
Bela tidak nyaman seperti itu, namun seperti itu lah cara mereka menghormati anak bos nya.
"Non Bela apa kabar? Sudah lama non tidak ke sini," ucap mereka semua.
"Baik, kalian semua bagaimana? Apa Ketua pelayan sudah membaik?"
"Masih kurang baik Non, mari kami antar ke kamar beliau."
Bela masuk ke kamar bibik.
"Non Bela di Sini? Kenapa non bisa di sini?" tanya Bibik kaget.
"Menjenguk Bibik, aku mendengar Bibik sakit. Aku juga membawa makanan, buah-buahan."
"Ya ampun non, tidak perlu capek-capek," ucap Bibik.
Bela tersenyum. "Sekarang gantian aku yang menjaga Bibik."
"Saya hanya sakit biasa karena lelah di perjalanan Non."
Namun Bela tetap menjaga Bibik.
Di sore hari nya Bibik sudah istirahat, Bela berjalan-jalan di rumah Ayah nya.
Dia masuk ke kamar utama milik ayahnya itu.
Semua barang-barang di sana sudah di tutup dengan kain putih agar tidak terkena debu.
Bela mengingat jas yang di dapatkan oleh Bela dari dalam lemari.
Dia membuka lemari itu yang kebetulan tidak di kunci.
Bela melihat kotak kecil yang seperti nya di simpan khusus juga.
Bela sangat penasaran, dia mau membuka nya tapi ternyata di kunci.
Dia cukup sulit jika harus mencongkel dia juga tidak memiliki hak untuk membuka nya akhirnya dia memilih untuk meletakkan kembali peti kecil itu.
Namun dia melihat album, ternyata itu adalah foto-foto keluarga, foto dia bayi, foto adik nya bayi. Dia sangat senang akhirnya dia bisa melihat foto bayi nya.
Dia juga melihat wajah ibu nya sangat mirip kepada nya waktu muda.
Dan ternyata mereka berasal dari keluarga kaya raya.
Setelah selesai melihat semua nya dia mengembalikan buku tapi tidak sengaja ada satu lembar foto jatuh dari beberapa lipatan kain.
Bela melihat foto ibu nya bersama almarhum ayah Dimas.
Foto yang sangat romantis sekali, Bela juga tidak menyangka kalau ibu nya sangat tega berselingkuh seperti itu.
Pak Irfan menyimpan semua nya di lemari nya. Bela semakin penasaran apa isi dari peti itu.
"Non Bela.." panggil Pelayan.
Bela keluar dia mendekati Bibik.
__ADS_1
"Ada apa Bik?"
"Handphone Non Bela dari tadi berbunyi," ucap pelayan.
Bela mengambil handphone nya dia melihat panggilan dari Dimas.
Bela langsung menghindar dari sana dan menjawab telpon dari Dimas.
"Halo?"
"Kamu dari mana saja? Kenapa sangat lama menjawab telpon saya? Apa kamu tidak tau kalau saya sangat merindukan kamu."
Bela tersenyum. "Mbak Bela di mana? Aku boleh kan tidur di rumah Om Dimas?" tanya Vira.
"Kakak yang ngajarin kan?" tanya Bela.
"Tidak," jawab Dimas.
"Vira gak bisa nginap di sana yah, besok sekolah."
Vira tidak bisa melawan akhirnya dia menginyakan.
Bela menyimpan Handphone nya dia lanjut ke bagasi mobil.
"Wahh ini bagasi atau showroom mobil sih?" ucap Bela sangat kagum karena mobil apa saja ada di dalam sana pantesan saja selama ini Dimas kesusahan mencari ayah nya itu.
"Non Bela bisa memakai mobil ini semua seperti apa yang non mau, karena surat-surat mobil ini sudah di alihkan atas nama Bela."
Bela menggeleng kan kepala nya kepada penjaga mobil itu.
"Saya tidak ingin, kalian jaga dan rawat saja semua nya sampai Ayah saya keluar dari dalam penjara.
