
"Maafin om yah, om baru bisa datang karena banyak pekerjaan."
"Ayo anak-anak masuk dulu ke kelas." anak-anak harus masuk ke kelas karena mau lanjut belajar sementara Dimas bersama ketua yayasan.
"Pak Dimas sudah lama tidak datang ke sini bagaimana kabar bapak?" tanya ketua yayasan.
"Sehat Bu, Ibu apa kabar?" tanya Dimas.
"Alhamdulillah baik Pak, kalau boleh tau Bapak ada kepentingan apa ke sini?" tanya ketua yayasan itu.
"Seperti biasa Bu."
"Oohh mau ketemu Vira?" tanya ibu itu.
Dimas mengangguk.
"Tapi sekarang Vira sedang tidak mau bertemu dengan siapa-siapa, saya juga tidak tau kenapa dia kenapa begitu."
"Maksud nya Bu?"
"Setiap kali bertemu orang lain Vira selalu menjerit-jerit."
"Apa saya boleh bertemu dengan dia?" tanya Dimas.
"Bapak yakin?" Dimas mengangguk.
Setelah itu ketua yayasan mengantarkan Dimas ke kamar Vira.
Dimas melihat dari pintu Vira yang sedang membaca buku.
Vira gadis kecil umur delapan tahun yang sudah dari bayi di panti asuhan.
Vira memiliki penyakit yang aneh, dia hanya bisa berinteraksi dengan orang yang di kenal oleh nya dia juga sangat mudah ketakutan.
"Vira.."
Dimas mendekati Vira yang menoleh ke arah nya.
"Kenapa kamu di kamar saja? Kenapa tidak ikut bergabung bersama teman-teman mu?" tanya Dimas.
Vira menggeleng kan kepala nya.
"Kamu gak ingat sama om lagi yah?" tanya Dimas, Vira menggeleng kan kepala nya.
"Ini Om Dimas," Vira tetap tidak mengenal nya.
Dimas berusaha memperkenalkan diri agar Vira mengingat nya namun Vira lama-lama mengingat nya dan langsung akrab dengan Dimas.
"Maaf yah Om baru saja bisa datang ke sini melihat kamu."
"Om kemana saja? Om janji akan datang setiap hari melihat ku dan menghukum semua anak-anak yang membuly ku," ucap Vira.
"Kamu masih di gangguin sama anak-anak yang lain?" tanya Dimas.
"Kalau begitu kamu tidak perlu khawatir, om akan berbicara kepada guru-guru dan juga murid-murid lain nya," ucap Dimas.
"Oh iya nih Om bawa sesuatu untuk kamu. Besok kan ulang tahun kamu," ucap Dimas.
"Ini apa Om?"
"Ini bekal makanan, Om dengar kamu suka sampai sore di sekolah jadi kamu harus bawa bekal agar tidak kelaparan."
__ADS_1
"Terimakasih banyak Om. Oh iya aku juga punya hadiah untuk Om."
Vira memberikan satu papan lukisan kepada Dimas.
"Ini aku sama Om Dimas."
Dimas tersenyum melihat lukisan yang lumayan bagus.
"Aku sudah membuat nya cukup lama, namun Om tidak pernah datang, itu sudah sedikit usang."
Dimas tersenyum. "Ini sangat cantik sekali, Vira. Om akan membawa nya pulang dan memajang nya di ruang tamu agar semua orang yang datang melihat nya." ucap Dimas.
Vira tersenyum
Dimas menatap wajah Vira.
"Apa kamu tau siapa yang menemani Om membeli bekal ini untuk kamu?" tanya Dimas.
"Pasti orang tua om yah? Mereka pasti sayang sama Om."
Dimas menggeleng kan kepala nya.
"Salah."
"Lalu siapa Om? Pasti pacar om kan?"
Dimas menggeleng kan kepala nya dia membuka handphone nya dan menunjuk kan foto Bela yang di ambil nya diam-diam."
"Lihat lah," sambil menunjuk kan layar handphone nya kepada Vira.
"Dia sangat cantik sekali Paman, apa itu adik Paman?"
