
"Iyah Om, aku sangat takut sekali, kapan kita akan pulang dari sini?"
"Sebentar yah sayang, kamu jangan bosan yah karena di sini kamu memiliki banyak teman juga."
"Iyah Om."
Setelah beberapa lama akhirnya Vira kembali bermain..Bela dan Dimas berjalan ke arah dapur.
"Aku tidak terbiasa dengan masakan yang di rumah ini, kamu bisa masak untuk ku kan?"
"Baiklah kak," ucap Bela.
Semua orang yang duduk di ruang tamu melihat keromantisan dan kedekatan Dimas dengan Bela.
"Apa yang sedang kalian lihat? Untuk apa melihat mereka?" tanya nenek baru saja datang."
"Ini seperti tidak mungkin kalau kita akan melihat Dimas datang ke sini membawa wanita dan juga sangat bucin."
"Nenek tau kan,. Dimas selalu saja malas pulang ke sini, dia juga sangat Sibuk bekerja namun sekarang dia jauh berbeda."
"Dia betah di rumah sudah dua hari, biasa nya dia hanya duduk beberapa jam setelah itu pergi kembali ke Jakarta." Ucap suami dari Tante pertama Dimas.
Nenek tampak sangat acuh, dia duduk bergabung dengan yang lain nya.
Di dapur Dimas dan Bela asik memasak. Tanpa di sadari mereka berdua sedang di awasi oleh satu keluarga.
"Ekhem-ekhem... Kalian sedang masak apa?" tanya Tante kedua Dimas.
"Ini Tan, kak Dimas tidak terbiasa dengan masakan khas di sini, jadi aku mencoba masak seperti biasanya."
"Humm biasa nya dimas memang seperti ini, selalu saja pilih-pilih makanan, mungkin karena dia tidak besar di sini sehingga membuat nya tidak suka."
Bela tersenyum sambil mengangguk. "Apa Tante mau cobain?"
Bela menawarkan nya sambil memberikan di piring kecil.
Tante kedua mencoba nya. "Hummm, Ini enak banget, kamu ternyata sangat pintar masak," ucap Tante kedua.
"Iyah Tante, selain pintar masak dia juga sangat baik," ucap Dimas.
"Tante tidak bicara sama kamu," ucap Tante kedua.
Tante kedua malah bertanya apa saja resep makanan yang dia buat.
Tidak beberapa lama akhirnya masakan nya selesai.
"Ini Pasti sangat enak sekali, ayo makan," ajak Tante kedua.
Vira dan kedua anak Tante Dimas itu datang mau ikut makan bersama.
Sementara orang yang di ruang tamu hanya bisa diam saja. Bela dan Dimas mengajak nenek serta yang lainnya, namun mereka tidak mau.
Setelah selesai makan Bela mau mandi ke kamar nya.
Dia melihat ke arah handphone nya banyak panggilan tak terjawab.
"Mbak Kayla, aku tidak mendengar handphone ku berdering."
Bela langsung menelpon nya. "Iyah mbak? Aku minta maaf baru tau telpon dari mbak."
__ADS_1
"Iyah gak apa-apa kok," ucap Kayla.
"Kalau boleh tau ada apa yah mbak?" tanya Bela.
Kayla duduk dari tidur nya, karena dia masih berbaring di kasur Fahri sementara Fahri sudah berangkat bekerja dari pagi tadi.
"Dari kemarin aku kefikiran sama kamu, bagaimana keadaan kamu di sana?"
"Humm, ya begitulah mbak," ucap Bela.
"Ada apa? katakan saja."
"Seperti nya Nenek dan kakek tidak akan mengijinkan kami menikah karena mereka tidak menyukai ku."
x
"Jangan mudah menyerah seperti itu, mereka tidak jahat, pada suatu saat nanti Mereka pasti luluh."
"Tapi sampai sekarang, mereka masih membenci ku. Hanya Tante kedua yang mau berbicara dan menerima ku di sini."
"Apa perlu aku datang ke sana? Aku akan menyakinkan mamah sama papah."
"Jangan mbak, aku tidak mau merepotkan mbak."
Kayla menghela nafas panjang.
Setelah membicarakan banyak hal, Bela pamitan karena dia harus mandi.
