
Bibik menggeleng kan kepala nya, Dimas langsung ke atas berjalan menaiki tangga.
"Loh kenapa di kunci?" Dimas mencoba membuka pintu namun pintu di kunci dari dalam.
"Bela apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu mengunci pintu."
"Tunggu pak, saya sedang memakai baju."
"Kenapa harus mengunci pintu?" tanya Dimas karena ada ruangan ganti di dalam.
Tidak beberapa lama Bela membuka pintu setelah Dimas menggedor-gedor pintu.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Dimas.
"Aku baru saja selesai mandi," ucap Bela sambil menunjuk rambut nya yang sudah basah dan di balut dengan handuk.
Dimas memasang wajah curiga dia masuk dan melihat ke dalam.
"Bapak tidak percaya kepada saya? saya baru saja memakai pakaian di luar."
Dimas melihat kamar bersih dan tidak mencurigakan.
"Awas saja kalau kamu menyembunyikan pria lain di kamar saya."
Bela sekali terdiam ketika Dimas mengatakan itu.
"Mana mungkin aku membawa pria lain ke rumah ini." ucap Bela.
"Saya sudah menyiapkan pakaian untuk bapak di atas kasur, air mandi bapak juga sudah siap, saya keluar dulu."
Bela cepat-cepat pergi dari sana membuat Dimas semakin heran.
"Ada apa dengan dia? kenapa terlihat sangat mencurigakan?" batin Dimas.
"Ah sudahlah." Dimas langsung mandi agar penat di badan nya hilang.
"Bela akhirnya kamu keluar juga, apa Tuan Dimas marah sama kamu?" tanya teman-teman nya.
Bela menggeleng kan kepala nya sambil tersenyum.
"Enggak kok, kalian tidak perlu khawatir."
"Bela kamu kasih apa sama tuan Dimas sehingga dia tidak pernah marah sama kamu lagi?" tanya teman nya.
"Aku tidak melakukan apapun." ucap Bela.
"Aku juga tidak memberikan apapun kepada pak Dimas, kalian saja tidak sadar kalau pak Dimas marah, setiap hari dia marah kepada ku." ucap Bela.
"Tapi aku tidak pernah melihat nya, kamu jangan berbohong gitu dong."
"Aku tidak berbohong, sekarang jauh lebih menyeramkan kalau dia marah." ucap Bela sambil membayangkan Dimas mencium nya secara paksa, mendorong nya ke tembok dan menindih nya belum lagi mengancam akan mengambil keperawanan nya.
"Ya ampun Bela, kami minta maaf yah sudah berfikir aneh-aneh, kamu yang sabar yah ngadepin Tuan Dimas."
"Kalau begitu kalian semua istirahat saja, sisa pekerjaan aku yang akan mengurus nya."
__ADS_1
"Tapi.."
"Sudah tidak apa-apa, bentar lagi pak Dimas akan keluar, sebaiknya kalian pergi sebelum dia marah."
Karena mereka tidak mau melihat Dimas marah mereka mengikuti perintah Bela.
Bela tersenyum melihat mereka semua masuk ke kamar masing-masing untuk istirahat.
"Kenapa sangat sepi? Kemana semua orang?" tanya Dimas.
"Mereka semua sudah istirahat pak, apa Bapak mau Makan?" tanya Bela.
Dimas menggeleng kan kepala nya.
"Saya sudah makan dari luar, saya mau susu hangat."
Bela mengangguk.
Dimas sangat heran melihat sifat Bela yang sama sekali tidak protes dia makan di luar dan sangat berbeda sekali.
Setelah meletakkan susu di depan Dimas Bela ke dapur lagi untuk melakukan pekerjaan yang belum selesai.
Dimas membaca buku sambil sesekali melihat Bela.
"Ada apa dengan nya? Apa dia membalas ku? Apa dia sengaja mengabaikan aku seperti ini?"
"Bela!" panggil Dimas, Bela langsung ke depan.
"Iyah pak ada yang bisa saya bantu?"
