Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 67


__ADS_3

"Kamu minum ini untuk menambah kekuatan untuk itu?"


Dimas menghela nafas panjang.


"Kita baru saja bertemu, jangan berfikir yang tidak-tidak."


"Ya siapa tau kan, kamu kan selalu saja tidur dengan perempuan secara bergantian, mungkin kekuatan kamu sudah berkurang."


Dimas menatap Kayla, dia langsung terdiam dan membiarkan Dimas masuk ke dalam.


Kayla menghela nafas panjang.


"Bik apa Dimas masih sering tidur dengan wanita bayaran?"


"Akhir-akhir ini seperti nya sudah tidak pernah Non." jawab Bibik.


"Huff sangat mustahil rasanya, mungkin Bibik tidak tau saja dia seperti apa di luar sana," ucap Kayla.


Bibik Hanya tersenyum saja.


Dimas masuk ke kamar dia melihat Bela yang baru saja selesai mandi.


"Kenapa kamu mandi? Kamu belum bisa mandi."


Bela menatap Dimas.


"Aku sudah membaik kak."


Dimas mendekati Bela memeriksa suhu badan Bela yang ternyata sudah membaik.


"Bagus deh kalau begitu." ucap Dimas.


"Oh iya ini saya bawakan untuk kamu."


Dimas memberikan jamu kepada Bela.


"Terimakasih."


Dimas mengelus pipi Bela menatap nya cukup dalam.


"Kamu tidak akan sakit lagi kamu setelah ini?" tanya Dimas.


"Aku harus cepat sembuh agar bisa cepat bertemu dengan Vira," ucap Bela.


Dimas terdiam sejenak sambil memikirkan janji nya sebelum nya kepada Bela.


"Humm tentang Tante saya apa kamu sudah tau dia datang?"


Bela mengangguk. "Bagaimana dengan hubungan kita?" tanya Dimas.


"Maksud nya?" tanya Bela.


"Saya ingin jangan sampai Tante saya tau tentang hubungan kita untuk sementara waktu."


Bela menatap bingung kepada Dimas.


"Jadi saya mau kamu tidur di kamar Bibik untuk sementara waktu juga, kamu gak apa-apa kan?" tanya Dimas.


Sebenarnya Bela sedikit tidak terima, namun dia juga tidak tau apa alasan Dimas harus meminta nya untuk pindah ke kamar bibik.


"Baiklah, aku akan pindah."

__ADS_1


"Oh iya untuk sementara juga anggap saja kalau kita tidak ada hubungan di depan Tante saya."


"Kenapa harus seperti itu? Bukan kah aku kekasih kakak?"


"Iyah, hanya saja untuk sementara Tante tidak boleh tau saya pacaran dengan kamu."


"Apa karena aku pelayan?" batin Bela.


"Kamu paham kan sayang? Mengenal kan seseorang kepada keluarga tidak lah semudah itu," ucap Dimas.


Bela mengangguk.


Malam ini Bela tidak tidur di kamar yang sama dengan Dimas, dia tidur bersama Bibik.


"Kenapa kamu belum tidur?" tanya Bibik kepada Bela.


Bela menoleh ke arah Bibik.


"Aku belum ngantuk Bik."


Bibik mengajak Bela untuk tidur karena Bela masih kurang enak badan.


Akhirnya Bela tidur, sementara di kamar Dimas belum bisa tidur sama sekali.


Dia terus melihat ke arah sofa tempat Bela tidur,


"Sial! Aku sendiri yang meminta nya untuk ke kamar Bibik namun sekarang aku sendiri yang kecarian."


Keesokan harinya...


Bela keluar dari kamar dia melihat Dimas sedang berbincang-bincang dengan Kayla.


Bela menoleh ke arah Dimas. Namun Dimas berpura-pura tidak melihat dan tidak perduli kepada nya.


"Iyah Mbak." ucap Bela.


Bela mengantarkan tas Dimas mau berangkat bekerja.


"Hati-hati yah kak," ucap Bela..


Dimas mengangguk dan tidak mengatakan hal lain dan langsung pergi.


"Apa dia tidak mencium ku terlebih dahulu? Kenapa dia langsung pergi? Apa sifat nya juga harus berubah karena ada Tante nya di sini?" batin Bela.


