Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 73


__ADS_3

"Pak, Apa Ayah saya masih lama datang nya?" tanya Bela.


"Pak Irfan masih memiliki pekerjaan di luar kota, mungkin bukan beliau yang datang ke sini melainkan asisten nya."


"Asisten? bukan nya Ayah saya yang janji mau datang menjemput saya ke sini?" tanya Bela.


Tidak ada jawaban, namun tiba-tiba asisten yang di bilang pengawal itu sudah datang, wanita cantik dan sangat seksi sekali.


"Apa kamu membawa apa yang di minta oleh pak Irfan?" tanya wanita itu dengan nada yang sedikit tidak enak.


Bela sangat Heran kenapa mereka semua tidak ada yang sopan karena dia adalah anak dari bos mereka.


"Mana yang di minta oleh bos?" tanya wanita itu sekali lagi. Bela dengan sangat polos memberikan nya.


Tidak membuka kotak itu terlebih dahulu namun mereka langsung meminta pengawal membakar kotak itu.


"Kenapa di bakar? saya bersusah paya mendapatkan nya, namun kenapa sekarang malah di bakar?" tanya Bela.


"Bukan urusan kamu! Apa kamu karena kamu lah bos seperti ini."


Bela terdiam bingung kenapa semua orang menyalah kan dia.


Hari semakin malam Bela sudah sangat lapar dia duduk di sofa itu dari siang sampai malam.


"Tidak mungkin aku pulang ke rumah Kak Dimas, aku tau dia pasti sudah mengetahui semua nya, sebaiknya aku tidak perlu Pulang, mungkin Ayah akan datang sebentar lagi."


"Kak Dimas sangat jahat, dia sudah membuat Ibu ku sekarang terbaring di rumah sakit."


Dan benar saja tidak beberapa lama akhirnya ayah nya datang.


"Bela."


Bela langsung bangun dia sangat senang melihat pak Irfan datang.


Pak Irfan melentangkan kedua tangan nya dan Bela berlari memeluk dia.


"Kerja bagus sayang, sekarang kamu tinggal sama Ayah, kamu tidak perlu tinggal bersama pria itu."


Bela sangat senang dia pun menginyakan, sebelum ke rumah Pak Irfan mereka singgah untuk makan terlebih dahulu.


"Vira dan Ibu masih di rumah sakit?" tanya Bela.


"Vira sudah di rumah, dia sangat merindukan kamu, ibu mu masih di rumah sakit."


"Aku sangat merindukan mereka Ayah, aku ingin bertemu dengan mereka."


"Iyah besok kita ke sana, sekarang kita pulang dulu."

__ADS_1


Bela melanjutkan makan, setelah selesai mereka langsung pulang karena sangat lama di perjalanan dia ketiduran di dalam mobil sehingga tidak terasa sudah sampai saja di rumah Irfan yang sesungguhnya.


Terlihat sangat sepi tidak ada tetangga Hany di rumah itu yang ada di sana. Namun sekeliling rumah itu ada Pengawal.


pak Irfan membangun kan Bela.


"Ini rumah Ayah?" tanya Bela.


"Iyah ini rumah Ayah yang sesungguhnya."


"Kenapa Selama ini Ayah tidak datang mencari aku dengan Vira? Kenapa Ayah membiarkan kamu di luar sana?" tanya Bela.


"Maafin ayah yah sayang, ini semua karena Dimas yang mencoba menghalangi ayah mendapatkan kamu, dia menjadi kan kamu kekasih nya hanya ingin balas dendam dan ingin membunuh Ayah."


Mendengar itu Bela semakin membenci Dimas.


"Sudah-sudah, sebaik nya kita masuk saja, Vira pasti sudah menunggu kita di dalam."


Dia masuk ke dalam dan melihat Vira bersama pengasuh nya.


"Mbak Bela... Mbak dari mana saja? kenapa mbak baru datang? Aku sangat merindukan mbak."


Bela memeluk Vira.


"Mbak ada urusan di luar, mbak juga sangat merindukan kamu."