Dimas menatap wajah Bela.
Bela berfikir sejenak menatap Dimas dengan tatapan bingung.
"Kenapa saya harus minta maaf pak? Saya tidak melakukan kesalahan?"
"Kamu tidak merasa melakukan kesalahan kepada saya?" tanya Dimas.
Bela dengan polos menggeleng kan kepala nya.
Dimas memasang wajah kesal.
"Ya sudah kalau begitu saya mau lanjut bersih-bersih lagi pak."
"Aarrhhh!!! Benar-benar Bela tidak sadar kalau dia mengabaikan ku di kantor dan di rumah dia tidak menyambut saya." ucap Dimas.
"Ya ampun Bela kasian banget yah, ternyata Tuan Dimas masih sangat sering marah kepada nya." Ucap pelayan yang mendengar Bela di panggil oleh Dimas dengan Suara yang begitu kuat.
"Sebaik nya kita tidur saja, jangan sampai pak Dimas sadar kalau kita belum tidur."
Dimas sudah sangat lama duduk di sofa ruang tamu sambil membaca buku sehingga tidak sadar kalau lampu sudah mati hanya lampu di ruang tamu yang belum mati.
"Bela apa kamu sudah selesai? ini sudah larut malam." ucap Dimas. Namun ternyata Bela sudah tidur ada di sana.
Dimas mencari ke kamar dan benar saja kalau Bela sudah di kamar.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Dimas.
"Apa Bapak tidak melihat saya sedang membaca buku?" tanya Bela.
Dimas duduk di samping Kania sambil melihat buku-buku baru yang ada di atas nakas.
"Apa buku ini untuk saya?"
Bela menggeleng kan kepala nya.
"Buku ini saya beli untuk menghilangkan rasa bosan saya pak, sebaiknya Bapak tidur saja."
Dimas tiba-tiba berbaring di paha Bela.
"Jangan ganggu saya pak, saya sedang fokus."
Bela berpindah tempat duduk setelah mendorong badan Dimas dari nya.
Dimas melihat Bela pindah ke kursi membuat nya menghela nafas panjang.
"Bela apa kamu marah karena saya mengabaikan kamu dua hari?"
Bela tidak menjawab nya.
"Bela saya sedang bertanya."
"Sebaik nya bapak tidur saja, besok Bapak akan telat kalau tidur terlalu larut malam."
Dimas menghela nafas panjang dia naik ke tempat tidur sambil melihat Bela dia tertidur di ujung kasur agar bisa dekat dengan Bela.
Bela sudah mulai mengantuk dia melihat ke arah sofa Dimas sudah tidur ada di sana, ternyata sudah pindah ke tempat tidur dan tidur di bagian kaki.
"Kenapa dia harus tidur seperti ini? bagaimana kalau dia terjatuh?"
Bela mendorong Dimas ke arah tengah.
"Bela jangan marah kepada saya, saya minta maaf karena sudah jahat, saya hanya sedih belakangan ini, saya hanya memiliki kamu untuk menemani saya."
Dimas mengigau.
"Bapak tau kalau saya yang akan menemani Bapak, namun Bapak tidak bisa jujur dan mengharapkan saya." ucap Bela.
Dimas memegang tangan Bela.
"Namun Bela melepaskan nya perlahan dan setelah itu dia tertidur dengan sangat nyenyak.
Bela berjalan ke arah sofa yang baru beberapa hari di beli.
"Huff sebenarnya tempat tidur itu jauh lebih nyaman, hanya saja tidak mungkin aku tidur di sana." ucap Bela.
"Aku tidak tau harus sampai kapan aku di sini?"
Keesokan harinya, Bela bangun lebih pagi.
Dia memasak sarapan, menyiapkan Dimas bekerja seperti biasa.
__ADS_1
Dimas masih sangat heran dengan sifat Bela yang sangat membuat Dimas sedih, tidak terlalu terbiasa dengan sifat dingin Bela.
Dia berangkat dengan perasaan tidak nyaman sama sekali.