"Bela apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Kayla.


"Oohh Dimas baru saja berangkat, bagus deh kalau manusia kulkas itu sudah berangkat."


"Asal kamu tau yah, Dimas itu manusia yang sangat aneh sekali."


"Maksud nya mbak?" tanya Bela.


"Sampai sekarang Dimas tidak berhenti mencari tau keberadaan pembunuh orang tua nya, dia benar-benar sangat dendam kepada pembunuhan itu."


"Emangnya sampai sekarang belum tertangkap pembunuh nya?" tanya Bela.


Kayla menggeleng kan kepala nya.


"Sampai sekarang belum ada kebenaran karena pembunuh itu sudah membersihkan bukti dengan sangat bersih sehingga Sulit mencari tau nya."


"Apa sampai sekarang Pak Dimas masih mencari tau?" tanya Bela. Kayla mengangguk.

__ADS_1


"Sekarang saya tau nya dia sedang memantau sepasang suami istri yang baru saja mengadopsi anak di panti asuhan yang kabar nya kalau pembunuh itu menitipkan anak kedua mereka di sana."


Bela terdiam Mencoba memikirkan penjelasan Kayla.


"Mbak tau dari mana?" tanya Bela.


"Dimas adalah keponakan saya, saya tau apa yang dia lakukan di luar sana."


Bela menatap Kayla.


"Apa mbak juga tau kalau..."


"Iyah saya tau, saya tau kalau dia sudah putus dengan Vivi karena berselingkuh."


Bela menghela nafas lega, karena berfikir Kayla akan tau hubungan mereka namun ternyata tidak.


"Banyak orang bilang kalau Dimas sudah berubah dari sifat dingin nya, namun hanya sedikit saja, dia masih dingin seperti biasa nya."


Bela mengantar makan siang ke kantor karena permintaan Dimas.


Dimas menunggu Bela datang karena sudah sangat lapar.


"Tok!! tok!" ketukan pintu.


"Masuk!"


"Kenapa kamu sangat lama? Saya sudah sangat lapar sekali." ucap Dimas mendekati Bela dan mencium bibir Bela dan ******* bibir Bela seakan lupa kalau mereka lagi ada di kantor.


"Kak! kak lepas kan aku, kenapa kakak mencium ku?" tanya Bela.


"Saya minta maaf karena mengabaikan kamu, saya minta maaf karena sifat saya yang tadi pagi dan tadi malam membuat kamu sedih."


Bela menatap Dimas.


"Ada apa dengan mata kakak?"


"Sepanjang malam saya tidak bisa tidur karena kamu tidak di kamar saya."


"Bukan kah kakak sendiri yang minta aku pindah?"


"Tante Kayla memiliki mulut yang sangat tidak bisa di jaga, dia tidak bisa menjaga rahasia sama sekali, itu sebab nya kita harus hati-hati."


"Apakah kakak malu berpacaran dengan ku?"


Dimas menggeleng kan kepala nya.


"Bukan seperti itu, kamu jangan salah paham saya hanya tidak ingin membuat semua orang heboh dan kamu menjadi sasaran mereka."


"Saya sangat merindukan kamu, saya mengkhawatirkan kamu sepanjang waktu, bagaimana dengan badan kamu masih sakit?"


"Aku baik-baik saja kak, sebaiknya kakak urus diri kakak sendiri yang terlihat sangat berantakan."


"Saya sangat pusing Bela, bukan hanya karena Tante Kayla dan juga kamu, tapi karena Vira dan juga kasus orang tua saya, sampai sekarang saya belum menemukan titik terang nya, maaf terkadang saya harus melampiaskan nya kepada kamu," batin Dimas.


"Kakak terlihat banyak beban pikiran."


Dimas menggeleng kan kepala nya.


"Kamu tidak boleh mengkhawatirkan saya karena saya baik-baik saja, kamu tidak boleh sakit karena saya pasti akan sangat sibuk di luar tidak sempat memiliki waktu dengan kamu."


Bela mengangguk, dia mengingat yang di katakan Kayla tadi, dia sangat penasaran namun itu bukan urusan nya.

__ADS_1


__ADS_2