
Kayla tersenyum mendengar nya. "Kalau bukan aku yang memberikan nya, aku tau kamu tidak akan meminta nya," ucap Kayla.
"Aku tidak mau memaksa kan kehendak ku membuat kamu tidak nyaman," ucap Fahri.
Kayla tersenyum, "Kalau begitu, ayo," ajak nya sambil menarik tangan Fahri ke tempat tidur.
"Kamu yakin mau melakukan nya? Aku takut kita tidak bisa bekerja Besok," ucap Fahri.
"Aku sudah memasang alarm," ucap Kayla.
Fahri hanya bisa tersenyum malu kepada istri nya itu.
Keesokan paginya...
"Sayang...." panggil Roi mengetuk pintu rumah Serli.
Serli menghela nafas panjang. "Itu anak benar-benar yah! Gak siang, malam, pagi sore kerja nya gangguin mulu! Lama-lama aku pindah dari sini," umpat Serli.
Dia membuka pintu. "Sayang, aku datang bangunin kamu," ucap Roi sambil tersenyum.
Dia melihat Serli sudah rapi. "Oohh kamu sudah bangun, aku pikir kamu telat bangun lagi."
"Aku sudah bilang jangan datang untuk beberapa hari ke sini," ucap Serli.
"Kamu kenapa sih bete mulu sama aku, aku ke sini karena aku merindukan kamu. Apa kamu tidak merindukan aku?"
"Ini masih pagi, jangan membuat ku kesal, sebaiknya kamu pergi."
"Aku gak mau, aku mau sarapan di sini," sambil menunjuk bekal yang di bawa oleh nya.
Serli menghela nafas panjang. "Kamu benar-benar aneh banget!" ucap nya.
Mereka masuk ke dalam. "Oh iya sayang, hari ini aku ada latihan lagi di sirkuit, kalau kamu selesai bekerja kamu bisa datang ke sana kan?"
"Aku gak punya waktu, aku sibuk."
"Aku sudah melihat jadwal kamu, hari ini kamu akan pulang cepat, kamu tidak bisa membohongi aku."
"Lagian kamu gak ada kegiatan selain balapan mulut?" tanya Serli. Dengan polos nya Roi menggeleng kan kepala nya.
Serli menghela nafas panjang. "Pokoknya aku tunggu kamu di sana untuk jemput aku, kalau kamu tidak datang aku tidak akan pulang."
"Bodo amat, lebih baik kamu di sana saja," ucap Serli.
"Kamu sungguh jahat, ayo duduk makan dulu."
Serli duduk dan makan bersama kekasih nya itu.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai. "Aku anterin yah?" ucap Roi.
"Gak usah, lagian kamu pakai motor, yang ada rambut ku berantakan sampai di kantor."
"Ya sudah kalau begitu, kamu hati-hati yah," Roi hendak memeluk Serli namun Serli menghindari nya.
"Aku masih kesal kepada kamu, jangan coba-coba mau melakukan hal yang lain!"
"baiklah," ucap Roi.
"Hati-hati sayang, semangat yah kerjanya."
__ADS_1
Roi melambaikan tangan nya.
"Ini semua karena Tami, tapi ketika dia marah seperti itu menggemaskan sekali, aku akan melihat sampai kapan dia akan marah dan mengabaikan ku," ucap Roi.
Tiba-tiba handphone nya berdering telpon dari teman-teman nya yang sudah menunggu nya di lapangan.
Tidak bisa lama-lama dia langsung berangkat ke Tempat tujuan nya.
Dimas mengantarkan istri nya ke kampus setelah itu berangkat ke kantor.
"Bela," Panggil kevin.
"Iyah, kenapa?" tanya Bela.
"Kamu tidak datang bersama Yana?"
"Dia datang sedikit lambat karena dia berangkat dari rumah orang tua nya."
"Oohh, ya sudah kalau begitu ayo ke kelas bareng."
Bela mengangguk.
Tidak beberapa lama Yana datang. Bela dan semua orang yang di dalam kelas belajar dengan fokus.
Setelah kelas pertama selesai Bela, Kevin dan Yana ke kantin bersama.
