
"Aku sedih karena aku di benci oleh banyak orang karena aku adalah anak dari pembunuh."
Bu Sisi langsung terdiam. "Maafin ibu nak."
"Tidak ada gunanya ibu minta maaf, tidak ada gunanya aku menjadi anak Ibu, kalau aku bisa memilih anak tidak ingin lahir dari wanita yang mengkhianati suami nya sendiri."
"Bela, kenapa kamu berbicara seperti itu nak?"
"Aku lahir Tampa cinta, aku besar Tampa ada kasih sayang dari keluarga.. Setelah aku dewasa seperti ini, aku harus menanggung semua masalah yang kalian tinggal kan!"
"Bela...." ucap ibu nya. "Aku minta maaf sudah kurang ajar sama ibu, tapi aku benar-benar sangat pusing Bu, aku sekarang pusing."
Setelah itu Bela langsung pergi. Bela tidak tau harus kemana sekarang dia bingung mau melakukan apapun.
dia sangat takut bertemu orang lain. Dia sangat takut dengan tatapan orang kepada nya.
Bela memutuskan untuk mencari tempat yang tenang agar dia bisa menenangkan dirinya.
Sementara Dimas sedang meeting handphone nya berdering Telpon dari Bela.
Namun karena sedang bekerja dia mengabaikan nya karena tidak bisa menjawab nya di depan banyak orang.
Setelah selesai dia langsung menghubungi kembali nomor itu. "Halo?" tanya Dimas.
Namun hanya suara tangisan Vira yang terdengar. "Vira... kamu sedang apa?" tanya Dimas.
"Om.. Mbak bela tidak di rumah, aku sendirian di rumah."
"Loh handphone nya kok bisa sama kamu?" tanya Dimas.
"Handphone nya tinggal di rumah om, aku tidak tau kemana mbak pergi."
"Ya sudah kalau begitu, kamu jangan takut yah, om akan minta om Fahri ke sana."
"Iyah Om." panggilan langsung mati. Dimas tidak bisa langsung pulang, akhirnya dia meminta Fahri untuk menemui Vira.
Dimas menghela nafas panjang setelah sudah di dalam ruangannya. "Bela... kamu kemana sih?" batin Dimas.
Dimas menelpon Bibik. "Halo Bik."
"Halo Tuan, ada apa Tuan?"
"BIbik lagi di mana?" tanya Dimas.
"Saya sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Bela Tuan, apa ada yang penting?"
"Kebetulan sekali bik, apa Bibik hari ini bertemu dengan Bela. dia tidak di rumah meninggalkan Vira sendiri."
"Non Bela? tadi siang tidak sengaja bertemu di tahanan pak Irfan, namun sudah lama dia keluar dari sana, sekarang saya tidak tau di mana non Bela."
__ADS_1
"Apakah dia datang mengunjungi pak Irfan sendiri?" tanya Dimas.
"Seperti nya seperti itu tuan, kalau begitu saya akan mencari ke tahanan Bu Sisi."
"Tidak perlu bik, saya sudah meminta orang mencari nya ke sana, sebaiknya Bibik kembali ke rumah melihat keadaan Vira M M
"Baiklah Tuan," ucap Bibik. Bibik melanjutkan perjalanan pulang ke rumah Bela.
Tidak terasa Dimas sudah pulang jam empat sore, namun Bela tak kunjung pulang..
Baru saja Dimas sampai ternyata Bela juga baru sampai di rumah.
"Bela.. kamu dari mana saja?" tanya Dimas langsung memeluk Bela.
"Aku baru saja melihat Ayah sama ibu, aku juga mencari tempat agar aku bisa belajar."
"Lain kali kalau kamu pergi, bilang dulu, kamu meninggal kan Vira sendirian di rumah," ucap Dimas.
"Aku minta maaf sudah membuat semua orang khawatir," ucap Bela.
"Ya sudah kalau begitu kamu mandi gih, Bibik sudah masak sebaik nya kita makan terlebih dahulu."
Bela mengangguk. "Terimakasih banyak Bik sudah menjaga Vira." ucap Dimas karena Bibik mau pulang.
