ISTRI TOMBOY SANG PANGERAN 2

ISTRI TOMBOY SANG PANGERAN 2
Nostalgia Tawuran


__ADS_3

"Semuanya harus stay!" ucap Danar memakai ht memperingatkan yang lainnya.


Semuanya segera bersiaga untuk menjalankan tugasnya masing-masing.


Sementara Lulu terus mengikuti Gayatri yang selalu memberikan kabar terbaru kepada Rahardian.


"Tunggu aja lo, gue pasti akan bikin mamp*s lo bentar lagi!" ucap Lulu lirih


Gayatri merasa dirinya sedang diikuti, ia kemudian menengok kebelakang untuk mastikan siapa yang mengikutinya, tapi saat ia menengok Lulu sudah bersembunyi dibalik tembok sehingga Gayatri tidak melihatnya.


Perasaan sepertinya ada yang mengikuti aku deh, tapi siapa ya?


Gayatri memperlambat jalannya agar bisa menangkap basah siapa yang mengikutinya.


Namun Lulu tidak kalah cerdik dengan wanita itu, Ia bahkan berhenti mengejar Gayatri supaya bis memergoki aksi dayang istana itu.


"Sepertinya aman," ucap Gayatri saat akan menghubungi Rahardian kembali


"Halo yang mulia, sepertinya rencana penobatan Putra Mahkota akan diadakan di aula Istana, bukan di Kantor Gubernur, jadi segera kirim para demonstran kemari?" ucap Gayatri


"Telat, aku sudah tahu semuanya dari Bima yang sudah memantau dari Istana, sebenarnya kau itu sedang apa sih, kenapa baru laporin sekarang!" gertak Rahardian kesal


"Maaf yang mulia, karena hamba cuma sorang dayang biasa, yang juga harus mengerjakan tugas-tugas utama sebagai abdi dalem Keraton. Apalagi tadi ada yang berusaha mengikuti aku," jawab Gayatri


"Sekarang kau harus lebih berhati-hati lagi, aku tidak mau kau sampai ketangkep. Sekarang temui Sutta yan ada di belakang panggung!" seru Rah


"Baik, yang mulia," sahut Gayatri


Gadis itu segera menuju ke back stage untuk mencari dimana keadaan Sutta


Saat ia sedang menepuk pundak Sutta , yang ditepuknya bukanlah Sutta, melainkah Ryan yang sedang berpatroli mengamankan situasi.


"Astaghfirullah, eh maaf salah," Ucap Gayatri


Pada saat itu juga Lulu langsung keluar memerintahkan Ryan untuk menangkap gadis itu.


"Tangkap dia Rey!" perintah Lulu


Mendengar ucapan Lulu Gayatri segera berlari untuk menghindar tapi sayangnya gerakannya kurang cepat hingga Ryan berhasil menangkapnya.


"Sutta tolong!" teriak Gayatri saat melihat Sutta


Namun pemuda itu bukannya menolongnya, malah langsung kabur untuk menyelamatkan diri, Lulu langsung mengejar lelaki itu dan melemparinya dengan menggunakan sepatu high heels yang dipakainya.


*Pletak, Buuugghhh!


"Aaarrrggghh!" erang Sutta saat sepatu itu mengenai kepalanya


"Nay tangkap dia!" teriak Lulu ketika melihat Nay ada didepannya

__ADS_1


Nay yang kaget langsung mensleding kakinya untuk menghentikan pria itu.


**Buugghhh!!


Akhirnya Sutta tumbang juga setelah Nay berhasil mensledingnya. Akan tetapi pada saat Lulu akan menariknya untuk dibawa menemui Danar Gumilang, Sutta memberikan perlawanan hingga terjadi perkelahian antara Lulu dan Sutta.


Ternyata Sutta bukanlah lawan yang bisa dengan mudah dikalahkan karena kemampuan Ilmu beladirinya diatas Lulu, hingga ia kewalahan menghadapinya.


Melihat Ibunya kewalahan Nay segera membantu Lulu untuk menghajar lelaki itu dengan jurus-jurus andalannya.


**Buughhh!! Sebuah tendangan berhasil Naeswari daratkan di wajah lelaki itu tapi sayangnya lelaki itu masih bisa menahannya.


"Sial!, kuat banget dia!" gumam Naeswari yang merasakan kesakitan saat tangannya menghajar dada lelaki itu.


"Kalian bukanlah tandinganku, makannya pergi dari sini atau aku akan menghabiskan kalian berdua!" gertaknya sembari mengusap darah di ujung bibirnya


"Sue! beraninya lo meremehkan gue!" ucap Lulu kesal.


"Lulu, Lulu, dari dulu tetap tidak berubah masih saja bar-bar. Tapi sayangnya gue bukan Sutta yang dulu, yang selalu kau hajar dengan membabi buta bersama Al sahabatmu. Kini aku sudah mempertinggi ilmu kanuraganku jadi jangan harap bisa mengalahkan aku!" jawabnya sinis


"Hmmm, jadi kau Sutta temannya Lingga," sahut Lulu


"That's right baby!" jawabnya dengan senyuman sinis


"Jangan banyak bacot kamu!" teriak Naeswari


"Majulah kalian berdua, aku tidak takut menghadapi dua wanita bar-bar sekalian!!" tantang Sutta


Hingga Ryan datang membantu Keduanya.


