
"Bukan seperti itu, aku hanya tidak tega melihat nya di luar seperti itu, sudah tiga hari dia menunggu mu di luar seperti itu. Mungkin ada sesuatu yang sangat penting."
"Walaupun Tante belum bisa melupakan kejadian ini, tetap saja Tante merasa iba kepada Bela."
Dimas menghela nafas panjang. "Aku sangat sibuk, aku tidak memiliki waktu untuk berbicara dengan dia," ucap Dimas.
Kayla tidak bisa berkata-kata dia keluar menghampiri Bela.
"Sebaiknya kamu pulang saja, percuma kamu menunggu Dimas, dia masih sangat sibuk."
Bela langsung berdiri ketika melihat Kayla, tidak lupa untuk membungkuk kan badan nya sedikit menghormati Kayla yang lebih tua dari nya.
"Sebaik nya kamu pulang saja, Dimas sibuk, tidak memiliki waktu untuk menemui kamu," ucap Kayla.
Bela menatap Kayla. "Aku akan menunggu sampai pak Dimas menemui aku mbak."
Kayla menghela nafas panjang. "Ya sudah kalau begitu. Kamu tunggu lah di dalam di sini sangat panas," ucap Kayla.
Namun Bela menolak nya dia menggeleng kan kepala nya. "Aku akan menunggu di sini," ucap Bela.
Kayla tidak bisa memaksa dia pun membiarkan Bela di sana.
"Kamu mau kemana? Untuk apa ini?" tanya Kayla melihat Fahri membawa makanan dan juga minuman.
"Ini untuk Bela mbak, kasian dia dari tadi seperti nya belum makan dan juga minum."
"Kamu sangat perhatian sekali kepada dia," ucap Fahri.
Fahri melewati Kayla dan memberikan apa yang dia bawa kepada Bela.
Kayla melihat nya. "Huff Fahri benar-benar sudah tidak Pria yang kalem seperti dulu lagi, dia bahkan sangat Genit kepada perempuan sekarang," batin Kayla.
Di malam hari nya Dimas keluar dari perusahaan nya. Dia melihat Bela yang ternyata masih menunggu di depan perusahaan nya.
"Pak, saya mau bicara."
"Ini sudah malam, saya mau pulang."
"Tapi pak."
Dimas tidak menghiraukan nya dia berjalan terus menuju ke parkiran mobil nya.
Bela terus mengejar nya, namun tiba-tiba Bela keseleo mengejar mobil Dimas.
Bela terjatuh, karena dia memakai high heels, Dimas melihat nya dari spion mobil nya.
Dimas berhenti dan melihat Bela yang meringis kesakitan.
"Saya sudah bilang kalau saya tidak ingin berbicara, kenapa kamu mengejar mobil saya dan tidak melihat jalan?" tanya Dimas.
Lutut Bela kedua nya terluka, kali nya juga keseleo karena sepatu nya rusak.
Dimas tidak banyak basa-basi dia menggendong Bela di dalam mobil mencari apotek yang masih buka.
__ADS_1
Mereka duduk di depan apotik.
"Aku bisa melakukan nya sendiri pak," ucap Bela.
"Jangan keras kepala! Tunggu saja saya akan membersihkan nya."
Dimas masih dengan wajah datar dan nada bicara yang sangat cuek sekali.
"Awhh! pelan-pelan," ucap Bela memegang kaki nya sambil mengigit bibir nya karena sangat letih sekali.
"Sudah tau sakit, kenapa kamu mengejar saya?" ucap Dimas.
"Kalau aku tidak mengejar nya, mungkin bapak tidak akan berhenti."
"Kenapa kamu datang mencari saya? Bukan kah kamu sendiri yang tidak ingin bertemu dengan saya lagi?" tanya Dimas.
Bela terdiam. Dia tidak mengatakan apapun namun memasang wajah sedih.
"Kalau tidak ada yang penting, saya akan mengantar kan kamu pulang."
Bela menahan Dimas yang hendak berdiri.
"Aku.. aku minta maaf atas perkataan ku sebelum nya, tapi sekarang aku butuh bantuan bapak untuk membujuk Vira kembali sekolah, sudah satu Minggu dia tidak mau sekolah."
