ISTRI TOMBOY SANG PANGERAN 2

ISTRI TOMBOY SANG PANGERAN 2
Season 3 #Episode 61. Beraksi 2


__ADS_3

"Syukurlah aku selamat!!" ucapnya sembari mengusap dadanya.


Ia terus mengamati lelaki itu dari balik pintu. Senyumnya mengembang ketika melihat Lelaki itu memegangi perutnya dan meninggalkan ruangan itu.


Siwi segera masuk ke ruang Jenggala ketika lelaki itu keluar dari ruangannya.


Ia kemudian langsung mencari dimana lelaki itu meletakkan cincin saktinya. Senyumnya mengembang ketika melihat sebuah cincin mirah dilema tergeletak diatas meja.


"Hmmm, akhirnya dapat juga nih cincin sakti, dengan ini aku dan yang lainnya bisa keluar dari neraka ini. Gue memang hebat, walaupun gue gak jago berkelahi tapi setidaknya otak gue encer dibandingkan dengan yang lainnya," gumam Siwi


"Woii, ngapain kamu diruangan gue!!" teriak Janggala membuat Siwi kaget dan langsung berlari meninggalkan ruangan itu membuat lelaki itu langsung mengejarnya.


********


Sementara itu di arena pertempuran Ryan sudah kewalahan menghadapi puluhan anak buah Jenggala .


"Gue istirahat dulu Dan, lo lanjutin pertempurannya, gue capek Rasanya pinggang gue mau copot," keluh Ryan duduk bersandar di tembok


"Sama Rey, gue juga. Mungkin karena faktor usia kali, makannya kita jadi gampang capek dan tulang-tulang serasa patah setelah berkelahi," jawab Ferdan


"Yaudah lagian Cassey, Kinan, Naeswari dan Agni masih bisa mengatasi preman-preman itu." tambah Ferdan


**Wuushhh !!!


Sebuah Pedang berhasil mengenai tangan Kinanthi.


"Awww!!"


"Kamu gak papa Kin?" tanya Nay memberikan sebuH pedang kepada Kinan


"Aku baik-baik saja, luka kecil ditanganku tidak akan membuatku mati," sahut Kinan


"Kamu memang the best Kin!" jawab Nay menengok kearah Rey dan Ferdan yang sedang bercengkrama.


Gadis itu terus memainkan pedangnya dan menghunuskannya kepada ke lawan-lawannya .


Nay melompat dan menghujamkan pedangnya seperti seorang ahli samurai, begitu juga dengan Cassey ia bahkan tidak gentar walaupun lawan-lawannya memakai pedang samurai dan dia hanya menggunakan sebuah kayu.


"Tangkap Key!!" Ryan melempar sebuah pedang kearah Cassey.


.


*Grerpp!" ia segera menangkap pedang itu dan melesatkannya kearah seorang yang hampir saja menusuk Naeswari.


"Thanks Key," ucap Nay


"Sepertinya duo Angel harus bersatu," Cassey segera menggandeng lengan Naeswari dan langsung melesatkan tubuh gadis itu sehingga Nay leluasa melakukan tendangan melingkar kearah musuh-musuhnya hingga berjatuhan.


"Tadi itu keren sekali Key," ucap Nay terengah-engah


"Tapi tubuhmu sekarang berat sekali Nay," jawab Cassey mengatur nafasnya karena kelelahan menahan tubuh Naeswari


"Jangan bilang aku gendut," gerutu Nay


"Bukan gendut, tapi berisi," jawab Cassey sambil terkekeh


"Sue lo!!"


Ketika mereka sedang mengatur nafasnya tiba-tiba seseorang mengalungkan belati ke leher keduanya.


"Jangan bergerak atau kalian mati!" bisik lelaki itu


Para penjahat itu kemudian membawa mereka sua ke ruang penyekapan dan mengikat semuanya.


"Seumur-umur gue baru merasakan rasanya di sandera. Dan kalah itu ternyata menyakitkan, sungguh menua itu tidak enak karena kita sudah tidak mempunyai kekuatan seperti waktu kita muda." ujar Ryan


"Gak boleh ngeluh kaya gitu Rey, dosa kamu. Justru kita dijadikan tua itu agar kita menjadi lebih bijak dan belajar dari pengalaman. Di usia kita ini seharusnya lebih banyak kita habiskan dengan mendekatkan diri kepada Allah agar kita punya bekal yang cukup saat kita dipanggil menemuiNya," jawab Ferdan membuat Ryan langsung tertawa mendengarnya


