Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 176


__ADS_3

Fahri tersenyum, dia mengelus rambut Kayla.


"Kalau kamu sudah pulang, jangan lupa kabarin aku."


Di malam hari nya...


Serli dan Fahri datang ke apartemen Fahri. Ini bukan pertama kalinya apartemen Fahri untuk jadi tempat bekerja lembur mereka bertiga.


"Oh iya, mbak Serli, hari ini Roi akan bergabung dengan kita karena banyak yang harus kita bicarakan?"


"Iyah gak apa-apa, Lagian ada dua Staf cewek yang ikut juga."


Fahri menyiapkan beberapa cemilan untuk mereka nanti.


Namun tiba-tiba handphone nya berdering. "Mbak, tunggu sebentar yah, aku jawab telpon terlebih dahulu."


Serli mengangguk, mempersilahkan Fahri menjawab telpon.


"Halo sayang..." Fahri menjawab telpon dari Kayla. Sementara Roi baru saja datang. Serli membuka pintu untuk nya.


"Kamu di sini juga?" ucap Roi, Serli tersenyum tipis.


Serli Masuk. "Apa Fahri belum pulang?" tanya Roi.


"Dia sedang keluar menjawab telpon," ucap Serli. "Oohh, nih ambil lah," ucap Roi memberikan makanan yang baru saja dia bawa.


Serli menyiapkan ke piring terlebih dahulu.


Serli melihat Roi langsung fokus ke laptop nya Tampa mengatakan apapun kepada nya.


Roi menoleh ke arah Serli, dia sadar kalau Serli sedang memperhatikan nya. "Ada apa?" tanya Roi.


"Enggak, gak ada kok, kamu lanjut saja aku ke kamar mandi dulu," ucap Serli.


Roi menghela nafas. "Sangat aneh," ucap nya.


"Sadar Serli, sadar, kamu yang membuat nya pergi dan bersama wanita lain sekarang," ucap Serli.


"Tapi kenapa sih, semakin aku berusaha melupakan dia, semakin kuat perasaan ku terhadap nya."


Tidak beberapa lama mereka mulai berkumpul dan membicarakan pekerjaan dengan serius sekali.


Di kediaman nenek dan kakek Dimas. Bela membuat kan teh untuk Dimas yang sedang memeriksa laporan perusahaan.


"Kak, Tante kedua mengajak ku belanja keluar besok, aku boleh pergi kan?" tanya Bela.


Dimas Menatap Bela. "Kamu yakin mau pergi?" tanya Dimas.


"Iyah kak, Aku juga mau membeli beberapa keperluan lain."


"Ya sudah kalau begitu kamu bisa pergi, tapi jangan lama-lama."

__ADS_1


Bela tersenyum. Setelah selesai memberikan teh dia pun pergi dari sana.


"Biasa nya Tante pergi sama nenek, apa nenek tidak pergi sehingga mengajak Bela?"


"Ah sudahlah, terserah mereka saja, itu sangat baik untuk pendekatan Bela kepada keluarga ini."


Hari semakin malam...


Dia Staf teman serli sudah pulang. Sementara Serli belum selesai, dia belum bisa pulang sama sekali.


Fahri sudah mengantuk dia langsung tidur Tampa mengatakan apapun. Sementara Roi masih sibuk juga dengan laptop nya.


Roi baru saja selesai, dia melihat ke sekeliling nya ternyata sudah tidak ada orang lain selain dia dan Serli.


Di tambah lagi Serli sudah tidur sambil duduk. Fahri sudah pindah ke kamar karena sudah sangat mengantuk.


"Serli.. Serli..." dia membangun kan Serli agar menutup laptopnya dan segera pulang.


"Jangan ganggu aku, aku mau tidur," ucap Serli.


"Apa kamu sudah menyelesaikan pekerjaan kamu? Bagaimana kalau kamu istirahat saja, besok saja selesai ini semua."


Namun Serli Sama sekali tidak merespon nya.


"Apa dia tidak mau pulang? apa dia mau di sini?"


Serli berusaha untuk bangun ketika Roi membangun kan nya, namun rasa kantuknya sudah tidak tertolong lagi.


