Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 52


__ADS_3

Bela berjalan ke arah sofa yang baru beberapa hari di beli.


"Huff sebenarnya tempat tidur itu jauh lebih nyaman, hanya saja tidak mungkin aku tidur di sana." ucap Bela.


"Aku tidak tau harus sampai kapan aku di sini?"


Keesokan harinya, Bela bangun lebih pagi.


Dia memasak sarapan, menyiapkan Dimas bekerja seperti biasa.


Dimas masih sangat heran dengan sifat Bela yang sangat membuat Dimas sedih, tidak terlalu terbiasa dengan sifat dingin Bela.


Dia berangkat dengan perasaan tidak nyaman sama sekali.


Hari ini cukup mengesalkan bagi Dimas karena makan siang nya juga tidak di antar oleh Bela melainkan di antar oleh supir.


Dimas tidak sabar mau pulang ke rumah, dia ingin menanyakan kenapa Bela tidak datang mengantar kan nya makan siang.


"Pak Dimas apa bapak datang ke acara pembukaan toko milik teman bapak?" tanya Serli.


"Seperti nya saya tidak bisa datang."


"Loh kenapa pak? Bapak adalah tamu spesial mereka, bagaimana tanggapan mereka Kalau bapak tidak datang?" ucap Serli.


"Saya tidak pergi karena saya lelah, mereka pasti akan mengerti."


"Sebaiknya bapak juga pergi pak, mereka pasti sangat berharap, ini juga hanya sekali seumur hidup."


Dimas menghela nafas panjang.


"Jama berapa acara nya?"


"Mungkin Jam sembilan Pak."


"Baiklah kalau begitu saya akan kembali ke rumah sebentar."


"Kenapa harus kembali ke rumah pak? Saya sudah menyiapkan pakaian bapak dan kita akan berangkat dari sini saja.


"Loh kamu ikut? Bukan nya lebih baik kalau kamu saja yang pergi?" tanya Dimas.


"Berbeda Pak, saya datang karena kekasih pak Vino adalah teman saya, sementara Bapak karena pak vino adalah teman Bapak."


"Baiklah-baiklah saya akan pergi," ucap Dimas, Serli tersenyum dan setelah itu keluar dari ruangan Dimas.


"Sebaiknya aku pergi. Aku juga tidak ingin di rumah karena malam ini adalah malam ulang tahun ku, ini sungguh malam yang aku benci!"


Di malam hari nya Dimas berangkat bersama Serli.


"Akhirnya Kalian datang juga." ucap Vino menyapa Dimas dan Serli.


"Maaf pak, bapak tau kan kalau pak Dimas itu sangat Sibuk."


"Apa kabar Dimas? Bagaimana keadaan ku sekarang setelah putus dengan Vivi."


"Berhenti membahas dia karena aku tidak mau mendengar nya."


"Baiklah-baiklah Dimas, ayo Masuk ke dalam."


Acara pun di mulai.


Dimas baru sadar ternyata Vivi mantan kekasih nya juga datang.

__ADS_1


"Sudah lama kita tidak bertemu." ucap Vivi berdiri di samping Dimas.


"Sebaiknya kamu Jangan membuat saya emosi karena saya sedang dalam pusing."


"Tenang saja aku tidak membuat kamu marah kok, aku hanya mau menyapa kamu saja," ucap Vivi.


"Berhenti mendekati ku Vivi, jangan sampai orang yang melihat nya salah paham."


"Kamu tidak perlu khawatir Dimas, aku bisa jamin kalau tidak akan ada yang berfikir aneh-aneh karena mereka pasti berfikir kamu tidak bisa move on dari ku karena hanya aku yang kamu cintai dan bahkan sampai sekarang kamu belum memiliki pengganti ku," ucap Vivi.


Dimas menghela nafas dia Menatap Vivi.


"Kalau tentang wanita, banyak wanita yang lebih dari kamu di luar saja. Tidak memiliki pasangan bukan berarti saya tidak move on."


Vivi tersenyum.


"Kita lihat saja sampai kapan kamu seperti ini sama aku, aku pasti kan kalau kamu akan mengemis minta balikan kepada ku."


Dimas tertawa kecil.


