Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 210


__ADS_3

"Masuk angin? Tidak mungkin karena saya tau tanggal menstruasi nya dan dia sudah telat cukup lama."


Serli tiba-tiba tersenyum ketika mendengar Dimas menghapal tanggal menstruasi istri nya.


Tampa ada rasa malu, dan juga gengsi dia mengatakan hal itu.


"Kenapa kamu tersenyum? saya sedang serius!" ucap Dimas merasa kesal dengan tanggapan Serli.


"Bukan pak, saya hanya tersenyum saja karena seperti nya bapak sudah memahami istri Bapak."


"Jelas saya sangat memahami nya karena saya mencintai nya, sekarang beritahu kepada saya dia benar-benar hamil kan?"


"Saya tidak tau pak, sebaik nya pergi ke rumah sakit untuk memeriksa nya."


"Tapi istri saya tidak mau, seperti nya dia belum siap memiliki anak."


"Lalu saya harus apa pak, saya tidak bisa membantu Bapak," ucap Serli kebingungan.


"Kamu harus membujuk istri saya agar dia pergi bersama saya ke rumah sakit." ucap Dimas.


Serli menghela nafas panjang.


"Sebaiknya bapak membicarakan nya baik-baik, kalau hamil kan sudah rejeki," ucap Serli.


"Kamu benar juga, saya sudah tidak sabar memiliki anak," ucap Dimas.


Setelah itu Serli keluar dari ruangan Dimas. Dia senyum-senyum sendiri melihat tingkah bos nya itu.


Di sore hari nya...


"Sayang.. Kamu di mana?" tanya Dimas setelah sampai di rumah namun tidak mendapati istrinya di rumah.


"Sayang...." panggil nya.


Namun dia tidak melihat istri dan juga Vira.


Akhirnya dia menelpon nomor Bela.


Ternyata Bela dan Vira pergi belanja isi dapur ke supermarket.


Dimas duduk di ruang tamu sambil melihat benda kecil yang ada di tangan nya.


"Mungkin dia tidak mau ke rumah sakit karena jauh, tapi kalau memeriksa dengan ini mungkin dia tidak akan menolak."


Tidak beberapa lama Bela pulang, Dimas membantu membawa semua belanjaan Bela ke dalam.


"Sayang, ikut aku sebentar," ajak Dimas.


"Ngapain?" tanya Bela karena Dimas menarik nya ke kamar mandi.


"Aku masih sangat lelah, jangan aneh-aneh deh," ucap Bela berfikir kalau Dimas mau melakukan sesuatu di dalam sana.


Namun tiba-tiba Dimas menunjuk kan tespek di tangan nya.


"Kamu periksa sekarang kalau kamu tidak ingin ke rumah sakit," ucap Dimas.


Bela menghela nafas panjang. "Huff sudah ku bilang aku tidak hamil kak," ucap Bela.


"Aku mengatakan kamu hamil, jadi sekarang kamu harus periksa."


Bela menghela nafas panjang, dia pun langsung memeriksa nya dan di tunggu oleh Dimas.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian hasil nya keluar. Dimas tidak bisa berkata-kata melihat hasil nya garis dua.


Bela juga tidak menyangka kalau dia hamil begitu cepat.


"Sayang... Kamu hamil, aku sudah bilang kalau kamu hamil. Dan aku akan akan mempunyai anak."


Dia memeluk Bela sambil melompat kegirangan.


"Alhamdulillah," ucap Dimas tidak berhenti bersyukur dan mencium perut Bela.


"Vira.. Kamu harus tau kalau Mbak Bela hamil."


"Wah sebentar lagi aku akan punya teman bermain," ucap Vira tidak kalah senang nya.


Bela awalnya syok, namun melihat Vira dan Dimas bahagia terlebih lagi dia tidak melihat suami nya tertawa bahagia seperti itu.


"Pokoknya mulai dari sekarang kamu harus menjaga kesehatan dengan baik, besok kita akan ke rumah sakit, kamu sekarang istirahat."


"Aku harus masak kak."


"Tidak perlu, aku akan memasak."


"Jangan aneh-aneh deh kak, kakak akan membuat dapur seperti kapal pecah nantinya." ucap Bela.


"Kalau begitu kita bisa beli."


"Aku tidak berselera makan masakan orang lain," jawab Bela.


