Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 156


__ADS_3

"Tapi tetap saja kamu masih tanggung jawab Tante, besok jangan pergi sendiri."


Dimas tersenyum. "Terimakasih Tante."


"Ya sudah kalau begitu, Tante kebawah dulu," ucap Kayla. Setelah Kayla pergi Fahri datang ke lantai atas menemani Dimas minum.


"Apa kamu tidak ingin menyampaikan sesuatu kepada saya?" tanya Dimas.


Fahri meletakkan gelas nya dia menatap Dimas. "Maafkan saya pak, saya benar-benar minta maaf."


"Kenapa kamu minta maaf?"


"Aku minta maaf karena sudah memiliki hubungan dengan Tante, bapak sendiri."


Dimas tersenyum dia menepuk-nepuk pundak Fahri.


"Kamu memutuskan untuk berpacaran dengan Tante saya itu artinya kamu memiliki nyali bukan?"


"Saya minta maaf pak, tapi saya benar-benar menyukai mbak Kayla, saya berjanji akan menjaga nya dengan baik."


Dimas tersenyum.


"Kalau begitu, saya ingin kamu menemui saya di tempat ruangan olahraga besok."


"Untuk apa yah pak?"


"Kamu harus membuktikan kalau kamu benar-benar bisa menjaga dan tidak main-main dengan Tante saya."


"Baik Pak."


Fahri tidak bisa menolak walaupun sebenarnya dia bertanya-tanya apa yang di rencanakan oleh Dimas Besok.


Vira sudah tidur, Bela keluar mencari Dimas.


"Kamu belum tidur?" tanya Dimas. Bela kaget karena Dimas berdiri tidak jauh dari nya.


"Kakak buat kaget saja," ucap Bela. Dimas tersenyum.


"Besok sore acara ulang tahun Tante Kayla, aku belum memiliki pakaian yang tepat untuk acara itu," ucap Dimas.


"Tidak mungkin kak, sangat banyak baju kakak di dalam lemari."


"Apa kamu boleh bantu pilih kan yang sesuai dan cocok dengan pakaian kamu?" tanya Dimas.


"Tapi ini sudah malam, bagaimana kalau besok saja?" tanya Bela.


"Aku ingin malam ini, bagaimana kalau aku tidak bisa tidur karena memikirkan hal sepele seperti ini?" tanya Dimas.


Bela menghela nafas panjang. "Baiklah kalau begitu," ucap Bela berjalan ke arah kamar Dimas.


Bela membuka lemari Dimas. Dia memeriksa satu-satu.

__ADS_1


"Ya ini aku rasa cocok." Namun Dimas tidak mau karena itu sudah sangat sering dia pakai.


Bela menyarankan beberapa jas namun Dimas tidak mau. "Bagaimana kalau besok kamu temanin aku membeli stelan jas baru?" tanya Dimas.


"Loh bukannya biasa nya Serli yang membeli nya?" tanya Bela.


"Apa salahnya kalau aku dan kamu yang pergi membeli nya? Apa kamu tidak mau? kamu hanya mau keluar bersama anak itu saja?"


Bela menghela nafas panjang. "Baiklah-baiklah kalau begitu." Bela akhirnya pasrah dari pada Dimas membuat masalah malam ini.


"Ya udah kalau begitu, aku akan pergi tidur, kakak juga istirahat lah."


Dimas menahan tangan Bela. Bela berbalik menatap Dimas.


Namun tiba-tiba Dimas mencium kening Bela. "Good night sayang," ucap Dimas sambil tersenyum.


Bela mengangguk, dia tidak bisa menahan malu di segera keluar dan masuk ke dalam kamar nya.


Keesokan harinya Roi bangun karena mendengar ketukan pintu apartemen nya.


Dia membuka pintu. "Apa yang kamu lakukan di sini sepagi ini?* tanya Roi.


"Jangan banyak tanya, kamu senang kan aku datang ke sini lagi?" ucap Serli dengan kesal.


"Aku membawa sarapan untuk mu, makan dan setelah itu minum obat."


Roi hanya diam melihat Serli. "Huff seharusnya aku tidak memikirkan nya, aku sangat membenci nya, setelah dia sehat aku tidak ingin bertemu dengan nya lagi."


Di rumah Dimas..


