
"Tapi kalau dengan pak Dimas aku tidak bisa menikmati perjalanan."
Serli tersenyum.
"Aslinya pak Dimas baik kok, hanya saja dia berubah karena mendapati masalah yang menimpa hidup nya, pasti kamu tau kan kalau pak Dimas itu memiliki sifat yang ramah, perduli dan tidak sekejam sekarang," ucap Serli.
"Walaupun banyak orang ngomong seperti itu, namun wajah nya tidak cocok jadi orang seperti itu, dia berbicara saja sudah membuat aku takut," batin Bela.
"Kalau boleh tau masalah yang membuat Pak Dimas seperti itu karena apa yah?" tanya Bela.
"Karena kedua orang tua nya meninggal dunia."
Bela langsung terdiam. Tidak bisa banyak tanya karena takut di anggap lancang.
Hari semakin sore Bela dan Serli sudah sampai di rumah.
"Kalau begitu saya pulang dulu yah."
Serli berpamitan pulang karena sudah sore juga.
"Makasih yah mbak sudah mau ngajakin saya."
Serli tersenyum. "Saya paham kok di posisi kamu seperti apa. Ya sudah kamu masuk gih seperti nya Pak Dimas sudah menunggu kamu."
Bela mengangguk dia langsung masuk ke dalam dan melihat Dimas berbaring di sofa ruang tamu.
"Kenapa jam segini pak Dimas malah tidur?" batin Bela.
"Pak.. Pak Dimas." ucap Bela.
Dimas membuka mata nya dia melihat ke arah Bela.
"Dari mana saja kamu? kenapa kamu baru pulang?" tanya Dimas.
"Loh bukannya tadi mbak Serli sudah bilang kalau pulang sore?"
"Bapak kenapa?" tanya Bela karena Dimas menekan perut nya dan memasang wajah kesakitan.
"Perut saya sangat sakit karena saya belum makan. Saya hanya makan roti pagi tadi yang kamu buat."
"Ya Allah pak, bagaimana bisa bapak tidak makan?" tanya Bela.
Dimas menghela nafas dia mengingat kejadian tadi membuat dia lupa makan.
"Perut saya sangat sakit."
Dimas menarik tangan Bela dan meletakkan nya di perut Dimas.
"Bapak tunggu sebentar saya akan mengambil minyak kayu putih."
Tidak beberapa lama Bela kembali membawa minyak dan memberikan nya kepada Dimas.
Namun Dimas malah menyuruh nya. Memberanikan diri dia mengoleskan minyak ke perut Dimas.
"Saya akan mengambil makanan untuk Bapak."
__ADS_1
Bela memasak makanan yang cepat agar sakit Dimas tidak semakin kambuh.
Dimas menatap wajah Bela yang sangat khawatir melihat Dimas sakit.
Tidak beberapa lama akhirnya Dimas selesai makan di suapin oleh Bela.
"Bela..." panggil Dimas di saat Bela mau ke dapur.
"Iyah Pak."
Dimas menarik tangan Bela dan meminta nya duduk di samping nya.
"Saya mau istirahat."
Bela kebingungan dan juga kaget karena Dimas berbaring di paha nya.
"Pak Dimas tidur di kamar saja, saya akan mengantar kan bapak ke kamar."
"Kenapa kalau saya tidur di sini? Apa kamu keberatan untuk merawat saya? Ini semua karena kamu tidak memberikan saya Makan dulu sebelum pergi."
"Tapi Bapak yang menolak saya tawarkan makan tadi, saya tidak meminta Bapak untuk ikut. Lagian dia luar sana banyak makanan."
"Kamu menyalahkan saya?" tanya Dimas.
"Ya bukan gitu pak, lain kali Bapak tidak boleh mengabaikan makan pagi, makan siang seperti ini lagi."
"Ini semua karena kamu yang ketagihan keluar mendadak tidak ijin kepada saya."
"Baiklah ini salah saya. Saya minta maaf, tapi Bapak harus janji untuk tidak melakukan hal seperti ini lagi."
"Sebelum saya janji, kamu juga harus janji kalau kamu tidak akan keluar dengan siapa pun selain saya."