"Kalau begitu aku akan bantu kamu."


Dimas membantu Bela memasak sampai selesai.


"Kak...." panggil Bela dari arah kamar karena Dimas duduk di depan.


"Iyah, kenapa?" tanya Dimas.


"Ini sudah malam, ayo tidur," ucap Bela.


"Sebentar lagi, kamu tidur saja duluan."


"Auhh!!!!! Perut ku sangat sakit."


Dimas langsung menutup laptopnya.


"Sayang kamu gak kenapa-napa kan? Anak kita gak apa-apa kan?" tanya Dimas langsung.


"Aku tidak apa-apa." Bela langsung sehat ketika Dimas masuk ke dalam kamar.


Dimas menghela nafas panjang. "Jangan bercanda dengan hal seperti ini, kamu membuat aku khawatir."


"Makanya kalau dipanggil sekali langsung datang, ini sudah malam nasi ada waktu untuk bekerja besok."


"Iyah-iyah, aku minta maaf, kalau begitu ayo istirahat."


Bela tidur di lengan suami nya.


Keesokan harinya tepat hari Minggu...


Dimas dan Bela meminta semua keluarga nya untuk ikut makan di luar hari ini.


"Tumben-tumbenan banget kamu ngajak kita semua makan bersama di luar seperti ini?" tanya Kayla.

__ADS_1


Dimas tersenyum. "Aku ingin lebih banyak membuat kenangan bersama keluarga ku, karena selama ini kita sangat berjarak," ucap Dimas.


"Akhirnya kamu sadar juga kalau kamu seperti itu, selalu sibuk dengan urusan sendiri." ucap Kayla.


"Sudah jangan berdebat," ucap Nenek.


"Hum Tante Kayla semakin cantik dan kelihatan lebih berseri," ucap Bela kepada Kayla.


Kayla tersipu malu, bagaimana tidak dia terlihat bahagia, dia sudah menikah dengan orang yang tepat.


"Kamu sakit yah? Wajah mu sangat pucat sekali," ucap Kayla.


"Iyah Tante, kurang enak badan."


"Ini semua pasti karena Dimas kan? Dia pasti membuat mu bergadang," ucap Kayla.


"Iyah, benar banget tebakan Tante, karena sekarang Bela hamil."


Semua keluarga kaget mendengar nya.


"Hami?" tanya mereka. Dimas tersenyum sambil mengangguk.


"Alhamdulillah..." nenek dan kakek langsung bersyukur sekali.


Semua keluarga juga ikut bahagia.


"Wahh sebentar lagi Dimas akan menjadi ayah, selamat yah nak," ucap Tante dan om nya.


"Selamat yah Bela," ucap Kayla dan Fahri.


"Terimakasih, semoga kalian secepatnya nyusul."


Kayla tersenyum.


Tidak beberapa lama akhirnya selesai makan. Keluarga pada pulang karena mereka masih ada urusan masing-masing.


Sementara Nenek dan kakek membawa Vira jalan-jalan keliling mall di kawal oleh dua pria tampan yaitu Dimas dan Fahri.


Tinggal hanya Bela dan Kayla di meja mereka tadi menunggu suami nya.


"Apakah Tante masih bekerja seperti biasa?" tanya Bela.


Kayla mengangguk. "Mana mungkin aku berhenti, aku sangat ingin berhenti bekerja kalau Fahri mau pindah mengambil jabatan ku."


"Loh bukannya sekarang Fahri memiliki pekerjaan sendiri?" tanya Bela.


"Iyah sih, hanya saja kamu tau kan, kalau seperti ini kita sibuk dengan pekerjaan masing-masing, dan lagian dia sangat sering keluar kota dan meninggalkan aku."


Bela tersenyum. "Yang sabar yah," ucap Bela.


"Oh iya, kamu lagi mengandung kamu harus hati-hati dan tidak boleh terlalu kelelahan."


"Iyah Tante."


"Anak yang di kandungan kamu sangat banyak orang menunggu nya, dia adalah pewaris keluarga ini, jadi harus di jaga."


Bela tersenyum. Kayla mengelus perut Bela.


"Semoga cepat nular sama Tante," ucap Bela.


Kayla tersenyum. "Seperti nya aku masih lama, kamu masih subur sementara kamu tau sendiri aku sudah tua." ucap Kayla.

__ADS_1


__ADS_2