Kayla dan Fahri datang di malam hari bertemu dengan Bela. Cukup lama mereka di sana berbincang-bincang.
Sementara Serli masih sibuk dengan pekerjaan nya. Dia harus lembur karena banyak pekerjaan.
"Ekhem-ekhem!!!" dia terkejut karena Roi mengejutkan nya dengan cara berdiri di belakang nya.
"Apa yang kamu lakukan? Kamu membuat ku terkejut saja!" ucap Serli.
"Kamu kenapa melamun? Kamu bekerja atau sedang melamun?"
"Aku sedang memikirkan pekerjaan ku bukan melamun."
"Apa iya?" tanya Roi.
"Kamu sendiri ngapain di sini?" tanya Serli.
"Aku ke sini mau bertemu kamu lah, mau mau ngapain lagi?" ucap Roi.
"Ada apa? apa kamu tidak pergi bersama perempuan itu?"
"Nama nya Clara," ucap Roi.
"Humm terserah saja siapa namanya, aku tidak perduli," ucap Serli.
"Dia sedang ada acara sama teman-teman nya, aku sudah terbiasa keluar dari markas ku, aku bingung mau kemana itu sebabnya aku datang ke sini."
__ADS_1
"Oohhhh, apa karena kamu bosan itu sebabnya kamu datang ke sini?"
"Benar banget," ucap Roi. Serli menghela nafas panjang.
"Apa masih lama lagi?" tanya Roi. Serli mengangguk.
"Masih banyak, kebetulan banget kamu di sini, sebaik nya kamu membantu ku."
"Aku tidak mengerti tentang pekerjaan ini."
"Kamu harus belajar yang lain selain mencari-cari informasi!"
"Kan itu memang tugas ku."
"Iyah sih, tapi alangkah baik nya kamu juga bisa belajar tentang ini, jadi kamu bisa mengerti ketika si Clara minta tolong."
Roi mengangguk. "Oke baiklah, kamu ajarin aku."
Roi meminta Serli mengajari nya. Serli yang tadi nya sangat tidak mood, sekarang dia sangat senang karena di temani oleh Roi.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai. "Terimakasih sudah membantu ku, kalau begitu aku mau pulang."
"Kenapa sangat cepat sih? Aku sangat lapar, apa kamu tidak mau makan dulu?"
Serli melihat jam. "Aku mau ke rumah Bela."
"Ya sudah kalau begitu aku juga ikut, aku mau melihat keadaan nya."
"Baiklah kalau begitu," ucap Serli. Mereka datang berdua.
Sesampainya di sana ternyata masih ramai.
Mereka membicarakan tentang hubungan Dimas dan Bela. Mereka menyarankan untuk menikah saja di sini pakai wali saja.
Dimas sih setuju, hanya saja pernikahan itu adalah sesuatu yang sangat sakral, tidak mungkin hanya dengan wali saja mereka bahagia.
Semua keputusan ada di tangan Bela, mereka semua sudah sangat mendukung menikah terlebih dahulu, karena kalau menunggu keluarga mereka tidak akan menikah.
Perbedaan pendapat akan membuat acara nya semakin lama, antara benci dan dendam akan membuat urusan semakin ribet.
"Aku akan memikirkan ini semua terlebih dahulu," ucap Bela.
"Kamu tidak boleh lama-lama Bela, sesuatu yang baik jangan di perlambat, kita tidak tau apa masalah yang akan terjadi di kemudian hari."
Bela mengangguk. "Aku mengerti, terimakasih semangat dan juga dukungan mbak Kayla, mbak Serli, Fahri dan juga Roi," ucap Bela.
"Kamu tidak ingin berterimakasih kepada ku?" tanya Dimas. Mereka semua tertawa.
"Kami tidak bisa lama-lama di sini, ini juga sudah malam, kamu harus pulang ke tempat masing-masing." ucap Serli.
__ADS_1
"Iyah, kami permisi dulu," ucap Roi ikut pamitan.
Fahri melihat Roi sambil tersenyum. Ternyata saran dari nya kepada Roi sedikit berjalan lancar.