Kayla menghela nafas sambil melihat handphone nya.
"Dia pasti sangat tertekan di sana, tapi tidak apa-apa, setelah dia menikah dengan Dimas hidup nya akan jauh lebih bahagia," ucap Kayla.
"Sayang.. Aku di depan pintu, kenapa kamu tidak membuka untuk ku?" tanya Fahri.
Kayla melihat jam, ternyata sudah jam 12 lewat.
"Sebentar."
Dia berlari keluar membuka pintu untuk Fahri.
"Kamu baru saja bangun?" tanya Fahri. Kayla menggaruk kepalanya sambil tersenyum.
"Aku minta maaf, tapi tadi malam aku bergadang."
Fahri menghela nafas. "Tidak apa-apa, sekarang ayo makan siang."
"Kenapa kamu pulang ke sini untuk makan siang?"
"karena jarak dari sini ke kantor tidak terlalu jauh."
"Oohh begitu yah."
Kayla dan Fahri makan siang bersama.
"Humm malam ini aku masih bisa tidur di sini kan?" tanya Kayla.. Fahri menggeleng kan kepala nya.
"Tidak bisa, kamu harus pulang karena nanti malam Roi akan tidur di sini," ucap Fahri.
"Ngapain dia tidur di sini?"
__ADS_1
"Ada pekerjaan yang harus di selesaikan."
"Jadi kamu lebih memilih tidur dengan dia, dari pada sama pacar kamu?"
"Bukan seperti itu, hanya saja tidak mungkin dia melihat kamu di sini seperti ini."
Fahri menunjuk tubuh Kayla. "Apa yang salah? Aku bisa mengambil pakaian ku pulang."
"Sebaik nya kamu pulang, tidak baik lama-lama di sini."
Kayla memasang wajah cemberut.
"Roi sangat menyebalkan sekali," ucap Kayla. Fahri hanya bisa tersenyum kepada Kayla.
Tidak beberapa lama selesai makan siang, Fahri duduk sebentar bersama Kayla.
Waktu nya kembali ke kantor.
"Sayang, tunggu dulu," ucap Kayla menahan Fahri.
"Iyah, kenapa?"
"Apa kamu setuju kalau kita menikah setelah Dimas dan Bela menikah?"
Fahri terdiam sejenak, dia mengingat permasalahan mereka sebelumnya apa.
"Aku akan menikahi kamu ketika nanti aku sudah sukses, aku akan berusaha sekuat mungkin agar cepat menikah dengan kamu."
"Apa aku harus menunggu cukup lama?"
"Tidak, kamu tidak perlu takut menunggu terlalu lama, aku akan mengusahakan secepat mungkin."
"Aku tidak ingin membuat kamu malu, aku tidak ingin merendahkan kamu, itu sebabnya aku harus berjuang dan berusaha untuk membahagiakan kamu."
Kayla tersenyum dia memeluk Fahri. "Terimakasih sayang."
"Ya sudah kalau begitu, aku berangkat dulu."
"Tunggu sebentar, aku masih sangat merindukan kamu..Kamu sangat wangi sekali, ini sangat nyaman."
Fahri tersenyum, dia mengelus rambut Kayla.
"Kalau kamu sudah pulang, jangan lupa kabarin aku."
Di malam hari nya...
Serli dan Fahri datang ke apartemen Fahri. Ini bukan pertama kalinya apartemen Fahri untuk jadi tempat bekerja lembur mereka bertiga.
"Oh iya, mbak Serli, hari ini Roi akan bergabung dengan kita karena banyak yang harus kita bicarakan?"
"Iyah gak apa-apa, Lagian ada dua Staf cewek yang ikut juga."
Fahri menyiapkan beberapa cemilan untuk mereka nanti.
Namun tiba-tiba handphone nya berdering. "Mbak, tunggu sebentar yah, aku jawab telpon terlebih dahulu."
Serli mengangguk, mempersilahkan Fahri menjawab telpon.
"Halo sayang..." Fahri menjawab telpon dari Kayla. Sementara Roi baru saja datang. Serli membuka pintu untuk nya.
__ADS_1
"Kamu di sini juga?" ucap Roi, Serli tersenyum tipis.