
"Kenapa? Apa kamu takut saya melihat tubuh mu? Apa kamu lupa saya sudah pernah melihat nya sebelum nya."
Bela langsung memasang wajah kesal. "Lalu siapa yang mengganti nya?" batin Bela.
"Semalam Bibik masih di sini bersama Vira, dia membantu kamu menukar pakaian kamu," ucap Bela bernafas lega.
"Apa kamu masih marah kepada saya?" Bela tidak menjawab nya.
"Saya ke sini karena Vira menghubungi saya sangat pagi, saya juga tidak bekerja karena Vira melarang saya pergi."
Bela menatap Vira. "Aku minta maaf tentang Vira yang memaksa bapak di sini, tapi sekarang bapak sudah bisa pergi."
Lagi-lagi perut Dimas berbunyi. Dimas menatap Bela, Bela menatap bingung Dimas mengode sambil melirik ke arah dapur.
"Bapak bisa Makan diluar, kalau di sini bapak akan menunggu lama."
"Saya tidak berdaya mau keluar."
Bela menghela nafas panjang.
"Baiklah aku akan masak, anggap saja ini sebagai tanda terimakasih karena sudah mengantarkan ku pulang," Dimas mengangguk sambil tersenyum.
Butuh waktu satu jam lebih untuk menunggu Bela selesai masak.
Namun ternyata setelah Bela selesai masak Vira malah kebangun. Akhirnya Mereka makan bersama.
"Masakan mbak enak banget, sudah lama mbak tidak masak makanan seperti ini, pasti yang instan terus," ucap Vira.
"Sebaiknya kamu lanjut makan, setelah itu langsung Mandi," ucap Bela.
Vira mengangguk.
Dimas makan begitu lahap, dia terlihat sangat lapar sekali.
Setelah selesai makan Dimas benar-benar pergi. Namun keesokan harinya setelah Bela pulang dari kampus dia mendapati Dimas sudah di apartemen nya bersama Vira.
Dia mau marah namun Vira terlihat sangat bahagia dan dia juga memiliki teman.
Keesokan harinya begitu juga, saat Bela mau menjemput ke sekolah Vira namun ternyata Dimas sudah menjemput Vira entah membawa nya kemana.. Bela tidak bisa melarang karena itu pilihan Vira dia tidak ingin Vira sakit.
Selama beberapa hari Vira menghabis kan waktu nya bersama Dimas. Bela sampai heran dengan Vira yang sama sekali tidak memperdulikan diri nya.
__ADS_1
Di malam hari nya Dimas baru saja pulang membawa Vira jalan-jalan di luar.
"Makasih yah om, aku masuk dulu," ucap Vira..
"Iyah sayang, kamu pergi istirahat gih," ucap Dimas.
"Tunggu dulu, kita pergi bicara pak," ucap Bela kepada Dimas yang tidak masuk ke dalam apartemen nya melainkan hanya di pintu saja.
Dimas mengangguk. Mereka keluar untuk berbicara.
"Ada apa?" tanya Dimas.
"Sebaiknya mulai dari sekarang bapak tidak perlu datang untuk bermain dengan Vira dan jangan mengganggu aku dengan Vira."
Dimas menatap Bela. "Saya minta maaf karena mengantarkan Vira terlalu malam hari ini membuat kamu Marah," ucap Vincent.
Bela menggeleng kan kepala nya. "Bukan karena itu, aku hanya ingin bapak berhenti mengikuti kemauan Vira sehingga pekerjaan bapak terganggu."
Dimas menghela nafas panjang. "Saya tidak menggangu kamu seperti apa yang kamu mau, saya hanya ingin bermain dengan Vira apa itu salah?"
"Iyah itu salah, Vira adalah adik ku bukan adik Bapak!"
"Tidak ada alasan lagi, aku harap Bapak mengerti dengan apa yang aku sampai kan."
"Apa kamu tidak akan memberikan saya kesempatan lagi?" tanya Dimas.
