
Dimas menghapus air mata Bela. Bela melihat ke arah Vira yang juga menangis di pelukan ustazah."
"Vira maafin mbak yah, mbak gak bisa bawa kamu."
Dimas mempercepat meninggalkan panti asuhan.
Selama perjalanan Bela hanya diam, Dimas mengajak nya berbicara namun Bela hanya diam.
"Saya tau ikatan batin mereka pasti ada sehingga sangat sedih ketika berpisah," batin Dimas.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah, Bela tidak mengatakan apapun dia langsung masuk begitu saja mencari Bibik untuk mencurahkan semua isi hati dan pikiran nya.
"Tolong jaga Bela yah bik, saya ada pekerjaan di luar."
Dimas meninggal kan rumah dan bertemu dengan Rio yang sudah menunggu nya dari tadi di perusahaan.
"Maaf Rio membuat kamu lama menunggu," ucap Dimas setelah sampai.
"Tidak apa-apa pak, apa ada hal yang sangat mendesak sehingga bapak meminta saya datang ke kantor?" tanya Rio.
"Iyah, saya mau bilang kalau saya sudah mengantarkan Vira ke panti asuhan dan saya juga sudah menyetujui hak asuh itu."
"Baik lah pak, kita tunggu informasi selanjutnya, saya tidak akan pernah lengah melihat Vira dan juga dengan orang tua angkat nya."
"Baiklah saya percaya kepada kamu."
"Kalau begitu saya mohon untuk pergi."
Dimas mengangguk.
Setelah Rio pergi Tami masuk.
"Siapa orang tadi pak? Kelihatan nya sangat misterius dan sudah beberapa kali datang ke sini," ucap Tami.
"Nama nya Rio, dia anggota saya. Apa kamu ada sesuatu?" tanya Dimas.
Tami menggeleng kan kepala nya.
"Tidak apa-apa pak, dia sungguh menyeramkan sekali sehingga membuat saya takut."
Dimas menghela nafas panjang.
"Kenapa kamu di sini? apa tidak ada pekerjaan?"
"Baru saja selesai pak, saya mau Bapak memeriksa nya."
"Bukan tugas saya untuk memeriksa ini, kenapa kamu memberikan ini kepada saya?"
"Memang bukan tugas bapak, hanya saja kalau bapak yang periksa langsung pasti tidak ada kesalahan lagi."
Dimas menghela nafas panjang.
"Baru kali ini saya melihat anak magang yang sangat lancang dan berani seperti kamu ini."
__ADS_1
"Saya memang anak yang berani pak, kalau saya tidak berani mana mungkin saya sampai di sini dan menjadi fans bapak."
Dimas menggeleng kan kepala nya.
"Walaupun bapak sudah memiliki pacar, tapi tetap saja saya sangat menyukai bapak, saya masih berharap menjadi kekasih bapak suatu saat nanti," ucap Tami.
Dimas tidak mengatakan apapun karena sudah terbiasa dengan Tami yang selalu ceplas-ceplos.
Setelah selesai memeriksa pekerjaan Tami, Dimas meminta Tami keluar membuat nya Kopi karena dari rumah dia belum minum apa-apa.
Di tempat lain Vira sudah di datangi oleh kedua orang tua angkat nya.
Vira belum bisa di bawa pulang karena masih harus menyesuaikan terlebih dahulu.
Seperti yang di katakan Rio kepada Dimas, dia akan terus mengikuti pergerakan orang tua angkat Vira karena mereka memang patut di curigai.
Sangat banyak anak di sana namun hanya Vira yang mereka mau sementara awal nya sudah di marahin oleh Dimas.
Tidak terasa hari sudah malam Dimas mau pulang tidak sengaja melihat Tami yang menunggu jemputan nya yang tak kunjung datang.
"Heh bukan nya biasanya kamu bawa Mobil? kenapa kamu masih di sini?" tanya Dimas.
"Eh pak Dimas. Iyah biasa nya aku bawa mobil tapi kali ini mobil ku rusak dan aku harus menunggu kakak ku menjemput aku."