"Sebaiknya kamu fokus saja dengan hubungan mu yang sekarang karena itu sudah pilihan mu sendiri."


"Berapa kali aku bilang kalau aku dengan dia tidak lah pacaran, aku hanya bermain-main saja menghilangkan rasa bosan."


Dimas menggeleng kan kepala nya.


"Kamu selalu saja marah karena aku sering mempermainkan perempuan, namun ternyata kamu malah meniru nya."


"Aku tidak seperti kamu! Aku tidak seperti kamu, manusia yang tidak memiliki hati!"


Dimas menarik Vivi keluar dari sana.


"Tutup mulut mu Vivi!"


"Kamu sangat jahat Dimas! Setelah kamu menghancurkan masa depan ku kamu pergi begitu saja."


"Pak Dimas..." ucap seorang dari dalam dalam.


Dimas langsung meninggalkan Vivi di luar sambil menangis.


"Pak Dimas dari mana saja? Acara belum selesai namun bapak sudah pergi." ucap Serli.


"Saya ada urusan mendadak."


"Dengan Vivi yah Pak?"


Dimas mengangguk.


Tidak terasa hari sudah jam sebelas malam.


"Pak sebaiknya kita pulang." ajak Serli karena Dimas sudah hampir mabuk.


Mereka keluar dari sana.


"Dimas," panggil Vivi sebelum masuk ke dalam mobil.


Dimas dan Serli berhenti menunggu Vivi mendekati mereka.


"Ada apa?" tanya Dimas.


Vivi memberikan paper yang tidak terlalu besar berukuran sedang.

__ADS_1


"Apa ini?" tanya Dimas.


"Untuk kamu, selamat ulang tahun, aku mohon jangan tolak hadiah ini."


Dimas dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar dia mengucapkan terimakasih dan masuk ke dalam mobil.


"Seperti nya saya tidak bisa pulang bersama bapak, saya akan di jemput taksi." ucap Serli.


"Saya tidak bisa menyetir sendiri, apa kamu mau saya kecelakaan di jalan?" tanya Dimas.


"Bapak pasti bisa." ucap Serli langsung pergi.


Dimas menghela nafas panjang.


Dimas mencari air untuk membasuh wajah nya dan setelah itu dia pulang ke rumah nya.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah tepat jam 12 malam.


"Kenapa tidak ada orang?" tanya Dimas heran karena tidak ada satu pun orang yang menyambut nya pulang.


"Kenapa begitu gelap sekali? apa lampu mati?" tanya Dimas heran.


Dia mencari sakral lampu untuk di hidupkan.


Setelah di hidupkan dia sangat kaget melihat rumah sangat sepi tidak ada siapa-siapa.


Namun tiba-tiba Bela datang membawa kue yang penuh dengan lilin hidup.


"Happy birthday to you.... Happy birthday to you." Bela datang mendekati Dimas.


Dimas melihat Bela.


"Apa ini?" tanya Dimas.


"Selamat ulang tahun." ucap Bela meminta Dimas meniup lilin nya.


"Jelaskan kan ini ada apa? Apa tidak ada orang yang memberi tau kamu kalau saya tidak su..."


"Mereka semua melarang aku, tapi aku ingin melakukan hal ini agar Bapak bisa merasakan hari ulang tahun di rayakan oleh orang yang kita sayangi."


Dimas menatap Bela.


"Apakah Bapak masih mencintai saya?" tanya Bela.


Dimas mengangguk.


"Kalau begitu pakai ini, dan setelah itu tiup lilin nya."


Dimas awalnya menolak di pakai kan topi ulang tahun namun karena Bela dia tidak bisa menolak.


"Katakan apa yang ingin bapak mau terlebih dahulu."


"Saya ingin menjadi pacar kamu."


Bela terdiam sejenak, Dimas meniup lilin Bela tersenyum.


"Apa kamu tau kapan terakhir kali saya merayakan ulang tahun saya?" tanya Dimas.


Bela menggeleng kan kepala nya.


"Di waktu umur saya 15 tahun orang tua saya berjanji mau merayakan ulang tahun bersama, namun ternyata mereka berbohong karena pada saat saat itu mereka tidak datang." ucap Dimas.

__ADS_1


__ADS_2