"Lo kesambet Jin mana Dan, sampai tiba-tiba jadi ustadz dadakan," ledek Ryan


"Jangan ngomong begitu Rey, harusnya lo bersyukur karena Ferdan sudah berubah," jawab Noval


"Nah kalau yang ngomong lo, gue masih percaya Pang. Tapi kalau Ferdan kenapa gue ragu ya," jawabnya sembari cekikikan


"Iri, bilang bos," jawab Ferdan membuat Ryan semakin terkekeh mendengarnya


"Siapa yang iri Babang Ferdan," sahut Ryan


"Husst, jangan cekikikan, nanti mereka menutup mulut kita," bisik Noval


"Ok Bos," jawab mereka kompak


"Ini salah Agni, kenapa juga dia nelpon papih kamu yang jelas sudah aki-aki. Tentu saja mereka sudah tidak punya tenaga yang kuat untuk berkelahi lagi karena usia mereka yang sudah senja. Kenapa kamu gak telpon Hery atau Bagas, Pandu ataupun Ahmar!" gerutu Nay terus menyalahkan Agni


"Maaf Nay, aku cuma menjalankn amanah dari Kinan untuk menelpon Om Rey," jawab Agni membela diri


"Sudahlah jangan saling menyalahkan, tidak ada gunanya juga. Sekarang mending kita pikirkan bagaimana caranya bisa kabur dari sini," sahut Cassey


Semuanya terdiam memikirkan apa yang harus mereka lakukan.


*Braaakkk!!!


Suasanasuasana hening tiba-tiba menjadi riuh ketika Siwi berhasil mendobrak masuk keruang penyekapan. Semua penjaga langsung menyematkan pedang mereka ke leher para sandera.


"Siwi!!" teriak semuanya


"Kembalikan cincin gue!" teriak Jenggala yang baru saja tiba di ruang penyekapan


"Stop mengajar gue atau cincin ini, gue hancurkan!!" ancam Siwi hendak memalu cincin batu akik itu.


"Ok, tapi please jangan hancurkan cincin itu!!" seru Jenggala


"Balikin cincin Gue!" tambah Jenggala

__ADS_1


"Hmmm, gue bakal balikin cincin lo dengan syarat lo bebasin semua teman-teman gue gimana?" tawar Siwi


Lelaki itu berpikir sejenak, dan akhirnya menagguk setuju.


"Ok gue bebasin teman-teman lo, setelah itu balikin cincin gue,"


"Ok Deal!!" Siwi menjabat tangan Jenggala


"Lepaskan mereka!!" perintah Jenggala


Semua anak buahnya langsung melepaskan ikatan tangan Kinan dan yang lainnya.


"Cepat pergi!!" bisik Siwi masih menahan cincin di tangannya


"Kamu gimana?" tanya Ferdan


"Papih gak usah khawatir, Siwi pasti bisa keluar. Papih cepetan pergi," jawab Siwi


Ferdan hanya mengangguk dan sembari terus menoleh kebelakang.


Setelah memastikan semuanya keluar Villa, Siwi berpikir untuk menyerahkan cincin itu pada Jenggala.


"Cepat serahkan cincin itu!!" hardik Jenggala, membuat anak buahnya langsung mengeluarkan pedangnya kembali .


"Sabar, bos," Siwi berusaha menyembunyikan rasa takutnya, keringat dingin mulai mengucur di wajahnya ketika anak buah Jenggala mulai mendekatinya.


Gue harus mengalihkan perhatian mereka agar bisa kabur dari sini,


Gadis itu tersenyu melihat jendela di sampingnya.


"Ups, sorry!!" ucapnya sembari menjatuhkan cincin Jenggala di Jendela


"Cari cincin itu!!" seru Jenggala


Melihat anak buah Jenggala yang sibuk mencari cincin Siwi langsung berlari keluar menyelamatkan diri.


"Bunuh wanita itu!!" ujar Jenggala


simi berlari sekencang-kencangnya untuk menghindari kejaran anak buah Jenggala.


"Rasakan ini!!" teriak Siwi sembari melempar semua barang-barang yang ada di dekatnya kepada anak buah Jenggala


Ketika ia sudah tiba didepan pintu masuk Villa senyumnya mengembang, karena merasa sebentar lagi dia akan bebas.


"Akhirnya gue bisa bebas juga," gumam Siwi yang langsung menarik engsel pintu


**Braaakkkk!!


Senyumnya tiba-tiba menghilang ketika seseorang membuka pintunya dengan paksa membuat Siwi terhimpit pintu yang dibuka dari depan.


"Serang mereka!!" teriak Jemmy memimpin teman-temannya menyerang anak buah Jenggala


"Dasar bocah kurang ajar, beraninya membuat wajahku hancur gara-gara terhimpit pintu," gumam Siwi sembari berusaha keluar dari balik pintu.