"Apakah setelah mengandung kamu sering ngidam?" tanya Kevin kepada Bela.
Bela mengangguk. "Aku sering meminta yang aneh-aneh, padahal aku tidak memakannya."
Kevin tersenyum mendengar nya. "Apa kamu mau sesuatu?" tanya Kevin.
"Kamu perhatian banget sama Bela, sesekali tanya aku kek," ucap Yana.
"Kamu mau apa?" tanya Kevin.
"Beliin kami berdua eskrim pakai uang kamu."
"Oke baiklah kalau begitu," ucap kevin.
Serli tersenyum melihat Kevin benar-benar pergi. "Kamu malah memanfaatkan nya," ucap Bela..
"Sesekali," ucap Yana.
"Oh iya bagaimana hubungan kamu dengan kekasih mu itu?" tanya Bela.
"Baik-baik saja, emang nya kenapa?"
"Aku hanya bertanya saja, siapa tau kamu memikirkan nasehat ku yang kemarin."
"Aku masih menyukai nya, kamu juga tau alasan aku gak mau putus dengan nya."
"Apa kamu yakin dia akan serius sama kamu?"
"Yakin lah, dia adalah laki-laki yang baik."
"Humm aku sangat ragu kepada nya," ucap Bela.
"Kamu belum tau dia seperti apa itu sebabnya kamu ragu," ucap Yana.
__ADS_1
Bela menatap Yana. "Hum. sebelum nya aku belum pernah tanya, umur nya berapa dan status nya apa kepada kamu," ucap Bela.
"Aku pikir ini tidak terlalu penting bagi kamu, tapi kalau kamu ingin tau dia umur 35 tahu, status nya duda."
Bela menghela nafas panjang ketika tau status pria itu.
"Sebaik nya kamu perlahan melepaskan dia Yana, aku takut kamu di rugikan."
"Anggap saja yang sudah terjadi berlalu, mau bagaimana lagi tidak mungkin kamu bisa memutar waktu."
"Percaya sama aku kalau pria itu tidak baik."
"Maksud kamu apa sih Bela? Aku curhat sama kamu tentang kisah ku bukan berarti kamu berhak melarang ku dengan seseorang."
"Aku bukan melarang atau ikut campur, aku hanya mengkhawatirkan kamu."
Yana berdiri. "Jadi maksud kamu pacar aku tidak baik? Kamu tidak tau apa-apa," ucap Yana langsung pergi.
Bela kebingungan dia tidak tau respon Yana akan seperti itu.
"Loh, kok Yana pergi?" tanya Kevin.
"Tidak apa-apa," jawab Bela.
"Nih untuk kamu, aku akan memberikan ini kepada Yana."
"Tidak perlu, kamu makan saja itu," ucap Bela.
Mereka berdua makan berdua di meja kantin yang cukup sepi itu.
Untung saja tidak ada yang mendengar perdebatan mereka berdua.
Setelah selesai kuliah Bela jalan-jalan sendirian untuk menghilangkan rasa bosan dan juga sesekali pergi sendirian agar lebih santai.
Di rumah Bela...
"Ayo masuk," ajak Vira kepada Yuda.
Yuda dan Vira sudah mulai akrab. Yuda mau berteman dengan Vira namun ketika di sekolah dia lebih memilih untuk diam saja.
Di kantor Dimas menghubungi istrinya. "Kenapa dia tidak menjawab telpon ku?" batin Dimas.
Mencoba menelpon terus sampai dapat pesan dari istri nya kalau dia lagi nonton bioskop.
Dimas sudah berfikir aneh-aneh, dia bertanya dengan siapa istri nya pergi.
Setelah tau istri nya pergi sendiri, dia langsung meninggalkan perusahaan dan menyusul istrinya.
Tidak beberapa lama sampai di bioskop.
"Apa yang kakak lakukan di sini?" tanya Bela.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau mau Nonton?" tanya Dimas.
"Aku tidak merencanakan ini kak," ucap Bela.
"Bagaimana dengan pekerjaan kakak? Ini masih jam kerja."
"Tidak perlu khawatir, ada Serli dan Fahri di kantor."
__ADS_1
Bela hanya bisa menghela nafas panjang melihat suami nya itu.