"Dia adalah adik mu, kenapa harus meminta bantuan saya?" tanya Dimas.
Bela menatap Dimas.
"Aku meminta bantuan bapak karena aku tidak bisa, aku tau aku salah, tapi ini tentang Vira." ucap Bela.
Dimas diam saja tidak mengatakan apapun.
Bela menatap Dimas.
Bela tiba-tiba turun dari tempat duduk dan jongkok di depan Dimas menahan rasa sakit di kaki nya.
"Aku sudah memikirkan semua nya, aku benar-benar keterlaluan, tidak memikirkan bicara ku yang menyakiti perasaan bapak."
Dimas tetap diam saja sambil melihat Bela yang jongkok di depan nya.
"Aku juga minta maaf atas nama orang tua ku."
Dimas menghela nafas panjang.
"Berdiri lah, saya akan mengantarkan kamu pulang."
Bela menggeleng kan kepala nya.
"Sebelum bapak memaafkan saya, saya tidak mau pulang."
"Saya akan memaafkan kamu, dengan syarat kamu juga harus memaafkan saya."
Bela mengangguk. "Aku sudah lama memaafkan tentang masa lalu, aku tau dan aku sadar bapak melakukan itu karena mencari keadilan."
__ADS_1
Dimas menarik tangan Bela, Dimas meminta nya berdiri.
Dimas juga berdiri, ia menghapus air mata Bela.
"Jangan menangis, saya sudah memaafkan kamu."
"Serius?" tanya Bela.. Dimas mengangguk.
Bela langsung memeluk Dimas dengan sangat erat membuat Dimas cukup kaget.
Setelah itu Dimas mengantarkan Bela kembali ke apartemen nya.
"Kita sudah sampai," ucap Dimas, namun dia baru sadar ternyata Bela sudah tidur di samping nya.
Dimas mengingat seharian dia tidak berhenti memantau Cctv di depan melalui handphone nya.
Bela hanya diam, menahan lapar, panas dan juga ngantuk itu sebabnya dia kelelahan dan akhirnya ketiduran.
Dimas menggendong Bela ke dalam.
"Tuan Dimas ada apa dengan non Bela?" tanya Bibik yang kebetulan di sana.
"Kaki nya terluka bik."
Dimas langsung membawa ke kamar.
"Terimakasih banyak Tuan Dimas, saya minta maaf karena lagi-lagi merepotkan Tuan, tapi ngomong-ngomong kenapa tuan bisa bersama non Bela? Bukan nya...."
"Iyah Bik cerita nya panjang, sekarang sebaik nya saya pulang sudah larut malam."
"Tuan tunggu dulu, apa tuan tidak bisa menginap saja malam ini di sini? Lagian di luar sudah sangat gelap."
Dimas menggeleng kan kepala nya. "Tidak bisa bik."
"Lalu bagaimana dengan Vira tuan? Dia sangat merindukan Tuan, dia bahkan tidak mau sekolah, bahkan sangat susah makan karena merindukan tuan."
"Saya mohon Tuan, non Vira dan juga non Bela sangat membutuhkan Tuan."
"Bik, hubungan kita sudah berakhir tidak seperti dulu lagi, Bibik juga tau jelas," ucap Dimas.
"Itu hanya masalah masa lalu Tuan, hubungan Tuan dengan non Bela tidak ada sangkut pautnya, Non Bela hanya mencintai Tuan."
Dimas menatap Bibik.
"Apa Bibik tidak membenci saya?" tanya Dimas.
Bibik menggeleng kan kepala nya.
"Tidak Tuan, justru saya sangat berterimakasih kepada Tuan, karena Tuan sudah membongkar semua kebusukan pak Irfan dan menyelamatkan Non Bela dan juga non Vira."
"Apa menurut Bibik saya bisa kembali bersama Bela?"
Bibik mengangguk.
__ADS_1
"Tentu Tuan, kalian sangat cocok dan saya juga tau sebenarnya Non Bela belum bisa move-on, hanya saja Non Bela tidak ingin mendengar anggapan orang lain yang buruk tentang nya dan juga keluarga nya itu sebab nya dia memilih untuk seperti ini." ucap Bibik.