
Alhamdulillah akhirnya aku bisa menyelesaikan novel ini juga, semoga tidak mengecewakan untuk semuanya. Terus terang aku sebenarnya ingin melanjutkan novel ini tapi sepertinya harus ganti lapak, karena bosen di lapak ini terus, berikut aku berikan ekstra part yang juga merupakan blurb dari novel penggantinya.
Semoga kalian suka, jangan lupa berikan komentar kalian suka atau tidak supaya aku bisa melanjutkan novel lanjutan ISTRI TOMBOY SANG PANGERAN 2 dengan judul LOVE STORY.
Lima tahun kemudian....
Setelah menikah Kinan dan Devin memilih menetap di Jakarta, Devin menjalankan usaha Ryan sedangkan Kinan lebih memilih menjadi ibu rumah tangga saja.
Kehidupan mereka berlangsung bahagia apalagi semenjak Kinan dianugerahi seorang bayi lelaki tampan bernama Arjuna Setiawan. Kinan sengaja tidak menambah nama belakang Devin untuk menghilangkan gelar kebangsawanan Juna.
Mereka menginginkan Juna hidup bahagia sebagai rakyat biasa bukan dari kalangan bangsawan atau darah biru.
Juna kecil sangat pintar dan pandai bergaul, dia sangat ceria dan supel seperti ibunya.
Diusia Enam belas tahun Juna terpaksa harus kehilangan ayahnya Devin yang meninggal diusia muda karena kecelakaan.
Kehidupan mereka berubah derastis semenjak kematian Devin, kekayaan Kinan habis untuk menyelidiki penyebab kematian Devin yang tidak wajar.
"Apa kabar ibu?" sapa Kinan ketika Harsiwi menjenguknya
"Bagaimana kabar cucuku?" tanya Harsiwi
"Dia baik-baik saja, bagaimana kabar ibu?" tanya Kinan
"Alhamdulillah sehat, aku dengar Devin meninggal karena kecelakaan apa itu benar?" tanya Harsiwi
"Benar ibu, polisi sudah mengusutnya, tapi sudah hampir dua bulan belum ditemukan siapa yang dengan sengaja menabraknya," jawab Kinan
"Sudahlah, lebih baik kau lupakan saja peristiwa itu. Ikhlaskan suamimu dan jagalah cucuku," Harsiwi kemudian memberikan sebuah amplop coklat berisikan uang kepada Kinan
"Maaf ibu, tapi aku tidak bisa menerimanya," jawab Kinan
"Ambilah, anggap saja ini adalah uang jajan untuk cucuku, sudah hampir enam belas tahun aku baru bisa menjenguk kalian, aku rasa uang ini bisa membantu kehidupan kalian," ucap Harsiwi sedih melihat kehidupan menantu dan cucunya.
Kinan tetap berusaha mengembalikannya namun Harsiwi bersikeras memberikan amplop itu padanya.
"Kalau kau tidak mau memakai uang itu, maka simpanlah sebagi tabungan untuk pendidikan cucuku," ucap Harsiwi pelan
"Apa ini tidak mau bertemu dengan Devin terlebih dahulu?" tanya Kinan
"Sudah melihatnya di foto keluarga rasanya sudah cukup bagiku, sekarang aku pamit pulang dulu. Jaga dan lindungi cucuku dengan segenap jiwamu,"
"Tentu saja, ibu tidak usah khawatir, dia anakku sudah pasti aku akan merawat dan menjaganya dengan baik," Kinan mengantar Harsiwi menuju ke mobilnya.
************
Suasana kelas sebelah IPA terlihat gaduh ketika ada seorang Bu Etty membawa masuk dua siswa baru.
"Semuanya diam!!" teriak seorang guru bidang studi
"Ayo perkenalkan nama kamu!" seru Bu Etty
"Nama saya Darren Abimana,"
__ADS_1
"Huhu!!!" semua siswa bersorak sembari melemparkan kertas padanya.
"Diam!! kalau ada yang berani bersuara lagi atau kalian mengolok-olok Siwa baru maka kalian akan merasakan penggaris besi ibu, paham!!" teriak Etty
"Paham Bu!!"
"Nama saya Mutiara, biasa dipanggil Tia!!" jawab gadis itu
"Sekarang kalian boleh duduk dan ikuti pelajaran dengan baik," keduanya kemudian menuju ke bangku kosong dan duduk bersebelahan
"Perkenalkan aku Juna, kamu siapa?" tanya Juna Ramah
"Nama gue Tia, Lo gak denger ya tadi, dasar budek!" jawab Tiara ketus, ia kemudian merebahkan kepalanya dan tidur dikelas tanpa mendengarkan bu Etty yang asik mengajar tanpa memperdulikan siswanya.
Sementara itu Darren duduk di depan, merasa tidak nyaman karena ada sesuatu yang mengganjalnya.
**Kriting, kriiing, kriting!!!!
Jam Istirahat berdering semua siswa bergegas meninggalkan kelas menuju ke kantin untuk membeli jajan. Sementara itu Daren kesulitan bangun dari tempat duduknya karena ada yang menempel di celananya.