Sekali lagi gadis itu terhimpit pintu membuatnya semakin geram dan berteriak.


"Beraninya kalian membuatku babak belur!!" Siwi segera keluar dan menghajar lelaki yang jatuh terhempas ke pintu.


**Buughhh!!


"Maaf tante gak sengaja," ucap Jemmy sembari berlari menghindari Siwi yang melampiaskan kekesalannya kepada anak buah Jenggala.


"Astaga kenapa ada anak-anak Merah Putih disini!" ucap Kinan kaget ketika melihat murid-muridnya ada di Villa sedang bertarung melawan anak buah Jenggala


"Kita mau bantu Miss!!" teriak murid cewek-cewek melempari para penjahat dengan perabot yang ada di ruang tamu.


"Btw kalian yg tahu darimana gue lagi dalam bahaya," tambah Kinanthi


"Gue yang ngasih tahu Kin, tadi gue salah nelpon. Bukannya Om Rey yang aku telpon malah si Jemmy," jawab Agni meringis


"Hadeeh, bisa kena marah ibu Kepsek nih. Dikirain aku bawa mereka tawuran," keluh Kinan


"Sudahlah itu gak penting, sekarang yang terpenting kita semua harus bergerak. Kita harus bantu mereka!" Cassey langsung masuk lagi ke Vila dan menghajar musuh mereka satu persatu diikuti yang lainnya.


*Ting, ting, ting!!


Tiba-tiba terdengar suara cincin menggelinding jatuh dari atap membuat suasana menjadi hening, semuanya terdiam seperti terhipnotis mendengar bunyi itu bahkan mereka menghentikan pertarungannya sejenak.


*Tak!!


Tiba-tiba Jemmy merasakan kepalanya sakit setelah kejatuhan benda keras dari balkon, dia merogoh saku bajunya karena benda itu tiba-tiba masuk kedalamnya.


"Cincin???" ucapnya membulatkan matanya


"Ambil cincin itu!!" Seru Jenggala dari atas tangga.


Karena ketakutan melihat anak buah Jenggala yang kini mengarah kepadanya, Jemmy yang ketakutan langsung melemparkan cincin itu sekencang-kencangnya.


**Plukkk!!


"Kyaaa, kenapa ada di gue lagi!!" seru Siwi buru-buru melempar kembali cincin itu membuat anak buah Jenggala langsung berhenti mengejarnya


*Tap!!


Kali ini seorang siswa perempuan yang berhasil menangkapnya, karena ia juga ketakutan, gadis itu melemparkan kembali cincin itu dan seterusnya adegan saling lempar cincin terus berlangsung sehingga membuat anak buah Jenggala yang berlari kesana-kemari kelelahan.


"Stop!!!, udah dong main lempar-lemparannya, kita capek nih," keluh salah seorang dari mereka


Cassey tersenyum simpul melihat kondisi anak buah Jenggala.


"Lempar cincinnya ke gue!" seru Cassey membuat seorang siswa yang memegangnya langsung melemparkannya kearah Cassey


Wanita itu langsung melompat dan menyambar cincin itu dan kemudian membawanya lari keluar Villa.

__ADS_1


"Semuanya kembali ke mobil dan tinggalkan tempat ini!!" serunya sembari berlari sekencang-kencangnya karena anak buah Jenggala mengejarnya.


"Semuanya ayo pergi!!" seru Ryan


Mereka langsung mengangguk dan masuk ke mobilnya masing-masing.


"Terus Key sama siapa Pih?" tanya Kinan


"Biar Bunda sama aku," ucap Rendra menyalakan motornya


"Kau harus membawa ibumu pulang dengan selamat Ren?" ujar Ryan


"Tentu Opah," jawab Rendra


"Opah percaya sama kamu," Ryan menepuk pundak Rendra


"Santuy Opah, kita bakalan bantuin Rendra kok," ucap Jemmy


"Aku juga," tambah Adrian


"Baiklah jika ada tiga pemuda perkasa bersama Yang Mulia Ratu setidaknya aku tidak perlu khawatir dengan keselamatannya," Ryan tersenyum dan melesatkan mobilnya meningalkan villa itu.


"Siapa bilang tiga pemuda, ada empat kok, gue gak diitung nih," celetuk Alina keluar dari balik pintu


"Astaga Al, aku kira kau sudah ikut rombongan cewek-cewek pulang ternyata kamu malah bersembunyi. Dasar bar-bar!" cibir Rendra


"Emang salah kalau gue mau menyelamatkan Yang Mulia Ratu," jawab Alina


"Iya, iya, sekarang naik!" seru Rendra yang langsung melesatkan motornya mengejar Cassey


*Wuuushh!!


