
"Sayang... sayang... tunggu sebentar, kenapa kamu jalan sangat cepat? Apa kamu tidak takut jatuh?" tanya Dimas karena istri nya memakai high heels yang tidak terlalu tinggi.
Namun tetap saja dia khawatir dan ingin istri nya berjalan dengan lambat dan hati-hati. "Tidak perlu perduli kan aku, kenapa kakak tidak perduli kan wanita-wanita yang kakak senyumin itu?" tanya Bela.
Dimas menghela nafas panjang. "Kamu ngomong apa sih sayang, jangan aneh-aneh deh," ucap Dimas.
"Jangan aneh-aneh? Justru aku berbicara seperti ini kakak harus sadar, aku sedang mengandung anak kakak, namun tetap saja ganjel kepada wanita lain."
Dimas harus sabar karena istrinya cukup posesif sekali.
"Terserah kamu deh mau ngomong apa, sekarang kita mau kemana lagi?" tanya Dimas. "Aku mau pulang saja," ucap Bela.
Dimas mengangguk. "Aku anterin yah ," ucap Dimas.
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri naik Taksi," dia langsung menghentikan taksi.
"Tunggu pak," Dimas menghentikan taksi nya.
"Pak, saya mau istri saya selamat sampai rumah, jangan cepat-cepat bawa mobil nya karena istri saya lagi hamil!" ucap Dimas.
"Baiklah Pak, kalau begitu kami jalan dulu."
"Jangan lupa kabarin aku setelah sampai di rumah yah sayang," ucap Dimas sambil mengelus kepala istrinya dan membuka pintu untuk Bela.
Bela memasang wajah cemberut dan segera pergi meninggalkan suami nya.
"Dasar wanita emang seperti itu, semoga saja dia sehat terus," batin Dimas.
Sementara Serli cukup cepat pulang karena tidak ada pekerjaan. Dia sampai di depan rumah dan langsung memarkir kan mobil nya.
Namum dia kaget kenapa ada motor Roi di sana. "Jangan bilang kalau dia di sini?" batin Sherli.
Serli langsung masuk ke dalam. "Apa yang kamu lakukan di sini? kenapa tidak bilang kalau mau ke sini?* tanya Serli.
"Akhirnya kamu pulang juga," ucap Roi yang sedang berbaring di ruang tamu.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Serli. "Emang nya kenapa sih kalau aku di sini?" tanya Roi.
__ADS_1
"Pak Dimas akan ke sini sebentar lagi," ucap Serli. "Ngapain?" tanya Roi kaget karena tidak biasa nya.
"Jemput berkas-berkas, aku harus menyelesaikan nya sebentar lagi, itu sebab nya dia yang datang jemput ke sini."
"Oohhh, aku pikir mau ngapain, kalau begitu aku. bisa sembunyi di kamar," ucap Roi. "Sebaiknya Kamu pergi saja, jangan sampai aku memaksa kamu."
"Percuma saja, karena aku semakin betah kalau mendengar Omelan kamu, di apartemen ku sangat sepi dan semua nya berantakan sangat tidak nyaman."
"Aku sudah bilang pindah saja dari sana," ucap Serli. "Tidak dapat ijin dari pak Dimas, kalau aku mendapatkan ijin, aku bisa saja langsung pindah."
Serli duduk di karpet dan membuat laptop nya. Membuka beberapa map.
Serli melihat Roi yang perlahan-lahan pindah ke belakang nya dan tidur di sofa belakang nya sambil memainkan rambutnya dan sesekali mencium pipi Serli.
Agar cepat selesai, serli membiarkan apa saja yang di lakukan oleh Roi kepada nya.
Satu jam kemudian akhirnya selesai, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.
Serli melepaskan tangan Roi dari nya, namun Roi malah menahan tangan Serli.
"Kamu mau kemana? Aku baru saja mau tidur, aku tidak bisa tidur karena tidak memeluk tangan kamu."
