Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 164


__ADS_3

"Kakak tidak perlu khawatir, aku tetap mau menikah sama kakak," ucap Bela.


Dimas tersenyum, dia memeluk Bela mencium pucuk kepala nya.


"Ya sudah kalau begitu, kamu langsung pulang yah, aku dan Fahri masih harus menemui Bu Sisi."


Bela mengangguk. "Apa aku perlu ikut?"


"Tidak perlu sayang, kamu pulang saja."


Bela mengangguk. Setelah itu mereka langsung menemui Bu Sisi.


Bu Sisi tampak senang ketika Dimas datang.


"Nak Dimas, akhirnya kamu datang melihat keadaan ibu di sini," ucap Bu Sisi.


Dimas menghela nafas panjang. "Kedatangan saya ke sini mau minta ijin kepada ibu untuk menikahi Bela."


Bu Sisi terkejut mendengar permintaan Dimas.


"Kenapa ibu diam?" tanya Dimas.


Bu Sisi menggeleng kan kepala nya. "Apakah nak Dimas sudah memikirkan ini semua dengan baik?" tanya Bu Sisi.


"Kami saling mencintai nya dan hubungan kami juga sudah cukup lama," ucap Dimas.


"Tapi bagaimana dengan tanggapan keluarga mu? Bagaimana dengan tanggapan semua orang?" tanya Bu Sisi.


"Apapun itu, tujuan saya hanya ingin melindungi Bela dan juga Vira, saya ingin membuat nya bahagia."


"Saya tidak menyetujui nya," ucap Bu Sisi.


"Kenapa Bu? Apa ibu ingin anak ibu selama nya menderita?" tanya Dimas.


"Aku ingin ibu merestui nya karena ini adalah kebahagiaan Bela juga."


Bu Sisi terdiam sejenak. "Saya ke sini bukan hanya mau mengatakan itu, saya ke sini ingin bertanya kepada ibu."


"Saya ingin tau bagaimana hubungan ibu dengan Ayah saya?"


"Kenapa harus bertanya tentang itu nak?"


"Saya ingin dengar penjelasan langsung dari ibu? kenapa ibu sangat tega membuat semua nya seperti ini."


"Ini semua salah saya," ucap Bu Sisi.


Dimas menghela nafas panjang. "Apa ibu tau, tiga orang anak terlantar hanya karena perbuatan ibu ini."


"Maafin saya. Saya benar-benar minta maaf."


Fahri langsung membawa Dimas keluar dari sana sebelum terlanjur emosi.


"Jangan emosi pak," ucap Fahri.

__ADS_1


Dimas menghela nafas panjang. Mereka mencari tempat untuk minum agar bisa menenangkan diri.


"Sekarang bapak sudah tenang kan? Saat nya bapak menyiapkan pernikahan."


Dimas menatap Fahri. "Saya akan membicarakan nya dengan Bela terlebih dahulu."


Fahri tersenyum sambil mengangguk. Dimas menatap Fahri yang terlihat biasa-biasa saja sementara Kayla tampak kesal.


"Fahri, apa kamu dengan Tante Kayla ada masalah?" tanya Dimas. Fahri menggeleng kan kepala nya.


"Tidak ada Pak, hanya saja tadi malam tiba-tiba dia marah kepada saya. Sampai sekarang dia tidak mengajak saya berbicara."


Dimas menghela nafas panjang. Di malam hari nya Dimas dan Bela bertemu di restoran hotel yang cukup privasi.


Dimas bersandar di pundak Bela sambil menggenggam tangan Bela.


"Mau sampai kapan kita seperti ini kak? sudah hampir satu jam kita di sini kakak hanya memainkan jari-jari ku dan tidur di pundak ku."


"Kamu tidak suka aku di sini bersama kamu? Aku sangat merindukan kamu."


Bela menghela nafas panjang. "Bukan seperti itu kak, hanya saja ini sudah malam. Bagaimana kalau orang tua kita di sini."


Dimas menatap Bela. "Berhenti memikirkan orang lain, sekarang aku ingin bersama kamu di sini."


"Kakak bilang mau membicarakan soal pernikahan, lalu kenapa setelah sampai di sini malah manja-manjaan seperti ini?" tanya Bela.


