
Dimas pun pergi dari sekolah itu.
"Vira... Om itu siapa kamu?" tanya guru.
"Dia adalah om ku Bu," jawab Vira.
"Kenapa ibu baru tau? lalu mbak kamu kemana? Kenapa tidak datang ke sini juga?" tanya Bu guru.
"Mbak bela sibuk kuliah Bu." ucap Vira.
"Oohh ya sudah kalau begitu ayo ke dalam kelas, nanti kalau ada yang nakal bilang sama ibu lagi yah," ucap Bu guru.
Vira mengangguk. "Oh iya bilang sama om kamu kalau ibu titip Salam yah," ucap Bu guru nya.
Vira dengan polosnya mengangguk.
Di siang hari nya Bela dan Kevin datang menjemput Vira ke sekolah.
"Bagaimana sekolah hari ini seru?" tanya kevin.
Vira mengangguk saja, dia masih kurang bersemangat.
"Oh iya sebelum kita pulang, om mau ngajakin kamu nonton film," ucap Kevin. Vira tidak bisa menolak kalau sudah di rayu seperti itu.
Dimas baru saja selesai dari pekerjaan nya, dia menghubungi Bela.
Bela tidak pikir panjang dia langsung menjawab telpon Dimas saat bersama Kevin dan juga Vira.
"Kamu lagi apa? Apa kamu sudah pulang?" tanya Dimas.
"Udah kok, aku juga sudah menjemput Vira," ucap Bela.
"Kalau begitu saya menunggu kamu di rumah makan dekat sekolah Vira," ucap Dimas.
"Tapi aku dan Vira sudah pergi, aku juga tidak bisa datang ke sana karena aku mau nonton bersama Vira.
"Kamu dan Vira sudah Makan?" tanya Dimas.
Setelah Bela menjawab nya dia langsung mematikan sambungan telepon nya.
"Tumben-tumbenan banget Bela keluar nonton seperti ini," batin Dimas.
Karena kurang yakin dia memutuskan mencari lokasi Bela dan meminta orang mengikuti nya.
Mengetahui Bela bersama kevin membuat darah Dimas terasa mendidik.
"Keluar bersama Kevin tidak pernah di tolak, bahkan ke dalam mall, sementara ajakan ku selalu di tolak oleh nya," ucap Dimas dengan sangat kesal sekali.
Di malam hari nya Bela menunggu Dimas menghubungi nya namun sampai jam sembilan malam tidak ada kabar dari Dimas.
Akhirnya dia memutuskan untuk mengirim kan pesan terlebih dahulu.
__ADS_1
"Apa kakak masih bekerja?" tanya Bela.
Dimas yang baru saja sampai di rumah melihat pesan itu.
"Untuk apa dia bertanya? bukan kah lebih menyenangkan bersama pria itu," batin Dimas.
Tampak kecewa namun tidak bisa berkata-kata karena takut Bela juga marah' kepada nya.
Setelah beberapa lama akhirnya Kayla dan Fahri pulang.
"Kenapa dengan kamu?" tanya Dimas kepada Fahri.
Fahri duduk di sofa bersama Dimas.
"Seperti nya pilihan Bapak menjadi kan saya Pengawal mbak Kayla salah," ucap Fahri.
"Saya tidak hanya menjadi pengawal nya, saya juga menjadi asisten pribadi nya, sekretaris nya dan juga pembantu nya!" ucap Fahri.
Dimas tertawa kecil, "Bukan kah kemarin kamu sangat senang sekali?" tanya Dimas.
"Saya tidak tau akan speed ini pak."
"Tidak bisa di ubah lagi, saya sudah mendapatkan pengganti kamu, jadi kamu harus bersabar menghadapi nya."
Fahri menghela nafas panjang. "Saya tidak tau apa yang membuat mbak Bela begitu kepada saya," ucap Fahri.
Dimas senyum-senyum sendiri seakan tau apa yang terjadi.
Tidak beberapa lama akhirnya mereka istirahat di kamar masing-masing..Kayla masih sibuk merawat diri nya di kamar seperti luluran, maskeran dan juga merawat rambut nya.
"Ada apa? kenapa kamu belum tidur?" tanya Kayla.