Setelah beberapa lama akhirnya Bela memutuskan untuk pulang ke apartemen nya.
"Bik, aku pamit pulang dulu yah."
"Iyah non, Kasian non Vira tinggal sendiri."
"Sebenarnya Vira dengan kak Dimas bik." ucap Bela.
"Oohhhh begitu," ucap Bibik.
"Oh iya non, tunggu sebentar," ucap Bibik menahan Bela.
Bibik membuka lemari nya dia memberikan kunci kepada Bela.
"Apa ini bik?"
"Ini adalah rumah untuk non Bela. Kami memutuskan membeli rumah yang lebih bagus dan juga dekat dari kampus dan sekolah SD Vira nanti nya."
"Ya ampun bik, aku tidak butuh ini, apartemen ku saat ini sudah sangat nyaman sekali."
"Non, untuk apa lagi ini semua kalau bukan untuk non Bela? Non harus membalas kan semua nya setelah dari kecil non menderita."
Bela terdiam sejenak, dia mengambil kunci rumah itu.
__ADS_1
"Aku akan memikirkan nya terlebih dahulu bik," ucap Bela.
Di malam hari nya Dimas dan Vira sudah sampai di apartemen, mereka menunggu Bela yang tidak lama lagi sampai.
"Aku pulang.." ucap Bela masuk ke apartemen nya.
Bela melihat Dimas Duduk di ruang tamu sambilan main game.
"Loh Vira mana kak?" tanya Bela.
"Di kamar nya, dia sudah tidur."
Bela duduk di samping Dimas. Dimas masih fokus dengan game nya karena tidak bisa di hentikan sebelum finis.
Bela menatap Dimas. "Bagaimana ini? Aku sudah janji kepada kak Dimas agar Vira sekolah di dekat nya, sementara sekarang Bibik sudah membelinya kan rumah," batin Bela.
"Ada apa? Katakan saja." Dimas menyadari kalau Bela memerhatikan dia dan seperti mau menyampaikan sesuatu.
Bela langsung menggeleng kan kepala nya.
"Enggak kok, gak ada," ucap Bela.
Dimas menghela nafas panjang dia menatap Bela.
"Katakan saja," ucap Dimas.
"Aku mau pindah ke sebuah rumah yang di sediakan oleh Bibik."
Dimas menghentakkan game nya.
"Lalu apa yang salah dengan itu? sudah lama saya mengatakan agar kamu pindah saja ke rumah yang lebih bagus."
"Kalau kamu tidak mau menggunakan uang Ayah mu, saya akan membeli nya."
"Permasalahan nya bukan itu, Bibik membeli rumah yang tidak jauh dari sekolah Dasar agar Vira bisa sekolah dekat dari rumah."
"Itu artinya Vira tidak bisa sekolah dengan saya?" tanya Dimas.
"Aku minta maaf, Bibik melakukan ini juga demi kebaikan aku dan juga Vira."
"Apa saya boleh melihat letak rumah nya? Apa itu sangat jauh dari kediaman saya?" tanya Dimas.
"Aku belum tau kak, aku masih mencoba memikirkan nya lagi."
"Kamu pindah saja, di sini tidak baik untuk Vira karena di sini sangat sempit dan juga jauh dari keramaian. Kalau terjadi sesuatu bagaimana?"
"Justru yang aku pengen itu seperti ini kak."
"Banyak kok rumah di luar sana yang Bagus dan tidak di keramaian tapi terjaga, tidak seperti apartemen ini."
"Huff menurut ku apartemen ini sudah sangat bagus, biayanya juga sangat mahal," ucap Bela.
Dimas berusaha menyakinkan Bela untuk tetap pindah.
Bela akhirnya mau, dan memutuskan pindah setelah Vira Tamat.
__ADS_1
"Oh iya kamu dari rumah Ayah kamu, apa kabar di sana?" tanya Dimas.
"Tidak ada yang berubah," ucap Bela.