Cassey langsung melemparkan cincin itu ke tengah jalan raya membuat anak buah Jenggala berlari mengejarnya.


"Kejar tuh Cincin sampai besok pagi," umpat Cassey sembari berlari meninggalkan tempat itu


**Braakkk!!


Sebuah truk berhasil melindas cincin itu hingga remuk menjadi abu.


"Oh, cincin saktiku!!" seru Jenggala sedih


"Bunda naik!!" seru Jemmy


Cassey langsung naik dibelakang Jemmy.


"Kejar mereka, jangan biarkan mereka lolos!!" perintah Jenggala


Anak buah Jenggala langsung melemparkan sebuah batu ke arah Jemmy hingga membuat pemuda itu oleng dan jatuh dari motornya.


Jenggala tersenyum sinis, menatap anak buahnya yang menyerang Cassey dan Jemmy.


Rendra dan dan Adrian terpaksa berbalik arah untuk membantu Jemmy dan Cassey.


"Mereka sudah kelelahan jadi kita bisa mengalahkannya dengan mudah," ucap Cassey penuh percaya diri


Ia segera melesatkan tendangannnya kearah anak buah Jenggala yang sudah sempoyongan berjalan karena kelelahan.


Melihat anak buahnya berjatuhan menghadapi Cassey dan anak-anaknya.


"Sial, kenapa mereka bisa kalah melawan anak-anak ingusan," gumam Jenggala


"Apa ini karena cincin sakti gue yang sudah hancur makannya gue kalah," ucap Jenggala ketakutan


"That's right baby, makanya bersiap-siaplah untuk menghadapi kematianmu!!" seru Cassey melesatkan pukulannya ke wajah Jenggala, ia juga meluncurkan tendangannya bertubi-tubi hingga lelaki itu ambruk ke tanah.


"Beginilah nasibnya jika orang tidak percaya dengan kekuatannya sendiri tapi justru percaya dengan hal-hal mistis atau klenik. Kau akan dengan mudah dihancurkan!!" seru Cassey meninggalkan Jenggala yang sudah terkapar di jalan


"Awas Bunda!!!" teriak Rendra melepaskan tendangannnya kearah Jenggala yang hendak menancapkan belati ke punggung Cassey.


"Terima kasih, sayang," ucap Cassey memeluk putranya


"Terima kasih semuanya, bunda bangga dengan kalian semua," ucap Cassey


"Sekarang ayo kita pulang," Cassey segera naik keatas motor Rendra


"Alina dimana dong tante?" tanya gadis itu


"Yaudah kamu sama tante, biar Rendra sama temannya," ucap Cassey dan Alina langsung setuju


Mereka kemudian melesat menuju ke Istana.


*********


"Apa Pengeran Genta menculik Raka!" seru Bambang tidak percaya


"Benar ayah, kabarnya dia kembali ke Indonesia hanya untuk mengambil kembali tahta yang diambil oleh permaisuri raja," jawab Nilam


"Berarti sebelum membunuh Raka, kita juga harus melenyapkan Pangeran Genta, apalagi aku tahu di banyak dilindungi oleh orang-orang penting di kerajaan Kalingga." sahut Bambang


"Kau tidak usah khawatir ayah, karena aku akan membereskan Genta terlebih dahulu, dan aku tahu siapa yang bisa membuatnya tersingkir dari pertarungan ini dengan cepat tanpa harus mengeluarkan tenaga dan uang," jawab Nilam


"Apa kau akan meracuninya?" tanya Bambang penasaran


"Bukan aku, tapi Jonas. Aku tahu dia akan melakukan apapun yang aku suruh, apalagi setelah ia tahu kalau aku sedang mengandung anaknya," ucap Nilam


*Braakkk!!


Nilam dan Bambang tersentak ketika mendengar suara benda jatuh di depan kamarnya.


"Sepertinya ada yang menguping pembicaraan kita ayah, kita harus mengejar orang itu dan membunuhnya. Karena ini akan menjadi bumerang bagi kita jika ada yang tahu kehamilamku, apalagi jika itu pihak oposisi," ujar Nilam ketakutan


"Tenang saja, aku sudah memerintahkan semua anak buah ayah untuk mengejarnya. Dan tidak pernah ada yang selamat dari kejaran tentara bayaran ayah selama ini," seru Lelaki itu dengan sinis.

__ADS_1


Sementara itu Baladewa segera keluar dari kediaman Bambang setelah mengetahui rahasia besar lawan politiknya itu.


__ADS_2