Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 38


__ADS_3

"Ya walaupun sebenarnya aku sudah milik pak Dimas, namun tetap saja aku harus memperjuangkan hidup ku, aku tidak boleh menyerah seperti yang di katakan Bibik." batin Bela.


Dimas keluar dari ruangan ganti Bela sudah tidur di sofa.


"Hassh Sofa ini sangat lembut sekali, aku takut kalau aku tidak bisa bangun pagi kalau tidur di sini." ucap Bela yang di dengar oleh Dimas.


Baru berbaring dia sudah tidur dengan nyenyak sekali.


Dimas baru saja selesai dan langsung menutup laptopnya dia melihat ke arah Bela.


"Apa dia sungguh tidur?"


Dimas mendekati Bela dan ternyata Bela sudah tidur dengan Sangat nyenyak sekali.


Dimas tersenyum dia sangat senang karena Bela menyukai sofa yang baru saja di beli oleh nya.


Beberapa hari ini Dimas melihat Bela kurang nyaman di sofa yang sudah sangat lama dan juga Bela sering merasakan badan nya sakit-sakit.


Dimas berniat membeli itu agar Bela tetap nyaman tidur di sini.


Keesokan harinya Dimas berangkat bekerja seperti biasa nya. Kali ini Dimas memilih cepat pulang kalau tidak ada pekerjaan yang mengharuskan dia ada.


Bela yang sedang bersih-bersih di rumah terkejut karena mendengar suara bel.


"Loh Siapa yang bertamu siang-siang seperti ini?"


Bela membuka pintu dia sangat kaget melihat Dimas .


"Loh bapak sudah pulang?"


Dimas melihat pakaian Bela basah.


"Saya baru saja selesai menyuci pak, apa Bapak tidak enak badan, sehingga pulang cepat?"


Dimas menggeleng kan kepala nya.


"Tidak ada pekerjaan di kantor, saya mau pulang cepat."


"Oohhhh." Bela sedikit bingung karena tidak seperti biasanya.


"Buat kan saya Kopi."


Bela mengangguk.


Bela kembali membawa kopi ke ruang tamu.


Beberapa hari kemudian para pelayan kembali ke rumah Dimas.


Dimas melihat mereka membawa oleh-oleh untuk Bela tapi tidak ada untuk nya.


"Di sini bos kalian adalah saya, bukan Bela, bagaimana bisa kalian membawa oleh-oleh untuk Bela sementara untuk saya sama sekali tidak ada."


"Tenang saja Pak, ini semua punya Bapak, kami memberikan nya kepada Bela agar dia menyampaikan ini kepada Bapak." ucap pelayan.


Dimas seketika langsung Terdiam tidak jadi marah.


"Hanya bisa marah saja," ucap Bela setelah semua mereka pergi.


"Apa yang di bawa oleh mereka?"


Ternyata bahan makanan, barang-barang yang khusus dari desa yang sangat jarang di temui di kota.


"Bela." panggil Dimas.


Bela menoleh ke wajah Dimas.


"Iyah kenapa Pak?"


"Kamu mau ikut saya keluar malam ini?"

__ADS_1


"Hah?"


"Ssttt!! Jangan berteriak seperti itu!"


"Maaf-maaf pak, saya hanya tidak mendengar apa yang bapak katakan." Karena Dimas juga berbicara sangat pelan takut ketahuan orang lain.


"Kamu mau ikut saya keluar malam ini?"


"Kemana Pak?" tanya Bela.


"Kamu ikut saja jangan banyak tanya."


Bela sedikit bingung namun dia tidak bisa menolak.


Malam hari nya Dimas seperti mencuri Bela dari rumah karena harus pergi diam-diam.


"Bapak kenapa mengendap-endap seperti ini? Apa yang salah?" tanya Bela.


Dimas tidak menjawab dia terus menggandeng tangan Bela sampai keluar dari rumah itu.


"Huff akhirnya bisa keluar juga."


Bela melihat tangan nya yang di genggam sangat erat oleh Dimas.


"Mau sampai kapan bapak menggandeng tangan saya? Bapak modus yah?" tanya Bela.


Dimas langsung melepaskan tangan nya.


"Jangan kepedean deh, saya hanya membantu kamu berjalan dengan cepat."


Bela tersenyum.


