Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 140


__ADS_3

"Saya tidak sengaja membuka laptop kamu dan melihat foto-foto Kalian."


Fahri sangat malu sekali, dia tau foto yang di simpan di laptop nya cukup menjelaskan hubungan mereka yang sudah sangat dekat itu.


"Tidak perlu canggung, itu semua adalah hal wajar."


Fahri sedikit lega karena Dimas tidak marah, dia tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa lagi, ternyata semua nya tidak semenakutkan itu.


Tiba di club teman Dimas. Ternyata sudah banyak teman nya yang menunggu mereka berdua di sana.


Dimas tidak lupa mengundang Rio datang ke sana.


Serli juga di undang oleh Dimas, Serli baru saja kembali dari luar kota yang tidak jauh dari kota mereka. Dia pun langsung menyusul ke sana.


Serli sampai dan langsung di sapa oleh Dimas dan juga yang lain nya selain Rio.


Serli duduk di samping Rio. "Tumben banget mau ikut minum-minum seperti ini?" tanya Serli.


"Pak Dimas meminta ku untuk datang."


"Oohhhh, pantesan saja."


Rio menghela nafas panjang. Mereka langsung minum.


Serli adalah perempuan yang cukup pintar minum, namun malam ini dia lupa mengontrol diri sehingga dia mabuk.


Serli pamit ke toilet karena sudah tidak tahan lagi. Rio yang kebetulan di kamar mandi laki-laki melihat Serli berjalan tidak benar ke dalam kamar mandi dan salah memasuki toilet.


Untung saja di dalam sana hanya ada dia. Serli muntah-muntah dia mengeluarkan semua isi perut nya.


"Perempuan seperti apa yang minum tidak tau batas dan muntah-muntah seperti ini!" ucap Rio melihat Serli yang duduk di lantai sambil memeluk toilet.


Serli menatap Rio. "Kamu mengata-ngatai aku? emang nya kamu tau aku perempuan seperti apa?" tanya Serli.


Rio menghela nafas panjang. "Aku sudah lama tau kamu seperti apa, apa perlu aku menjelaskan kamu wanita seperti apa?" tanya Rio.


Serli mendorong Rio dari nya. "Coba saja aku tidak menyukai kamu, aku sudah sangat membenci mu karena kamu tidak memiliki hati."


Rio tertawa kecil. "Sudah ku tebak," ucap Rio.


"Apa maksud mu?"


"Aku sudah tau kamu menyukai ku kan? kamu berpura-pura selalu di depan ku, karena tidak mendapatkan balasan kamu selalu membuat masalah," ucap Rio.


"Banyak omong!" ucap Serli mau keluar dari toilet namun dia tidak bisa menyeimbangkan badan nya sehingga terjatuh ke arah Rio.


"Seperti nya dia sudah mabuk, kamu bantu antar kan dia pulang," ucap Dimas kepada Rio.

__ADS_1


"Saya pak?" tanya Rio.


"Semua nya sudah tidak ada yang sadar, hanya kamu yang belum mabuk," ucap Dimas.


Rio menghela nafas panjang. Dia pun membawa Serli keluar.


"Dasar perempuan! Dimana-mana perempuan selalu menjadi beban dan selalu menyusahkan para laki-laki," ucap Rio.


Rio memasukkan serli di bagian belakang. Dia menjalan kan mobil nya.


Namun setelah di pertengahan jalan dia lupa bertanya di mana alamat Serli.


Sementara Dimas, dia melihat jam sudah jam 12 malam.


Akhirnya dia memutuskan untuk langsung pulang saja.


Tidak beberapa lama akhirnya dia sampai di rumah. Dia berfikir Bela sudah tidur namun setelah dia berhasil membuka pintu semua lampu hidup.


Dia sangat kaget. "Dari mana saja kakak pulang jam 12 seperti ini?" tanya Bela.


Dimas berbalik, ia melihat ke arah Bela yang berdiri tidak jauh dari nya sambil melipat kedua tangan nya di dada.