"Aku tidak ingin membahas itu lagi. Aku sudah melupakan semua nya anggap saja hubungan kita sebelum nya tidak ada terjadi."
"Bagaimana bisa kamu mengatakan seperti itu setelah saya mencintai kamu seperti ini."
"Aku rasa cinta di antara kita hanya palsu, semua nya kebohongan, semua nya terjadi hanya karena kesalahan."
Dimas menatap Bela. "Aku mencintai kamu bapak dengan sangat tulus, namun ternyata di balik itu semua bapak hanya menjadikan aku alat."
"Apa hanya karena itu kamu membenci saya? Apa kamu pernah memikirkan perasaan saya?" tanya Dimas.
"Kalau kamu di posisi saya kamu akan melakukan hal yang sama, saya tidak pernah berfikir kalau saya akan jatuh cinta kepada anak orang yang sudah membunuh orang tua saya."
"Saya menanggung penderitaan yang di buat oleh orang tua kamu, saya tidak memiliki orang tua dan berdiri di kaki sendiri, selama bertahun-tahun saya mencari bukti untuk kematian orang tua saya, saya mencari keadilan."
"Apa kamu pernah memikirkan hal itu?"
__ADS_1
Bela terdiam. "Saya minta maaf karena sudah memasukkan kedua orang tua kamu ke dalam penjara, saya juga minta maaf karena sudah membuat kamu alat dalam tujuan saya, saya menyesali nya."
"Kalau perpisahan adalah jalan yang terbaik untuk kita, dan yang terbaik untuk kamu, saya akan melakukan nya. Tapi sebelum saya pergi dari kehidupan kamu dengan Vira saya ingin tau apa alasan yang benar-benar membuat kamu tidak bisa memaafkan saya."
Bela tidak menjawab dia hanya diam saja.
"Saya butuh jawaban kamu Bela, saya tidak akan menggangu kamu lagi setelah ini."
"Aku tidak bisa melupakan semua nya, aku tidak ingin kita bersama lagi."
Dimas menghela nafas panjang.
"Tatap aku dan katakan dengan lantang."
Bela menatap Dimas.
"Aku tidak mencintai kamu lagi, pergilah dari kehidupan ku dan juga Vira."
Dimas langsung merasa lemas, dia tidak bisa mengatakan apapun dia hanya bisa mengangguk dan tersenyum terpaksa walaupun hati nya sangat hancur.
"Baiklah aku mengerti. Dan kamu harus tau kalau aku selalu mencintai kamu dan juga menyanyangi Vira, terimakasih selama ini kamu dan Vira berhasil membuat saya melupakan kehidupan saya yang begitu kelam."
Dimas berdiri. Air mata nya tidak terasa keluar begitu saja.
"Aku bahagia saat bersama kamu. Tapi mulai dari sekarang aku pastikan kalau aku tidak akan pernah mengganggu kamu dan juga Vira."
Dimas meninggal kan Bela dan pergi dalam keadaan hati yang sangat hancur. Dimas masuk ke dalam mobil nya dan menangis tersedu-sedu di dalam nya.
Bela termenung dia mengingat semua kenangan nya bersama Dimas.
Bela tiba-tiba keluar dari lobby mengejar Dimas, namun ternyata Dimas sudah meninggalkan parkiran.
Dimas merasa marah tidak terima dengan hubungan nya yang sudah berakhir dia mencari club teman nya dan langsung memesan minuman dan kursi untuk diri sendiri.
"Apapun itu aku harap itu semua hanya mimpi, aku ingin bangun dari mimpi ini," ucap Dimas setelah dia sudah sangat mabuk berat dan tidak sadar tidur di meja.
Teman nya yang punya club melihat Dimas tidur tidak sadar lagi.
"Ada apa lagi dengan nya? Ini adalah kedua kalinya dia mabuk berat seperti ini, apa ini tentang orang tua nya lagi?" tanya pria pemilik club.
Dia memeriksa handphone Dimas, dia melihat wallpaper handphone nya foto Bela.
__ADS_1
Namun tiba-tiba handphone itu berdering dari nama Bela.