
Dimas melihat pria-pria yang bertubuh kekar keluar dari mobil-mobil itu dan berdiri mengelilingi rumah itu.
"Saya sudah yakin ada aneh, kenapa tiba-tiba banyak penjaga sementara sebelum nya tidak ada orang?" ucap Dimas.
Namun tiba-tiba Mereka mendengar suara teriakan Bela dan Juga Vira, mereka juga melihat Bela dan Vira di paksa masuk ke dalam mobil.
Dimas mau menghampiri nya namun di tahan oleh Rio.
"Jangan pak ini sangat berbahaya, kita harus mengikuti permainan mereka."
Dimas melihat Vira dan Bela di perlakukan sangat kasar membuat Dimas khawatir.
Mendengar teriakan mereka Dimas juga sangat takut namun dia tidak bisa gegabah.
"Bapak tidak perlu khawatir seperti nya itu adalah anggota Pak Irfan." ucap Rio.
"Bagaimana kamu yakin? Bagaimana kalau itu adalah orang lain?" tanya Dimas.
Dimas tidak bisa menunggu lagi dia langsung mengikuti mobil yang membawa Bela dan Juga Vira.
Masih berusaha untuk tidak terlihat oleh penjaga dan juga yang punya rumah.
Namum ternyata ada orang yang menyadari suara mobil mereka dan langsung di kejar oleh pengawal yang di sana.
Rio membawa mobil sangat cepat menghindari mereka semua yang mencoba menghentikan aksi untuk mengikuti mobil tadi dan mereka penasaran siapa yang di dalam mobil itu.
Setelah mobil yang mengejar mereka tidak terlihat Rio dan Dimas sangat lega, hanya saja setelah beberapa tiba-tiba mobil hitam tadi sudah berhenti di depan mereka.
"Turun! Turun!" mereka memaksa Dimas dan Rio turun.
Mereka turun. "Oohh ternyata anda, apa anda tidak bosan mengintai kami?" tanya ketua pengawal.
"Mau kemana kalian membawa Bela dan juga Vira?"
"Apa urusannya dengan anda? Mereka adalah anak bos kami," ucap ketua pengawal itu.
"Saya tidak akan pernah membiarkan bos kalian lepas begitu saja setelah membunuh kedua orang tua saya!"
Dimas langsung melawan mereka semua, dan pengawal Dimas datang untuk membantu mereka.
Tidak beberapa lama Ketua pengawal dan semua anggota nya terjatuh.
"Katakan kemana mereka membawa Bela?" ucap Dimas sambil mengarahkan pistol ke kepala pengawal itu.
"Saya tidak akan pernah memberi tau kepada anda!"
"Hanya karena melindungi pembunuh, kau bisa saja terbunuh!" ucap Dimas masih mencoba mengancam nya.
__ADS_1
"Katakan kemana mereka membawa Bela dan Vira?"
"Di mana Pak Irfan? Di mana dia bersembunyi selama ini?" tanya Dimas.
Namun ketua pengawal itu tidak mau buka mulut sehingga Dimas menembak di samping nya membuat mereka semua takut.
"Gedung Jai, mereka membawa Bela ke sana, saya mohon lepas kan saya!"
Dimas menghajar pria itu dan meminta pengawal mengurus mereka semua.
"Ayo berangkat Rio."
Mereka langsung ke alamat yang lumayan jauh dari sana.
Di rumah Kayla sudah sangat panik karena sudah jam satu malam Keponakan nya belum juga pulang, dia tidak tau menghubungi siapa lagi karena tidak ada yang bisa di hubungi dia juga tidak berhenti khawatir kepada Dimas.
Bibik juga begitu, dia tidak berhenti memikirkan Bela.
Sementara Bela baru saja bangun dari pingsan nya dan melihat Vira yang sudah pingsan di ikat sama seperti dirinya.
"Ada apa ini? Kenapa orang-orang ini menculik aku dengan Vira.
Bela berontak namun pria yang di samping nya langsung menyenggak nya.
