
"Huff kau sama saja seperti pak Dimas, sudah jangan membahas itu."
"Setelah sampai di sana apa yang akan kita lakukan? Sekarang bukti sudah tidak ada," ucap Fahri.
"Kita harus mengikuti pergerakan pak Irfan, sedikit demi sedikit kita pasti akan mendapatkan bukti yang lebih besar."
"Aku yakin masuk ke dalam wilayah pak Irfan pasti sangat sulit," ucap Fahri.
"Kamu ikut saja, jangan banyak protes." ucap Rio.
Fahri percaya kepada Rio dia pun fokus dengan perjalanan nya.
Beberapa jam kemudian akhirnya mereka sampai di tempat sudah terang.
"Seperti nya kita bisa masuk kalau tidak menyamar," ucap Rio.
"Menyamar? Bagaimana caranya?" tanya Fahri.
Mereka singgah ke satu toko membeli pakaian, namun kebetulan sekali mereka bertemu dengan anggota perbaikan listrik.
Kedua nya sama-sama memikirkan hal yang sama. Mereka meminjam baju, mobil dan beberapa mereka di ajak oleh Rio.
Mereka semua mau-mau saja karena di bayar tinggal oleh Rio.
Mereka memakai mobil ke dalam wilayah itu.
"Berhenti!" tiba-tiba dua pengawas menghentikan nya di tepi jalan yang sudah pasti itu sudah wilayah pak Irfan.
Mereka harus berpura-pura mau memasang lampu dan juga mengurus tentang listrik di dalam.
Pengawal tidak menahan nya dan langsung ke dalam.
Berhasil masuk membuat Fahri dan juga Rio lega masuk lolos ke dalam, namun ternyata belum cukup sampai di situ saja, setelah masuk ke dalam ternyata sangat banyak pengawal menjaga rumah yang ada di dalam sana.
Namun yang membuat kaget dan heran mobil Bos nya ada di sana, mobil Dimas ada di sana membuat Rio dan Fahri kebingungan namun tetap harus berpura-pura tidak mengenali mobil itu.
Pengawal memeriksa mereka dan setelah itu di ijinkan masuk ke dalam.
Sementara Dimas ternyata sudah benar ada di dalam dan sudah di hajar pengawal sampai babak belur, dia di tahan oleh dua pengawal dan menghadap kepada pak Irfan.
"Permisi Tuan, adalah petugas PLN yang mau memeriksa listrik."
"Memeriksa listrik? Listrik tidak ada yang rusak. Dimas yang sudah pusing bisa melihat Fahri dan Rio yang menyamar namun sama sekali tidak di curigai oleh Irfan.
"Bukan kah Lampu di kamar Non Bela rumah Tuan?" ucap seseorang.
__ADS_1
Akhirnya mereka di ijinkan masuk, sementara Dimas sudah sangat khawatir mereka ketahuan.
Saat masuk ke dalam mereka tidak sengaja berpapasan dengan Bela yang hendak ke depan. Rio dan juga Irfan berusaha menyembunyikan wajah nya.
"Kak Dimas!" ucap Bela kaget melihat Dimas sudah luka parah seperti tidak berdaya lagi.
"Bela berhenti!" tiba-tiba pak Irfan menahan Bela yang mau menolong Dimas.
"Ingat yah Bela kamu tidak boleh dekat dengan pria itu."
"Tapi Ayah, kak Dimas terluka."
"Dia pantas mendapatkan nya karena dia sudah membuat Ibu mu sakit."
Dimas menatap Bela. "Bela kenapa kamu sangat tega melakukan ini kepada ku? Kenapa kamu membantu pria ini yang jelas-jelas sudah membunuh orang tua saya."
"Tidak mungkin! Kakak tidak memiliki bukti kenapa menuduh orang tua yang membunuh nya."
"Bela saya sangat mencintai kamu, saya mohon kembali kepada saya."
"Tidak bisa!" ucap pak Irfan dan meminta Bela masuk ke dalam.
Walaupun Bela membenci Dimas dia tetap merasa sangat iba melihat Dimas terluka seperti itu.