"Justru aku yang harus bertanya seperti itu."
"Apa kamu tidak melihat apa yang aku lakukan?" tanya Kayla.
Dimas duduk di kursi. "Apa Tante tidak suka kepada Fahri? Kenapa Tante sangat tega meminta nya melakukan pekerjaan yang bukan tugas nya."
Kayla diam tidak menjawab nya. "Kalau Tante tidak suka, aku akan mencari yang lain untuk Tante," ucap Dimas.
Kayla menggeleng kan kepala nya. "Tidak perlu, aku hanya merasa kesal kepada nya itu sebabnya aku mengerjai dia, Besok aku tidak akan melakukan nya lagi," ucap Kayla.
"Tante suka yah sama Fahri?" tanya Dimas.
"Gak mungkin lah, selera Tante tinggal, mana mungkin mau sama brondong seperti dia."
Dimas tersenyum tipis dia pun langsung pamit keluar."
"Huff seperti nya aku benar-benar sudah menyukai Fahri, semua orang saja menyadari hal itu," ucap Kayla.
Keesokan harinya...
__ADS_1
"Tumben banget masak pagi-pagi," ucap Fahri kepada Kayla yang Sibuk di dapur.
"Aku meminta Bibik membeli beberapa bahan-bahan untuk di masak, aku juga ingin sesekali masak di rumah," ucap Kayla.
Fahri tersenyum. "Aku pikir selama ini mbak tidak bisa masak," ucap Fahri.
"Jangan membuat ku kesal, sebaiknya kamu pergi saja dari sini," ucap Kayla.
Namun Fahri malah mendekati Kayla.
"Seperti ini cara nya," ucap Fahri sambil memegang sendok yang ada di tangan Kayla mencoba membalik ikan yang hancur karena Kayla kurang mahir.
"Deg.. Deg.. deg..."
Jantung Kayla berdetak sangat cepat ketika Fahri menyentuh tangan nya dan berdiri sangat mepet dari nya sehingga dia bisa mencium aroma badan Fahri.
Kayla langsung melepaskan tangan nya dari Fahri.
"Maaf-maaf," ucap Fahri langsung melepaskan sendok.
Fahri melihat bumbu masih banyak yang belum jadi.
Dia membantu semua nya sampai selesai. Tidak beberapa lama akhirnya selesai juga.
"Fahri apa yang kau lakukan di sana? Ayo ikut saya," ucap Dimas.
Fahri melihat ke arah Dimas yang sudah siap untuk olahraga pagi kebiasaan di hari Minggu.
"Kalau begitu aku pergi dulu," ucap Fahri kepada Kayla.
Dimas dan Fahri pergi. sementara Kayla melanjutkan untuk masak.
"Huff seperti nya Fahri benar-benar sengaja membuat ku seperti ini."
"Aku tidak bisa membiarkan ini berlangsung terus menerus, aku harus segera mencari pasangan," ucap Kayla.
Bela baru saja bangun dia keluar dari kamar dan ternyata Vira masih tidur. Dia tidak membangunkan nya karena libur.
Bela melihat apartemen nya sudah sangat berantakan dia memilih untuk membersihkan apartemen nya.
Sebelum bersih-bersih dia membuka jendela agar udara berganti masuk ke dalam.
Namun saat membuka jendela dia sangat kaget melihat Dimas dan Fahri ada di sekitar apartemen nya sedang lari pagi.
"Apa yang mereka lakukan di sana?" ucap Bela..Dimas melihat Bela yang berdiri di balkon. Namun tidak membuat ekspresi apapun dia lanjut lagi olahraga.
Bela memutuskan turun kebawah. "Kenapa kakak sangat jauh lari pagi?" tanya Bela.
"Di sini lebih baik, di sini juga sangat Bagus dan masih banyak pepohonan yang membuat badan segar," ucap Dimas.
Bela menghela nafas panjang. Dia tau sebenarnya alasan nya bukan itu.
__ADS_1
Dimas lanjut olahraga lagi di lapangan yang ada di sana, Fahri duduk bersama Bela.
"Jangan heran kalau pak Dimas seperti itu, dia datang ke sini mau memantau kamu," ucap Fahri.