
"Apakah hari ini Bapak jadi ke sel tahanan?" tanya Roi. Dimas mengangguk.
"Kenapa wajah bapak seperti ini?" tanya Roi.
"Saya sedikit ragu," ucap Dimas.
"Humm seperti nya saya menemui Bela terlebih dahulu, kamu temanin saya."
Mereka langsung pergi meninggalkan perusahaan.
"Hufff.. Akhirnya pria gila itu pergi juga," ucap Serli.
"Apa kamu mengatakan pak Dimas gila?"
"Aaaaa!!!" Serli sangat kaget karena tiba-tiba Roi ada di belakang nya.
"Kamu yang gila! Kamu adalah pria gila tidak punya perasaan, dan juga menakutkan, aku tidak suka pria seperti mu!"
Roi terdiam. Serli menatap wajah Roi.
"Aku mohon berhenti mengganggu ku, aku berjanji akan berhenti menyukai mu dan tidak akan mencari masalah dengan mu lagi," ucap Serli.
Serli seperti ketakutan sekali, dia sampai menyembunyikan wajah nya di tangan.
"Bukan kah kamu sebelumnya menginginkan kita memiliki hubungan?"
"Sekarang tidak lagi, aku tidak mau lagi, sebaiknya kita tidak perlu bertemu lagi," ucap Serli.
Roi menghela nafas panjang. Dia melihat Serli pergi meninggalkan nya.
Dimas bertemu dengan Bela di satu tempat yang cukup bagus untuk berbicara hal yang serius.
"Kenapa kakak meminta ku ke sini?" tanya Bela. Dimas menatap Bela dengan tatapan yang sangat serius sekali.
"Humm aku..."
"Ada apa?" tanya Bela.
"Sebenarnya aku sangat bingung bagaimana berbicara dengan pak Irfan."
Bela menghela nafas panjang dia memegang tangan Dimas.
"Kalau belum siap, jangan memaksa kan diri kak."
Dimas diam sejenak. "Ini bukan hanya tentang tujuan untuk menikah. Tapi ini sudah saatnya aku untuk menghilangkan rasa marah ini."
"Apa karena aku? Apa karena aku memiliki hubungan spesial dengan kakak?"
Dimas mengangguk. "Tidak cukup hanya mencintai kamu, tapi aku harus menyanyangi keluarga mu."
Bela tersenyum. Bela menguatkan Dimas dan menyakinkan Dimas untuk berbicara kepada orang tua nya.
Setelah Dimas yakin akhirnya dia memutuskan untuk berangkat.
Tidak beberapa lama akhirnya dia sampai di depan kantor polisi.
__ADS_1
"Apa Bapak sudah yakin?" tanya Roi.
Dimas mengangguk. Roi mendampingi masuk ke dalam.
Dimas melihat penjaga membawa pak Irfan keluar dan berbicara di meja yang sudah di sediakan dengan tangan masih di borgol.
"Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau belum puas? Apa kau masih mau memberikan hukuman kepada saya?" tanya pak Irfan terlihat sangat marah kepada Dimas.
Dimas melihat pak Irfan sangat marah seperti itu sudah membuat nya mati kata.
"Saya datang ke sini ada tujuan tertentu, bukan berniat jahat sama sekali."
"Kau benar-benar sangat mirip dengan Ayah mu! sangat senang melihat orang lain menderita dan juga menjebak orang lain agar sengsara."
"Pak, saya datang ke sini baik-baik, saya mau melihat keadaan bapak."
"Tidak perlu anda tau keadaan saya seperti apa di sini."
"Saya mendengar bapak sangat banyak membuat kesalahan di sini. Kalau Bapak berperilaku baik bisa jadi saja hukuman Bapak bisa di ringan kan."
Pak Irfan tertawa sambil menatap Dimas. "Apa kamu berfikir saya ingin bebas dari sini? Saya tidak ingin keluar dari sini, di sini jauh lebih nyaman dari pada di luar sana."
"Dan jangan sampai saya keluar dari sini, karena selanjutnya kamu yang merasakan apa yang ayah mu rasakan."