Bela masuk ke kamar nya dia melihat orang memperbaiki lampu di kamar nya. Namun tiba-tiba pintu kamar di kunci.
"Kenapa, kamu kaget melihat kami di sini?" tanya Rio.
"Kamu sudah puas membuat pak Dimas seperti ini? Setelah pak Dimas membantu kamu dan menyanyangi kamu sekarang kamu membalas nya dengan seperti ini?" tanya Rio.
"Dimas sudah menuduh Ayah ku membunuh diri dan meneror mereka setiap hari beberapa tahun dan membuat ibu trauma."
"Kamu sangat mudah di bohongi Bela, kamu percaya begitu saja dan mengambil kotak itu dari kamar pak Dimas?" tanya Rio.
"Pak Irfan adalah ayah kandung ku, aku sudah lama mencari Ayah kandung ku."
"Tapi kamu harus tau kenyataan yang sebenarnya adalah orang tua kamu lah yang membunuh kedua orang tua pak Dimas, dan dia memanfaatkan kamu untuk mengambil bukti dan membuang nya."
"Tidak mungkin."
"Kalau kamu tidak percaya kamu harus membuktikan nya sendiri."
"Dengan bagaimana?" tanya Bela.
"Masuk lah ke kamar pak Irfan dan cari satu flash disk warna Biru dan pasti nya pasti sangat di simpan dengan baik, di barang itu ada tulisan I."
__ADS_1
"Isi nya apa?"
"Rekaman pembunuhan orang tua pak Dimas."
Sebelum penyamaran mereka ketahuan mereka keluar setelah lampu sudah bagus dan mengerjakan yang lain.
Karena semua nya lagi sibuk dengan Dimas di bawah, ini kesempatan besar untuk Bela.
Setelah beberapa lama akhirnya dia sampai di dalam kamar Ayah nya itu.
Dia bingung harus mencari di mana, dia juga takut dan banyak sekali kecemasan nya.
Namun dia tidak akan menyerah dia harus mencari dan membuktikan nya sendiri.
Sudah cukup lama di dalam sana, dia tidak menemukan barang itu, namun dia hanya menemukan Satu baju yang tidak asing, jas pria brand keluarga Dimas.
Baju itu terlihat sangat usang sekali karena sudah sangat lama di dalam laci dan di simpan khusus.
Akhirnya dia membawa nya keluar.
Dia sangat penasaran apa yang terjadi di depan dia berjalan ke depan.
"Saya akan membuktikan suatu saat nanti bahwa anda lah yang sudah membunuh orang tua saya."
"Hahahaha!! Bagaimana caranya nya kamu membuktikan nya? Sekarang saja kamu seperti anak ayam yang tidak memiliki tenaga."
"Sebenarnya saya ingin sekali menghabisi Pria yang sangat sombong seperti mu," ucap pak Irfan.
"Cukup orang tua saya yang anda bunuh dengan cara sadis, saya tidak akan mati di tangan anda."
Irfan tertawa. "Awalnya orang tua mu seperti ini, bersikap sangat sombong sehingga mengakibatkan kematian."
Mendengar itu Bela terkejut.
"Percuma saja kamu mau membuktikan nya, semua barang-barang yang kamu butuhkan sudah tidak ada lagi, saya akan hidup bahagia ke depannya."
"Apa? Aku tidak salah dengar kan? jadi kotak kecil itu adalah bukti pembunuhan itu?" tanya Bela.
Dia semakin curiga, namun tiba-tiba Vira memanggil nya.
"Bawa dia ke penjara bawah tanah!"
"Lepas kan saya! Lepas kan saya pembunuh!!!" Dimas sangat marah sekali namun dia tidak bisa melakukan apapun.
Dia melihat Fahri dan juga Rio lewat, dia berharap mereka bisa keluar dengan selamat.
__ADS_1
Dan waktu keluar mereka di periksa terlebih dahulu dan mereka sendikit familiar dengan wajah Fahri, namun kebetulan sekali Fahri baru saja potong rambut jadi tidak di kenali.
Mampir di karya baru ku yang berjudul *Pembalasan Istri Yang Dikhianati dong semua nya, aku sangat butuh dukungan kalian semua 🥰🙏🥺