"Kenapa tidak pesan taksi saja?"
Tami menggeleng kan kepala nya.
"Oohh ya sudah kalau begitu, saya akan pergi."
"Kenapa bapak sangat tega membiarkan gadis perawan berdiri di pinggir jalan tengah malam seperti ini?" ucap Tami membuat Dimas menghela nafas panjang.
"Bapak temanin saja sebentar, bentar lagi pasti datang." ucap Tami. "Saya mau pulang."
"Bapak tidak sabar mau ketemu sama Mbak-mbak yang jadi pelayan di rumah bapak yah?" tanya Tami.
"Kamu jangan membuat saya kesal, saya akan memberikan nilai buruk!"
"Jangan bohong deh pak, bapak ada hubungan kan sama pelayan yang bernama Bela itu."
"Kenapa? kamu cemburu?" tanya Dimas.
"Humm sudah pasti cemburu pak, di tambah lagi saya mendengar bapak memanggil nya dengan sebutan sayang, hati saya sangat hancur pak." ucap Tami memasang wajah yang sangat Sedih.
"Tidak perlu berlebihan!"
"Jangan marah seperti itu pak, saya hanya mencoba menghibur bapak, biasa nya bapak selalu sumringah namun hari ini bapak terlihat sangat murung sekali."
Dimas seketika terdiam.
"Apa bapak bertengkar dengan gadis cantik itu?"
Dimas menggeleng kan kepala nya.
__ADS_1
"Tidak! Saya hanya memiliki banyak beban fikiran."
"Saya juga memiliki banyak beban fikiran pak, tapi saya tidak terlalu memikirkan semua nya, karena kalau semakin di pikirkan, itu akan menyiksa diri kita sendiri."
"Kamu anak kecil tidak tau apa-apa."
"Pak Dimas aku tau kesempatan menjadi pacar bapak sudah tidak ada lagi karena bapak terlihat sangat mencintai gadis itu, apakah aku boleh menjadi teman baik bapak?" tanya Tami.
"Kamu sangat percaya diri sekali berbicara seperti itu kepada saya!"
"Kita harus percaya diri pak."
Dimas kewalahan berbicara dengan Tami yang energi nya tidak habis dan kata-kata nya tidak pernah berhenti.
"Nanti kalau saya jadi teman bapak saya akan mengajarkan banyak hal kepada bapak."
"Bela cemburu ketika kamu mendekati saya, apalagi dia tau kamu menjadi teman saya."
Tami tertawa kecil.
"Kalau begitu aku akan memperkenalkan diri kepada Bela karena seperti nya kamu seumuran."
"Sudah lah, kamu semakin hari semakin kacau, jangan sampai saya mengeluarkan kamu dari perusahaan saya."
"Galak banget sih pak?" ucap Tami.
Tidak beberapa lama mobil datang.
"Itu jemputan saya sudah datang pak, kalau begitu saya pamit dulu."
"Siapa pria ini? apa kamu yakin dia kakak mu? dia tidak mirip sama sekali dengan mu."
"Saya pacar Tami pak," ucap pria itu.
Dimas menatap Tami seketika Tami langsung menyengir.
"Oohh kamu membohongi saya? Oh iya jaga pacar anda dengan baik agar tidak menggoda pria lain."
"Walaupun dia pacar saya, tapi tetap saja menyukai bapak." ucap Tami.
Tami di bawa paksa oleh pacar nya.
Melihat Tami Dimas sedikit terhibur karena dia bisa marah.
Namun tiba-tiba dia kefikiran kepada orang tua nya membuat mood nya tidak bagus.
Dimas memutuskan untuk pulang ke rumah, sesampainya di rumah seperti biasa Bela menunggu nya namun kali ini Bela menyambut nya tidak dengan senyuman.
Dimas mau memeluk dan mencium nya namun Bela langsung menghindar.
Dimas melihat Bela langsung meninggalkan nya.
"Apa itu benar Bela? kenapa dia terlihat sangat berbeda?" tanya Dimas.
__ADS_1