke sini," sahut Alvian


"Coba mana senjata dari alam kubur yang kamu bawa, penasaran gue," celetuk Noval


"Nih ada paku dan jarum dari dukun santet, terus ini ada, ada tali pengikat pocong, terus ini yang paling ampuh boneka santet," jawab Al


"Diih, emang kita mau buka praktek santet, sue lo!" cibir Ferdan


"Woii!!, help me!!" teriak Tama


"Kita bantu Tam-tam nyok, kasian dia udah babak belur!" ajak Ryan


"Kuy!" jawab semuanya langsung berdiri dan menghajar satu persatu para perusuh.


*Wuushhh!!

__ADS_1


Alvian meniupkan angin hingga membuat ribuan para pendemo terhempas hembusan angin kencang darinya.


"Selamat berjuang guys, maaf gue sudah bisa membantu kalian lagi," ucap Al memandangi teman-temannya yang sedang bertarung melawan para demonstran yang berbuat Rusuh.


Al melihat Cassey juga turun tangan mengatasi keributan diatas podium. Gadis itu memberikan orasi untuk menghentikan para pendemo dengan nasihat bijaknya.


"Kau sekarang sudah dewasa nak, Papih bangga punya anak sepertimu. Kau sudah menjadi seorang pemimpin sekarang. Kelak kau akan menjadi Ratu yang tangguh Key," ucap Alvian


Cassey terus berusaha memberikan pencerahan kepada para demonstran yang mayoritas adalah pelajar.


Setelah berorasi selama dua jam lebih, akhirnya massa bisa berhasil dikendalikan oleh Cassey dibantu oleh geng Gesrek dan teman-temannya.


"Alhamdulillah, akhirnya semuanya bisa terkendali," ucap Cassey


Wanita itu tersenyum melihat satu persatu demonstran yang mulai membubarkan diri.


Ketika sedang mengedarkan pandangannya kearah Rey dan kawan-kawannya, tanpa sengaja ia melihat Al yang masih berdiri disana menatapnya lekat.


"Papih," ucap Key lirih


Alvian hanya melambaikan tangannya kemudian tersenyum dan menghilang dari pandangannya.


"Papih, terima kasih karena Papih sekarang Key bisa jadi pribadi yang mandiri, Key kangen Papih," gumamnya dalam hati sembari mengusap sudut matanya yang mulai berembun.


Semuanya segera memasuki aula kerajaan yang sudah diisi oleh para petinggi istana dan juga andi dalem Keraton.


Sementara itu Siwi langsung menarik Cassey yang baru saja turun dari podium untuk segera di make up.


"Pelan-pelan dong jalannya Wi, emangnya kita mau kemana sih buru-buru banget?" tanya Cassey


"Mau make up sister, kan lo harus dampingi laki lo, makannya lo harus tampil secantik mungkin supaya laki lo bangga sama lo dan orang-orang terpukau dengan penampilan kamu Key," jawab Siwi


"Ok lah, gue nurut aja. Asal jangan dandanin gue kaya ondel-ondel aja Wi," ucap Cassey


"Gak mungkin dong, masa gue tega jadiin kakak tersayang gue jadi ondel-ondel, yang pastinya lo bakal aku bikin seperti putri dari negeri dongeng, biar tuh pembunuh bayaran yang kan nusuk si Baby salah sasaran gara-gara terpukau dengan kecantikan lo!" sahut Siwi


"Iyeh, gue percaya. Sekarang Kuy dandanin gue gak pake lama!" seru Cassey


"Baik yang mulia Ratu," sahut Siwi sambil terkekeh


"Sebentar gue sembur dulu, biar pangling!" tambah Siwi sambil mengepulkan asap rokok padanya

__ADS_1


"Sue lo, inimah bukannya bikin gue pangling, malah bikin gue mati iya!" celetuk Cassey yang langsung batuk-batuk karena kena asap rokok Siwi


"Sorry Sis, gue cuma ngikutin para senior gue!" jawab Siwi sambil mematikan rokoknya.


"Kalau ada sesuatu yang tidak baik jangan diikutin Wi, walaupun itu jadi tren. Jadilah diri lo sendiri dengan gaya khas lo, bukan meniru orang lain," sahut Cassey


"Ok, sis," jawab Siwi sambil memoles wajah Cassey


Setengah jam kemudian Siwi pun selesai mendadani Cassey.


Siwi menggandeng Cassey menuju ke aula kerajaan agar dipertemukan dengan Bagas suaminya. Ia berjalan perlahan karena Cassey menggunakan jarik. Ia terlihat anggun menggunakan baju adat Jogjakarta.


Sementara itu Danar Gumilang sedang memakainkan jubah untuk dan menutup wajah Ahmar menggunakan penutup kepala yang menjadi satu dengan jubah.


Ahmar terlihat gugup, ia takut jika penyamarannya terbongkar.


"Sudah lo gak usah tegang, gak bakal ada yang curiga sama kamu, lagian badan kalian sama-sama kurus tinggi, jadi sudah pasti tidak akan yang ngenalin lo," ucap Danar Gumilang


Ia menuntun Ahmar menuju ke aula, sedangkan Bagas masih bersama Damar Langit, ia juga sudah bersiap-siap memakai baju yang sama dengan Ahmar menuju ke Aula.


Kini Danar menghentikan langkahnya ketika melihat Siwi bersama dengan Cassey.


"Sekarang kalian bergandengan tangan dan berjalanlah pelan-pelan menuju ke tempat duduk kalian, ingat!, kalian harus saling melindungi dan menjaga satu sama lainnya, tetap waspada dan perhatikan orang-orang di sekitar kalian, karena ada yang sengaja ingin membunuh salah satu dari kalian!" tutur Danar Gumilang


Keduanya langsung mengangguk dan berjalan perlahan menuju ke tempat duduk mereka.


"Baby," panggil Cassey


"Hmmm," jawab Ahmar


"Kok tangan kamu kasar banget kaya kuli bangunan, emangnya kamu abis ngapain aja sih," bisik Cassey pelan


"Astaghfirullah Key, lo jujur banget sih. Pake menghina tangan gue kaya kuli bangunan lagi, memangnya tangan si baby selembut kapas apa, makanya kamu kaget saat menggandeng lenganku," batin Ahmar


"Kok diem baby," bisik Cassey lirih


Ahmar tetap diam tidak menjawab pertanyaan Cassey, karena ia tahu jika ia menjawabnya maka penyamaran yang akan terbongkar.


"Baby!" seru Cassey sambil mencubit gemas Ahmar


"Kamu kenapa si Baby, kok diem mulu dari tadi, sariawan ya!, bikin sebel aja!" gerutu Cassey yang melepaskan tangannya dari genggaman Ahmar

__ADS_1


"Nih sekali lagi lo gak jawab pertanyaan gue, akan aku buka jubah lo!" ancam Cassey yang berjalan mendahului Ahmar


"Benar-benar nyebelin ternyata Cassey, gak ngerti banget apa gue bukan si baby, tapi kalau gue gini terus bahaya, bisa-bisa penyamaran gue terbongkar," gumam Ahmar


__ADS_2