**Buuughh!


Dengan sekali tendangan yang di lesatkan oleh Ryan kearah uluhatinya lelaki itu langsung jatuh tersungkur di lantai.


**Buuughhh!


Sekali lagi sebuah tendangan dihempaskan ke perut Sutta hingga membuat lelaki itu mengerang kesakitan.


Ryan segera meringkus lelaki itu ketika sudah tidak berdaya dan membawanya menuju ke ruangan kerja Danar Gumilang.


"Good job Rey, sudah dua orang kita tangkap. Tapi aku yakin masih banyak yang bersembunyi dibalik kerumunan para pemdemo bahkan didalam istana juga, jadi tetaplah waspada!" tukas Danar Gumilang


"Siap paman," Rey segera pergi meninggalkan ruangan kerja Danar Gumilang, sementara Danar terus mengawasi kamera CCTV untuk mengawasi pergerakan musuh-musuhnya.


"Sekarang mereka sudah berani menyerang secara terang-terangan ke istana, jadi jangan salahkan aku jika aku akan menghukum mati dalang dari semua keributan hari ini," ucap Danar Gumilang lirih


Sementara itu Tama Wijaya dan juga Pandu yang masuk menyamar sebagai pendemo sedang dibriefing oleh seorang lelaki yang diduga merupakan ketua penggerak demo tersebut.


"Siapa dia, sepertinya aku tidak begitu mengenalnya," gumam Tama

__ADS_1


Lelaki itu juga membagi-bagikan amplop berisi uang lima puluh ribu kepada semua pendemo disana yang mayoritas anak SMP dan anak SMA.


" Kalau aku lawan mereka sama aja cari mati, anak-anak umur segini sedang suka-sukanya berkelahi dan tidak takut mati, harus hati-hati ini!" gumam Tama


Ia hanya menunduk ketika lelaki itu mendekatinya dan memberikan amplop itu padanya.


"Lo siapa?, kayaknya gue gak kenal deh?" tanya lelaki itu sambil mengamati wajah Tama dari ujung kepala sampai ujung kaki.


Ia mendongakkan wajah Tama dan terkejut melihatnya.


"Lo bukan bagian dari kami, lo penyusupkan!" teriak lelaki itu hingga membuat yang lainnya langsung segera mengepung Tama dan juga Pandu.


"Siap-siap Pandu!" ucap Tama


"Siap ayah,"


Semua demonstran yang sudah mempersiapkan benda-benda tajam segera merangsek maju menyerang Tama dan juga Pandu.


Danar Gumilang yang memantau mereka melalui kamera CCTV segera memberikan kabar ada Ryan dan kawan-kawannya untuk segera membantu Tama dan juga Pandu.


"Kampret satu, kampret dua, segera meluncur ke depan gerbang istana, karena ada memedi yang sudah mengganggu ketertiban umum!" ucap Ryan menyampaikan pesan dari Danar Gumilang


Ferdan, Noval, Hermes, Ahmar dan juga Ganendra segera berlari menuju ke depan pintu gerbang Istana untuk membantu Pandu dan Tama.


"Gila!, kita nostalgia c*k!" teriak Ferdan


"Tawuran, siapa takut!, gue jendralnya!" tambah Ryan yang langsung merampas samurai milik pengunjuk rasa dan memainkannya untuk menghadapi semua musuh-musuhnya yang mayoritas badalah anak ABG.


"Jadi kangen sekolah lagi, pengin kembali muda lagi gue!" seru Noval yang menjatuhkan satu persatu musuhnya dengan tangan kosong.


"Coba kalau ada Al, pasti lebih seru!" tambah Ferdan


"Iya nih," jawab Ryan


"Yuhuu!" jawab seseorang yang langsung menghampiri mereka dengan menggunakan seragam putih abu-abu


"Al!" teriak ketiganya bersamaan


"Yoi, babang Al datang untuk membantu kalian yang mulai udzur!" jawab lelaki itu sombong


"Sue, udah mati aja masih sombong lo, pasti lo masuk neraka ya!" jawab Ferdan


"Anj*r, kalau gue masuk neraka gak bisa jalan-jalan gini babang Ferdan?" jawab Al


"Terus lo di surga gitu?, gue kok gak percaya ya?" sahut Ryan


"Sue, gue masih menjadi penunggu rumah gue, buat ngintip malam pertama lo bareng Niken, puas lo!" cibir Al yang disambut gelak tawa Ferdan dan yang lainnya


"Sue, Dasar demit cabul. Tar gue panggil Mbah Marjan buat ngusir lo dari rumah Niken, biar rasa lo!" sahut Ryan sambil terkekeh

__ADS_1


"Jahat Lo Rey!" jawab Al yang membuat semuanya kembali tertawa


__ADS_2