
Bela menghela nafas, dia tidak bisa mengatakan apapun.
"Mulai besok aku akan mencari baby sister untuk Vira."
"Tidak perlu kak, dia sudah besar dia bisa menjaga diri sendiri, lagian dia tidak akan mau." ucap Bela.
"Kalau dia kenapa-napa lagi Bagaimana?" tanya Dimas.
Bela mendekati Dimas dia duduk di samping Dimas.
"Aku minta maaf kalau aku membuat kakak kesal, tapi Kakak jangan mudah emosi hanya karena hal sepele seperti ini, namanya juga di sekolah sangat ramai anak itu juga bilang tidak sengaja."
"Tetap saja aku mengkhawatirkan Vira."
"Dia tidak apa-apa kak," ucap Bela memeluk Dimas.
Dimas langsung luluh, amarah nya hilang.
"Aku tidak ingin orang yang aku sayangi kenapa-napa, aku tidak ingin sendiri lagi, aku tidak ingin merasakan hal yang sama lagi."
"Iyah aku paham kok, sudah-sudah," ucap Bela sambil mengelus punggung Dimas.
Dimas menatap wajah Bela. "Aku juga minta maaf sudah marah sama kamu tadi."
"Iyah gak apa-apa kok," ucap Dimas. Dia terlihat merasa bersalah. Bela mencium bibir Dimas.
"Sudah dong jangan memasang wajah galak seperti itu," ucap Bela.
Dimas memeluk Bela dan kedua nya berbaring di tempat tidur.
"Aku sangat lelah, aku mau istirahat." Dia sudah lelah terkejut melihat Vira di tambah lagi marah kepada Bela yang pulang malam Tampa ijin sama sekali.
Tidak beberapa lama Dimas ketiduran di pelukan Bela.
"Sudah lah, biarkan saja dia tidur seperti ini," ucap Bela.
Dia keluar mencari Vira, ternyata Vira sedang menonton di luar. Bela menemani nya sebentar sambil bercerita bertanya tentang kejadian sebenarnya.
Vira tampak baik-baik saja membuat Bela tenang. Dia mengkhawatirkan Vira, namun tidak di perlihatkan agar Vira tumbuh jadi anak yang kuat sama seperti dirinya.
Di hotel penginapan Kayla dan orang tua nya. Kayla menunggu Fahri di depan dari tadi.
"Kenapa kamu belum tidur?" tanya Fahri. Kayla mendekati Fahri dan langsung memeluk nya.
"Kenapa?"
"Apa aku tidak boleh memeluk pacar ku? Aku sangat merindukan kamu."
Fahri menghela nafas panjang. "Jangan seperti ini, bagaimana kalau Nenek sama Kakek lihat?"
"Mereka sudah tidur kok. Sekarang ayo masuk ke kamar kamu pasti lelah kan?"
__ADS_1
"Kamar aku yang mana?"
"Kita satu kamar."
"Tidak mungkin, bagaimana kalau Kakek tau?"
"Banyak omong deh, ayo masuk ke dalam di sini sangat dingin."
Mereka masuk ke dalam. "Aku sudah nyiapin pakaian untuk kamu, sebaiknya mandi dulu."
"Kamu yakin kita tidur satu kamar?"
"Kenapa? Bukan nya ini bukan yang pertama kan? Kita sudah sering tidur di kasur yang sama."
"Beda Kayla, di sini ada orang tua kamu."
"Tidak apa-apa. Aku sudah bilang sebelum nya kok.. Karena di hotel ini sudah tidak ada kamar kosong lagi."
Mendengar itu Fahri tenang. Dia menarik tangan Kayla ke kasur dan mendorong nya tidur di kasur.
"Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Kayla. Fahri tersenyum dia mengelus pipi Kayla.
"Selama Nenek dan kakek di sini, kita sama sekali tidak memiliki waktu untuk berpacaran, aku sibuk dengan pekerjaan ku, kamu sibuk mengurus nenek sama Kakek."
"Terus kamu mau apa?" ternyata dia sudah menyiapkan nya.
"Aku lihat hotel ini cukup mewah, pasti menyediakan minuman alkohol, bagaimana kalau kita minum bersama?"
