
Bela mau mengabaikan nya, namun tiba-tiba pria itu menahan tangan Bela.
dengan cepat dua pria yang sangat tidak asing bagi Bela membantu menangani Pria itu.
Bela menoleh ke arah Dimas, namun Dimas langsung membuang pandangan nya ke arah lain.
Tidak beberapa lama akhirnya Bela keluar dari club itu sudah sangat malam dan juga sudah mabuk.
Dia sempoyongan keluar dari club, karena tidak bisa melihat lebih jelas dia menabrak orang-orang.
Saat dia mau menabrak dinding, tiba-tiba Dimas menarik tangan Bela mengarahkan ke jalan yang benar dan berjalan sampai keluar.
Bela sadar kalau ternyata yang membantu nya adalah Dimas.
"Kak Dimas..." ucap Bela sambil tersenyum menatap wajah Dimas. Dimas melepaskan Bela yang tiba-tiba menatap nya sambil tersenyum.
"Kamu sangat mabuk, saya akan mengantar kan kamu pulang." Bela menggeleng kan kepala nya.
"Aku tidak mabuk, aku bisa pulang sendiri."
"Bela jangan menolak nya, saya akan mengantar kan kamu, masuk ke dalam mobil saya."
"Gak mau, aku gak mau!"
Bela melepaskan tangan Dimas dari tangan nya dia menjauh dan hampir saja jatuh namun dia langsung duduk di kursi.
Tiba-tiba Bela menangis membuat semua orang menatap ke arah mereka.
"Maafin aku, tidak mungkin aku membiarkan kamu sendirian di sini," ucap Dimas langsung menggendong Bela.
"Turun kan aku, aku takut kamu akan menjadi kan aku pelampiasan."
Dimas menghela nafas panjang mendengar ucapan Bela yang tak kunjung berhenti mengumpat ke dia.
Tidak beberapa lama sampai di dalam mobil Dimas.
"Saya akan mengantar kan kamu pulang."
Bela tiba-tiba mau muntah dia mengeluarkan isi perut nya di baju Dimas dan mengotori sampai ke sepatu dan isi mobil Dimas.
Dimas kesal namun percuma saja dia marah karena Bela tidak akan sadar.
Terpaksa dia membawa Bela ke apartemen Bela.
Sesampainya di apartemen Dimas menggendong Bela ke dalam.
"Om Dimas, kenapa om di sini? Mbak Bela kenapa?" tanya Vira.
Dimas melihat ke arah Bibik yang menatap dia kebingungan.
"Saya tidak berniat apa-apa Bik, namun Bela mabuk, saya membantu membawa nya pulang ke sini."
__ADS_1
Bibik meminta Dimas mengantarkan nya ke kamar.
"Om Dimas mau pulang?" tanya Vira menahan Dimas yang hendak membuka pintu untuk pulang.
Dimas mengangguk. "ini sudah malam, dan paman juga sangat kotor, besok pagi om janji akan datang ke sini."
"Om janji?" tanya Vira. Dimas mengangguk.
"Ya sudah kalau begitu Om, hati-hati di jalan yah," Vira mencium pipi Dimas dan mengijinkan Dimas untuk pulang.
Keesokan harinya Bela bangun karena alarm Handphone nya yang begitu kuat sekali.
"Arrhh!! Kepala ku sangat sakit sekali," ucap nya berusaha untuk membuka mata nya sambil memegang kepala nya yang sakit.
Dia melihat matahari yang menembus sela-sela jendela kamar nya.
"Kenapa sudah jam tujuh lewat aja sih? Huff aku sangat mengantuk sekali."
Akhirnya dia duduk dan baru sadar kalau pakaian nya sudah ganti dan berada di dalam kamar nya.
"Tunggu, perasaan tadi malam aku mabuk berat," dia memaksa untuk mengingat semua nya.
Setelah dia ingat Dimas menggendong dan juga dia mengotori pakaian Dimas.
"Aduhh!! Kenapa aku mempermalukan diri sendiri seperti itu."
"Vira! Bagaimana dengan Vira?" tanya nya langsung keluar dari kamar.
