Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 75


__ADS_3

"Apa? Aku tidak salah dengar kan? jadi kotak kecil itu adalah bukti pembunuhan itu?" tanya Bela.


Dia semakin curiga, namun tiba-tiba Vira memanggil nya.


"Bawa dia ke penjara bawah tanah!"


"Lepas kan saya! Lepas kan saya pembunuh!!!" Dimas sangat marah sekali namun dia tidak bisa melakukan apapun.


Dia melihat Fahri dan juga Rio lewat, dia berharap mereka bisa keluar dengan selamat.


Dan waktu keluar mereka di periksa terlebih dahulu dan mereka sendikit familiar dengan wajah Fahri, namun kebetulan sekali Fahri baru saja potong rambut jadi tidak di kenali.


"Bela kamu sedang apa?" tanya Pak Irfan karena melihat Bela yang ada di lantai bawah.


"Eh ayah, aku mau ke dapur."


"Ngapain?"


"Mau masak Ayah, aku sudah terbiasa masak sendiri, Ayah juga pasti mau merasakan masakan ku kan?" tanya Bela.


Pak Irfan tersenyum dia mendekati Bela.


"Kalau begitu masak lah yang banyak setelah itu kamu antar ke ibu kamu."


Ibu Bela sudah di pindahkan ke rumah sakit pribadi milik pak Irfan.


Bela mengangguk sambil tersenyum. "Ayah memiliki kerjaan di luar, kamu jaga diri baik-baik."


Bela mengangguk dia melihat Ayah nya pergi.


"Terkadang ayah sangat baik, terkadang dia juga terlihat sangat membenci ku," batin Bela.


Dia melihat ke arah pengawal membawa Dimas.


"Kenapa kak Dimas datang ke sini? Kenapa dia tidak pergi saja?" batin Bela.


Bela tidak lanjut untuk masak melainkan dia masuk ke dalam kamar nya.


"Apa yang mbak lakukan?" tanya Vira melihat Bela mengambil jas yang berhasil dia ambil dari kamar Ayah nya.


"Gak ngapa-ngapain dek,"


"Loh ini kan jas sama seperti punya Om Dimas, aku sangat merindukan Om Dimas."

__ADS_1


"Benar ini sama seperti milik kak Dimas, aku yakin jas seperti ini hanya di miliki oleh keluarga dekat kak Dimas."


Saat memperjelas lagi tiba-tiba ada barang yang jatuh dari kantong jas itu.


Bela melihat barang itu jatuh ke bawah kasur namun tiba-tiba seseorang masuk ke dalam kamar Bela dengan cepat langsung menyembunyikan jas itu dan berpura-pura mengumpulkan mainan Vira.


"Non, makanan sudah siap, sebaik nya makan terlebih dahulu."


Bela mengangguk , sementara Vira langsung keluar.


Di malam hari nya ketika semua orang sudah tidur Bela mengambil barang itu dan ternyata itu adalah flash disk yang di cari nya.


Dia mau membuka nya apa isi dari memori itu hanya saja dia tidak memiliki laptop. Dia bingung harus mencari kemana.


Setelah menyimpan semua nya dia memilih untuk keluar makan agar tidak ada yang curiga.


Keesokan harinya Bela melihat ke arah pintu ruangan bawah.


"Non Bela mau kemana? Anda tidak di ijinkan masuk ke bawah."


"Saya ingin melihat keadaan Pria yang di bawah sana."


Mereka tau kalau Bela sudah membenci Dimas dan tentu berpihak kepada ayahnya, akhirnya mereka mengijinkan Bela turun ke bawah.


Sampai di bawah dia melihat keadaan Dimas yang sangat berubah dari biasanya, biasa nya dia selalu tampil dengan rapi dan gagah sekarang wajah nya sudah banyak luka begitu juga dengan tubuh nya pakaian nya yang penuh dengan darah.


"Bela.. Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu melakukan ini kepada saya?" tanya Dimas.


