Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 37


__ADS_3

Tidak beberapa lama akhirnya dia selesai mandi, dia keluar melihat Bela sedang berbicara dengan orang lain lewat telepon rumah.


"Kamu sedang berbicara dengan siapa?" tanya Dimas kepada Bela.


Bela menghentikan telpon nya.


"Siapa yang kamu telpon?"


"Bukan aku, tapi Fahri yang menelpon ke sini."


"Fahri?"


Bela mengangguk.


"Ada apa? kenapa dia menghubungi kamu?" tanya Dimas dengan wajah yang berubah tiba-tiba kesal.


"Hanya menanyakan kabar saja Pak."


Dimas menatap tajam kepada Bela.


"Kamu harus menjaga jarak dengan Fahri. Kedekatan kamu dengan dia bisa mengganggu pekerjaan nya."


Bela mengangguk.


Karena hal itu Mood Dimas jadi kurang baik. Sepanjang perjalanan ke panti dia hanya diam saja.


"Saya minta maaf kalau berbicara dengan Fahri membuat Bapak kesal dan marah."


"Untuk kamu minta maaf?"


Bela langsung terdiam. "Oh iya untuk apa aku minta maaf?"


"Seharusnya aku tidak perlu marah Bela dengan Fahri, kenapa harus marah sementara kami tidak ada hubungan apapun selain antara majikan dan pelayan."


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di panti asuhan. Bela terlihat sangat bersemangat sekali.


"Panti asuhan ini sangat besar sekali, aku sangat penasaran dengan anak-anak yang di dalam sana karena dulu aku juga tinggal di panti asuhan."


Dimas membawa oleh-oleh dari dalam mobil dan berdiri di samping Bela.


"Apakah enak tinggal di panti asuhan?"


Bela menggeleng kan kepala nya.


"Tidak enak sama sekali karena kita harus berebutan apapun itu dari teman sendiri."


"Namun di Panti asuhan aku tidak pernah merasakan kesepian, aku selalu memiliki teman dan juga guru yang bisa di ajak berbicara."


Bela terlihat sangat sedih.


"Maaf pak saya jadi curhat, ayo masuk mari saya bantu.


"Tidak perlu, ayo masuk saja ke dalam."


Mereka masuk Bela sangat kaget karena sangat banyak anak-anak di sana.


Mereka semua terlihat sangat kurus dan kurang di urus.

__ADS_1


Namun kedatangan mereka membuat anak-anak sangat senang sekali.


Di sudut lain Vira duduk bersama Dimas melihat Bela yang sedang berbaur dengan anak-anak yang lain.


Anak-anak sangat senang belajar dengan Bela.


"Hayo Om lagi lihatin mbak Bela yah?" tanya Vira.


"Enggak, Om melihat anak-anak yang lain lagi belajar."


"Bohong! Om suka kan sama mbak Bela. Orang tadi sambil senyum-senyum." Vira sudah tau sebenarnya kalau Dimas bukan kekasih Bela.


"Kamu bisa saja," Dimas menggelitik Vira.


Bela melihat itu dia benar-benar sangat tidak menyangka kalau Dimas sangat akrab dengan Vira bahkan Vira bisa membuat Dimas yang terkenal Kejam itu menjadi sangat Hangat.


"Kamu lagi belajar apa?" tanya Bela menghampiri Vira bersama Dimas karena sudah selesai dengan anak-anak lain nya.


"Ini mbak, om Dimas memberikan pelajaran yang sangat sulit."


"Ini gak sulit ko, coba deh belajar dengan fokus agar bisa dapat jawaban nya.


"Dari tadi Om Dimas mengganggu aku mbak." ucap Vira.


Bela menatap wajah Dimas, kebetulan juga Dimas menatap wajah Bela dan mata mereka bertemu.


"Mbak dari tadi Om Dimas melihat.." tiba-tiba Dimas menutup mulut Vira.


"Melihat apa Vira?"


"Tidak ada, Vira hanya bercanda saja, maksud nya melihat Anak-anak yang sedang bermain tidak fokus belajar."


Vira menghela nafas panjang.