"Ya sudah kalau begitu kalian berbicara lah, Ayah mau ke kamar dulu."


Bela melihat Ayah nya naik ke lantai atas, dia melihat rumah yang begitu mewah, besar dan sangat sepi.


"Bik apa rumah ini tidak ada orang lain?" tanya Bela.


"Hanya beberapa pelayan saja yang ada di sini."


"Humm kalau boleh tau apa Ayah ku sudah lama tinggal di sini?" tanya Bela.


"Sudah sangat lama dan beliau juga sangat jarang tidur di sini karena beliau memiliki banyak rumah, tempat untuk di tinggali karena rumah ini sangat jauh dari kota."


"Jauh?"


"Loh, non gak sadar kalau rumah ini sangat jauh?"


Bela tiba-tiba diam.


"Kenapa ayah membuat rumah sangat jauh seperti ini?"


"Saya tidak tau pasti nya Non."

__ADS_1


Bela dan Vira di suruh istirahat.


Dimas di rumah nya benar-benar prustasi dia tidak tau harus bagaimana, dia meminta bantuan Fahri agar Roi masih mau membantu nya.


Fahri mendengar semua nya dari Kayla, seperti tidak percaya Bela seperti itu, namun kenyataannya sekarang itu semua terjadi."


Fahri memutar pikiran nya. Akhirnya dia memberanikan diri menemui Roi, dia mencari ke apartemen Roi namun ternyata dia tidak ada di sana.


"Kemana dia? Apa dia sedang di luar?"


Fahri menghubungi nya dan ternyata benar saja kalau Rio di luar.


Fahri ingin bertemu dengan Rio.


Tidak beberapa lama mereka bertemu.


"Aku meminta bantuan kamu Fahri." ucap Rio setelah sampai di markas Rio.


"Aku sudah meletakkan pelacak di mobil yang membawa Bela dan sekarang aku sudah tau di mana kediaman pak Irfan selama ini."


Fahri melihat semua nya yang sudah di lacak oleh Rio.


"Tunggu-tunggu, bagaimana bisa kamu melakukan ini? bukan nya kamu sendiri yang bilang mau berhenti membantu pak Dimas?"


"Kita bicara kan itu nanti, saya ingin kamu menemani saya."


"Saya belum mendapatkan Ijin dari pak Dimas."


"Pak Dimas tidak boleh tau, kalau pak Dimas ikut mereka semua bisa saja membunuh Dimas."


Mendengar itu saja Fahri sudah sangat takut."


Hari itu mereka berangkat ke lokasi, berangkat ke sana membutuhkan waktu satu hari karena mereka tidak mau menggunakan akses yang biasa di gunakan oleh pak Irfan.


"Aku tidak menyangka wanita sepolos Bela ternyata tidak bisa di percaya, dia sudah menghianati orang yang sudah mencintai nya dengan tulus." ucap Rio.


"Bela tidak seperti itu, aku yakin dia pasti terpaksa melakukan nya, dia pasti di tekan oleh pak Irfan."


"Kamu di butakan sama seperti pak Dimas, hanya karena Bela cantik dan polos Kalian mencintai nya sehingga tidak sadar kalau wanita itu menyusuk kalian." ucap Rio.


"Aku yakin Bela tidak seperti itu, dia pasti melakukan itu karena terpaksa atau ada maksud tertentu yang pasti nya bukan untuk diri sendiri."


"Huff kau sama saja seperti pak Dimas, sudah jangan membahas itu."


"Setelah sampai di sana apa yang akan kita lakukan? Sekarang bukti sudah tidak ada," ucap Fahri.


"Kita harus mengikuti pergerakan pak Irfan, sedikit demi sedikit kita pasti akan mendapatkan bukti yang lebih besar."

__ADS_1


"Aku yakin masuk ke dalam wilayah pak Irfan pasti sangat sulit," ucap Fahri.


"Kamu ikut saja, jangan banyak protes." ucap Rio.


__ADS_2