Dimas duduk dengan baik. "Oke baiklah mari kita bahas tentang itu," ucap Dimas.


"Apa ini?" tanya Bela.


Dimas membuka nya ternyata cincin.


"Aku mau melamar kamu menjadi tunangan ku." ucap Dimas.


"Mendadak? Hanya kita berdua saja?"


"Ini terlihat sangat aneh, tapi aku ingin kita segera menikah."


Bela tersenyum. Dia mengambil cincin itu.


"Aku sudah lama melihat cincin ini, seperti nya dari dulu kakak sudah lama ingin melamar ku."


"Kamu benar, tapi aku tidak memiliki keberanian," ucap Dimas.


Bela tersenyum. "Setelah ini kita akan membicarakan tanggal pernikahan yang bagus."


Bela mengangguk. "Oh iya untuk beberapa hari ke depan nya, mungkin aku akan memperkenalkan kamu ke kakek dan nenek ku terlebih dahulu."


"Setelah itu kamu harus mengenal keluarga ku."


Bela mengangguk.


"Dan kamu, apakah kamu ingin mengenal kan aku ke seseorang? Aku sama sekali tidak keberatan."

__ADS_1


Bela menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak memiliki keluarga, aku tidak tau mengenalkan siapa kepada kakak, karena hanya Vira yang aku punya."


"Tidak perlu sedih karena sebentar lagi Keluarga ku adalah keluarga mu."


"Apakah sebelum nya Kakek dan nenek, kakak tau dengan hubungan kita?"


Dimas menggeleng kan kepala nya. "Mendengar hubungan kita mungkin mereka cukup kaget, tapi sekarang mereka adalah orang tua ku pengganti mamah sama Papah."


"Kamu tidak perlu memikirkan banyak hal, atau mencemaskan sesuatu karena selagi aku bersama kamu, kamu pasti akan bahagia."


Bela memeluk Dimas.


"Kalau seperti ini, aku tidak ragu menikah dengan kakak."


"Oh iya, kamu pasti kefikiran kan dengan kata-kata pak Irfan di tahanan tadi."


"Jika suatu saat nanti aku seperti itu, jangan segan-segan melakukan hal yang pantas untuk ku."


Bela memukul perut Dimas. "Jangan bercanda deh kak, apa kakak menyindir orang tua ku?"


"Bukan sayang, mungkin kalau salah satu diantara kita seperti itu, bisa jadi kita melakukan hal yang sama."


"Aku tidak akan pernah mendua dari kamu, aku janji kamu adalah cinta terakhir ku," ucap Dimas. Bela tersenyum dia juga berjanji.


Setelah percakapan yang cukup panjang dan menenangkan hati, mereka pergi nonton bioskop VIP yang hanya ada mereka berdua di sana.


Di tempat lain Fahri menjemput Kayla pulang dari salah satu acara pekerjaan nya.


"Kenapa jam segini baru selesai?" tanya Fahri. Kayla melihat Fahri.


"Apa yang kamu lakukan di sin? Aku sudah bilang kamu sudah tidak jadi pengawal aku lagi."


"Kenapa seperti itu?"


"Aku sudah punya pengawal pribadi yang baru."


"Ya walaupun begitu, tapi aku masih pacar mbak."


Kayla pergi, dia langsung masuk ke dalam mobil nya bersama pengawal pilihan Dimas yang baru.


Fahri terdiam sejenak, "Ada apa lagi ini?" tanya nya kebingungan sekali melihat sifat Kayla.


Kayla membuka handphone nya, dia melihat beberapa komentar orang lain tentang foto nya dengan Fahri.


"Wahh pantesan saja dia sampai sekarang tidak mau menikah, ternyata dia mau brondong yang berbadan bagus."


"Selera nya sudah bagus, hanya saja seorang pengawal doang, tidak memiliki keluarga."


Masih banyak komentar yang benar-benar membuat hati nya sakit dan sangat malu karena memiliki pacar yang hanya menjadi pengawal dan bahkan keluarga nya pembantu di rumah nya sendiri.


Di tambah lagi dia me dengar percakapan Bibik di dapur mengenai hubungan Bela dan juga Fahri sebelumnya.


Kayla tidak tau kalau Fahri sebelumnya menyukai Bela.

__ADS_1


__ADS_2