"Kamu kenapa?" sapa Juna
"Sepertinya ada lem di kursi ku sehingga aku susah untuk beranjak dari kursiku," jawab Darren
Dia kemudian membantu Darren melepaskan kursi itu meskipun celana Darren harus robek.
"Kau tidak perlu khawatir, aku selalu bawa celana olah raga untuk latihan ekskul karate sepulang sekolah, kau boleh memakainya," Juna memberikan celana olahraganya pada Darren
"Terima kasih," jawab Darren
Juna sangat marah ketika tahu perlakuan para kakak kelasnya yang membully Darren si anak baru.
"Siapa yang melakukan ini semua?" tanya Juna
"Aku terpeleset di kamar mandi, jadi tidak masalah kok, nanti aku akan berjemur di lapangan supaya bajunya cepat kering," jawab Darren mencoba berbohong
"Apa dia pelakunya?" tanya Juna menunjuk segerombolan kakak kelas mereka yang sedang memalaki adek kelasnya.
Darren hanya diam dan menatap lekat kearah mereka.
"Apa Lo liat-liat, mau dipukul juga!" hardik salah seorang dari mereka membuat Darren langsung menundukkan wajahnya
Juna segera mendekati mereka dan menghajarnya satu persatu hingga semuanya berjatuhan di lantai.
"Ada guru, ada guru!!" teriak salah seorang siswa berlari kearah mereka membuat semuanya bubar
"Sekali lagi kalian ganggu dia, maka kalian akan berhadapan dengan aku!" ancam Juna
Ia kemudian mengajak Daren menuju ke kelasnya.
"Pakailah," Juna memberikan baju kaos olahraga kepadanya
"Terima kasih,"
__ADS_1
"Sama-sama, apa uangmu diambil juga oleh mereka?" tanya Juna lagi, dan Darren hanya mengangguk.
Juna segera mengambil kotak bekal miliknya dan menghampiri Darren yang duduk menyendiri di sudut kelas.
"Kebetulan Ibuku tadi membuatkan bekel yang banyak untukku, bagaimana kalau kita memakannya bersama?" Juna membuka kotak nasinya.
"Apa ibumu selalu membuat bekal untuk mu?" tanya Darren
"Iya, hampir setiap hari sampai aku bosan karena ia terus memperhatikan aku seperti anak TK," jawab Juna
"Makanlah, walaupun ini bekal sederhana tapi rasanya sangat enak karena ibuku itu jago masak, coba saja kau pasti ketagihan," tutur Juna membuat Daren menelan ludahnya.
Ia kemudian menyendok nasi itu dan mengunyahnya.
"Bagaimana, rasanya?" tanya Juna
"Enak sekali," sahut Darren memakan bekal Juna hingga tidak bersisa
"Maaf aku tidak sengaja menghabiskannya," ucap Daren parau
"Its Ok, kau boleh menghabiskannya lagian aku juga sudah bosan," sahut Juna
"Sebagai gantinya kau boleh memakan bekalku," Daren memberikan bekalnya kepada Devin
"Wow, makananmu seperti makanan seorang pangeran, apa ibumu yang membuatnya?" tanya Juna
"Bukan, bibi yang membuatnya." jawab Darren
"Apa kau tidak makan nasi?" tanya Juna
"Sesekali, tapi tidak sering, karena ibuku melarang ku," jawab Daren
"Apa kau alergi nasi makanya ibumu melarangmu makan nasi?"
"Tidak, cuma aku harus menjaga penampilanku, begitulah kata ibuku, aku harus menjaga penampilanku dengan mengurangi asupan karbohidrat,"
"Kau pasti keluarga artis ya makannya harus menjaga penampilan,"
"Bukan, aku bukan seorang artis, hanya saja aku adalah seorang...." belum selesai berbicara seorang lelaki berbadan tegap mengajak Daren keluar dari kelasnya
Juna hanya menganga melihat dua orang bertubuh tegap seperti body guard membawa Daren keluar kelas.
"Akh, ngapain aku kepo sama anak baru itu, mending aku makan," Juna segera membawa kotak bekal Daren ke tempat duduknya dan mencicipi menu sarapan pagi Daren
"Hmmm, benar-benar tidak tahu malu, makan sendirian tanpa menawari teman sebangkunya, dasar pelit," celetuk Tia memukul kepala Juna
"Aish, gak sopan banget si lo, sudah ngambil makanan orang tanpa permisi main pukul sembarangan lagi memangnya kamu siapa!" gerutu Juna menarik kotak nasinya
"Kenapa, gak terima!!" Tia kembali menoyor kepala Juna beberapa kali membuat lelaki itu kesal padanya dan berniat membalsnya
"Kenapa berhenti, pukul, ayo pukul kalau berani!" seru Tia menantang Juna
Gadis itu kemudian mengambil beberapa kue dari kotak bekal Juna membuat Junaa menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Dasar rampok!!" cibir Juna membuat Tia terkekeh mendengarnya.
Dari kejadian hari inilah persahabatan ketiganya dimulai. persahabatan antara Juna, Daren dan Tia.