
"Benar sih, hanya saja.."
"Jangan bilang kalau kamu sudah menyukai wanita lain, dan sekarang kamu tidak bis menyukai orang baru."
Fahri mengangguk. "Kamu benar, aku menyukai wanita lain yang sifatnya sangat jauh dari kriteria ku," ucap Roi.
"Jangan bilang itu adalah mbak Serli," ucap Fahri.
Roi terdiam sejenak. "Katakan saja, itu mbak Serli kan?" tanya Fahri.
"Tidak tau, sebaiknya aku pulang. Kamu juga harus segera ke kantor."
"Kalau diam arti nya iya, aku akan mengatakan nya kepada mbak Serli."
"Jangan coba-coba mengatakan nya, karena tidak mungkin dia mau menyukai ku."
"Siapa yang tau? bagaimana kalau sebenarnya dia masih menyukai mu?" tanya Fahri.
"Sangat banyak pria yang mau kepada nya, aku bukan lah apa-apa bagi nya."
"Jangan mudah menyerah seperti itu, bagaimana kita tau kalau kamu tidak mencoba untuk mendekati nya lagi?"
"Sudah lah, jangan di bahas lagi, aku tidak mau membahas itu," ucap Roi dan langsung pergi.
Fahri menghela nafas panjang. Namun baru dia mau mandi tiba-tiba pintu ada yang mengetuk nya.
"Siapa lagi?" batin Fahri.
"Selamat pagi sayang..." ucap Kayla. Fahri melihat jam.
"Kenapa kamu bisa di sini sepagi ini? Ada apa?" tanya Fahri kaget.
"Tidak ada, aku hanya mau datang bertemu kamu saja, emang nya tidak boleh?"
"Boleh sih, tapi kamu tau kan ini masih pagi sekali, emang nya kamu tidak ada pekerjaan, aku juga harus bekerja."
"Aku akan berangkat bersama sama kamu, karena hari ini aku ke perusahaan."
"Ya sudah kalau begitu kamu tunggu sebentar, aku akan siap-siap."
Di tempat Bela dan Dimas sekarang, seperti biasa Bela akan bangun lebih awal. Dia sangat bingung mau melakukan apa saja.
Tapi dia berusaha untuk mencari pekerjaan yang membuat dia tidak bosan.
Mungkin karena hari Minggu pagi semua orang bangun cukup lama hari ini kecuali Nenek dengan Kakek.
Bela membuat kan teh lagi untuk mereka berdua.
"Semoga saja kali ini Nenek dan kakek tidak membuang nya, aku sudah sangat takut," ucap Bela.
__ADS_1
"Nek, ini teh nya."
"Kemana yang lain? kenapa kamu yang membuat nya?"
"Tante kedua belum bangun Nek," ucap Bela.
"Bibik mana? kenapa harus kamu yang membuat nya?" tanya Nenek.
Bela terdiam, dia tidak tau harus menjawab apa.
"Kamu bawa saja itu kembali, kami akan minum di luar."
Nenek dan kakek memilih pergi mencari sarapan di luar sambil olahraga pagi.
Bela lagi-lagi sangat sedih, dia melihat Nenek dan Kakek meninggal kan nya begitu Saja.
"Setelah sejauh ini aku akan menyerah? Itu tidak mungkin, aku akan semakin berjuang dan aku akan terus berjuang sampai Nenek dan Kakek menyukai aku."
Bela meminum teh yang sudah di buat itu. "Teh ini sangat enak sekali, kenapa mereka tidak suka?" ucap Bela.
"Oh iya aku lupa kalau aku adalah anak pembunuh, seharusnya aku harus tetap sadar siapa aku."
Dimas masih tidur, namun Vira membangun kan nya.
"Om Dimas... Om Dimas..." panggil Vira sambil menangis. Dimas kaget dia langsung bangun.
"Ada apa sayang? kenapa kamu nangis?"
Dimas langsung bangun. "Apa Bela sudah berangkat bersama Tante kedua," batin Dimas.
