
Dimas merasa marah tidak terima dengan hubungan nya yang sudah berakhir dia mencari club teman nya dan langsung memesan minuman dan kursi untuk diri sendiri.
"Apapun itu aku harap itu semua hanya mimpi, aku ingin bangun dari mimpi ini," ucap Dimas setelah dia sudah sangat mabuk berat dan tidak sadar tidur di meja.
Teman nya yang punya club melihat Dimas tidur tidak sadar lagi.
"Ada apa lagi dengan nya? Ini adalah kedua kalinya dia mabuk berat seperti ini, apa ini tentang orang tua nya lagi?" tanya pria pemilik club.
Dia memeriksa handphone Dimas, dia melihat wallpaper handphone nya foto Bela.
Namun tiba-tiba handphone itu berdering dari nama Bela.
"Halo.." jawab pria itu. Bela kaget kenapa suara Dimas tiba-tiba berubah.
"Saya teman Dimas, kebetulan sekali kamu menghubungi ke nomor ini, Dimas dalam keadaan mabuk berat."
"Apa kamu bisa menjemput nya ke sini?" tanya pria itu.
"Baiklah saya akan ke sana."
"Saya akan mengirimkan lokasinya."
Bela melihat lokasi nya tidak jauh dari apartemen nya.
"Bagaimana dengan Vira?" batin Bela.
Namun Bela tetap pergi menjemput Dimas. Tidak beberapa lama akhirnya sampai di club.
"Permisi kak, saya Bela yang menelpon tadi." ucap Bela.
"Untung saja kamu cepat datang, sekarang Dimas masih ada di ruangan itu."
Mereka masuk dan melihat keadaan Dimas yang benar-benar seperti orang yang prustasi.
"Ini adalah kedua kalinya Dimas mabuk seperti ini."
"Kedua kalinya?"
"Pertama dia seperti ini karena orang tua nya meninggal dunia," ucap pria itu.
"Saya tidak tau alasan nya seperti ini sekarang, namun seperti nya dia sedang patah hati."
"Dia tidak berhenti memanggil nama Bela."
Bela yang mendengar itu hanya diam saja.
"Baiklah kalau begitu saya akan membantu Dimas ke dalam mobil," ucap Pria itu.
__ADS_1
Dimas sudah di dalam mobil Bela. "Terimakasih banyak kak sudah membantu saya. Saya juga minta maaf sudah merepotkan Kakak karena Dimas."
"Tidak apa-apa, Dimas adalah teman dekat saya, saya sudah paham dia seperti apa."
Bela tersenyum, akhirnya dia membantu Dimas kembali ke apartemen nya.
Bela dengan sekuat tenaga memapah badan besar Dimas masuk ke dalam apartemen nya.
"Bela.. Kenapa kamu membawa ku ke sini? sebaiknya saya pulang saja," ucap Dimas ketika sadar dia sudah bersama Bela.
"Bapak sangat mabuk, malam ini Bapak bisa tidur di sini."
Dimas menggeleng kan kepala nya. "Saya tidak mau, saya tidak ingin di sini mengganggu kamu," ucap Dimas.
Namun tiba-tiba Bela mendorong Dimas ke sofa. "Jangan keras kepala seakan bapak baik-baik saja, tidur lah di sini malam ini."
Dimas menatap mata Bela. "Kenapa kamu membuat saya seperti ini Bela? Kenapa kamu harus menjadi luka di hidup saya?" tanya Dimas.
Bela tiba-tiba mencium bibir Dimas. Dimas kaget awalnya namun dia tidak bisa menolak dia langsung berbalik dan menindih badan Bela dan mencium bibir Bela secara brutal.
Kedua nya mulai kehabisan nafas, Dimas melepaskan ciuman nya.
"Saya sangat mencintai kamu, apa kita benar-benar tidak bisa kembali bersama?" tanya Dimas.
Bela mau pergi namun ditahan oleh Dimas.
Bela sudah sampai di puncak nya, dia tidak lagi memikirkan hal lain sekarang dia ingin fokus dengan apa yang ada di depan mata nya.
