
"Iyah Bik gak apa-apa, terimakasih sudah mau datang ke sini."
Bibik mengangguk, Bibik berpamitan kepada Vira dan setelah itu pergi.
"Mbak Bela tidur saja," ucap Vira sambil memijit-mijit lengan Bela di kamar.
"Maaf yah, mbak jadi merepotkan kamu, seharusnya hari Minggu ini kita sudah ada di kolam berenang."
"Mbak harus sembuh dulu, kalau mbak sakit seperti ini tidak akan ada yang nemanin aku."
"Kata siapa? Kan ada Bibik sama Om Dimas."
Vira naik ke tempat tidur dan memeluk Bela.
"Aku minta maaf sudah nakal, aku minta maaf karena bikin mbak banyak Fikiran," ucap Vira.
Bela tersenyum. "Ini bukan salah kamu, badan mbak aja yang tidak bisa di ajak kerja sama, akhirnya sakit deh," ucap Bela.
Dimas kebangun karena sudah jam dua siang, dia menyadari kalau ia tertidur begitu lama sehingga tidak sadar hari sudah siang.
"Om sudah bangun?" tanya Vira yang ternyata dari tadi main Tab di dekat Dimas. Dimas duduk sambil mengangguk.
Ia menoleh ke arah kamar Bela. "Bagaimana dengan mbak Bela? Apa dia masih sakit?" tanya Dimas.
"Mbak Bela baru saja mau tidur Om, mbak Bela masih demam," ucap Vira.
Dimas berjalan ke arah kamar Bela. Melihat ke dalam dari pintu yang tidak di kunci.
Benar saja kalau Bela lagi tidur, Dimas mendekati nya dan memeriksa suhu badan Bela.
"Sudah tidak terlalu panas," ucap nya.
Dimas melihat obat berkurang dia pun lega.
Setelah itu Dimas keluar.
"Om, aku sangat lapar sekali," ucap Vira.
"Kalau begitu Om pesanin makanan dulu yah, kamu tunggu sebentar."
Dimas mengambil handphone nya langsung memesan makanan yang banyak dari luar.
Tidak beberapa lama makanan nya datang, mereka langsung makan dengan sangat lahap, tidak lupa juga Dimas memisahkan untuk Bela.
Baru saja selesai makan tiba-tiba handphone Dimas berbunyi.
"Halo Tante." ucap Dimas.
"Tidak perlu berpura-pura sopan seperti itu! Sekarang kamu di mana?" tanya Kayla.
Dimas melihat ke arah Vira. "Tidak mungkin aku bilang kalau aku di sini."
"Humm aku lagi di rumah teman."
"Jangan berbohong! Kamu di rumah Bela kan?"
__ADS_1
Dimas terdiam.
"Setelah beberapa hari kamu mengabaikan dia, sekarang dengan tidak ada harga diri nya kamu malah tinggal di sana."
"Bukan seperti itu, aku di sini karena Bela sakit."
"Aku tidak perduli, hari ini kamu berjanji akan membantu ku."
"Maafin aku, tapi aku belum bisa meninggalkan Bela, kalau begitu aku akan meminta Fahri mengantarkan Tante."
"Dimas! Bagaimana bisa kamu mengabaikan Tante mu sendiri seperti ini!"
"Maafin aku," telpon langsung mati.
"Tidak apa-apa dengan Fahri saja mbak," ucap Serli yang kebetulan sedang bersama Kayla.
Kayla melihat ke arah luar. Fahri sedang bekerja.
"Huff tidak ada pilihan lain, kamu sendiri bagaimana?" tanya Kayla.
"Maksudnya?" tanya Serli.
"Kamu tidak ikut? Atau kamu mau di sini saja?"
"Aku mau istirahat saja karena besok Sangat banyak pekerjaan," ucap Serli.
"Oke, baiklah kalau begitu."
Kayla menghampiri Fahri.
"Fahri, kamu anterin saya belanja."
"Jangan nyebelin deh, aku terpaksa ngajak kamu karena aku tidak bisa sendiri."
"Aku selalu siap menemani mbak kemana saja," ucap Fahri. Kayla yang selalu kesal di goda-goda oleh Fahri memasang wajah judes.
Mereka meninggalkan rumah itu. Serli tersenyum melihat mereka pergi.