"Apa kakak pikir rumah ini milik pribadi kakak sehingga pulang tengah malam dalam keadaan mabuk seperti ini?" tanya Bela.


"Siapa yang mabuk? Aku tidak mabuk."


Dimas menghela nafas panjang. "Aku minta maaf," ucap Dimas.


"Jangan membuat alasan lagi kak, sebelum nya aku sudah mengatakan jangan seperti ini lagi, namun kakak malah melakukan nya lagi."


"Aku tidak akan mengulangi nya lagi, aku mau istirahat."


"Tidak bisa! Kakak sebaiknya pulang ke rumah kakak sendiri."


Dimas menggeleng kan kepala nya. "Saya sudah minta maaf, saya sudah janji tidak minum lagi, kenapa kamu masih mengusir ku."


"Ini adalah rumah ku, aku memiliki hak untuk mengusir siapapun itu."


Dimas menghela nafas panjang. Dia mengingat kondisi Bela kurang sehat, Vira juga di rumah dan hari sudah malam akhirnya dia mengalah.


"Keluar!" ucap Bela.


Bela menarik tangan Dimas dan mendorong nya keluar.


"Iyah-iyah aku keluar."


Bela terlihat sangat marah.

__ADS_1


"Jangan datang lagi ke sini kalau masih seperti itu! Dasar menyebalkan. Pria seperti kakak mau menjadi suami ku? Bukan nya menyakinkan aku, malah membuat ku semakin ragu," ucap Bela di depan Dimas.


Dimas terkejut karena Bela menutup pintu cukup kuat.


"Bodoh! Bodoh! Kenapa aku minum seperti ini? Membuat dia semakin marah, kalau seperti ini dia tidak akan mau menikah dengan ku," ucap Dimas.


"Non Bela.. Apa tuan Dimas tidak kasihan?" tanya Bibik yang ternyata tidak pulang ke rumah utama.


"Biarin saja bik, dia sama sekali tidak memikirkan aku dan Vira yang dari tadi mengkhawatirkan keberadaan nya. Ternyata dia malah minum-minum."


Bibik melihat Bela marah, Bibik akhirnya memutuskan untuk lanjut istirahat di kamar Vira.


Dimas keluar dari rumah itu dia masuk ke dalam mobil nya dan beberapa menit akhirnya sampai di rumah nya.


"Tuan Dimas! Kenapa Tuan di sini tengah malam?" tanya Bibik.


"Jangan banyak tanya bik, saya sangat pusing," ucap Dimas langsung masuk ke dalam kamar nya.


Tiba-tiba ada pesan masuk dari Bela ke handphone Bibik.


"Apa kak Dimas sudah sampai di sana?"


"Sudah Non. Hanya saja tuan terlihat berbeda, kenapa Tuan tidak nginap hari ini?"


"Cerita nya panjang bik, urus kak Dimas yah bik, dia sedang mabuk. Aku baru saja mengusir nya."


Bibik tiba-tiba tertawa mendengar balasan Bela.


"Siapa lagi yang berani mengusir tuan Dimas kalau bukan non Bela," ucap Bibik sambil tersenyum.


"Aku yakin Tuan Dimas pasti melakukan kesalahan sehingga non Bela mengusir nya."


Keesokan paginya..


Serli terbangun dari tidur nya, dia menyentuh kepala nya yang sangat sakit, berusaha membuka mata nya.


Dia melihat ke sekitar nya, sedikit heran karena ruangan itu sangat asing bagi nya.


Dia kaget dia melihat pria yang tidak memakai busana hanya menggunakan celana boxer di balik tirai putih yang membatasi balkon dan ruangan tersebut.


Pria itu adalah Rio yang sedang menikmati kopi dan rokok di tangan nya.


Serli mulai sadar dia sangat kaget mengetahui kalau dia berada di kamar Rio.


"Kenapa aku bisa di sini?" tanya nya. Dia semakin kaget melihat diri nya memakai kimono.


"Tunggu! siapa yang menukar nya?" ucap nya semakin syok.

__ADS_1


__ADS_2