
"Tapi dia sangat cuek Om, dia bahkan tidak mau berbicara kepada ku."
Melihat wajah Vira sangat sedih. "Humm bagaimana kalau nanti kita om bantuin kamu?"
Vira menggeleng kan kepala nya. "Gak usah om."
"Sudah lanjut makan Saja," ucap Bela.
Di malam hari nya...
"Sayang..." panggil Dimas menghampiri istrinya yang tengah duduk sambil menonton TV.
"Ada apa kak?" tanya Bela. Dimas melihat Vira juga masih Nonton. Dia meminta Vira untuk tidur karena sudah malam dan besok harus sekolah.
"Ada apa Kak?" tanya Bela lagi karena Dimas menarik tangan nya.
"Ayo tidur," ajak Dimas.
"Aku sedang nonton, kakak bisa pergi tidur duluan."
Dimas memasang wajah kesal, "Apa kamu akan membiarkan aku tidur sendirian?"
"Bukan seperti itu kak, tapi aku masih asik nonton."
Dimas menghela nafas panjang, dia berbaring di paha Bela menunggu Bela selesai.
Namum ternyata dia yang malah ketiduran karena menunggu terlalu lama.
"Yah malah ketiduran," batin Bela.
"Kak.. Ayo kita pindah ke kamar," Bela berusaha membangun kan Dimas.
Dimas langsung bangun. "Sudah selesai?" Bela mengangguk.
Dimas yang tadi nya terlihat ngantuk setelah masuk kamar dia sangat bersemangat sekali membawa istri nya ke kasur.
"Apa yang kakak lakukan?" tanya Bela karena membuka baju nya.
"Masa kamu gak tau?" tanya Dimas.
"Aku sudah bilang kan kalau aku sedang tidak mood."
"Tapi.."
"Aku sedang tidak enak badan, apa kakak tega melakukan nya?"
"Apa kamu lupa kalau menolak suami adalah dosa?"
"Iyah aku tau, tapi badan ku masih sangat lemas."
"Kalau begitu aku akan melakukan nya dengan lembut, aku tidak akan kasar."
Bela menghela nafas panjang, Dimas melakukan seribu cara untuk membujuk Bela.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Bela, tidak menunggu lama dia langsung melakukan nya.
Sementara Serli dan Roi baru saja pulang entah dari mana. Roi membawa Serli ke markas nya karena kedua nya sudah sangat lelah.
Kalau pulang ke rumah Serli akan sangat jauh.
Serli juga tidak keberatan tidur di markas Roi hanya satu malam.
__ADS_1
"Maaf yah, karena menemani aku kamu jadi kelelahan seperti ini," ucap Roi.
"Humm, tidak apa-apa."
"Oh iya kamu bisa tidur di kamar, aku akan tidur di luar."
Serli mengangguk. Namun melihat kondisi markas Roi dia tidak yakin Roi tidur di luar.
Akhirnya kedua nya tidur di kasur Roi yang tidak terlalu lebar.
"Sangat dingin sekali," ucap Serli Tampa sadar mereka berdua berpelukan.
Keesokan paginya...
Serli bangun, dia sangat kaget mendapati dirinya tidur di pelukan Roi yang telanjang dada.
Serli mau pergi, namun di tahan oleh Roi yang kelihatan nya masih sangat pulas.
"Arrghh!!! Apa-apaan seperti ini," batin Serli.
"Apakah tidur mu nyenyak?" tanya Roi membuat Serli kaget.
"Kamu sudah bangun? Lepaskan aku."
"Tunggu dulu, aku masih mau memeluk kamu.. Ternyata seperti ini rasanya memeluk pacar.".
Serli Menatap Roi. "Apakah selama ini kamu benar-benar tidak pernah berpacaran?"
Roi menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak mudah suka kepada orang lain, aku juga tidak ingin berpacaran."
"Apakah kamu mau melajang seumur hidup?"
"Humm, aku mau nya seperti itu dulu, namun sekarang tidak."
"Kalau bukan karena keluarga kamu yang maksa, mungkin kamu tidak akan mencari pacar."
"Kamu benar, namun keputusan ku mencari pacar ternyata tidak salah, aku mendapatkan wanita cantik, baik, dewasa walaupun terkadang sangat cerewet."