"Ah sudahlah, biarkan saja dia tidur di sini, lagian dia sudah terbiasa tidur di sini," ucap Roi.


Namun saat dia bersiap-siap mau pulang dia mengingat Fahri masih lajang, Serli juga kalau tidur dia sama sekali tidak sadar sama sekali.


"Seperti nya aku akan tidur di sini saja, aku tidak ingin sesuatu yang tidak di inginkan terjadi," ucap Roi.


Roi berbaring di samping Serli. Untung saja sebelum nya Fahri sudah memasang karpet, jadi mereka berdua bisa tidur di sana.


Serli terbangun karena merasa badan nya sakit dan tempat tidur nya tidak nyaman sama sekali. Namun dia sangat kaget melihat Roi tidur di samping nya, dan sekarang dia berbantal di lengan Roi.


"Kenapa dia bisa tidur di sini?" tanya Serli kaget, dia mencoba mengingat lagi.


Roi bergeliat, namun Serli langsung berpura-pura tidur, dia tidak ingin Roi tau dia bangun.


Roi berusaha melepaskan kepala Serli dari lengan nya. Namun Serli tidak mau, dia semakin memeluk Roi dengan erat.


Keesokan paginya...


Fahri bangun, dia sangat kaget melihat Serli dan Roi ada di ruang tamu masih tidur dan mereka berpelukan.


"Loh kenapa mereka tidur di sini?" batin Fahri.


Roi sadar kalau Fahri melihat mereka.

__ADS_1


Roi melihat Serli masih tidur. "Kenapa kalian tidur di sini?" tanya Fahri.


"Kami berdua ketiduran," ucap Roi. "Seharusnya kalian bilang kalau mau menginap," ucap Fahri. "Dari awal aku sudah bilang mau menginap di sini, tapi aku tidak tega meninggalkan Serli di luar sendirian."


Serli terbangun, dia melihat Fahri dan Roi.


"Kalian berdua kenapa bangun sangat cepat?" tanya Serli karena masih jam enam pagi.


"Hari ini kita ada meeting pagi."


"Ya ampun, aku baru ingat, bagaimana ini?"


Serli mau pergi mandi, namun dia baru ingat kalau itu bukan lah rumah nya.


Dia langsung keluar dari sana. Roi dan Fahri hanya bisa menghela nafas panjang melihat Serli.


"Bagaimana hubungan mu dengan Kayla sudah membaik kah?" tanya Fahri.


"Tumben banget kamu perduli dengan hal seperti ini," ucap Fahri.


"Wajah mu terlihat lebih ceria dari sebelumnya."


Fahri tersenyum sambil mengangguk. "Iyah, aku sudah baikan dengan mbak Kayla."


"Bagus deh kalau begitu."


"Bagaimana dengan wanita kencan buta mu itu?" tanya Fahri.


"Baik-baik saja sih, hanya saja aku merasa tidak ada kecocokan dengan nya, aku tidak bisa membuka hati dan menyukai nya."


"Loh kenapa? Bukan kah dia cantik, baik, kaya, pintar sesuatu dengan kriteriamu?"


"Benar sih, hanya saja.."


"Jangan bilang kalau kamu sudah menyukai wanita lain, dan sekarang kamu tidak bis menyukai orang baru."


Fahri mengangguk. "Kamu benar, aku menyukai wanita lain yang sifatnya sangat jauh dari kriteria ku," ucap Roi.


"Jangan bilang itu adalah mbak Serli," ucap Fahri.


Roi terdiam sejenak. "Katakan saja, itu mbak Serli kan?" tanya Fahri.


"Tidak tau, sebaiknya aku pulang. Kamu juga harus segera ke kantor."


"Kalau diam arti nya iya, aku akan mengatakan nya kepada mbak Serli."


"Jangan coba-coba mengatakan nya, karena tidak mungkin dia mau menyukai ku."


"Siapa yang tau? bagaimana kalau sebenarnya dia masih menyukai mu?" tanya Fahri.


"Sangat banyak pria yang mau kepada nya, aku bukan lah apa-apa bagi nya."

__ADS_1


"Jangan mudah menyerah seperti itu, bagaimana kita tau kalau kamu tidak mencoba untuk mendekati nya lagi?"


__ADS_2