Mendengar itu saja Dimas sudah tidak bisa mengatakan apapun. Pak Irfan terlihat sangat emosi sekali.
"Saya datang ke sini mau membicarakan sesuatu yang penting Pak."
"Tidak ada yang penting! Kamu anak dari perebut istri saya, saya tidak ingin melihat mu!"
"Dan satu lagi, berhenti mengganggu anak saya. Saya tidak ingin anak saya melihat nya bersama anak pria yang sangat berengsek!"
Pak Irfan langsung kembali masuk ke dalam sel. Dimas menghela nafas panjang dia memegang kepala nya.
"Arhh!! Ini sungguh gila."
"Roi!"
"Iyah pak?"
"Kamu harus cari tau bagaimana hubungan Papah dengan Bu Sisi!"
"Baik pak."
Dimas keluar dari sana.
"Selamat siang pak Dimas," sapa Ketua.
"Siang pak."
"Sudah lama Bapak tidak datang ke sini,"
"Iyah."
"Oh iya pak, apa Bapak tidak ingin melihat Pria yang baru saja masuk itu?"
__ADS_1
Dimas melihat ke arah orang tua angkat Kania
"Akhir-akhir ini dia terlihat sangat stres, banyak diam tidak mau makan."
"Bagus deh pak, orang-orang seperti itu pantas mati."
Dimas langsung pulang. Dimas langsung kembali ke rumah Bela.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai dia masuk Tampa mengetuk pintu dia mencari Bela, di ruang tamu tidak ada. Hanya ada Bibik dan juga Vira.
Dia berjalan ke arah kamar Bela dan ternyata Bela sedang berbaring di kamar nya main handphone.
"Kak Dimas? kenapa tidak mengetuk dulu sebelum masuk?" tanya Bela.
Dimas tidak mengatakan apapun dia naik ke tempat tidur dan berbaring di Atas Bela yang sedang asik main handphone.
Bela kebingungan, dia meletakkan handphone nya."Ada apa kak? kalau kakak ngantuk tidur lah dengan baik."
Dimas menghela nafas panjang. "Aku sangat lelah, aku mau istirahat seperti ini, rasanya sangat nyaman sekali."
"Kalau Bibik melihat tidak enak juga kak."
"Bibik tidak akan masuk," ucap Dimas.
"Bagaimana dengan urusan kakak?"
Dimas menghela nafas dia duduk menatap wajah Bela.
"Apa Ayah tidak mengijinkan nya?" tanya Bela.
"Aku belum mengatakan niat ku, tapi ayah mu sudah marah-marah dan juga melarang ku untuk berhubungan dengan anak nya."
"Jadi kakak belum mengatakan apapun?"
Dimas menggeleng kan kepala nya. Bela menghela nafas panjang. B
"Aku sangat sedih, aku mau istirahat," ucap Dimas kembali berbaring di samping Bela.
"Seperti nya Ayah mu sangat membenci Papah ku, dia juga mengancam kalau dia sampai keluar dari sel tahanan aku akan mendapatkan nasib yang sama dengan Papah."
Bela menghela nafas panjang. "Kata Bibik akhir-akhir ini Ayah emang suka berbicara yang aneh-aneh, tidak perlu di ambil hati.
Dimas bangkit dan menatap wajah Bela dia memegang tangan Bela.
"Aku sangat heran kenapa pria kasar, jahat, kejam dan juga keras seperti pak Irfan bisa membuat anak yang begitu lembut, baik, ramah dan juga cantik seperti mu," ucap Dimas.
Bela tersipu malu. "iiihh kak Dimas, ini lagi serius, kenapa kakak bercanda?"
"Aku tidak bercanda, kamu memiliki sifat kebalikan dari pak Irfan."
"Walaupun sebenarnya wajah nya sangat mirip," ucap Dimas.
Bela mengelus rambut Dimas. "Terus lah berjuang, aku tau hal seperti ini tidak lah susah untuk kakak," ucap Bela.
"Demi kamu dan juga Vira, aku akan melakukan semua nya," ucap Dimas.
__ADS_1