Di saat dia sudah pasrah namun tiba-tiba Dimas tidak sadar dia tertidur di dada Bela.
Bela menghela nafas panjang dia langsung sadar apa yang baru saja dia lakukan.
"Ya Allah apa yang sudah aku lakukan?" ucap Bela dia masih bersyukur karena belum melakukan nya terlalu jauh.
Bela menatap wajah Dimas. "Aku tidak tau apa yang akan terjadi ke depan nya, tapi aku masih benar-benar mencintai kamu, aku belum bisa melupakan dan memutuskan hubungan dengan kamu." ucap Bela.
Bela hendak beranjak dari sofa namun Dimas menahan nya.
"Tetap lah bersama ku Bela, aku tidak bisa Tampa mu."
Dimas memeluk Bela cukup erat sekali.
Keesokan paginya..
"Om Dimas! Mbak Bela!" ucap Vira. Dimas dan Bela bergeliat membuka mata dan melihat Vira yang terkejut melihat mereka berdua tidur berpelukan di balik selimut.
"Vira, apa yang kamu lakukan? Kenapa belum mandi?"
__ADS_1
"Kenapa Om Dimas di sini? kenapa Om Dimas tidur bersama mbak Bela?" tanya Vira.
Dimas kebingungan mau jawab apa. Bela memaksa Vira untuk mandi agar tidak telat ke sekolah.
Bela mengingat kejadian tadi malam dia langsung menarik selimut untuk menutupi dada nya.
Sementara Dimas hanya diam sambil memegang kepala nya yang sangat pusing.
"Bapak lupakan saja apa yang terjadi, Bapak bisa pergi." ucap Bela langsung masuk ke dalam kamar.
"Bela... Bela.. apa yang sudah kamu lakukan? kenapa kamu sangat bodoh!" Bela tidak berhenti merutuki diri nya sendiri.
Sementara Dimas duduk dia memegang kepala nya yang sangat sakit sekali.
Dia mengingat jelas kejadian tadi malam, namun dia malah merasa bersalah dan memutuskan untuk pergi.
"Om Dimas, anterin aku ke sekolah yah," ucap Vira keluar dari kamar sudah berpakaian sekolah namun Dimas sudah tidur ada di sana.
"Loh om Dimas tadi kemana?" tanya Vira.
"Mulai sekarang sudah tidak ada Om Dimas, om Dimas tidak akan pernah datang ke sini lagi menemui kamu, mbak harap kamu mengerti!" ucap Bela yang baru saja keluar dari kamar nya.
Vira terdiam, dia kebingungan apa yang sudah terjadi.
"Apa-apaan ini? setelah pagi tadi berpelukan tidak memakai baju, sekarang malah tidak akan bertemu lagi, apakah orang dewasa bertengkar seperti ini?" ucap Vira
"Dimas... Dimas.." panggil Kayla Tante Dimas yang berusaha mengetuk pintu kamar Dimas.
"Apa Tuan belum keluar non?" tanya Bibik.
"Iyah Bik, dari pagi tadi setelah dia pulang sampai sekarang belum keluar bahkan belum sarapan dan juga makan siang."
"Mungkin tuan ingin sendiri Non, sebaiknya di biarkan saja."
"Saya tidak tenang bik, bagaimana kalau ternyata dia dalam dia kenapa-napa."
"Tuan selalu seperti ini setiap hari Non, kita tidak bisa melakukan apapun."
"Huff padahal akhir-akhir ini Dimas sudah terlihat bahagia, namun sekarang dia kembali mengurung diri." ucap Kayla.
"Oh iya Non, hari ini adalah keputusan bersama tahun Pak Irfan di hukum."
"Apa sebaik nya saya pergi bik?" tanya Kayla.
"Saya akan mengantar mbak ke sana," ucap Fahri Dengan senang hati menawarkan diri.
Kayla menatap Fahri. "Saya belum memutuskan untuk pergi atau tidak."
__ADS_1
"Apa mbak tidak penasaran berapa tahun pak Irfan di hukum?" tanya Fahri.