"Kenapa kakak datang ke sini? Apa yang kakak ingin kan lagi? Kenapa kakak malah menyerah kan diri seperti ini?" tanya Bela.


"Saya akan membuktikan kalau saya tidak berbohong dan mengada-ada Bela, saya tidak ingin kepercayaan kamu kepada saya hilang karena saya sangat mencintai kamu."


"Kak Dimas berhenti! Aku rasa tidak ada yang perlu di ingat lagi karena hubungan kita sudah tidak ada, aku sudah membenci kakak." ucap Bela.


Dimas terdiam. "Aku akan membantu kakak keluar dari sini, setelah itu jangan pernah datang lagi ke sini!" ucap Bela.


Dimas menggeleng kan kepala nya. "Saya tidak akan pernah pergi dari sini karena saya datang ke sini mau menjemput kamu, kalau tidak dengan kamu saya tidak akan pergi!"


"Pergi lah dari sini sebelum Ayah membunuh kakak."


"Saya tidak akan mati sebelum saya membuktikan pak Irfan lah yang sudah membunuh orang tua saya!"


"Jangan keras kepala kak, percuma saja kakak melakukan itu karena ayah ku tidak pernah melakukan hal seperti itu."

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, kalau kakak tidak mau pergi aku akan membiarkan kakak di sini sampai pada akhirnya Kakak meninggal."


"Bela.." Bela yang hendak pergi langsung berhenti.


"Untuk sekarang ini saya hanya ingin kamu percaya kepada saya, saya mohon agar kamu percaya kepada saya."


Bela tidak mengatakan apapun dia langsung pergi walaupun Dimas tidak berhenti memanggil nya.


Bela meninggalkan penjara bawah tanah itu.


"Mbak dari mana?" tanya Vira yang sedang asik bermain, semua orang berusaha menyembunyikan apapun yang terjadi dari Vira karena dia masih sangat kecil.


"Mbak sedang melihat-lihat sekitar saja, kamu lanjut bermain saja."


Hari ini Bela dan Vira datang ke rumah sakit di mana tempat Ibu nya di rawat.


"Apa kabar ibu? Maaf yah aku tidak bisa datang setiap hari karena aku harus mengikuti perintah Ayah."


Bela mencium ibu nya, menyuapi nya makan.


"Ini pertama kali nya ibu merasakan masakan ku, enak kan Bu? Banyak orang bilang kalau masakan ku sangat enak semoga ibu suka."


Ibu nya tidak bisa menjawab, namun mata nya tidak berhenti menatap wajah Bela yang seakan mau menyampaikan sesuatu.


"Ibu harus cepat sembuh, kita harus berkumpul Bu, aku sangat merindukan ibu."


Bela juga membersihkan tubuh ibu nya, air mata ibu nya keluar sangat sedih karena Bela memperlakukan nya sangat baik, dengan sangat tulus membersihkan badan ibu nya menukar pakaian nya.


"Bu aku tidak bisa lama-lama di sini, Ayah akan marah kalau aku pulang terlalu lama."


Namun tiba-tiba tangan ibu nya bergerak menyentuh tangan Bela.


"Ibu bisa menggerakkan tangan ibu?" Bela sangat senang dia memeluk ibu nya.


"Aku akan meminta ijin kepada ayah agar bisa menjaga ibu lebih sering di sini."


Bela melihat Vira yang hanya diam saja, sama sekali tidak mengatakan apapun.


Tidak beberapa lama akhirnya mereka keluar dari sana.


"Vira kenapa sih kamu diam saja tadi? Apa kamu tidak merindukan ibu?" tanya Bela.


Vira menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak merindukan Ayah, aku juga tidak merindukan ibu, aku hanya ingin bersama mbak Bela dan juga Om Dimas." ucap Vira.

__ADS_1


"Jangan berbicara seperti itu, mbak sudah bilang kalau kamu harus berperilaku baik jangan sampai membuat Ayah dan ibu marah."


Vira lagi-lagi harus berpura-pura biasa saja, padahal dia sangat takut sekali.


__ADS_2