"Huff waktu nya untuk ku istirahat," ucap Serli.
Selama di perjalanan menuju toko yang lumayan jauh Kayla hanya diam saja.
"Apa yang sedang mbak pikirkan? Apa ada masalah?" tanya Fahri sambil terus menyetir.
"Tidak ada, kamu fokus lah ke jalan."
"Tapi seperti nya wajah mbak tidak bisa berbohong, apa mbak memikirkan Pak Dinas?* tanya Fahri.
Kayla menghela nafas panjang dia menoleh ke arah Fahri.
"Bagaimana saya tidak memikirkan dia, kalau terjadi kejadian yang lebih parah dari sebelumnya bagaimana?" tanya Kayla.
Fahri terdiam sejenak sambil memikirkan jawaban yang pas. Dia membicarakan kebahagiaan Dimas dan juga pilihan Dimas.
Kalau kedepannya Dimas mendapatkan masalah itu sudah menjadi urusan nya sendiri.
__ADS_1
Kayla tidak bisa menerima pendapat dari Fahri, mau bagaimana pun sebelum Dimas menikah dia tidak akan bisa tenang.
Fahri mencoba menghibur Kayla agar tidak memikirkan Dimas.
Tidak terasa hari semakin sore...
"Om mau kemana?" tanya Vira menahan baju Dimas.
Dimas menoleh ke arah Vira yang duduk di sofa.
"Om mau melihat mbak Bela," ucap Dimas, karena dari tadi Vira sama sekali tidak mengijinkan Dimas kemana-mana. Bergerak sedikit saja Vira berfikir kalau Dimas akan pulang di tambah hari semakin sore.
Dimas masuk ke kamar Bela. "Bagaimana keadaan kamu?" tanya Dimas.
Bela berusaha duduk. "Sudah jauh lebih membaik, terimakasih sudah merawatku dan juga menjaga Vira pak," ucap Bela.
Dimas mengangguk. "Saya tidak bisa lama-lama di sini karena sudah sore, besok juga hari Senin, saya harus pulang."
"Pulang?" tanya Bela sedikit keberatan.
Dimas mengangguk, dia menoleh ke arah Vira.
Wajah lesu di pasang oleh dua perempuan yang ada di dalam kamar itu.
Bela masih berusaha untuk tidak melihat kan dia membutuhkan Dimas, namun sebenarnya dia masih ingin Dimas di sana.
"Setelah saya memiliki waktu, saya akan datang ke sini," ucap Dimas.
Vira mendekati Dimas. "Om janji kan mau datang lagi?" tanya Vira.
Dimas tersenyum sambil menginyakan.
"Ya sudah kalau begitu Om pulang dulu yah," ucap Dimas.
"Saya pulang dulu, cepat lah sembuh, kalau terjadi sesuatu segera hubungi saya," ucap Dimas kepada Bela.
Setelah Dimas pergi Bela melihat Vira yang hanya diam duduk di samping nya yang sedang berbaring.
"Apa kamu mau makan sesuatu?" tanya Bela. Vira menggeleng kan kepala nya.
"Kalau begitu mbak akan pesan pizza untuk kamu."
"Aku gak mau mbak, aku tidak lapar," ucap Vira.
"Ya sudah kalau begitu, pergi lah mandi," ucap Bela.
Vira mengangguk dan keluar dari kamar itu.
Dimas meninggal kan parkiran apartemen.
"Apa ini adalah jalan untuk ku kembali kepada Bela? Seperti nya Bela sudah mulai memaafkan aku. Dan Vira sungguh pembawa keberuntungan."
"Tapi sebaik nya aku tidak memanfaatkan kesempatan ini, aku takut kalau Bela akan salah paham," batin Dimas.
"Tapi jika dipikir-pikir lagi, aku harus teguh dalam pendirian ku untuk menikahi Bela membawa nya hidup bersama ku dan mengurus Vira layaknya anak ku sendiri," batin Dimas.
__ADS_1
"Arrghh!!! Seandainya saja semua nya tidak seperti ini, aku pasti lebih mudah bersama Bela." ucap Dimas.
Dimas sampai di rumah namun heran kenapa rumah sangat sepi, di rumah Hanya ada Bibik dan beberapa yang bekerja di sana.