Vira tersenyum, "Aku yakin nanti kalau aku sudah besar aku pasti sangat mirip pada nya." ucap Vira
"Tentu saja kalian akan mirip, sedangkan saja kalian sangat mirip. Aku semakin percaya kalau kalian adalah saudara kandung." batin Dimas.
Cukup lama Dimas di sana menemani Vira yang sama sekali tidak memiliki teman.
Dimas sudah cukup lama mengenal Vira dari umur nya tujuh tahun. Namun Dimas baru dekat dengan Vira akhir-akhir ini, awalnya dia ingin memanfaatkan Vira sebelum Bela namun dia tidak tega melihat Vira.
Selain itu Vira juga sangat baik. Seiiring berjalan nya waktu Dimas mulai menganggap Vira seperti Keponakan nya sendiri walaupun pun masih kurang dekat.
Bela di rumah dia melihat jam sudah jam sepuluh malam.
"Apa hari ini pak Dimas tidak pulang?" batin Bela.
Namun tiba-tiba suara mobil terdengar dari luar dia membuka pintu dan benar saja Dimas lah yang pulang.
"Bapak dari mana saja? kenapa Bapak baru pulang?" tanya Bela.
Dimas menatap wajah Bela.
"Kamu mengkhawatirkan saya?" tanya Dimas.
Bela terdiam langsung karena tidak biasa nya dia langsung bertanya seperti itu.
"Maafkan saya pak sudah lancang. Saya berfikir kalau Bapak tidak pulang malam ini."
"Bukan nya kamu senang kalau saya tidak pulang?" tanya Dimas.
Bela terdiam lagi. Dimas memberikan lukisan itu kepada Bela.
__ADS_1
"Minta orang lain memasang ini di ruang tamu," ucap Dimas.
"Ini punya siapa Pak? Ini seperti mirip dengan Bapak, dan anak kecil ini siapa?" tanya Bela.
"Anak saya."
"Apa? Bapak sudah punya anak?" tanya Bela kaget.
"Ssttt!!! Kamu bisa diam tidak?" Dimas langsung menutup mulut Bela dengan tangan nya.
Bela kaget begitu juga dengan Dimas kedua nya sama-sama reflek.
Bela menatap Dimas yang juga menatap nya.
"Ini sudah malam, bagaimana kalau ada yang mendengar dan salah paham. Saya hanya bercanda." ucap Dimas.
"Ya lagian Bapak kenapa harus bercanda? Bapak tidak cocok bercanda," ucap Bela.
Dimas menghela nafas panjang membuat Bela langsung menutup mulut nya lagi agar tidak keceplosan.
"Itu bukan anak saya, dia adalah keponakan saya."
"Oohh berarti Bapak bertemu dengan keponakan Bapak hari ini?" tanya Bela.
"Kenapa kamu sangat kepo dengan urusan saya? sebaiknya kamu siapkan saya makan malam."
"Loh Bapak belum makan? Saya tidak masak apa-apa."
"Bagaimana bisa kamu tidak masak? Apa kamu tidak tau tugas kamu apa?"
"Baiklah kalau begitu saya akan masak Pak."
Bela langsung ke dapur. Dimas melihat Bela berlari ke dapur.
"Wajah nya semakin lucu ketika penasaran dan khawatir," batin Dimas.
Dimas makan setelah makanan yang di masak oleh Bela selesai.
"Apa kamu sudah makan?" tanya Dimas.
"Bapak makan saja," ucap Bela.
"Duduk lah dan makan bersama saya."
"Tidak perlu pak, saya sudah makan tadi."
"Kamu berani menolak saya?"
Bela langsung mengangguk dan makan di depan Dimas.
"Sebelum tidur nanti saya mau membicarakan hal yang penting dengan kamu."
"Ada apa Pak? Apa saya melakukan kesalahan lagi?" tanya Bela.
"Saya bilang bahas setelah makan sebelum tidur di kamar, jangan di sini," ucap Dimas.
Bela jadi kefikiran karena takut apa yang mau di bicarakan oleh mereka secara privasi.
"Baiklah Pak."
"Habis lah aku, aku yakin pak Dimas pasti akan menghukum ku habis-habisan, siapa yang sudah mengadukan aku duduk di balkon bersama Fahri."
__ADS_1