"Aku tidak cerewet."
"Roi, apa kamu tidak bisa memakai pakaian dengan rapi? Bagaimana dengan rambut mu? Apa kamu minum, apa kamu bertemu perempuan di luar sana?" Roi meniru gaya berbicara Serli ketika marah-marah kepada nya.
Serli tertawa mendengar Roi meniru nya ketika marah.
"Tapi aku sangat suka dengan semua itu, itu artinya kamu perhatian, perduli kepada ku."
"Kamu juga seperti itu. Kamu selalu menuduh ku memiliki hubungan dengan Staf ganteng di kantor, kamu juga selalu melarang ku dandan cantik ketika ada meeting dengan klien muda."
"Karena aku cemburu ketika mereka melihat nya, kamu hanya milik ku, dan itu semua hanya untuk ku."
"Humm dasar bucin," ucap Serli.
Roi mengelus rambut Serli.
"Apakah kamu ingin ikut aku bertemu dengan keluarga ku?"
Serli mengangguk. "Aku sudah bilang aku siap dari awal, hanya saja kita belum memiliki waktu untuk bertemu mereka," ucap Serli.
Roi tersenyum. "Ini sudah jam tujuh, aku akan berangkat ke kantor," ucap Bela.
Roi mengangguk. Kebetulan sekali pakaian Serli ada di dalam mobil nya.
__ADS_1
Jadi dia tidak perlu pulang untuk ngambil pakaian nya.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai, dia melihat Roi duduk di meja makan.
"Ayo sarapan dulu, aku sudah masak."
"Kamu masak sendiri? Yakin?" tanya Serli.
Roi mengangguk. Mereka sarapan bersama dan setelah itu Serli berangkat bekerja.
"Uwekk... Uwekkk..." Bela sudah hampir satu jam di kamar mandi karena sangat mual sekali.
Dimas yang masih sangat ngantuk mencoba menemani nya tapi malah ketiduran di sudut kamar mandi.
"Kak! Kak!" panggil Bela. Dimas bangun.
"Kenapa sayang? Apa masih terasa mual?"
"Seperti nya aku masuk angin deh," ucap Bela. Dimas membantu nya berjalan keluar.
"Masuk angin? Tidak mungkin deh kayaknya."
Dimas mengambil kalender.
"Biasanya kamu menstruasi di tgl 10, dan ini sudah tgl 28 kamu belum juga menstruasi."
"Apa maksud kakak aku hamil?" tanya Bela. Dimas mengangguk.
"Tidak mungkin kak, biasanya aku juga terkadang telat, mungkin karena hormon."
"Tapi firasat ku bilang kamu hamil," ucap Dimas masih berusaha menyakinkan Bela.
"Pokoknya kita harus periksa ke dokter sekarang."
"Sekarang? lalu bagaimana dengan Vira? Aku juga ada kuliah pagi."
Dimas menghela nafas panjang. Dia tidak bisa memaksa istri nya.
Bela berangkat ke kampus setelah minum obat. Dimas juga berangkat ke kantor setelah mengantar kan istrinya.
Dia sampai di kantor langsung mencari Serli.
"Selamat pagi pak, apa Bapak mencari saya?"
"Ada yang perlu kita bicarakan."
"Apa ada yang salah pak?" tanya Serli karena Dimas terlihat sangat serius.
"Sekarang beri tahu kepada saya apa ciri-ciri orang hamil."
"Humm biasa nya mual-mual Pak."
"Selain itu."
"Biasa nya sih sering sakit, selera makan berkurang dan juga kepala nya puyeng, wajah nya juga pasti pucat."
"Ini semua di alami istri saya, saya sudah bilang kalau dia hamil, tapi dia bilang tidak," ucap Dimas.
"Biasanya seperti itu pak, tapi bisa jadi saja karena kurang enak badan atau masuk angin."
"Masuk angin? Tidak mungkin karena saya tau tanggal menstruasi nya dan dia sudah telat cukup lama."
__ADS_1
Serli tiba-tiba tersenyum ketika mendengar Dimas menghapal tanggal menstruasi istri nya.
Tampa ada rasa malu, dan juga gengsi dia mengatakan hal itu.