Dia sudah sadar kalau Dimas memiliki perasaan kepada nya, begitu juga dengan dia kepada Dimas namun masih sama-sama malu dan gengsi.


"Masuk lah."


Dimas membuka pintu mobil untuk Bela.


Dimas menghela nafas panjang sambil mengelus dadanya.


"Bisa mati aku kalau seperti ini terus, aku tidak tau apa yang salah dengan jantung ku."


Dimas meninggal kan rumah nya.


Sepanjang perjalanan Bela akan lebih fokus kepada jalan dari pada Dimas.


Dimas ingin ngajakin berbicara namun dia tidak tau harus ngomong apa sampai dia pusing sendiri.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Dimas karena Bela mengeluarkan tangan nya.


Bela tersenyum.


"Aku sangat suka suasana jalanan pas di malam hari, terlihat sangat cantik sekali."


Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai di sebuah hotel besar.


"Pak kita ngapain ke sini?" tanya Bela sangat panik sekali.


"Sudah turun saja."


Bela menggeleng kan kepala nya. Dia memasang wajah takut.


"Saya tidak akan membawa kamu tidur di sini, saya akan menemui teman saya di sini."


Bela tetap tidak mau.


"Pertemuan apa yang ada di hotel? Aku yakin dia pasti..."


"Berhenti berfikir negatif, ayo keluar!"

__ADS_1


Bela tidak mau.


"Kalau kamu tidak mau saya akan menggendong kamu keluar."


"Pak saya tau kalau Bapak ganteng dan kaya. Walaupun bapak sudah membeli saya bapak tidak boleh memaksa ku, aku akan melaporkan ke kantor polisi.


Dimas yang mendengar itu tertawa.


"Kamu sungguh aneh, saya tidak akan melakukan apapun kepada perempuan yang tidak mau kepada saya."


"Bohong!"


"Cepat lah keluar teman saya sudah menunggu dari tadi."


"Bapak janji tidak melakukan apapun?"


Dimas mengangguk.


"Oh iya di sana ada teman dan mantan saya, kamu harus berpura-pura menjadi kekasih saya dan jangan panggil saya Bapak."


"Hah? Kenapa bapak tidak ngomong dari awal? kalau aku tau seperti ini aku tidak mau ikut."


"Saya akan membawa kamu kemana pun yang kamu mau." Bela diam.


"Saya akan menuruti dua permintaan kamu tanpa terkecuali setelah kamu melakukan pekerjaan dengan baik."


"Tiga!" ucap Bela.


"Hanya dua!" balas Dimas.


"Kalau begitu aku tidak mau, aku takut bapak pasti mau balas dendam kepada mantan Bapak kan?"


Dimas menghela nafas panjang.


"Baiklah Tiga."


"Deal! Ayo kita masuk."


"Tunggu pak, apa penampilan saya sudah cocok menjadi kekasih Bapak?"


Dimas menatap Bela.


"Huff seandainya dia sadar kalau dia benar-benar sangat cantik," batin Dimas.


"Apa yang sedang aku pikirkan?" dia langsung menepis Pikiran nya.


Tidak beberapa lama sampai di dalam restoran hotel itu.


"Oohh ternyata ada restoran, aku pikir hotel-hotel biasa, aku sungguh norak buat malu saja."


Dimas berjalan lebih dulu. Tiba-tiba dia menggandeng tangan Dimas.


"Bukan kah sepasang kekasih bergandengan tangan seperti ini?"


"Bela benar-benar keterlaluan, bisa-bisa nya dia menggoda saya di tempat seperti ini."


Namun Dimas berusaha untuk cool.


"Hay Romi, hay Jihan." sapa Dimas.


Bela sangat kaget ternyata mantan Dimas adalah pacar dari Menejer nya sebelum nya yang bekerja menjadi OB.


"Hei akhirnya kalian datang juga, silahkan duduk."


"Aduhh bagaimana bisa pak Romi di sini sih? Semoga saja dia tidak mengenali ku."


"Hum dia kekasih kamu?" tanya Jihan.


"Oh iya kenalin nama nya Bela."

__ADS_1


Bela dengan anggun menjulurkan tangan nya sambil tersenyum.


Dia harus bisa menyesuaikan diri agar tidak membuat Dimas malu.


__ADS_2