"Kemana aku akan di bawa? Kenapa jalan ini sangat asing? Kak Dimas tolong aku." Bela tidak bisa berteriak karena mulut nya di lakban.
Bela terus berontak namun mereka terlalu kuat, sementara Vira masih tidak sadar dia terlihat sangat pucat sekali.
Baru saja keluar dari mobil Dimas dan Rio sudah datang bersama pengawal nya.
"Bela!" ucap Dimas.
Mereka semua langsung menghajar Dimas.
Bela sangat senang Dimas datang namun dia tidak bisa melakukan apapun selain mengikuti Pria yang membawa nya masuk ke dalam.
"Masuk! Masuk!"
Bela di masuk kan dalam ruangan yang tidak ada orang lain, hanya ada sofa, tempat tidur dan juga kamar yang begitu luas.
Setelah ada pria yang sudah lanjut usia masuk ke dalam ruangan itu bersama dua pengawal di belakang nya.
"Pria ini, pria ini seperti yang ada di dalam foto itu."
Bela melihat Pria itu ada di dalam salah satu foto orang tua Dimas dan banyak teman-teman nya juga.
Pria itu melihat Vira yang yang terbaring di tempat tidur.
__ADS_1
"Buk!!" tiba-tiba pria itu menghajar pria yang membawa Bela masuk kesana sampai jatuh.
Bela sangat kaget.
"Saya sudah bilang pastikan mereka sampai di Sini dengan selamat dan tidak terluka!"
"Maaf tuan," pria itu minta maaf.
Pria itu mengelus kepala Vira.
Setelah itu dia melihat ke arah Bela, dia mendekati Bela dengan tatapan tajam dan penuh amarah.
Dengan kasar pria itu membuka lakban di mulut Bela sampai Bela meringis kesakitan.
"Siapa kamu? kenapa kamu menculik saya dengan Vira?"
Pria itu mencekram dagu Bela dengan sangat kuat.
"Kamu tidak mengenalinya saya?" tanya pria itu.
Bela terdiam sejenak karena pria itu sangat asing bagi nya.
"Saya adalah ayah kandung mu yang sudah menitipkan mu ke panti asuhan di waktu kamu umur tiga tahun."
Bela sangat kaget mendengar itu.
"Ini ayah? ini benar-benar ayah?" tanya Bela sangat senang, namun tiba-tiba pak Irfan mendorong wajah Bela melepaskan tangan nya membuat Bela kaget dengan perlakuan Ayah nya itu.
"Dari awal saya sudah sangat membenci anak seperti mu! Dan sekarang kau tinggal dengan pria itu bahkan memiliki hubungan dan membuat adik mu dalam bahaya! Seharusnya kau saya buang!"
Bela kaget karena pak Irfan bisa tau tentang itu dan tentang Vira dia tidak salah dengar kalau Vira adalah adik nya, dia tidak perlu bertanya karena dia bisa yakin kalau itu benar.
"Apa kau tau, karena kau tinggal bersama pria itu hidup saya terancam!"
"Aku tidak mengerti apa yang ayah maksud."
"Berhenti panggil saya ayah! Kamu bukan anak saya."
Bela terdiam, betapa sakit hati nya ketika seorang ayah nya mengatakan hal seperti itu sementara dia bisa merasakan ikatan batin di antara mereka berdua.
"Aku tidak mengerti apa yang Ayah maksud, namun aku benar-benar minta maaf kepada ayah kalau aku membuat hidup ayah seperti ini."
"Tidak cukup dengan kata maaf."
"Apa yang harus aku lakukan Ayah? Aku sangat merindukan Ayah, aku mohon jangan tinggalkan aku dengan Vira lagi, aku sangat ingin bersama Ayah," ucap Bela.
Pak Irfan membuka ikatan tangan dan kaki Bela yang sudah biru-biru.
__ADS_1
"Saya butuh bantuan kamu untuk menghabisi dan memberikan Dimas pelajaran," Ucap pak Irfan.