"Tidak ada tapi-tapian, ingat kamu adalah milik saya, kamu harus mengikuti semua kata-kata saya karena ini demi kebaikan kamu."
Dimas berbaring lagi.
Bela terdiam sejenak, namun tiba-tiba dia tersenyum baper karena Dimas mengatakan dia milik nya dan juga demi kebaikan dia.
"Aku seperti nya sudah gila, sebenarnya itu kata-kata yang menyakiti aku, namun kenapa aku begitu senang ketika pak Dimas mengatakan itu?" batin Bela.
"Kenapa kamu diam? kamu bisa Janji kan? Kalau kamu tidak janji saya juga akan mengabaikan Makan pagi dan siang saya."
Bela menghela nafas panjang. "Baiklah Pak."
Dimas tersenyum dia kembali tidur dan menutup mata nya.
"Aku rasa nya tidak ingin bangun dari pangkuan nya, tidur seperti ini rasanya sangat nyaman dan ketika di dekat nya terasa sangat nyaman," batin Dimas.
"Sebaik nya Bapak tidur di kamar saja agar badan Bapak tidak sakit," ucap Bela namun Dimas tidak menjawab nya ternyata Dimas sudah tidur.
Bela menghela nafas.
Bela mengelus rambut Dimas.
"Sebenarnya pak Dimas pria yang sangat manja, namun sesuatu memaksa nya untuk menjadi pria yang kejam dan jahat. Aku tau hati nya sebenarnya sangat lah baik," batin Bela.
__ADS_1
Dua jam Dimas tidur di pangkuan Bela dia terbangun karena merasakan tangan Bela di kepala nya.
Dia melihat wajah Bela ternyata dia juga ketiduran.
Dimas langsung duduk membenarkan tidur Bela.
Dimas menatap wajah Bela yang masih menggunakan makeup.
"Apa yang kamu lakukan sehingga dendam saya seketika hilang begitu saja ketika melihat wajah kamu Bela?" batin Dimas.
"Kamu dan Vira anak yang baik namun kenapa orang tua mu begitu jahat?"
Dimas merapikan rambut Bela. Dimas mendekati wajah Bela ingin mencium bibir Bela namun Tiba-tiba Bela bergeliat.
Dimas menghela nafas ketika Bela tidak jadi bangun.
Waktu nya makan malam...
"Humm apa boleh saya bertanya sesuatu?" tanya Bela berdiri tidak jauh dari Dimas.
"Katakan!"
"Kapan Bapak akan berkunjung ke panti asuhan?" tanya Bela.
Dimas yang sedang makan menoleh ke Bela.
"Kenapa?"
"Saya ingin tau Pak."
"Seperti nya masih lama karena saya sibuk."
"Oohh begitu yah Pak."
"Apa kamu mau bertemu dengan Vira?"
Bela langsung mengangguk sambil tersenyum.
Dimas seketika terdiam ketika Bela tersenyum, dia sangat terpana dengan senyuman Bela.
"Pak! Bapak!" Dimas langsung sadar.
"Baiklah saya akan mengajak kamu ke sana kalau saya memiliki waktu luang dengan satu syarat."
"Syarat apa pak? Saya akan melakukan nya."
"Saya ingin kamu memasak dimsum seperti yang kemarin kamu masak dengan Vira.
Bela mengingat dia tidak jadi masak kue dengan Vira melainkan dimsum karena ternyata Vira sangat suka dimsum.
Bela hanya memasak sedikit sisa dua biji karena mereka sudah kenyang dan meninggalkan di meja makan.
Namun saat Dimas baru pulang tidak sengaja Bela melihat Dimas mencicipi dimsum itu. Namun karena Bela memergoki nya Dimas meletakkan gigitan terakhir di piring.
"Saya hanya mencicipi nya, rasanya sedikit aneh," ucap Dimas dan langsung pergi ke kamar.
__ADS_1
Bela melihat hanya sisa sedikit lagi.
"Humm dasar pria kulkas, batu, dan gengsian. Dimsum ini sangat enak bahkan sudah habis dan satu oleh nya namun tetap saja dia mengatakan tidak enak," ucap Bela.