"Biarkan saja pak Dimas di luar, dia datang hanya mau memberikan pekerjaan saja."
"Jangan aneh-aneh deh kamu, ayo bangun," ucap Serli.
Roi di paksa masuk ke dalam kamar nya dan dia langsung membuka pintu. "Maaf pak lama buka nya."
"Apa kamu menyembunyikan sesuatu di dalam sampai lama membuka pintu?" tanya Dimas.
"Gak mungkin lah Pak, saya mau menyembunyikan siapa di sini? gak mungkin lah pak," ucap Serli.
"Huff bagus deh kalau begitu, karena Kalau orang lain melihat, mereka akan membawa-bawa nama saya, jadi jangan coba-coba untuk macem-macem dan membawa Pria ke dalam rumah mu."
Serli hanya mengangguk. Dia memberikan map tiga buah dan di bawa oleh Dimas keluar. Serli menghela nafas panjang.
"Aku yakin pak Dimas pasti curiga dengan ku," ucap Serli.
__ADS_1
"Tidak biasanya dia seperti ini, pasti sekali mau melihat keadaan di sini," batin Serli.
"Apa pak Dimas sudah pergi?" tanya Roi. "Mulai hari ini sebaiknya kamu tidak perlu datang ke sini kalau tidak ada keperluan apa-apa, apalagi berencana mau tidur di sini," ucap Serli.
"Huff kamu sangat telat ngomong seperti itu karena aku sudah membawa pakaian ku mau menginap beberapa hari sampai aku bosan."
"Kamu bilang kalau ada hal penting boleh datang? Aku memiliki urusan yang sangat penting sehingga aku mau tidur di sini juga," ucap Roi.
"Jangan membuat aku semakin kesal deh, kamu sebaiknya kamu pergi dari sini," ucap Serli..
"Aku tidak mau, aku memiliki urusan penting yaitu menemui kekasih ku karena ini menyangkut perasaan ku."
"Jangan lebay deh, aku tidak suka mendengar nya."
"Kamu kenapa sih marah-marah Mulu? Apa kamu lagi PMS?" tanya Roi.
"Jangan buat aku semakin marah deh!" ucap Serli.
"Sayang... jangan marah-marah dong, aku sangat mencintai kamu, itu sebabnya aku mau bersama kamu terus, aku bisa saja menikah dengan kamu sekarang, tapi aku hanya menunggu keputusan dari kamu."
Serli tidak bisa melayani Roi yang sudah semakin gila, dia langsung pergi begitu saja.
"Aku tidak akan pernah mau pergi, aku sangat mencintai kamu Serli," ucap Roi.
Tidak beberapa lama akhirnya Serli masuk ke dalam kamar nya. Dia sangat kaget karena kasur nya yang tadi sangat rapi sekarang sangat berantakan dan di penuhi aroma badan Roi.
"Memang bukan bau, tapi bau parfum cowok yang sangat menyengat di tempat tidur membuat Serli tidak nyaman.
Dia menukar semua nya sampai selesai, setelah selesai dia mandi dan melakukan perawatan.
"Sudah lama aku tidak pulang cepat dan memiliki waktu seperti ini," ucap Serli. Berendam cukup lama.
Baru saja keluar dari kamar mandi tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.
"Ada apa apa lagi sih Roi?" tanya Serli. "Kamu kok galak banget sih? aku cuma mau bilang aku sudah beli makan, ayo kita makan," ajak Roi.
"Aku tidak lapar, kamu makan saja sendirian," ucap Serli dengan sangat kesal dan langsung menutup pintu.
__ADS_1
Roi kaget, "kamu yakin gak lapar? aku pesan makanan kesukaan kamu loh," ucap Roi lagi.
"Aku tidak mau, aku mau istirahat jangan ganggu aku, kalau tidak ada urusan kamu pergi pulang saja," ucap Serli.