Fahri tersenyum. "Hanya satu botol saja," ucap Fahri menunjuk ke arah tas kerjanya.
Kayla menghela nafas panjang. "Baiklah terserah kamu saja," ucap Kayla sudah tidak bisa menolak lagi.
Mereka minum bersama. "Oh iya setelah pekerjaan ku selesai, aku memiliki saham bagaimana kalau kita menikah?" tanya Fahri.
"Aku ikut apa keputusan kamu saja, aku sudah pasrah."
"Mungkin butuh dua bulan lagi, setelah itu kita menikah, aku tidak sabar menikahi wanita yang sangat cerewet seperti kamu," ucap Fahri.
Kayla tersenyum.
Keesokan harinya...
"Selamat pagi..." sapa Bela kepada Dimas yang baru saja bangun sementara dia dan Vira sudah bangun dari tadi.
Hari ini adalah hari libur jadi mereka di rumah saja.
Dimas berdiri sambil memajukan bibir nya. Masih rambut berantakan, wajah bantal.
"Ada apa kak?" tanya Bela.
"Kenapa kamu tidur di kamar Vira dan membiarkan aku tidur sendirian di kamar?" tanya Dimas kesal.
__ADS_1
Bela tersenyum. "Aku mau menemani Vira," ucap Bela.
"Kamu ngeselin banget! Kalau sudah menikah nanti kamu tidak boleh meninggalkan ku," ucap Dimas.
Dia kesal. Bela menarik tangan nya duduk di sofa, namun kelihatan nya Dimas masih ngantuk dia tidur di paha Bela dan ketiduran.
Vira hanya bisa menggeleng kan kepala nya melihat kelakuan om nya yang sangat manja ketika di rumah bersama Bela.
Fahri dan Kayla keluar dari kamar hotel setelah di panggil oleh nenek dan kakek di tunggu di restoran bawah.
Mereka keluar dari sana dan langsung menyusul Kakek dan nenek.
"Bagaimana tidur kalian berdua nyaman?" tanya Nenek.
"Maaf yah nak Fahri, jadi tidur sekamar dengan Kayla karena kamar di hotel ini sudah kosong semua."
"Tidak apa-apa Pak," ucap Fahri.
"Huff seperti tidur dengan ku malapetaka saja, bukti nya sepanjang malam dia ketiduran di lengan ku begitu manja ingin di peluk dan di cium," batin kayla.
"Kalian terlihat sudah sangat cocok sekali, Ibu sama Bapak sudah tidak mau menunda-nunda lagi, sebaiknya kalian memikirkan hubungan yang lebih serius."
"Fahri sedang fokus menata pekerjaan nya Mah, setelah semua nya selesai baru kami memikirkan itu."
"Kalau sudah menikah emang tidak bisa mengurus pekerjaan lagi? Mamah mau kamu menikah sebelum Dimas dan Bela menikah."
"Tapi Mah."
"Tidak ada tapi-tapian, sebelum mamah sama Papah meninggal, kamu sudah harus menikah, umur kamu sudah tua, emang mau jadi perawat tua?"
"Ih Mamah Jahat banget sih ngomong nya?" ucap Kayla.
"Maka nya buruan! Jangan sampai mamah sama papah yang turun tangan."
"Nak Fahri! Apa kamu mengerti apa yang kami bicarakan? kalau kamu benar-benar mencintai anak kami, segera lah nikahin dia."
"Huff bagaimana aku menjawab nya? Aku belum memiliki biaya yang cukup, 100 juta saja tidak cukup untuk mahar Kayla."
"Aku juga belum memiliki rumah, bahkan tidak ada yang punya untuk persiapan setelah menikah nanti," batin Fahri.
"Tidak perlu memikirkan apapun, biaya atau yang lain nya, ibu sama bapak yang akan menyiapkan semua nya."
"Tapi Bu.."
"Berapa uang yang kamu punya sekarang? Berikan semua itu untuk mahar Kayla."
"Hanya 120 juta Bu."
"Kalau begitu berikan itu semua untuk menjadi mahar nya."
"Ya ampun, Fahri memiliki uang yang sangat banyak seperti itu dari mana? Jangan-jangan itu adalah uang tabungan nya selama bekerja dengan Dimas?" batin Kayla.
__ADS_1