Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 206


__ADS_3

Sebenarnya Bela sangat gemas dengan suami nya yang ngambekan, namun dia juga jengkel karena sangat sulit membujuk nya.


Selesai makan, Dimas dan Vira langsung pergi. Dimas menemani Vira tidur di kamar nya menghindari istri nya.


Bela membuka pintu kamar Vira mencari suami nya.


"Hufff, apa kakak yakin mau tidur di sini?" tanya Bela.


Dimas tidak menghiraukan nya.


"Ya sudah kalau kakak tidur di sini," ucap Bela.


Dia mematikan lampu dan setelah itu pergi tidur.


Bela sebelum tidur dia membaca buku terlebih dahulu karena belum ngantuk.


Sudah satu jam, mata nya mulai lelah dia mau tidur namun mendengar suara pintu terbuka.


Dia melihat suami nya berdiri di depan pintu.


Bela tidak mengatakan apapun dia berbaring. Dimas mendekati tempat tidur.


"Bukan nya mau tidur sama Vira? Ngapain ke sini?" tanya Bela.


"Kamu sebenarnya sayang gak sih sama aku? Kenapa kamu tidak membujuk ku, malah membiarkan aku tidur di kamar Vira."


Bela menghela nafas panjang dia duduk menatap Dimas.


"Aku sudah membujuk kakak dari tadi, namun kakak saja yang tidak mau."


Dimas memasang wajah cemberut. Bela tersenyum.


"Baiklah-baiklah, aku minta maaf," ucap Bela.


"Sini, waktunya tidur."


Dimas naik ke tempat tidur.


"Mau peluk," ucap nya, Bela tersenyum dan langsung memeluk nya.


"Ya ampun, bayi besar aku manja banget sih, lain kali jangan ngambekan lagi yah," ucap Bela.


Dimas menatap wajah istri nya. "Justru kamu yang tidak boleh seperti itu lagi, kamu berjanji cepat pulang namun sangat lama."


Bela tersenyum. "Baiklah," ucap nya sambil mengelus kepala suami nya.


Dimas mencium pipi Bela dan akhirnya tidur.


Di rumah Serli..


Dia sedang merapikan tempat tidur untuk Roi di depan tv.


Hari ini Roi menginap di rumah Serli karena mengerjakan beberapa pekerjaan bersama Serli.


Baru saja selesai, tiba-tiba Roi berbaring di pangkuan Serli yang masih sibuk dengan laptop nya.


"Ini sudah tengah malam, apa kita harus menyelesaikan ini?" tanya Roi.

__ADS_1


"Gak apa-apa, aku bisa melakukan nya, lagian kamu butuh cepat kan?" ucap Serli.


"Baiklah," ucap nya mereka lanjut bekerja. Beberapa jam kemudian akhirnya selesai.


"Arrghh!!!! akhirnya selesai juga," ucap Serli sambil meregangkan otot-otot nya.


Dia baru sadar ternyata Roi tidur di pangkuan nya.


"Ya ampun nih anak, dia yang di bantuin malah tidur," ucap Serli.


Mematikan tab Roi terlebih dahulu dan mengawas kan kepala Roi dari paha nya.


Roi Tiba-tiba terbangun. "Maaf aku membangun kan kamu," ucap Serli.


"Kamu tidur saja, aku akan ke kamar."


Roi menatap wajah Serli. "Good night," ucap nya dan lanjut tidur.


Serli tersenyum tipis karena salting. Apa saja yang di lakukan oleh Roi membuat nya senyum-senyum malu.


Keesokan harinya...


"Kenapa kamu tidak membangun kan aku?" tanya Roi melihat Serli sudah rapi siap berangkat ke kantor."


"Pekerjaan mu sudah selesai, aku juga sudah mengirimkan nya ke kantor. Kamu bisa istirahat."


"Tapi hari ini aku mau nganterin kamu ke kantor."


"Aku tidak mau naik motor, aku pakai rok pendek dan hari ini ada pertemuan penting, aku sudah menata rambut ku."


Roi mengeluarkan kunci mobil mewah nya dari saku nya.


"Kamu selalu memiliki alasan agar tidak aku antar, apa kamu malu?"


"Bukan begitu, tapi..."