"Huff dasar orang tua yang tidak memiliki keberanian untuk jujur!"


Satu harian Dimas dan Bela di sana.


"Terimakasih banyak yah Pak sudah datang ke sini dan membuat anak-anak bahagia." ucap ketua yayasan.


Dimas tersenyum.


"Kedatangan saya ke sini mau memberikan tunjangan untuk dana anak-anak membeli buku, dan juga pakaian. Saya juga akan menambah guru dari luar agar pengetahuan anak-anak bertambah.


Mereka semua sangat senang sekali, mereka tidak pernah berfikir kalau mereka ada yang bantu.


Bela sangat salut dengan Dimas yang sangat baik. Dia tidak takut mengeluarkan uang yang banyak untuk membantu anak-anak itu.


"Terimakasih banyak Pak sudah membantu anak-anak itu."


"Saya juga tidak memiliki orang tua, saya tau rasanya seperti mereka dan saya ingin mereka memiliki masa depan yang bagus."


Bela tiba-tiba teringat dulu waktu masih di panti asuhan kalau tempat mereka mau di ambil oleh PT untuk di gusur.


Namun ketua panti asuhan rela menjual rumah nya agar bisa menebus tempat itu.


Dia selalu merasakan kesedihan di tempat itu sampai pada akhirnya dia angkat oleh orang tua nya.

__ADS_1


"Kenapa kamu diam?"


Bela tidak menjawab membuat Dimas bingung.


"Bela!"


"Iyah Pak."


"Kamu sedang memikirkan apa?"


"Tidak pak, saya hanya kelelahan saja."


Dimas diam dan fokus pada jalanan.


Sampai di rumah Bela mau istirahat namun dia sangat terkejut karena melihat sofa tempat tidur nya sudah ganti.


Dia melihat ke arah Dimas yang baru saja masuk.


"Kapan Bapak mengganti ini?" tanya Bela.


"Tadi siang anggota saya mengganti nya,"


"Sofa ini sangat empuk, sofa ini pasti sangat nyaman, dan ini cukup luas."


"Terimakasih banyak Pak."


"Kamu jangan salah paham, saya membeli ini karena sofa lama sudah sangat lama dan jelek."


Bela tersenyum.


"Kamu jangan tidur dulu saya mau bekerja, buat kan saya Kopi."


Bela mengangguk. Setelah Bela keluar Dimas langsung mandi.


Bela kembali ke kamar sudah tidak melihat Dimas di kamar dia meletakkan kopi di meja Dimas bekerja biasa nya.


Tidak beberapa lama Dimas keluar dari kamar mandi. Bela kaget karena Dimas memakai handuk keluar sengaja lewat di depan nya dan membuat pose-pose yang membuat Bela malu melihat nya.


Dimas sengaja memamerkan badan nya karena tidak sengaja Dimas melihat Bela membaca majalah yang ada di dalam mobil nya dan melihat foto-foto badan pria yang bagus.


Bela menatap nya dengan bingung.


"Kenapa bapak tidak memakai baju? Bagaimana kalau Bapak masuk angin?"


Dimas menghela nafas panjang.


"Sialan! Kenapa dia sama sekali tidak menatap saya seperti dia menatap foto di majalah itu? Apa badan saya kurang baik?" tanya Dimas.


Dimas langsung masuk ke ruangan ganti dengan sangat kesal.


"Huff tahan Bela, dia adalah majikan mu, kamu tidak boleh tergoda hanya karena badan nya saja."


"Aku tidak boleh terlena, kalau sampai Ku terlena, mahkota yang selalu aku jaga akan hilang begitu saja."


"Ya walaupun sebenarnya aku sudah milik pak Dimas, namun tetap saja aku harus memperjuangkan hidup ku, aku tidak boleh menyerah seperti yang di katakan Bibik." batin Bela.


Dimas keluar dari ruangan ganti Bela sudah tidur di sofa.

__ADS_1


"Hassh Sofa ini sangat lembut sekali, aku takut kalau aku tidak bisa bangun pagi kalau tidur di sini." ucap Bela yang di dengar oleh Dimas.


__ADS_2