"Biasa mbak, mungkin olahraga pagi." ucap Bela


"Tapi biasanya Fahri tidak ikut kalau di ruangan, kalau di luar bisa jadi Fahri ikut."


"Ya sudah kalau begitu ayo kita lihat," ucap Bela, mereka berdua sangat penasaran sekali.


"Kamu sudah datang, ternyata kamu punya nyali juga."


"Apa yang kita lakukan di sini Pak?"


"Berdiri ke sini." Dimas melempar kan sarung tinju dan peralatan lainnya.


"Kamu harus menang melawan saya kalau kamu mau saya mengijinkan kamu berhubungan dengan Tante saya."


Fahri terdiam sejenak. "Tapi saya tidak pernah latihan tinju Pak."


"Itu artinya kamu sudah menyerah sebelum berperang, kamu tidak bisa memegang kata-kata mu untuk menjadi pria bertanggung jawab dan juga melindungi Tante Kayla."


Kayla mendengar itu mau menghentikan nya, namun Bela menahan nya.


"Mbak jangan di larang, ini adalah pembuktian Fahri seberapa tulus dia."

__ADS_1


"Tapi Fahri sama sekali tidak tau caranya."


"Tidak apa-apa, percaya saja mbak, kasih dukungan saja."


"Fahri!!! Ayo kamu pasti bisa," ucap Kayla. Mereka menoleh ke arah Kayla dan Bela.


"Kak Dimas, kakak pasti bisa mengalah kan Fahri. Aku akan mendukung kakak."


"Fahri... Kamu harus menang, kamu memang tidak memiliki pengalaman, tapi badan mu lebih bagus dari Dimas, kamu lebih kuat kamu pasti bisa mengalah kan nya."


"Kak Dimas memang lebih kecil, tapi kak Dimas sangat kuat, jangan biarkan Fahri memang."


"Fahri, dengar aku, kalau kamu menang aku memiliki hadiah."


"Sudah-sudah! Kalian kenapa jadi ribut di sini?" tanya Dimas.


"Kalian berdua akan menjadi saksi dari pertarungan ini."


Pertandingan di mulai. Bukan hanya mereka berdua yang menonton ternyata semua yang ada di rumah termasuk para pengawal datang.


Pertarungan semakin sengit. Bela dan juga Kayla menyoraki pahlawan masing-masing."


Tidak beberapa lama akhirnya ronde pertama selesai. "Kamu harus bisa Fahri," ucap Kayla.


"Pak Dimas sangat kuat, dia memiliki pengalaman sementara Ku tidak."


"Demi aku, kamu harus bisa."


Fahri menghela nafas panjang. Dia melihat ke arah Dimas yang sudah siap mematahkan tulang-tulang nya.


Ronde kedua dia masih bisa bertahan dari semua serangan Dimas.


"Ini adalah ronde terakhir, kamu harus menang sayang," ucap Kayla.


Kayla tampa ragu mencium bibir Fahri yang berdarah.


Semangat nya bertambah. Dia melakukan nya dengan sekuat tenaga. Akhirnya dia bisa menjatuhkan Dimas untuk beberapa kali.


Dimas tidak mau menyerah, pertandingan semakin menegangkan.


Untuk detik-detik keterakhir akhirnya Fahri bisa menjatuhkan Dimas.


Dimas sudah tidak bisa berdiri. Fahri menjadi pemenang nya walaupun dia mengalah pendarahan di hidung dan juga bibir nya.


Kayla sangat senang sekali. Sementara Bela langsung membantu Dimas memberikan nya minum.


"Sekarang bapak sudah percaya kan kalau mbak Kayla bisa di jaga oleh ku," ucap Fahri.


"Oke baiklah saya percaya, dan saya merestui hubungan kali."


Dimas dan Bela keluar dari sana. "Wahh Fahri hebat banget yah, walaupun dia tidak mempunyai pengalaman tapi dia sangat hebat."

__ADS_1


Dimas menatap dengan tajam. "Berani-beraninya kamu memuji nya di depan ku," ucap Dimas.


Bela tertawa kecil. "Sudah-sudah tidak perlu marah, kakak juga sangat hebat, sebaiknya kakak mandi dan makan bersama agar kita berangkat memilih pakaian untuk kakak," ucap Bela.


__ADS_2