"Sudah lah kalau begitu, kamu bisa mengantarkan aku," ucap Serli.


Roi langsung tersenyum. Mereka berangkat setelah selesai sarapan.


"Ngomong-ngomong makasih yah sudah bantuin aku," ucap Roi.


"Iyah. Lagian ini juga membantu ku, agar pekerjaan ku jadi lebih mudah."


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di kantor. Namun Serli dan Roi melihat Dimas membawa Vira.


"Eh itu Vira kan? kenapa dia ikut ke kantor?" tanya Serli.


Serli menghampiri Dimas.


"Pak, kenapa Vira ikut ke kantor? apa dia tidak sekolah?"


"Hari ini tidak sekolah, dia ikut saya karena Bela kurang enak badan."


"Tidak enak badan? Perasaan kemarin sehat-sehat saja," ucap Serli.


"Gak tau kenapa, badan nya tiba-tiba meriang pagi tadi," ucap Dimas.

__ADS_1


"Tapi kalau Keluarga bapak tau, Vira di bawa ke kantor Mereka pasti marah."


"Jangan sampai Nenek dan Kakek tau," ucap Dimas.


Serli menghela nafas panjang. Sebenarnya dia juga senang ada Vira.


Namun Nenek dan kakek ternyata datang ke kantor, ketahuan deh Vira ada di perusahaan.


Mereka memarahi Dimas membawa Vira bersama nya.


Padahal Dimas hanya ingin Vira tidak menggangu istri nya yang lagi sakit.


Mereka langsung membawa Vira. Dimas hanya bisa pasrah.


"Seperti nya Nenek dan Kakek sangat sayang kepada Vira," ucap Serli.


Dimas mengangguk sambil tersenyum. "Walaupun mereka terlihat sangat galak tapi mereka sangat sayang kepada Bela dan Vira."


Di sore hari nya Dimas cepat pulang. Tidak lupa dia membawa makanan yang banyak untuk istri nya.


Sesampainya di rumah dia langsung memeriksa Bela yang masih tidur di kamar.


"Sayang... Kamu masih sakit?"


Bela bangun. "Loh kenapa kakak pulang sendiri? Vira mana?"


"Di rumah nenek sama Kakek, kamu tidak perlu khawatir."


"Bagaimana kalau mereka berfikir aku tidak mau menjaga Vira dan merepotkan kakak?"


"Mereka tau kok kamu sakit, jangan berfikir yang aneh-aneh, yang penting kamu sehat dulu."


"Aku sudah mendingan kok, tadi Yana sama Kevin datang bawa obat."


Dimas memberikan makanan dan menyuapi istri nya.


"Bagaimana kerjaan kakak hari ini? Maaf yah karena aku kakak harus cepat pulang," ucap Bela.


Dimas menggeleng kan kepala nya. "Semua nya di atur oleh Serli, kamu tidak perlu khawatir dengan pekerjaan ku."


Bela menyenderkan kepalanya di bahu suami nya.


"Aku merasa sangat pusing, akhir-akhir ini badan ku sering tidak enak," ucap Bela.


"Apa kita ke dokter saja?"


Bela menggeleng kan kepala nya. "Kalau ke dokter, pasti dokter mengatakan ada penyakit yang aneh-aneh, di rumah saja nanti juga sembuh."


Dimas mengelus kepala istri nya mencium nya. "Kalau begitu ayo aku bantu membersihkan badan kamu agar lebih seger." Bela mengangguk.


Serli baru bisa pulang jam tujuh malam. "Humm pak Dimas mentang-mentang pengantin baru lebih sering pulang cepat, bikin iri saja," batin Serli.


"Tapi tidak terasa sebentar lagi sudah dua bulan pernikahan, aku yakin mereka pasti sangat bucin, hubungan mereka memang sangat di luar dugaan tapi aku berharap hubungan mereka langgeng."


"Ini juga sangat berpengaruh kepada pekerjaan ku."


Baru saja keluar dari perusahaan, dia melihat mobil kekasih nya di depan pintu masuk.

__ADS_1


"Ya ampun, kenapa dia nungguin di sini sih?" ucap nya segera menghampiri mobil Roi.


"Kenapa kamu nunggu di sini? Kamu bisa tunggu di parkiran," Ucap Serli kepada Roi.


__ADS_2