"Sudah tidak apa-apa, ada om di sini," ucap Dimas.
Vira Mulai tenang, dia kembali berbaring di samping Dimas.
Tidak beberapa lama anak-anak mencari nya dan mengajak main, tapi sebelum main, Dimas meminta Vira mandi terlebih dahulu.
Sementara di pusat perbelanjaan Bela dan juga Tante kedua sedang membeli keperluan dapur, dan juga mereka sangat senang bisa berlanja berdua.
Bela cukup tau tentang di dapur, jadi Tante kedua sangat senang membawa Bela.
Setengah hari mereka di luar, tidak beberapa lama akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke rumah.
"Kami pulang..." ucap Tante kedua kepada anak-anak yang sedang bermain. Mereka sangat senang sehingga meminta jajan.
"Mbak dari mana saja? kenapa mbak tidak bilang kalau mau pergi?" tanya Vira.
"Maafin mbak yah, tadi kamu sangat nyenyak tidur nya, mbak tidak tega membangun kamu."
"Aku sangat takut karena nenek dan Kakek tidak menyukai ku, mereka semua di berikan permen, sementara aku tidak," ucap Vira.
__ADS_1
Mendengar itu hati Bela sangat sakit, tapi dia berusaha untuk tidak menunjukkan nya.
"Gak apa-apa sayang, nanti kita beli lagi yah."
Bela membawa Vira mencari Dimas.
"Kak, kenapa kakak membiarkan Vira di bawah sendirian?" tanya Bela.
"Kenapa?" tanya Dimas. Vira menceritakan kalau dia di bedakan oleh Nenek dan Kakek.
Dimas merasa bersalah, dia meminta maaf kepada Bela.
"Waktu kita hanya satu Minggu lagi di sini kak, Minggu depan Vira sudah masuk sekolah."
"Iyah aku tau," ucap Dimas.
Bela menghela nafas panjang.
"Aku sangat lelah," ucap Bela.
Dimas membawa Bela ke pelukan nya. "Tidak apa-apa, tidak apa-apa, kita pasti bisa," ucap Dimas.
Bela hanya bisa mengeluh kepada Dimas, selain kepada Dimas, dia tidak bisa mengatakan apapun kepada Dimas.
Saat sedang asik bersama Dimas namun tiba-tiba di luar sangat heboh. "Ada apa?" tanya Dimas kepada Tante nya yang berlari ke bawah.
"Kakek tiba-tiba serangan jantung," ucap Tante nya yang pertama. Dimas sangat kaget dia langsung berlari ke bawah dan di ikuti oleh Vira dan juga Bela.
Kakek langsung di bawa ke rumah sakit, semua orang sangat khawatir dan sangat sedih.
"Ya Allah, ada apa ini? Kenapa tiba-tiba mendadak seperti ini?" tanya Dimas.
Entah kenapa kakek hanya sedang meributkan tentang Bela kepada Tante kedua, namun tiba-tiba Kakek emosi sehingga dia serangan jantung.
Mereka tidak bisa mengatakan apapun lagi selain banyak berdoa.
"Apa ini semua karena aku? aku sudah membuat kakek seperti ini?" batin Bela.
"Dimas! Apa yang harus aku katakan kepada mu, apa kamu ingin membunuh nenek dan Kakek?" tanya Tante pertama.
"maksud Tante berbicara seperti itu kenapa?"
"Sebaiknya kamu jangan memaksa kan hubungan kamu dengan Bela, siapa pun tidak akan menyetujui nya," ucap Tante pertama.
"Sudah lah tidak ada gunanya kita membahas itu sekarang," ucap Tante kedua.
"Aku dan kak Dimas tidak akan jadi menikah, agar tidak ada permasalahan lagi, aku minta maaf karena aku kakek jadi masuk rumah sakit seperti ini."
"Aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf," ucap Bela.
__ADS_1
"Ini tidak salah kamu sayang," ucap Dimas membujuk Bela. J J
Bela langsung memilih keluar dari sana, dia tidak ingin berada di antara orang yang membenci nya.