"Kamu ngapain Vira? Kenapa tidak siap-siap ke sekolah?" tanya Bela.
"Mbak ini hari Sabtu, aku tidak sekolah."
Bela baru menyadarinya ini hari Sabtu.
"Kamu mau bawa itu kemana? Bagaimana kalau kaki kami terkena air panas?" tanya Bela.
"Ini untuk om Dimas Mbak."
"Om Dimas?" Vira mengangguk.
Bela kaget karena sepagi ini Dimas ada di apartemen nya.
"Tunggu jangan bilang kalau Pak Dimas yang sudah menukar pakaian ku dan juga membawa ku ke kamar?"
Bela sangat panik dia kebingungan dia juga sangat takut sekali kalau yang di pikiran nya itu benar.
"Apa yang sudah aku lakukan? Ini sungguh gila."
Bela melihat ke depan ternyata Dimas dan Vira sedang belajar bersama.
Dimas melihat Bela. "Kamu sudah sadar?" tanya Dimas.
__ADS_1
Bela mengangguk memasang wajah yang benar-benar sangat merasa malu.
"Aku minta maaf tentang tadi malam pak," ucap Bela.
"Tidak apa-apa, hanya saja.."
"Saya akan tanggung jawab," ucap Bela langsung.
"Baiklah kalau begitu ambil lah ini," ucap Dimas memberikan kunci mobil dan juga paperback.
"Apa saya harus menjadi supir Bapak?"
"Tidak perlu! Kam harus tanggung jawab membersihkan mobil saya yang kotor dan juga pakaian saya yang sangat kotor karena kamu."
Bela menghela nafas panjang, dia langsung mengangguk dan mengambil kunci mobil itu.
Seharian Dimas di apartemen Vira menunggu Bela pulang dari cucian mobil dan juga menunggu pakaian nya kering.
"Aarrhhh!! Kalau benar-benar pak Dimas tidur di apartemen ku malam ini, sudah tidak bisa di pungkiri kalau dia lah yang mengganti pakaian ku."
Di siang hari Bela baru saja pulang dia melihat Dimas dan Vira ketiduran di karpet ruang TV milik nya.
"Pak.. Pak.." Dimas terbangun.
"Maaf saya ketiduran." ucap Dimas.
"Saya sudah selesai membersihkan mobil dan juga pakaian Bapak, bapak bisa pulang sekarang, sekali lagi saya minta maaf."
Dimas bangun dia menatap Bela. "Huff setelah saya mengantar kan kamu pulang dan juga menemani Vira di sini kamu mengusir saya seperti ini?"
Bela menghela nafas panjang. "Apa saya harus membayar Bapak, berapa yang harus saya bayar karena sudah membantu mengantarkan aku pulang dan tidak sopan sudah mengganti pakaian wanita tampa ijin!" ucap Bela.
Dimas baru paham kenapa kelihatan nya Bela dari tadi sangat malu, ternyata karena itu.
"Saya tidak butuh uang kamu."
"Kalau begitu Bapak mau apa?"
Tiba-tiba perut Dimas berbunyi. "Huff perut saya sangat lapar, Sejak pagi saya belum sarapan karena saya langsung ke sini."
"Langsung ke sini? Itu artinya bapak tidak menginap di sini?" tanya Bela.
"Kenapa? Apa kamu takut saya melihat tubuh mu? Apa kamu lupa saya sudah pernah melihat nya sebelum nya."
Bela langsung memasang wajah kesal. "Lalu siapa yang mengganti nya?" batin Bela.
"Semalam Bibik masih di sini bersama Vira, dia membantu kamu menukar pakaian kamu," ucap Bela bernafas lega.
"Apa kamu masih marah kepada saya?" Bela tidak menjawab nya.
"Saya ke sini karena Vira menghubungi saya sangat pagi, saya juga tidak bekerja karena Vira melarang saya pergi."
__ADS_1
Bela menatap Vira. "Aku minta maaf tentang Vira yang memaksa bapak di sini, tapi sekarang bapak sudah bisa pergi."